Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Gak bisa makan cinta.


Nah, 'kan balik lagi.


Kinar tersenyum penuh kepuasan kala melihat mobil yang Arjun kendarai berjalan mundur. Kamu itu memang kaku. Tapi aku gak yakin kamu bisa sekejam itu buat ninggalin aku sendirian, batin Kinar lagi. Senyumnya tampak makin terkembang saat kaca jendela terbuka.


Semantara Arjun hanya berdengkus menatapnya. "Ayo cepetan masuk!"


Tak mau jual mahal, Kinar duduk dan kembali memasang sabuk pengaman dengan wajah yang pastinya ceria penuh kemenangan. Menatap intens raut wajah kekekesalan Arjun, Kinar pun mulai ingin menggoda. "Kanapa balik lagi? Bukannya kamu bilang aku bom. Kamu gak takut meledak?"


Lagi-lagi Arjun diam, malas untuk menyahut. Lidahnya serasa mati dan tak bertenaga untuk meladeni omongan Kinar yang jelas bikin gerah hati.


Sabar Arjun, anggap aja dia makhluk astral. Ada tapi gak keliatan, batin Arjun di sela tatapan mata yang masih awas melihat jalanan.


"Apa benih cinta udah ada di hatimu?" celoteh Kinar lagi seraya menautkan jari telunjuk.


Sumpah, perempuan stres ini kok makin nyebelin. Sabar ... sabar.


"Kata orang jaman dulu, diem itu bertanda setuju, loh," ucap Kinar lagi. Kini jari telunjuknya bahkan sudah menyentuh otot bisep Arjun. Jari laknat itu telah menjelajah dari pundak turun ke pergelangan tangan.Gila, ototnya kenyal banget, pasti dia rajin olahraga.


Arjun yang risih langsung menepisnya. "Bisa gak kamu diem, nanti kita celaka."


Namun yang diajak bicara seperti kehilangan kewarasan. Pikirannya seperti arwah gentayangan, melayang-layang.


Senyum mesum Kinar terukir lagi. "Arjun, kita nikah yuk. Aku rela kok idup susah. Mau, ya, ya, ya, ya, ya."


Ck! Cewek ini bener-bener gila.


"Arjuuun ...."


Kinar memanjakan suaranya. Bibir bahkan telah maju beberapa senti. "Diem itu artinya setuju, loh."


Arjun masih tak merespon.


"Kalau gitu aku mau telepon Litan. Mau bilang kalau kita gak bisa ikut pulang karena kita bakalan bulan madu. Jangan jauh-jauh, deh. Bulan madu di rumah kamu juga aku mau. Gak keluar-keluar kamar juga aku oke aja. Jadi bulan-bulanan kamu pun aku ikhlas."


Sumpah demi astronot yang bisa nyampe ke bulan. Please ... tolongin. Bisa gak kalian bawa mahluk ini ke sana.


Kinar tampak menekan layar ponselnya lantas mendekatkan barang pipih itu ke telinga. Dengan senyum yang luar biasa merekah, ia pun menyapa yang ada di seberang telepon, "Hallo, Li—"


Belum sempat Kinar menyelesaikan kata, Arjun telah lebih dahulu merampas benda pipih itu. "Bisa gak kamu berhenti berhalusinasi?" ketus Arjun. Ia benar-benar tak bisa mengabaikan celotehan Kinar yang membuat kupingnya panas. "Lagian aku bukan suka. Aku balik lagi juga bukan karna aku peduli, aku cuma gak mau kehilangan pekerjaan."


Kinar manggut-manggut. "Aku tau itu cuma alasan. Sebenarnya kamu dalam diam juga perhatian 'kan sama aku?"


Sialan, harus kuapakan perempuan ini. Arjun kendurkan dasi yang melingkar di leher. Rasa panas mulai menyerang meski AC sudah di titik terdingin. Kinar, selain seperti bom waktu, gadis itu juga seperti neraka. Panas.


"Sekarang mending kamu diem. Ngoceh gak jelas sekali lagi aku turunin beneran. Mau!" Mata Arjun bahkan melotot, membuat Kinar bukannya takut malah gemas ingin mencubit. Namun, ia urungkan niat itu dan berakhir patuh.


Sepuluh menit telah berlalu, dan sepuluh menit juga gadis itu tak bersuara. Akan tapi, matanya yang bulat tetap saja tertuju pada Arjun yang memasabodohkan keberadaannya hingga sesutu terdengar dan memecahkan kesunyian. Suara bunyian yang sontak membuat Kinar tersenyum malu dan Arjun mengernyit heran.


Arjun lihat Kinar yang sudah memegang perut. "Kamu laper?"


Kinar menggeleng beberapa kali, tapi sialnya bunyi itu kembali terdengar hingga ia berakhir mengangguk juga.


"Ck! Kenapa gak bilang? Kamu tadi gak makan?"


"Kenapa enggak?


"Karena tadi nafsu makanku hilang. Berganti dengan nafsu yang ...."


Senyum Kinar kembali mesum. Ia pindai Arjun dari wajah hingga kaki. "Pokoknya kalau deket kamu aku gak nafsu ngapa-ngapain. Tapi pengennya diapa-apain."


Arjun tersenyum sinis. "Terus kenapa sekarang bisa laper? Pelototin aja ni mukaku biar kamu kenyang.


Kinar tersenyum canggung. Ia garuk tengkuknya saat bunyi perut makin terdengar jelas. "Sekarang aku baru paham. Ternyata kita emang gak bisa makan cinta."


Arjun berdengkus, ada rasa geli saat mendengar ucapan itu. Namun, sebisa mungkin ia harus tahan ekspresi agar gadis gila di sebelahnya itu tak besar kepala.


"Kamu mau makan apa?"


"Apa ajah, yang penting kamu temenin, kamu bayarin. Soalnya aku gak punya duit."


"Eh."


Alis Arjun tertaut. Heran akan jawaban Kinar. Sekilas penampilan gadis itu begitu heboh. Pakaian serta aksesoris yang melekat di tubuh bukanlah menunjukkan kemiskinan. Ck, perempuan ini pinter bener bikin alasan. Masa iya gak punya duit. Ya udahlah, barangkali abis makan tu mulut bisa mingkem.


"Ya sudah, aku bayarin. Tapi jangan protes."


Kinar mengangguk antusis. Entah mengapa mendengar kata makan bareng itu membuatnya menyimpulkan sesuatu. Arti yang bukan sekedar makan biasa. "Makasih, aku gak akan bikin kamu ilfil sama kencan pertama kita ini."


Arjun kembali menyipitkan matanya. Perempuan ini bener-bener. Aku kira dia udah waras. Ee taunya masih gila aja. Bentar bener, bentar lagi eror. Ya ampun. Aku tobat. Tobat nasuha.


Tibalah mereka di sebuah pondok kaki lima. Terpampang jelas plang bertuliskan Mi Ayam Maknyos yang lumayan padat pengunjung. Tempat biasa Arjun makan bersama teman-teman kuliahnya.


Menuju di pojokan, Arjun duduk lantas memberikan daftar menu yang sudah di laminating. "Pesen aja. Makan sepuasnya."


Mata Kinar berbinar. Bukan karena makanan yang ditawarkan, melainkan perhatian Arjun. Rasanya seperti ada gelitikan dalam perut. Seperti ada kupu-kupu terbang di dalam sana.


Namun, perasaan bahagia itu menguap saat sosok wanita seumuran Arjun mendekat dan menyentuh pundak Arjun.


"Arjun, apa kabar?"


Mata Arjun membulat lantas menepiskan tangan wanita berambut hitam dan lurus itu. Wanita cantik dengan balutan celana jeans dan kaus pas body. Tampak seksi di mata para lelaki. Tapi tidak untuk Kinar. Dirinya kesal akan kehadiran wanita itu.


"Siapa dia?" tanya Kinar.


"Meli," jawab Arjun malas.


"Dia siapa kamu, Jun?" Kini si Meli yang menatap Kinar dengan tatapan tak suka.


"Bukan urusan kamu. Mending sekarang kamu pergi. Jangan ganggu waktu makan kami," jawab Arjun ketus.


Sumpah, bibir merah Kinar makin merekah saja. Kata "kami" yang Arjun ucapkan serasa mantra ajaib. Kinar lagi-lagi terlena dengan mulut sedikit menganga. Ia telan ludahnya dengan cepat lantas menatap garang pada Meli. "Iya, kalau gak ada keperluan mending minggat sono. Jangan ganggu makan malam kami."


Berkacak pinggang, Meli merasa terhina. Ia tatap nyalang Kinar yang memang berpenampilan unik.


"Heh! Bule kampung. Jangan sok kecakepan ya. Aku itu punya urusan sama Arjun, bukan sama kamu."