
Adegan berantem kita skip ya. Hehehe
"Pelan-pelan, Nya."
Dery meringis terus saat kapas yang diberi cairan warna merah menyentuh kulit. Ia bahkan memejamkan mata saking ngilunya bekas pukulan dan tendangan dua pria tadi. Anya yang membantu mengobati luka itu pun kesal juga, ia tepuk punggung Dery yang memang tidak mengenakan pakaian.
"Bapak bisa diem dulu gak Pak? Kalau kebanyakan gerak nanti susah ngobatinnya," omel Anya dari belakang. Meski begitu ia tetap telaten mengobati luka yang begitu banyak—dari punggung hingga pinggang.
"Iya, iya. Tapi pelan-pelan," balas Dery, pasrah.
Kini Anya berpindah, menghadap Dery yang duduk tegak menahan perih di tubuh. Kulit putih gurunya itu tampak membiru. Banyak lebam yang bertumpuk di sana-sini sehingga tanpa sadar Anya mendesah panjang. Pupus sudah harapannya. Dulu ia sangat ingin melihat perut sixpack yang kata orang mirip roti sobek, tapi kini ia malah melihat roti sobek yang seperti diselimuti jamur.
"Ada yang perlu saya obatin lagi nggak Pak?" tanya Anya.
"Nggak ada. Saya rasa cukup. Sisanya nanti saya aja yang obatin," balas Dery seraya mengambil kemeja dan memasangnya lagi ke tubuh.
Anya mendesah, lantas menatap wajah Dery yang penuh lebam dan luka.
"Mereka siapa, sih, Pak? Kok bisa-bisanya gebukin Bapak sampai kayak begini?" cecar Anya.
Sebenarnya sudah dari tadi ia penasaran, tapi urung bertanya karena Dery tampak kesakitan. Sekarang ia tak bisa lagi menahan rasa kepo yang menggerayangi benak.
Menatap tajam Dery yang masih saja meringis, Anya pun mulai berspekulasi. "Bapak minjem duit sama rentenir, ya? Terus nggak bisa bayar makanya digebukin?"
Dery yang sudah menyandarkan diri di sofa berdengkus, "Ya, enggaklah. Ngapain saya pinjem duit?"
Harga dirinya sebagai guru sedikit terluka karena tudingan Anya.
"Lah terus? Mereka siapa? Kenapa Bapak gak lapor polisi aja?" cecar Anya lagi. Ia sudah kadung gemas karena tidak mendapat jawaban.
Dery yang tengah memasukkan batu es ke dalam kantong kompres pun menghela napas berat. Ia lirik Anya sekilas lalu kembali memejamkan mata sedetik. "Sudahlah, jangan dibahas. Saya kenal mereka. Mereka itu orang suruhan orang tua saya."
"Lah kok?" Anya terbengong, matanya mengerjap dan menatap heran Dery yang tengah terpejam dengan tangan tetap mengompres pelipis dan mata.
"Bapak serius? Orang tua Bapak yang punya restoran mewah di Jakarta itu, 'kan, ya?" lanjutnya.
Mengangguk, Dery mengambil cermin lalu fokus mengompres wajah yang bengkak. Sementara Anya mengerjap, masih tak habis pikir bagaimana bisa orang tua berlaku kejam seperti itu?
Lagi-lagi otaknya yang tak seberapa pintar itu pun kembali berspekulasi. Ia tatap lagi Dery, kini tanpa berkedip. Apa jangan-jangan Pak Dery mau dikawinkan paksa biar usaha keluarga makin maju? Atau, apa mungkin dia ini anak pungut? Atau juga, bisa jadi dia ini anak dari selingkuhan?
"Kamu kenapa ngeliatin saya kek gitu, sih? Gak pernah liat luka orang habis dipukulin? Eh tapi gak mungkin, kamu aja lihai banget gebukin orang," ujar Dery, sedikit terdengar sarkastik. Namun, ia memang melihat bagaimana Anya mengalahkan dua suruhan orang tuanya. Gadis muda yang ada di hadapan itu begitu gesit. Ia bahkan bergidik mengingat perkelahian tadi sore, tapi sedetik kemudian tersenyum sedikit.
Anya yang di tatap Dery jadi salah tingkah. Ia memegang pipinya lalu mendelik. "Mata Bapak juga, ngapain liatin saya kek begitu? Gak pernah liat orang berantem?"
Dery langsung berdeham. Ia menunduk lalu meminum air putih yang ada di hadapan.
"Lagian ya, Pak. Saya cuma penasaran aja, kok ada orang tua sekejem itu? Itu namanya KDRT, bisa dilaporin ke polisi itu."
"Emangnya kamu tega masukin orang tua sendiri ke penjara?" tanya Dery, ia terlihat meringis saat mengangkat bahu karena berusaha melemaskan otot yang kaku.
Anya langsung bungkam, bagaimana mungkin memenjarakan ayah dan ibunya saat mereka begitu banyak memberikan kasih sayang meski kadang juga terlihat tegas. "Ya beda dong, Pak. Orang tua saya penyayang," balasnya.
Dery tersenyum lagi, ia acak-acak poni Anya. Seharian ini ia gemas dengan gadis itu.
Menyandarkan lagi punggung, Dery mengembuskan napas panjang. "Setiap anak punya pandangan tersendiri mengenai orang tua. Mereka juga punya batasan toleransi tersendiri. Jadi jangan samakan kamu dengan saya."
"Tapi, Pak," sanggah Anya yang masih menggebu-gebu. Namun tertahan saat Dery melibaskan tangan di depan matanya.
"Udah. Jangan bahas itu lagi bisa gak? Ini urusan pribadi saya."
Anya langsung manyun. "Terserah Bapak aja, deh," ujar Anya sedikit kecewa.
Dasar keras kepala, untung sayang, lanjut Anya dalam hati.
Entah kenapa setelah berkata ketus seperti itu mata Dery tak sengaja melihat rok abu-abu Anya yang robek. Paha putih mulus Anya pun terlihat live tanpa disensor. Gugup, ia pun memalingkan wajah ke arah lain lalu melepas kain taplak yang ada di meja.
"Lah kok ...."
Belum sempat Anya menyelesaikan kata, Dery pun menyela, "Tadi kamu kenapa bisa nekat kayak begitu? Kamu tahu nggak, tadi itu bahaya. Kamu bikin saya hampir jantungan tau gak?"
Anya nyengir. Ia baru paham kenapa pahanya di tutup Dery dengan taplak. Mendadak ia malu.
"Tapi kan saya nggak apa-apa, Pak. Beneran."
Anya membentangkan tangan, seolah-olah ingin Dery memperhatikan. Ia ingin meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Sayangnya Dery justru memalingkan wajah ke arah lain.
Anya kesal. Ia bersedekap. "Asal Bapak tahu, saya itu punya ilmu bela diri. Ya walaupun gak tinggi-tinggi amat tapi paling enggak bisa untuk menyelamatkan diri plus menghajar orang yang gak tau diri."
"Jangan sombong. Tadi itu kamu cuma beruntung. Besok-besok jangan kayak gitu lagi, Nya. Bahaya, kamu itu perempuan jadi jangan sok pahlawan."
"Kok Bapak marah-marah sama saya?" balas Anya. Ia yang masih bersedekap memandang wajah masam. "Bukannya sejak SD kita diajarin kalau ditolong itu harus terima kasih, ya?"
Menghela napas panjang, Dery pun membenarkan. Ia tatap Anya. "Terima kasih. terima kasih karena udah bantuin saya. Tapi saya harap besok besok kamu nggak kayak gitu lagi bahaya. Kalau kamu terluka gimana?"
Mendengar kalimat perhatian dari Dery membuat kemarahan Anya sedikit reda. Ia rebut kain kompres dari tangan Dery lalu mengompreskan ke bagian yang lebam. Mata mereka bersitatap lumayan lama.
Dery lagi-lagi mengalihkan pandangan lalu merebahkan punggung yang ngilu di sandaran sofa. Matanya sendu, ia melihat lampu gantung di ruang tamu.
"Nya, kayaknya mulai besok kamu belajar sendiri," ujar Dery pelan.
"Emangnya kenapa, Pak? Bapak mau ke mana? Kalau cuma ngajar di sekolah lain saya bisa nunggu kok. Mulai jam delapan juga gak apa-apa."
Dery membenarkan posisi. Ia dapat melihat kegusaran di wajah muridnya itu. "Saya mau ke Jakarta. Saya mau menyelesaikan masalah keluarga, jadi maaf ya saya nggak bisa ngasih kamu les lagi?"
"Yah Pak Dery ...." Anya tertunduk lalu mendesah. Padahal jika Dery yang mengajar ia merasa lumayan paham. Berbanding terbalik jika yang menjelaskan adalah Livia maupun tutor yang lainnya. Entahlah, ia merasa beda, entah karena itu karena rasa suka pada Dery atau mungkin situasi rumah Lita yang tidak mendukungnya.
"Tapi saya harap kamu tetep giat belajar. Inget, masa depan kamu masih jauh. Jangan bandel. Jangan berantem kek tadi. Apa kamu mau dikeluarin dari sekolah lagi?'' tanya Dery. Ia yang masih melihat pucuk kepala Anya tersenyum.
Sementara Anya yang menunduk mendadak kesusahan menelan ludah. Ia gemetar. Bagaimana bisa Deri tau kalau dirinya dikeluarkan padahal semua orang mengetahui kalau dirinya hanya pindah sekolah?
Berani-berani takut, Anya angkat kepala dan menatap lekat wajah lebam Dery.
"Tentu saja tau. Pasti masalahnya karena kamu berantem sama Jimi, iya, 'kan?"
Anya menunduk lagi. "Ah ... Pak Dery tau rupanya."
Lirih, suara Anya begitu pelan. Ia malu, malu pada Dery juga malu karena masa lalu.
"Saya sudah mengira, pasti ujung-ujungnya begitu. Orang tua Jimi orang berpengaruh di sekolah kamu yang lama. Jadi gak mungkin juga dia ngelepasin kamu gitu aja. Tapi kamu beruntung, yang lain taunya kamu cuma pindah. Jadi renungkan. Jangan ulangi lagi."
Hening, Anya masih menunduk. Sedih karena mungkin tidak akan melihat Dery di sekolah. Namun, ia memang sudah bertekat, akan belajar giat agar bisa menjadi kebanggaan orang tua. Lagipula, Dery hanyalah idolanya, motifasi agar selalu maju.
Perlahan Anya angkat kepala yang berat. Mata mereka kembali berbagi pandangan. "Baiklah, Pak. Nggak masalah. Selesaikan masalah Bapak lalu balik lagi di sini. Saya tunggu. Saya seneng kalau Bapak yang ngajarin."
Dery tersenyum. "Baiklah. Sekarang sudah malam. Lebih baik kamu pulang. Nanti keburu Livia sama ibunya pulang. Entar mereka salah paham."
Mengembuskan napas panjang, Anya pun mengangguk. Ia beranjak dari sofa dengan taplak meja tetap melingkari pinggang. Namun, baru saja selangkah melewati pintu Dery pun memanggilnya dari belakang.
Anya membalik diri. "Ada apa, Pak. Bapak perlu sesuatu lagi?" tanyanya, terdengar sedikit lesu. Ia kecewa akan berjauhan dengan idolanya itu.
Namun bukannya menjawab, Dery malah tersenyum, terlihat sangat manis malam ini. Apa karena akan berpisah? batin Anya. Ia masih menatap lekat.
"Kenapa diam, Pak?"
Deri menghampiri. Ia acak-acak lagi pucuk kepala Anya. "Belajarlah yang rajin. Pikirkan pelajaran saja. Entar kalau udah lulus, tolong pikirin saya dan pertimbangkan saya sebagai laki-laki dan bukannya seorang guru."
****
Jakarta
Di waktu yang sama ada Dafin yang mengendarai mobil sport miliknya melintasi jalanan kota dengan perasaan bahagia. Senyuman tak hilang dari wajah karena ada sang wanita pujaan. Ia terus saja menggenggam tangan gadis itu posesif, seolah-olah takut kehilangan.
"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Fia yang masih menggunakan seragam kerja.
Dafin melirik sekilas Fia lalu menarik kedua belah ujung bibir. "Kan sudah aku bilang, rahasia."
Fia kesal, ia tarik tangannya dari genggaman Dafin. "Perasaan rahasia mulu dari pagi," balasnya dengan bibir mengerucut, matanya mengering malas. Sungguh tak paham apa isi kepala Dafin. Pria itu mengatakan cinta tapi kenapa harus ada rahasia. Ia jadi makin curiga dengan yang Dafin sebut-sebut rahasia itu.
"Bentar lagi, bentar lagi kita sampai, kok. Jadi tahan saja dulu marahmu itu. Nggak sabaran banget, sih."
Fia makin cemberut, ia bersedekap dada lalu memalingkan wajah ke arah lain. Rasanya sangat aneh, biasa ia akan patuh pada Dafin. Melakukan apa pun yang diinginkan meski itu itu membuatnya lelah maupun marah. Namun hari ini ... ah tidak, tepatnya kemarin Dafin selalu berlaku manis padanya. Ia merasa aneh dan bangga secara bersamaan. Sepertinya Dafin yang arogan itu sudah terjebak cintanya. Aroma-aroma bucin pun terendus. Fia tersenyum malu, bolehkah ia merasa bahagia?
"Nah, sekarang kita sudah sampai."
Ucapan Dafin melerai lamunan Fia. Ia langsung memindai sekitar dan baru menyadari kalau berada di sebuah komplek perumahan elit. Dahinya mengernyit, baru kali ini ia datang ke sana.
"Ini di mana? Ini rumah siapa? Terus kita ngapain ke sini?" tanya Fia, keheranan.
Bagaimana tidak, ia sudah lama mendampingi Dafin tapi tidak pernah sekalipun mengetahui pasal rumah di sana. Dafin pun tidak pernah membahas rumah itu. Fia makin tak paham. Ia kira sudah mengetahui seluk beluk Dafin, tapi ... lagi-lagi Dafin terlihat mencurigakan di mata Fia.
Melirik Dafin yang tengah membuka sabuk pengaman, Fia pun mengulang pertanyaan, ''Ini rumah siapa? Rumah klien?" cecarnya lagi.
Namun, bukannya menjawab Dafin malah mendekatkan wajah. Fia refleks menahan napas. Wajah Dafin begitu dekat dengannya. Hanya berjarak tiga sentimeter saja.
"Mau ngapain?" Fia jadi grogi. "Jangan macem-macem," lanjutnya dengan mata melotot. Ia lantas mendorong dada Dafin.
Sementara Dafin yang melihat kegugupan Fia langsung terkekeh. Ia lepaskan sabuk pengaman yang melingkar di pinggang gadis itu. "Emang kamu mikirin apaan? Jangan bilang mikirin ciuman."
Pipi Fia menegang, serasa dirinya yang berpikiran kotor. Tanpa mau menjawab ia pun meninggalkan Dafin. Dafin lagi-lagi tertawa. Sukses menggoda Fia.
"Masuklah, kejutannya ada di dalam," ujar Dafin.
Fia yang sudah kadung penasaran langsung melangkah tanpa mau berdebat. Meski dalam benak begitu banyak pertanyaan ia terus melangkah hingga berada tepat di depan pintu besar dan tinggi rumah itu. Fia dorong pintu itu. Ia melangkah perlahan dan mengucapkan salam.
Akan tetapi, ia melihat pemandangan yang membuat jantungnya serasa berhenti berdetak. Sepasang manusia tengah duduk di ruang tamu. Dua orang yang membuat Fia melangkah maju dengan cepat. Kedua orang itu tengah tersenyum menyambut dengan tangan membentang.
"Ibu ... ibu kapan sampai? Kenapa bisa Ibu ke sini?" tanya Fia. Kini matanya tertuju ke pria kurus dengan uban hampir menutupi kepla. "Bapak ... bapak juga di sini?" cacarnya lalu mencium punggung tangan kedua orang tuanya itu secara bergantian.
"Maaf, maaf kalau mendadak. Ini permintaan Pak Dafin," jujur Marina.
Fia memutar kepala, dengan mata yang berkaca-kaca ia menatap sinis Dafin yang ada di belakang, tapi sedetik kemudian tersenyum. Ia kembali memeluk ibunya.
"Fia kangen Bu. Ibu apa kabar? Sehat, 'kan?" tanya Fia seraya menuntun ibunya untuk duduk kembali.
"Alhamdulillah, Fia. Ibu baik, kamu gimana? Sehat juga, 'kan?"
Fia mengangguk, ia tak bisa berkata-kata, rasa bahagia menyerang dada. Sudah lama ia tidak pulang dan merindukan kedua orang tuanya itu. Siapa sangka sekarang rasa rindu itu terobati, dan itu semua karena Dafin.
Dafin yang berdiri di belakang berdeham. Ia dekati keluarga Fia. "Kalau gitu saya tinggal ya Bapak, Ibu. Kalian mengobrollah, anggap saja rumah sendiri," ujar Dafin lantas memutar tumit dan pergi meninggalkan mereka.
"Bos kamu baik ya Fia?" tanya Edi saat punggung Dafin sudah hilang di telan pintu.
Fia mengangguk. Ia hapus air matanya. "Iya Pak, dia memang baik. Baik banget malah."
Edi juga manggut-manggut. Ia tatap sang anak yang memeluk istrinya.
"Kebetulan, Fi. Bapak sama Ibu mau ngasih tahu kamu sesuatu yang penting."
Fia melepaskan pelukan. Ia menatap kedua orang tuanya itu lekat-lekat.
"Sesuatu yang penting?" Fia mulai deg-degan. "Apa itu, Pak," lanjut Fia lagi.
"Sebenarnya Kevin datang melamar kamu kemarin."
"Melamar?" ulang Fia tak percaya. "Kevin melamar aku!" lanjutnya dengan suara lantang.
Gelisah, Fia tatap lekat wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Ia pegang tangan ibunya yang tampak keheranan.
"Terus Bapak sama Ibuk jawab apa? Kalian gak nerima lamarannya, 'kan?"