
"Tan. Anya ada gak?" tanya Nara to the point saat pintu rumah Litania terbuka. Ia disambut senyum tipis sang pemilik rumah.
"Ada, kok, Ra. Langsung aja ke kamarnya," balas Litania. Matanya kini tertuju pada seorang remaja laki-laki berkacamata bulat dengan belahan rambut samping. Bukan maksud menghina, tapi melihat anak itu Litania teringat dengan sinetron bahoela. Si Cecep.
"Kalian sudah pulang sekolah?" lanjut Litania lagi.
Nara mengangguk lantas menyalami Litania. Litania sudah seperti ibu untuknya. Ibu mertua jika tuhan mengizinkan.
"Oh iya, ini siapa, Ra?" tanya Litania lagi saat pemuda itu turut menyalami dan mencium punggung tangannya.
"N-na-ma s-sa-ya f-fe-ri, T-tan-te. S-sa-ya t-te-men s-sekelas Anya," ucap pemuda itu. Ia terlihat gugup. Keringat keluar besar-besar dari pori-pori kulitnya.
"O Jadi nama kamu Feri. Kalo Tante ini Bundanya Anya. Panggil aja Tante Litan," balas Litania, ia tarik Nara dan berbisik, "Ini dia ngomongnya emang gagap, ya?"
"Enggak, Tan. Dia gak gagap, kok. Dia kek begini kalau cuma deket perempuan aja," balas Nara tak kalah berbisik.
Litania manggut-manggut, ia pindai lagi penampilan Feri. Dari penampilannya Litania bisa melihat kalau Feri ini bukan anak orang miskin. Terlihat dari jam tangan serta sepatu yang anak itu gunakan. Tampak mahal.
"T-tan-te. S-sa-ya m-ma-u minta m-maaf s-soal Anya. S-se-benarnya Anya ng-ngebela s-sa-ya sa-at d-di-palak geng-nya Ambar. S-saya gak nyangka k-kalau Anya s-sampe di skors." Anak itu kembali menyeka keringat. Sebegitu gugupnyakah?
Litania yang tak tega menarik lengan Nara dan mengajaknya masuk, sedikit menjauhi Feri. Sebenarnya ia ingin tahu perihal pemuda yang bisa dibilang alasan Anya di skorsing. Hanya saja tak tega jika bertanya langsung. Ditanya nama saja keringatnya keluar besar-besar.
"Ra, ini temen kamu tinggal di mana?"
"Dia tinggal di Pondok Indah, Tan."
Litania kembali mengangguk. "Terus orang tuanya tau apa enggak soal ini?"
"Kek ya gak tau, Tan. Soalnya orang tua Feri ini tinggal di Australi. Dia di sini tinggal sama om-nya. Tapi om-nya juga keknya sibuk. Setau aku dia ini sering sendirian. Di rumah cuma ditemenin pembantu," papar Nara.
Hati Litania kembali terhenyak. Anak malang seperti Feri malah menjadi korban pembulyan teman sekelas. Melihat itu kenangannya kembali ke masa ia muda. Kala bertemu Kinar. Kalau di pikir-pikir Kinar dan Feri memiliki nasib yang sama. Mereka beruntung di materi tapi apes di hubungan pertemanan.
Apa karena itu Anya mati-matian ngebela ni anak? Batin Litania. Ia dekati lagi Feri.
"Begini Feri—"
Belum selesai Litania menyelesaikan kata, si Feri menyambar tangannya. Ia tatap mata Litania, lekat. Dari mata yang berlapis kaca tebal, Litania dapat melihat kesungguhan di sana.
"M-maaf T-tan-te. S-sa-ya a-kan ngaku ke s-sekolan b-biar Anya b-bisa se-sekolah lagi. S-sa-ya a-kan b-bertanggung j-jawab."
Duh, mendengar itu Litania makin terharu. Ia sentuh pundak Feri lalu mengukir senyuman—berharap bisa menenangkan. Ia tahu anak itu pasti khawatir. Khawatir tentang Anya dan tentu saja dengan nasibnya sendiri.
"Feri. Ini bukan salah kamu, Nak. Mungkin Anya melakukan ini demi kamu, tapi tetep aja Anya yang salah. Gak seharusnya mukulin anak orang sampe begitu. Ini murni kesalahan Anya dan tentu saja salah Tante juga. Tante yang salah karena udah manjain dia. Sekarang lewat musibah ini, Tante mau dia introspeksi diri," papar Litania, senyum tulus tetap terukir. "Ya sudah. Kalian masuk saja. Anya ada di atas. Temani dia terus nasehati. Tante tau kalian teman yang baik. Tante percaya sama kalian."
***
"Terima kasih banyak, Mbak. Terima kasih," ucap gadis cantik dengan balutan kemeja putih dan rok hitam selutut. Senyumnya terkembang indah saat tahu kalau interview berjalan baik dan berakhir diterima bekerja. Bahkan hari ini, saat ini juga ia sudah bisa langsung melakukan kewajiban sebagai seorang sekretaris.
"Iya, saya juga terima kasih. Maaf saya hanya akan membimbing kamu selama tujuh hari, sisanya saya harap kamu cepat mengerti dan hafal dengan jadwal kesibukan atasan kita itu," papar Nasya—wanita cantik yang perutnya membuncit.
"Iya, Mbak. Saya akan bekerja keras mengikuti semua yang Mbak katakan. Dalam waktu seminggu saya akan berusaha sebaik mungkin biar Mbak Nasya bisa cuti melahirkan dengan tenang,"
Nasya tersenyum. Ia sentuh pundak gadis muda yang penuh energik itu. Gadis yang memiliki nilai terbaik di perguruan tinggi. Gadis cantik yang ia harap bisa menggantikannya mengemban tugas sebagai sekretaris.
"Baiklah. Kamu bisa kan memulai pagi ini dengan membuat kopi pak bos?"
Gadis itu mengangguk. "Bisa, Mbak. Bisa banget." Lalu memutar tumit menuju pantry.
"Fia! Tunggu dulu!"
Seruan Nasya membuat gadis yang bernama lengkap Dafia Diantisya menoleh lagi. Senyumnya tetap tersungging saat mendekati Nasya.
"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Fia.
"Saya hampir lupa sama ini. Bos kita itu nggak suka makanan atau minuman manis. Dia bisa menolerir makanan tawar ataupun pahit tapi gak yang manis. Inget, ya, jangan sampe kamu lupa karena efeknya pasti gak bakalan kamu suka," papar Nasya.
Fia diam, sedikit heran tapi mengangguk juga. Dalam hati bertanya-tanya, apa mungkin atasannya ini memiliki penyakit gula?
"Baik, Mbak, akan saya ingat," balas Fia lantas pergi menuju pantry.
Setelah meletakkan kopi di atas meja, mata Fia tertuju pada sebuah papan nama besar yang tampak elegan, terlihat istimewa, tertulis nama Wakil Direktur Danuarta Alvin di sana.
"Keknya aku pernah denger nama ini, tapi di mana, ya?" gumamnya seraya berpikir keras. "Rasa-rasanya ingat, tapi kok gak ingat."
Fia menepuk kepalanya sendiri. Mengusir pikiran yang gamang tadi. Antara ingat dan tidak bukanlah hal yang penting tapi jelas mengusik pikiran. Jadi, sebelum pikirannya bercabang karena nama, Fia memutuskan meninggalkan ruangan.
Namun, sialnya tangan menyentuh sebuah tumpukan kertas yang tak ber-map. Cepat-cepat Fia membereskan. Takut kalau sang bos keburu datang.
"Ini ...."
Mata Fia membola, tangannya secara cekatan membuka lembar demi lembar kertas yang berserakan. Banyak coretan kasar yang membuatnya berakhir tersenyum. Begitu banyak gambar manis dan romantis hingga mata melihat sebuah coretan yang sudah menjurus ke arah vulgar.
Fia berdecak lantas bergumam, "Keknya ni bos Alfin mesum, deh. Aku harus hati-hati. Dari coretan ini aja udah ngebuktiin kalau otaknya sudah lama terkontaminasi dengan hal-hal yang berbau pornografi."
Mata Fia kembali menyipit. Ia pegang erat sebuah gambar. Sketsa antara laki-laki dan perempuan yang tengah berciuman di bawah sinar rembulan. Angin menerbangkan rambut si perempuan hingga terlihat melayang-layang, tampak natural dan indah menurutnya yang juga sebenarnya penyuka komik manhwa, manhua dan manga.
"Dasar omes ni Pak Alfin."
Tanpa Fia sadari, masuklah sang pemilik ruangan. Danuarta Alfan atau yang lebih akrab di panggil Dafin. Pria bersetelan rapi melongo dan keheranan melihat seseorang berjongkok di dekat meja kerjanya. Di dekatinya wanita itu lantas ikutan menunduk—mencoba mencari tahu apa yang perempuan itu lihat.
"Kamu lagi ngapain?" tanyanya.
Fia sontak berdiri. Sialnya kepala Fia yang bergerak cepat tak sempat Dafin elak. Benturan antar kepala Fia yang keras dan hidung Dafin yang mancung pun tak terelakkan. Pria itu mengerang seraya memegang hidung.
Rasanya sangat sakit, kepala bahkan ikutan pening, belum lagi darah segar sudah keluar dari hidungnya. Dafin menatap tajam si tersangka.
"Apa kamu gila?" Teriakannya menggema seantero ruangan.
Fia yang panik langsung mendekat. Ia mencoba menyeka darah yang mengucur. Namun, Dafin yang trauma akan serangan kepala Fia langsung memundurkan langkah. Apes, kaki tersandung dan ia berakhir terjungkal ke belakang. Sialnya tangan membentur tepian meja. Erangannya terdengar makin menggema. Ia kembali melayangkan tatapan menghunjam pada Fia.
"K-kamu ...." Dafin menggeram, rahangnya mengetat, "kamu perempuan yang kamarin di bandara, 'kan?" lanjutnya dengan nada galak.
Fia yang makin gugup berdiri dan menggenggam kuat ujung nampan. Sungguh tak percaya ternyata ia bertemu lagi dengan Dafin, dan orang itu menjadi atasannya sekarang.
Ternyata benar kata anak-anak milenial. Dunia tak selebar daun kelor lagi. Tapi cuma selebar layar ponsel. Ckckckck!
"Maaf, Pak, saya enggak sengaja," ucap Fia. Bibirnya memucat dengan suara yang terdengar bergetar.
"Maaf? Kamu bilang maaf?" balas Dafin yang masih di mode kesal. "Jujur saja, kamu mau membunuhku, 'kan?"
Fia makin gemetaran, ia tak tahu harus apa menyelesaikan situasi rumit yang makin berbelit. Satu sisi ia tak ingin bertemu Dafin lagi, tapi satu sisi gadis itu butuh pekerjaan mengingat ada tanggungan yang harus ia penuhi.
"Saya benar-benar gak sengaja, Pak," lirihnya.
Namun, Dafin tetap tak percaya. Dalam erangan ia menatap nyalang Fia yang tertunduk.
Tak berapa lama masuklah Nasya beserta 2 orang pegawai lainnya. Mereka mematung beberapa detik sebelum akhirnya mambantu Dafin yang terduduk seraya memegang siku.
"Bapak gak apa-apa, Pak?" tanya Nasya. Wajahnya menyiratkan kecemasan. Takut kalau Fia dipecat dan ia harus menyeleksi lagi pelamar yang masuk.
"Siapa perempuan gila ini?" tanya Dafin. Masih dengan suara menggema.
Nasya menelan ludah. Ia tatap Fia sekilas lalu kembali ke Dafin. "Dia Fia, Pak. Sekretaris pengganti saya."
"Gak bisa, pecat dan usir dia sekarang juga!"
Fia yang panik mendekati Dafin.
"Tapi, Pak—"
Lisan Fia terjeda saat Dafin melangkah mendekatinya juga. Tatapannya penuh kebencian.
"Kamu saya pecat. Sekarang kamu keluar!"
****
oiya Gaes. mau liat visual Nara, Anya dan Fia bisa follow Ig aku ya. @Riharigawajixjoe.