
"Sayang ... apa kamu udah ngasih tahu nenek soal kehamilan kamu ini?"
Litania mengangguk seraya melepaskan senyuman. Sementara tangan begitu cekatan memasang dasi pada pria tegap yang tak lama lagi akan berubah status menjadi ayah.
"Iya, udah. Rencananya aku aku mau pulang dan nginep di rumah nenek malam ini, boleh?"
Chandra menggangguk, senyumnya terukir dengan jelas. "Hati-hati. Maaf aku nggak bisa nemenin, soalnya ada pertemuan penting hari ini."
"Iya, nggak pa-pa, nanti aku minta antar pak Bambang aja."
"Oh iya, aku hampir lupa." Chandra tersenyum, tangan sudah ia kalungkan ke pinggang litania, "Semalam aku ada ngasih tahu mama sama papa soal kehamilan kamu ini."
"Terus terus terus." Mata Litania berbinar, antusias.
"Apanya yang terus. Udah kayak kang parkir aja." Chandra terkekeh. Namun wajah Litania menjadi masam.
"Aku itu nanyanya serius," ucap Litania seraya memukul dada Chandra sekali. Sementara pipi sudah menggembung bak ikan buntal.
Kekehan Chandra makin nyaring. Mencubit pipi Litania, ia pun berucap, "Tentu aja mereka senang bakalan dapat cucu lagi."
Jantung Litania serasa mendadak berhenti. Kata 'lagi' itu mengingatkannya akan gadis mungil bernama Chandira. Mendadak wajahnya murung seketika lantas berusaha menjauhkan diri. Sebuah perlakuan yang membuat Chandra paham atmosfer telah berubah mellow. Cepat-cepat ia rengkuh pinggang Litania.
"Ayolah, jangan ngambek. Bukannya kita udah sering bahas ini."
"Tapi aku merasa berdosa."
"Udah. Jangan bahas itu lagi. Aku juga bukan tipe ayah yang nggak tanggung jawab."
Litania menghela napas panjang. "Ya udah, deh. Aku nggak akan bahas itu lagi. Tapi apa kamu nggak ada niat buat ke Semarang?" Kini mata Litania tertuju pada Chandra.
Chandra tersenyum, ia jawel hidung wanitanya itu. "Tentu saja ada. Rencananya aku mau ke sana dua hari lagi. Kamu ikut, ya."
"Tapi aku nggak enak."
"Enggak enak gimana? Malah Rania yang ngancem, aku nggak boleh ketemu Chandira kalau gak bareng kamu."
"Tapi—" Lisan Litania terjeda. Terdengar keributan dari luar rumah yang menyita dan membuyarkan pikiran.
Ada apa itu? Batinnya.
Memutar tumit dengan segera, Litania berlalu pergi meninggalkan Chandra dengan langkah lebar hampir setengah berlari. Suara itu ... suara teriakan yang begitu familiar di telinga. Itu Kinar, suara melengking dari sahabatnya itu menggema masuk ke rumah. Benar saja, gadis jangkung dengan jumpsuit berwarna pink itu tengah mematung dengan suara yang masih melengking.
Didekatinya Kinar yang berdiri di halaman. "Baru dateng kenapa bikin rusuh?" tanyanya dengan bersedekap dada. Diperhatikannya ke mana arah pandangan Kinar dan gelengan kepalalah yang menjadi responnya. Ia sentuh pundak Kinar dan mulai berkata lagi, "Jangan norak!"
"Aku gak norak, Litan. Aku kaget." Kinar menjawab tanpa menoleh Litania, jari telunjuk menunjuk tepat ke arah Arjun yang juga telah mematung memandangnya. Pria itu tampak shock, terbukti dengan punggung yang tersandar di pintu mobil dengan alis tertaut.
"Laki-laki itu ... kenapa dia ganteng banget?"
Kinar histeris. Perkataan yang membuat Chandra dan Litania tersenyum menahan geli. Akan tetapi, tidak untuk Arjun. Lelaki berstelan rapi dengan jas hitam membalut diri itu tampak ketakutan.
"Oh ... dia. Ya udah, ayo kenalan dulu." Litania mendorong tubuh Kinar yang sedikit kaku. Kinar, gadis jangkung itu melangkah pelan dengan senyum yang terkembang. Senyum yang menyeramkan menurut Arjun.
"Arjun, kenalin ini temen aku namanya Kinaryosih, tapi panggil aja dia Kinar."
Sungguh, Arjun bingung. Ah, andai tidak bekerja. Ia pasti lari terbirit-birit melihat gelagat Kinar. Remaja itu begitu lekat mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala. Tatapan anak remaja yang begitu mesum menurutnya. Namun, ia jabat juga uluran tangan Kinar. "Saya Arjun Bramantyo, asisten Pak Chandra."
Tanpa diduga. Sedetik kemudian mata Arjun membelalak dengan bibir yang sudah menempel dengan bibir Kinar. Remaja mesum itu menarik tangannya hingga ia tak dapat mengelak. Sebuah serangan yang membuatnya refleks mendorong tubuh Kinar dan mengelap bibirnya dengan punggung tangan. "Hei! Apa yang kau lakukan?" bentaknya.
Kinar tersenyum kuda, seakan-akan bahagia dan tak ada raut penyesalan. "Aku ngasih kamu ciuman pertamaku, kamu pasti terharu, 'kan?"
Terharu otakmu bengkok. Ini pelecehan namanya. Ah, andai bisa ia suarakan jeritan hatinya itu. Ia benar-benar habis pikir, dari mana sosok remaja aneh itu berasal?
Memperhatikan Litania dan Chandra secara bergantian, alis Arjun kembali tertaut. Sepasangan suami istri itu bukannya terkejut malah tersenyum. Astaga, rasanya aku yang aneh di sini.
Menghela napas panjang, Arjun kembali mencoba tenang. Ia betulkan bajunya dan kembali berdiri tegap. Sementara mata masih saja memandang tak suka anak bau kencur yang mencuri ciuman pertamanya. Ck! Pagi-pagi udah ketiban sial.
"Bagaimana kamu seneng, 'kan? Kamu pasti bangga karna udah dapat jatah ciuman pertamaku," ucap Kinar lagi. Mata bahkan ia kerlingkan seperti orang kelilipan.
Bangga palalu soak, batin Arjun lagi. Baru kali ini ia benar-benar merasakan kegondokan yang menggunung dalam sekejap. Namun, lagi-lagi ia tahan ekspresi kesal itu agar tak kurang ajar karena ada atasannya di sana.
Menyentuh hidung punggung tangan, Arjun menatap pada Chandra. "Berangkat sekarang, Pak?"
"Baiklah." Chandra tersenyum dan melangkah mendekati Litania. "Aku ngantor dulu, ya. Jangan lupa kabarin. Dan hati-hati di jalan. Sampein salam aku buat nenek kamu."
Litania mengangguk. Senyum ia ukirkan selebar mungkin. "Kamu juga hati-hati. Jangan sampe telat makan siang. Dan juga ...." Litania sengaja menjeda lisan lantas menyipitkan matanya, "jangan sampe tergoda dengan perempuan lain. Awas aja kalo sampe nglirik. Aku congkel tu mata."
Gelak Chandra menggema. Ia cubit gemas pipi Litania lantas mendaratkan kecupan di bibir cerewet itu. "Gak akan. Aku setia."
"Uhui! So sweet banget!" celetuk Kinar.
Lagi-lagi Chandra tersenyum. Ia usap ujung kepala Litania dan mengacak-acak poninya. "Ya udah, aku berangkat dulu. Sebuah kecupan kembali mendarat di kening Litania. Dan lagi-lagi Kinar seperti kesurupan. Wajahnya merona dengan senyum terkembang. Entah apa yang di pikirkannya hingga Litania tak tahan untuk tak bersuara. "Mblo ... jangan mesum."
Kinar tersenyum kikuk. "Kalian romantis banget. Aku 'kan ngiri," ucapnya lagi yang memang posisinya hanya berjarak selangkah dari Litania.
"Ngiri terus bahaya Kinar. Sekali-kali kek nganan."
Kinar kembali nyengir kuda, ia arahkan matanya pada Arjun yang kebetulan menatapnya dengan tatapan heran.
"Kenapa?" tanya Arjun ketus.
Menyatukan ujung jari telunjuk kiri dan kanan, Kinar bahkan juga menekan jempol kaki dan memutarnya. Bak orang yang kebelet pipis hingga lagi-lagi Arjun mengernyitkan dahi.
"Arjun, kita nikah, yuk. Biar bisa cmimiw kayak mereka," celetuknya. Sebuah pernyataan yang membuat Arjun elus dada dalam sekejap.
Gadis ini bener-bener aneh. Di mana otaknya? Ke mana urat malunya?
"Ayo kita berangkat, Pak," ucap Arjun tanpa menjawab pertanyaan Kinar sebelumnya. Ia Buka pintu mobil bagian penumpang agar mempermudah atasannya itu untuk masuk.
Akan tetapi, lagi-lagi si Kinar mendekati. Ia pegang tangan Arjun dengan mata yang berbinar. "Aku siap kok. Nikah. Gak pake resepsi juga gak apa-apa. Yang penting kamu setia, jadi kita bisa bahagia dengan banyak anak. Gimana, kamu mau ya terima lamaran aku?"
Shit! Arjun tak dapat berkata. Hanya dengkusan samar serta helaan napas yang menjadi responnya. Ia tarik tangannya dari genggaman Kinar. "Maafkan saya, Nona. Kamu bukan tipe saya," ucapnya dengan nada dalam. Sungguh, kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun. Ia lewati Kinar yang masih memandang takjub ke arahnya.
Tu anak tinggal di mana si. Otaknya cecer di mana si. Sialan. Bikin malu aja.