
Chandra ambil jaket serta kunci mobil di dalam kamar. Pria itu berdengkus melewati Litania.
Menatap wajah kaku Litania Chandra berucap tegas, "Sekarang lakukan apa yang kamu mau. Aku mau pergi. Aku udah capek!"
Chandra berlalu, meninggalkan Litania yang masih mematung.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Apa itu? Pergi? Capek? Apa dia bakalan nyusul Rania? Gak enggak. Itu gak boleh. Mata Litania membulat. Air mata bahkan telah membanjiri pipi. Ia kejar langkah kaki Chandra dengan berkali-kali memanggil namanya.
Namun percuma. Lelaki itu telah melaju dengan mobilnya. Kenyataan yang membuat kaki Litania melemah dan berakhir berjongkok di halaman rumah. "Bang kocan ... jangan tinggalin aku. Aku ... aku ...."
***
Membuang ingus dengan tisu, Litania kembali tersedu-sedu. Dipeluknya lutut sendiri seraya menggeser layar ponsel, mencoba menghubungi Chandra. Bibir bahkan sudah bergetar—menahan kecemasan. "Bang, angkat telfon, dong. Kamu di mana? Jangan bikin aku takut."
Nihil, panggilan itu terhubung tapi tak terjawab. Membuat Litania kembali meraung seperti orang kesurupan. Suara tangisan keras yang sontak saja memancing sang nenek tergopoh menghampirinya.
"Kenapa lagi, Litan? Kok nangisnya gak selesai-selesai dari tadi? Nanti tenggorokanmu sakit, loh."
Kembali membuang ingus, Litania perhatikan wajah sang nenek yang telah berada di sebelahnya. "Tenggorokanku gak sakit, Nek. Yang sakit itu di sini." Litania memegang dadanya. "Sakiiit, Nek. Aku takut dia beneran pergi."
Menghela napas panjang, Sita rebahkan dirinya di samping Litania. "Makanya, kalau ngomong itu pikirin dulu. Udah kek gini baru deh nyesel. Kan Nenek udah bilang. Maafin dia. Entar kamu nyesel. Soal Rania jangan di pikirin lagi. Mungkin mereka gak berjodoh. Dan mungkin kamu juga bukan jodohnya Chandra."
"Nenek ...." Litania kembali meraung. Mendengar ucapan sang nenek membuatnya takut. Ucapan yang seolah mengatakan bahwa Chandra akan bersama wanita lain. "Gak Nek. Bang kocan itu jodohku. Aku sayang dia, Nek. Aku gak mau dia sama perempuan lain ...."
Litania mengelap air matanya. Memeluk tubuh ringkih sang nenek, Litania pun berucap, "Aku kan cuma mau ngasih dia hukuman. Aku gak nyangka dia marah beneran. Aku cuma mau nunjukin kalau aku perempuan tangguh. Aku gak mudah dikadalin. Aku takut kalo gampang maafin dia nanti dia berulah lagi."
Memutar matanya, Sita kehabisan kata-kata. Sang cucu itu begitu keras kepala hingga ia tak tau harus menasehatinya apa. Meskipun sudah di ingatkan, tapi tetap berpendapat bahwa dirinyalah yang benar.
"Mudah dari mana? Inget, Litan. Usahanya enggak mudah, loh. Coba kamu ingat, gimana kamu nyiksa dia. Berapa kali kamu nolak dia. Berapa banyak kamu maki dia. Tapi apa, dia tetep datang. Tetep usaha buat ngambil hati kamu lagi. Dia bahkan rela kamu gebukin biar kamu maafin dia.
"Lagian hukuman kok gak kelar-kelar sih, Ndok. Yang ada orangnya entar keder duluan. Makanya, besok-besok itu pikiran di panjangin. Jangan umpatan yang dibanyakin. Jadinya gini 'kan. Susah sendiri."
"Nenek!" Litania kembali tersedu-sedu. Bahkan kertas tisu hampir habis sekotak. Bekasnya pun tergeletak di mana-mana—memenuhi lantai juga ranjang. "Nenek gak akan tau rasanya jadi aku. Aku tersakiti, Nek."
Litania menggeleng. "Enggak Nek. Aku gak mau makan. Aku mau di kamar aja."
"Ya udah. Nenek tinggal, ya. Nenek mau ke rumahnya bu Tejo. Kamu berenti nangis. Jangan teriak-teriak. Nanti tetangga keganggu. Gak enak."
Sita pergi. Tinggallah Litania sendiri. Gadis itu menutup diri dalam selimut seraya menyentuh gawainya—mencoba menghubungi Chandra lagi. Akan tetapi, zonk. Panggilan itu tetap tak dijawab.
"Kamu ke mana? Kenapa teleponku gak diangkat? Aku mau minta maaf. Aku tau, aku salah. Aku juga gak bisa kalo jauh dari kamu. Pulang, ya. Aku janji gak akan ngungkit masalah Rania lagi. Rania aja gak mempermasalahkan masalah ini. Terus apa hak-ku. Apa wewenangku. Itu urusan kalian. Kalau kalian udah mengambil kesepakatan, itu artinya udah selesai. Aku gak berhak merongrong kamu buat sama Rania jika Rania aja udah nolak kamu. Aku hanya berharap wanita itu bahagia. Dan berharap kamu bisa membagi waktu antara kerja, aku dan Chandira.
"Duh, mikirin Chandira aku merasa bersalah. Aku ngerasa jadi penjahat yang ngambil bapaknya. Tapi, sebulan jauh dari kamu juga rasanya gak enak. Aku beneran udah jatuh cinta sama kamu. Makanya aku bersikap berlebihan tadi. Aku takut nanti akan ada Rania Rania yang lain."
Litania usap layar ponselnya. Tampak jelas gambar saat mereka berselfi kala di Bali. Sebuah potret yang makin membuatnya merindukan sosok lelaki itu.
Litania kembali menghapus jejak kesedihannya. "Aku janji, deh. Aku akan berperilaku baik. Aku kangen kamu, pulang donk. Maafin aku. Katanya sayang aku. Gak bisa idup kalo aku pergi. Tapi kenapa sekarang kamu yang ninggalin aku?"
Lagi, Litania kembali menangis. Mengenang masa-masa bahagia bersama membuatnya makin merindukan sosok itu. Sosok laki-laki yang sering ia hina bangkotan. Namun mampu membuatnya tenang. Sosok dewasa yang bisa memaklumi tingkah kekanakannya.
"Bang kocan. Pulang, dong."
"Iya, aku udah di sini."
Sontak Litania membuka diri. Tampak Chandra yang masih bermuka lebam berusaha tersenyum padanya. "Bang Chandra. Kamu ... sejak kapan?"
"Aku gak akan ke mana-mana. Aku juga pastikan gak akan ada Rania Rania yang lainnya. Cuma kamu Litania. Menurutmu kenapa aku belum juga nikah padahal umur udah bangkotan begini?" Chandra tersenyum tipis. Ia lap jejak air mata yang masih membasahi pipi Litania. "Itu karena kamu. Gak ada perempuan manapun yang bisa menggeser wajah kamu. Mau secantik apapun aku gak pernah tergoda."
"Kok gitu. Kalo kemaren kita gak ketemu itu artinya kamu mau melajang sampe tua?" Litania mulai penasaran. Ia bahkan telah mengubah posisi—menghadap Chandra dengan mata bersitatap.
"Iya, rencananya sih gitu. Aku gak mau berumah tangga yang nantinya akan nyakitin orang lain. Cinta itu gak bisa dipaksakan.
Duh, ucapan Chandra yang berkeluh kesah begitu malah membuat Litania merasa berbunga. Bagaimanapun ia merasa berharga dicintai setulus itu. Ia kalungkan tangannya di pinggang Chandra seraya merapatkan kepala di dada pria itu. "Aku minta maaf."
"Gak perlu minta maaf." Chandra mengelus rambut Litania. "Aku yang salah. Dari dulu sampe sekarang akulah biang masalahnya. Kamu gak salah. Salah kamu itu cuma satu."
Litania mengernyit. Ia lepas pelukan dan menatapa wajah Chandra dengan serius. "Apaan?"
"Salah kamu itu karna kamu udah nyuri hatiku."
Blush. Wajah Litania merona. Mendapat gombalan receh itu lumayan membuat hati serasa ditumbuhi sayap. "Apaan, sih."