Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Mengagumi


Malam harinya.


Anya yang sudah rapi dengan pakaian santai membawa ransel dan lima buku paket dalam pelukan. Rambut yang panjang ia kucir kuda. Seperti biasa, gadis itu tampak bersahaja dan cantik. Lipstik merah jambu sedikit mengkilap menghiasi bibirnya yang tipis dan kecil. Makin membuatnya terlihat imut dan tentu saja membuat Lita yang tengah menonton TV di ruang tamu keheranan. Ia panggil Anya dengan nada seperti biasa—lantang.


"Iya Bude, kenapa?" tanya Anya yang sudah gemetaran. Tatapan Lita sangat tajam. Sorot mata yang mampu merobek kepercayaan diri yang selama ini kokoh bersarang dalam diri.


Lita berdiri, ia hampiri Anya lalu memindai penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala, lantas mengelilingi bak seorang polisi yang sedang menginterogasi. Matanya yang besar begitu nyalang menatap Anya.


"Kamu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Lita.


Bergeming, Anya memijit jemarinya yang serasa mati rasa hingga suara Lita kembali mengagetkan dengan menanyakan pertanyaan yang sama.


"Aku mau belajar tempatnya Pak Dery, Bude," jawab Anya dengan sesekali menelan ludah.


"Malem-malem begini?" Mata Lita menyipit, ekor matanya begitu sinis melihat Anya. "Kenapa kamu gak izin sama Bude?" lanjut Lita lagi dengan nada suara yang masih saja sama—jutek.


"Bukannya Bude pernah bilang, kalau kamu mau tinggal di sini, kamu harus ikuti perintah Bude, ada aturan yang harus kamu patuhi. Bude bukan ibu kamu yang luluh dengan rengekan kamu, jadi jangan seenaknya sendiri," omel Lita lagi penuh penegasan.


Anya menelan ludah setelah membenarkan perkataan itu dalam hati. Tentu saja Lita berbeda dari ibunya. Ibunya sangat penyayang. Sungguh berbeda dari Lita yang galaknya nauzubillah. Setiap kata yang terlontar adalah perintah. Jangan berani menolak jika tak siap puasa Senen Kamis. Itulah sanksinya jika berani melawan titah sang ratu rumah itu. Apalagi kalau di sana status adalah seorang penumpang, seperti Anya. Jangan harap bisa bebas. Anya tak berani berulah karena tak sanggup menghadapi hukuman yang akan diterima jika sampai Lita mengadu pada ibunya.


"Kenapa gak dijawab? Kamu beneran mau belajar apa cuma mau keluyuran?" tanya Lita cendrung menuding. "Apa kamu tau hukuman kalau bohong?"


"G-gak, kok, Bude, a-ku gak bohong. Aku beneran mau belajar tempatnya Pak Dery," jawab Anya tergagap. Sungguh merasa terintimidasi akan tatapan menghunjam Lita dan cara wanita itu berkata. Ia mengira Lita sudah tahu dan mengijinkan, sebab sebelum berangkat ia sudah mengatakan niat hati pada Livia dan mendapat persetujuan.


Siapa sangka kini langkahnya dicegat oleh Lita. Anya menerka-nerka, apa mungkin Livia belum melaporkan pasal les yang tadi ia katakan? Kalau tahu, tidak mungkin Lita menghalangi dengan tatapan yang menghunjam seperti itu. Mendadak ia meragu, apakah akan dibolehkan belajar di rumah Dery atau malah disuruh tetap tinggal belajar di rumah?


"Jawab, Anya! Jangan bengong!" hardik Lita. Tangannya bahkan bersedekap.


Gemetaran, Anya pun mengangguk ragu. "Iya Bude, beneran kok. Aku nggak bohong, kalau Bude nggak percaya, Bude bisa kok ikutin aku ke sana," jawabnya mencoba meyakinkan.


Namun, respon terbalik ditunjukkan oleh Lita. Anya kira ia akan mendapat persetujuan langsung tanpa berdebat lagi. Nyatanya Lita malah menarik sebelah bibir lalu berkata, "Beneran boleh? Bude boleh ikut?"


Mata Anya langsung terbelalak, tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Rasanya seperti senjata makan tuan.


"B-boleh kok," jawabnya terbata. Terpaksa mengiyakan padahal dalam hati menggerutu dan mengutuk.


Jujur saja, yang membuat Anya tak nyaman belajar di rumah adalah Lita. Wanita tua itu selalu melotot. Selalu mengawasi saat dirinya belajar—baik saat bersama tutor maupun bersama Livia. Kadangkala walaupun tidak ada Lita di sana, Anya merasa mata Lita selalu mengawasi, selalu memata-matai seakan punya CCTV tak kasatmata. Begitu dahsyatnya kehadiran Lita. Anya tak berkutik jika berhadapan dengan Lita. Ia tak berani mengemukakan pendapat apalagi merengak seperti yang selama ini ia lakukan pada ibunya.


"Kebetulan Bude juga gak punya kesibukan. Kalau gitu, ayo ki—"


"Ma," sela Livia dari lantai dua. Livia yang mengenakan terusan berwarna hijau muda menuruni tangga. "Biarin dia belajar sama Dery. Tadi dia udah ijin kok sama aku. Cuma aku lupa bilang ke Mama," lanjut Livia lagi. Ia hampiri Lita lalu menatap Anya—memperhatikan remaja itu dengan seksama—lantas memberikan senyuman.


Lita manggut-manggut. Ia perhatikan penampilan anaknya itu. "Kamu sendiri udah rapi, mau ke mana?"


"Aku ada acara, Ma. Mau reuni sama temen SMA," balas Livia.


Lita mengiyakan tanpa bertanya labih jauh.


"Pergilah, Nya, belajar yang benar. Pak Dery itu orangnya sibuk, loh. Dia itu bela-belain ngikutin permintaan kamu padahal murid lain ditolak mentah-mentah. Jadi, Kakak harap kamu belajar dengan benar, belajar yang tekun, kalau nggak ngerti tanyain langsung sama dia. Jangan ragu, biar kamu ngerti terus bisa lulus ujian," papar Livia dengan lemah lembut. Senyuman masih abadi di wajahnya yang putih bersih.


Anya mengangguk, ia lihat Lita yang selalu saja berwajah masam. Wanita itu entah kenapa terlihat tegas dan kaku di matanya. Tak pernah sekalipun melihat wanita tua itu tersenyum pada orang lain selain pada Livia. Anya mulai bertanya-tanya, jika Lita diberi pasangan apa mungkin sikapnya akan sama? Atau ... malah lebih kejam?


Anya lalu bergidik. Ia pandangi Lita. "Anya boleh pergi 'kan Bude?" tanyanya meyakinkan.


Lita mengangguk. "Baiklah, tapi piring di dapur sudah kamu cuci, 'kan?"


"Baiklah, belajar yang bener. Biar cepet lulus."


Anya mengukir senyum canggung. Ya, hanya itu yang bisa dilakukan. Ia mengiyakan, memutar tumit lalu pergi dengan helaan napas yang begitu panjang. Lega, bibirnya tertarik sedikit. Akhirnya ... akhirnya ia bisa belajar dengan tenang.


Dalam langkah yang lebar, Anya punya harapan yang tak kalah besar. Semoga apa yang akan diajarkan Dery bisa dicerna dengan mudah oleh otaknya, dan tentu saja iming-iming sang bunda menjadi penyemangat. Ia sudah lama tak berbelanja. Sungguh, ia begitu ingin membeli banyak pakaian indah dan mewah yang selalu berseliweran di beranda media sosial miliknya.


"Ayo, Anya. Ayo, kamu bisa," gumam gadis itu pelan seraya melangkah mantap menuju pintu.


Tidak memerlukan waktu lama, ia sudah berada di depan rumah Dery, tetangga tampan lima langkah, itulah julukannya untuk Dery.


Pintu Anya ketuk, tak berapa lama keluarlah Dery dengan wajah yang terlihat sedikit lelah. Namun, wajah lelah itu tertutupi ketampanannya yang hakiki. Lagipula bagaimana bisa menutupi hidung yang mancung, alis mata yang hampir menyatu, bulu mata lentik, dan bibir ....


Ah ... Anya jadi mengerjap takjub. Bahkan tak hanya Anya, murid yang lain juga tergila-gila padanya. Rekan sesama guru pun berlomba ingin dekat dengan Dery. Hanya saja pria itu selalu menjaga jarak tanpa menyakiti perasaan orang lain. Ia akan selalu merespon ajakan kencan para wanita dengan senyuman dan candaan.


Dalam hati, Anya mengakui kalau menyukai Dery. Pernah yakin bisa memenangkan hati pria itu. Namun, begitu banyak faktor pendukung yang membuatnya urung merealisasikan niat. Pertama-tama ancaman Dafin kala itu yang mewanti-wanti agar dirinya tidak mengejar laki-laki seperti yang Nara lakukan. Kedua Lita, si ratu galak itu pasti akan berceramah ria di kuping tanpa jeda. Yang ketiga, karena Dery sepupu Jimi. Dan yang paling akhir adalah karena nilai-nilai yang jauh di bawah rata-rata. Ia insecure dan memilih menyukai dalam diam.


"Masuk dulu, Nya. Duduk saja di sana." Jari telunjuk Dery tertuju ke sebuah sofa yang ada di ruang tamu.


Anya menurut. Ini kali pertama ia masuk dan duduk di rumah itu. Biasanya hanya bisa melihat dari kejauhan. Ternyata setelah masuk, Dery makin terlihat memikat. Pria itu meski tinggal sendiri mampu menjaga diri dan kebersihan dengan baik. Rumah yang besar plus bersih membuat Anya berdecak kagum dengan mata yang tak henti memindai sekitar. Ia terus saja melihat sekeliling sebelum suara dehaman Dery menghentikan. Gadis itu berakhir nyengir dengan menggaruk kepala yang tak berketombe.


"Kamu tunggu di sini. Saya ambil minum dulu," ujar Dery.


Lagi-lagi Anya mengiyakan. Ia berjalan mengelilingi ruang tamu dan matanya tak sengaja melihat pas foto berukuran sedang yang ada di bufet jati. Anya yang kepo mulai mendekat dan melihat dengan seksama. Dalam sedetik senyumnya pun sirna berganti dengan dengkusan. Ia tutup paksa pas foto yang mengabadikan Dery dan Jimi yang sedang berdiri bersebelahan dengan senyum terkembang. Mendadak ia kesal setelah melihat foto mantan pacarnya itu.


"Kenapa di tutup?"


Suara bariton dari belakang mengagetkan, Anya refleks membalik diri dan tak sengaja menyenggol pas foto tadi hingga terjatuh. Alhasil pecahannya menutupi lantai. Anya yang panik mencoba memungut foto itu meski Dery melarangnya.


Apes, pikiran yang tak fokus dan kegugupan yang menjalari pikiran membuat Anya terkena pecahan beling. Gadis itu meringis tapi tak berani bersuara nyaring apalagi menangis. Ia hanya menghisap harinya sendiri dengan posisi tetap berjongkok.


Dery yang mulai khawatir mencari kotak P3K, menarik lengan Anya dan menuntunnya duduk ke sofa.


"Tadi kan sudah saya bilang jangan sentuh. Tapi kenapa kamu sentuh juga?" tanya Dery seraya melekatkan pembalut luka di jari telunjuk Anya. Ekspresi wajah pria itu ambigu. Antara marah dan khawatir. Anya yang mulai baper atas perhatian Dery pun tersenyum siput.


"Saya gak tau, Pak. Saya juga bingung kenapa bisa memungutnya," balas Anya.


Dery mengeluarkan napas lelah. Ia tatap lekat wajah cantik Anya. "Apa karena Jimi? Apa kamu belum juga bisa move on dari mantan pacar kamu itu? Apa itu yang buat kamu gak bisa fokus dengan pelajaran?" cecarnya.


Anya menarik tangannya yang masih di genggam Dery. Jujur, membahas Jimi membuat hatinya kembali panas. Pengkhianatan pria itu sungguh keji, tapi bukan itu alasannya. Ia gugup karena Dery yang tiba-tiba bertanya.


"Bukannya saya sudah bilang, kamu fokus aja ke pelajaran. Jangan yang lain-lain," nasehat Dery. "Apa kamu mau mempertaruhkan semuanya untuk laki-laki? Saya harap kamu gak sebodoh itu."


Anya menelan ludah. Ia mengangguk pasrah tanpa mau menjelaskan pada Dery yang sebenarnya.


"Kalau gitu mana hasil ulangan kamu?" tanya Dery. Lekas-lekas Anya mengambil kertas yang memang sudah disiapkan dari rumah.


"Ini kan pelajaran yang saya jelasin tempo hari? Saya berikan contoh yang banyak di depan kelas. Kenapa kamu bisa salah isi lagi?" cecar Dery, kepalanya mendadak berdenyut. Setiap habis mengajar ia akan selalu bertanya, apakah murid-muridnya paham dan ingin bertanya.


Namun, seperti yang sudah-sudah. Semuanya diam menandakan paham. Tapi ternyata Anya mematahkan pendapatnya tentang diamnya para murid itu artinya paham. Diam itu emas dan diam itu artinya setuju. Tidak semua yang bersangkutan dengan diam adalah baik.


Mendesah frustrasi. Alis Dery makin menukik saat melihat ada lima buku paket di atas meja. "Terus ini kamu bawa buku sebanyak ini buat apaan?" tanyanya lagi.


Anya lagi-lagi nyengir. "Saya juga mau minta ajarin Bapak soal pelajaran yang lain. Remedial saya gak hanya di matematika aja tapi juga di Bahasa Inggris, Sosiologi, Akuntansi, sama Geografi."