Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Pasangan arogan.


Lita bersedekap dada. "Anak kembarmu tampan," ucapnya yang tak menyiratkan pujian. Mimik wajah sinis masih melekat di wajahnya yang cantik.


"Ya jelas, dong. Dari bibit unggul," balas Litania bernada sombong.


"Masa? Tapi kok aku gak yakin mereka anaknya Chandra. Secara dari wajah gak ada mirip-miripnya sama sekali. Kamu main gila sama laki-laki lain, ya?"


Shit! Darah Litania berdesir. Matanya melotot melihat Lita. "Kalau ngomong jangan asal!"


"Loh! Aku ngomong bener, kok. Apa kamu gak nyadar, muka anak-anak kamu itu gak ada yang mirip bapaknya."


Litania terdiam. Memang, jika diperhatikan wajah twins D tak mirip Chandra sama sekali. Malah bisa dikatakan sangat jauh meski tetap terlihat tampan. Jika dilihat, wajah Dafan dan Dafin malah mirip tiga pria yang dulu pernah ia sentuh jakunnya. Percampuran yang sempurna.


"Jujur deh sama aku. Kamu pasti selingkuh, 'kan? Kamu main gila sama artis mana?"


Sial! Darah Litania secepat kilat naik ke ubun-ubun. Matanya makin melotot dengan kepalan tinju yang sudah sempurna.


"Heh! Lita. Kamu mau cari gara-gara sama aku? Wajah mereka gak mirip bukan berarti aku selingkuh. Tu mulut kok masih ngomong sembarangan, sih. Apa perlu aku tempeleng pake sambel biar tobat?" kesal Litania. Sumpah, ingin rasanya ia sumpal bibir merah Lita yang seperti habis makan darah dengan kaus kaki. Mulut nggak ada akhlak.


Namun, Lita malah tertawa. Seolah-olah ia telah mendapat hadiah besar. Serasa di atas angin Lita pun kembali berkata, "Astaga, Litania ... ternyata kamu beneran sudah berubah. Kamu bukan lagi Litania kumuh dan bau. Sekarang kamu sudah berubah jadi ratu. Ratu halu yang gak tau malu. Hahaha ...."


Prang!


Vas bunga antik seharga puluhan juta yang ada di sebelah Litania pecah. Suaranya pun memekakkan siapa saja yang ada di sekitaran sana. Lita yang kaget langsung menutup telinga. Ketiga anak kecil yang baru saja tiba di lantai dua kembali berlari menuruni tangga. Para pelayan bahkan mengintip dari balik lemari pembatas ruangan.


"Hey! Apa yang kamu lakukan?" hardik Lita. Matanya melotot. Geram. Vas bunga kesukaan suami yang baru tiba dari China sudah berderai tak beraturan di lantai.


Namun, kekesalan Lita membuat Litania tersenyum. Ia angkat dari kursi seraya menutup mulut. Memasang wajah menyesal, berpura-pura tak sengaja melakukannya.


"Ups! Maaf, Lita. Tanganku kesemutan. Dan soal ini." Jari telunjuk Litania tertuju ke pecahan kaca yang berserakan. "Kirim aja nominal harga yang harus aku bayar. Aku yakin suamiku pasti bisa ganti rugi."


"Kau ...."


"Gak apa-apa. Lagian kamu 'kan gak sengaja," ucapnya sok tenang. "Suamiku punya banyak barang antik yang harganya selangit. Jadi untuk apa diributkan. Kami bukan orang susah."


Lagi, Litania mencebik. Ternyata aksinya tak membuat Lita kesal. Malah kesombongan wanita itu makin menjadi. Ia angkat dari kursi dan menghampiri Dafan Dafin yang sudah berdiri di dekat tangga. Rasanya percuma melawan Lita. Hasilnya akan sama-sama berakhir buruk. Menang jadi arang. Kalah jadi abu.


"Kalau gitu kami pamit pulang," ucap Litania tenang.


"Loh kenapa?" Jeda beberapa detik. Smirk Lita kembali terbit, "apa karena vas itu? Ayolah, itu bukan masalah. Suamiku laki-laki baik. Kami kaya. Jadi itu bukan masalah besar."


Sial! Kenapa dia makin sombong sih. Litania membatin lagi. Ia tatap wajah bingung kedua anaknya secara bergantian lalu kembali ke Lita. Berusaha tenang. Itulah yang selalu terpatri di benak saat ada si buah hati.


"Bukan karena itu, Lita. Sebenarnya aku mau bawa anak-anak ke taman bermain," ucapnya yang masih bernada lemah lembut.


"Oh ya udah. Bersenang-senanglah."


Litania dan kedua anaknya pergi setelah cipika-cipiki dengan si empunya rumah. Tentu saja dengan menahan kegeraman yang masih belum reda. Namun, satu hal yang Litania sadar. Lita sepertinya tak akan bisa berubah. Bahkan akan tetap seperti itu meski bulan terbelah dua—mustahil terlaksana. Ia cukup tahu kenyataan itu dan sebisa mungkin menghindari Lita.


Saat tiba di ambang pintu, Litania berpapasan dengan seorang pria yang lumayan tua. Pria bersetelan rapi yang Litania tebak adalah Erik. Pria itu tampak angkuh, terbukti hanya melewati Litania tanpa mau menyapa.


Apa Lita bakalan baik-baik aja? Batinnya bertanya. Akan tetapi, ingatan Litania kembali ke ucapan Chandra tadi pagi, bahwa itu bukanlah urusan mereka.


"Bun, itu siapa?" tanya Dafan seraya menggoyang tangan Litania.


"Itu ayahnya Livia, ya?" timpal Dafin yang juga menggenggam tangan kirinya.


"Iya, sepertinya begitu."


Tersenyum, Litania kembali menuntun tubuh sang anak untuk melangkah. Namun, sebuah bunyian dari dalam rumah disusul teriakan Lita membuat ayunan kaki Litania kembali terhenti. Mendadak ia khawatir. Namun ....