Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Bucin


Di mobil.


Litania tampak berpuas hati. Senyumnya terukir tak henti-henti. Hiburan topeng monyet barusan lumayan menyenangkan. Akan tetapi tidak untuk Chandra. Pria yang tengah mengemudi itu bermuka masam dengan tatapan fokus ke jalanan. Lagian bagaimana bisa bahagia bila kalah pamor dari monyet? Haish! Bisa-bisanya Litania tak melihat kesungguhan hatinya dan malah berlarian mengejar monyet. Astaga! Kejam kau Ferguso!


"Yang, nanti kapan-kapan kita ke sana lagi, ya?" Litania berkata tanpa menatap muka Chandra yang sudah berubah ekspresi dan warna.


Chandra hanya berdeham. Menyetujui tanpa berkata.


"Aku suka di sana. Nuansanya oke, adem berasa dalam hutan," celoteh Litania lagi.


"Iya, lengkap dengan monyetnya," balas Chandra dengan nada jutek. Litania yang tahu ada sesuatu yang tak beres langsung menatap fokus ke arah suaminya itu. Matanya menyipit, mencoba mengingat dan menimbang apa yang membuat suami tampannya itu merajuk.


Apa dia marah gara-gara aku gak fokus ke dia tadi, ya? Litania berusaha mengingat lagi. Sebenernya apa yang dia mau kasih ke aku?


Mata Litania tertuju pada jaket Chandra. Tanpa pemberitahuan, ia rogoh saku jaket itu dan mendapati sebuah kotak perhiasan di sana.


"Apa ini? Kok ada kotak perhiasan?" Litania melirik wajah masam Chandra lalu kembali melihat kotak kecil berwarna biru gelap yang ada di tangan, kemudian membukanya.


"Wah, cantik banget. Ini untuk aku, ya?" tanyanya dengan wajah berbinar. Tampak sebuah cincin berlian dengan mata sedikit besar. Tak memerlukan waktu lama dan tanpa dipersilakan pula, perhiasan mahal itu sudah tersemat di jarinya. "Keren banget. Ini beneran untuk aku, kan, ya?


"Bukan. Itu untuk monyet."


"Ya elah, gitu aja ngambek." Litania mencebik lantas menggerak-gerakkan cincin berlian yang sudah pas di jari manisnya.


Chandra berdengkus. Sumpah demi apa pun, ia kesal tak berlawanan. Bisa-bisanya Litania tak menganggapnya serius. Ah, ingin rasanya berteriak lantang "aku sedang marah" sekarang.


"Yang, jangan ngambek, dong."


Chandra bergeming, mengabaikan. Mata masih tertuju ke jalanan dengan sesekali menekan klakson padahal tak ada yang menghalangi laju kendaraan.


"Kok kamu gitu, sih. Aku 'kan gak ngelakuin hal yang aneh-aneh. Aku gak berantem, 'kan? Aku malah ngasih mereka cuan. Terus salahnya aku di mananya?" Refleks Litania cemberut, bersedekap dada dengan bibir sedikit mengerucut. Diabaikan membuatnya kesal.


Terus salah aku di mananya? Hah! Batin Chandra benar-benar tersiksa. Kemarahan pun sudah naik ke ubun-ubun. Ia injak pedal rem, membuka sabuk pengaman lantas menatap Litania dengan sorot mata tajam.


"Kamu beneran gak salah? Beneran gak ada tingkah kamu yang bikin aku kesel? Beneran gak tau kesalahan kamu?" Chandra menggeram, rahangnya mengetat kuat.


"Aku tu beneran gak tau. Ayo sebutin, salah aku di mana?"


Ya Tuhan .... Chandra usap wajahnya yang gusar. "Aku marah karena kamu itu nggak inget situasi kamu. Kamu 'kan lagi hamil, harusnya berpikir dulu sebelum bertindak. Ingat! Di badan kamu ini ada anak kita, Litan. Anak buah cinta kita. Bisa bisanya kami lari-larian kayak tadi. Kalau jatuh, gimana? Kalau ada apa-apa dengan Junior bagaimana?"


Tertegun, Litania baru sadar kalau lagi-lagi dia melakukan kesalahan. Jika saja tak Chandra peringatkan mungkin saja ia akan melakukannya lagi dan lagi. Membelai perutnya sendiri, rasa bersalahnya makin besar saja. Maafin Bunda ya Nak. Perasaan Bunda salah mulu dari kemarin. Maafin Bunda yang masih bertindak tanpa mikir lebih dulu. Bunda janji bakalan lebih hati-hati sekarang.


Litania angkat kepala seraya mendesah panjang. "Maafin aku, aku salah. Aku janji gak bakalan gitu lagi."


"Kamu paham kan maksud aku. Aku mau yang terbaik buat kamu dan anak kita, Litan. Aku gak ngelarang. Apa pun akan aku lakuin biar kamu senang. Tapi untuk sekarang pikir-pikir dulu sebelum ngelakuin apa pun. Aku bukannya cerewet, aku cuma ingin menjaga keselamatan kalian. Paham!"


"Aku itu sayang sama kamu. Sayang banget tau gak. Aku gak masalah dibilang lebai atau bucin akut. Ya karna emang begitu. Kamu segalanya. Aku bahkan rela mati demi kamu. Aku bakalan jadi apa pun yang kamu mau. Ngasih apa pun biar kamu dan anak kita bahagia. Tapi please ... jaga diri baik-baik. Ada anak kita, Sayang. Aku gak mau kalian kenapa-napa."


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


"Air ... air ...."


Cepat dan sigap Chandra ambilkan botol air meneral yang ada di pintu mobilnya. Wajahnya pasi melihat batuk Litania yang tak berhenti.


"Sayang, kamu kenapa? Ini minum dulu." Chandra buka cepat penutup botol dan menyodorkan ke arah Litania.


"Aku keselek, Bang." Litania berucap setelah meminum sedikit air itu.


"Hah! Keselek? Keselek apaan? Makan enggak, minum juga enggak. Kok bisa keselek.


Litania tatap wajah gelisah suaminya. "Aku keselek cintamu."


Eakk eakk jos!


****


Di lobi apartemen Arjun.


Kinar berjalan penuh semangat dengan sekotak kue di tangan. Gadis itu bahkan bersenandung ria dalam lift. Kebahagiaannya tiada tara, sekarang. Bagaimana tidak, ayahnya menyetujui keinginannya jika Arjun setuju untuk menikahinya.


Menatap wajah sediri dari pantulan dinding, Kinar lantas tersenyum bangga, seolah-olah dirinya adalah ratu tercantik di dunia. Semua mata hanya tertuju padanya.


Rambut pirang dan panjang ia kucir ke belakang, cantik, hanya saja ... you know-lah style-nya. Norak! Jumpsuit berwarna hijau neon dengan mantel senada.


Kira-Kira dia mau gak sih nikahin aku. Kinar terdiam. Ia pandang dengan serius pantulan wajahnya di dinding lift. Ah, pasti setujulah ya, Kemarin aja aku udah dapat cap permanen. Cap cinta dari bibir Arjun. Aish! Bucin parah.


Seketika wajah tegang Kinar berubah lagi, mesam-mesem tak jelas hingga seorang pria berusia 20-an yang kebetulan satu lift dengannya, bergidik ngeri. Ni perempuan jelmaan belalang kali, yak. Gila, penampilannya bikin mataku sakit.


Pintu lift terbuka. Cepat-cepat pria itu pergi menjauhi Kinar. "Astaga, kalau lama-lama di dalem sana aku bisa juling," gumamnya dengan langkah lebar.


Sementara itu, Kinar yang masih di dalam lift, tak peduli, lebih tepatnya sudah kebal dengan tatapan penghinaan. Pintu kembali tertutup, tapi tak ada seorang pun yang berani masuk. Mungkin lebih tepatnya ilfill berdekatan dengannya. Namun lagi-lagi ia tak terganggu. Senandungnya makin merdu dan tanpa terasa ia sudah tiba di lantai tujuh apartemen, tempat di mana Arjun tinggal.


Namun, tak disangka-sangka, sebuah pemandangan tidak mengenakkan membuat senandungnya lenyap. Kinar tertegun dengan mata membulat. Kepalan tinjunya bahkan sudah terkepal erat. Tampak seorang wanita tengah berlutut dan memegag tangan pria yang tak berapa lama lagi akan menghalalkannya.


Sialan, aku gak terima.


"Heh kutil badak! Ngapain pegang-pegang tangan Arjun!"