Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Reno


"Om sekarang ada di mana?" balas Dafin yang terlihat panik. Fia yang tak tahu-menahu juga ikutan panik. Tak pernah sekalipun sang bos terlihat mengerikan dan acak-acakan seperti itu. Meskipun di benak begitu banyak pertanyaan Fia tetap setia mengikuti ke mana arah langkah Dafin.


"Saya sedang ada di depan rumah orang tua asuh anak Nona Sisi. Rumah mereka kebakaran dan ...."


Suara Rio yang ada di seberang telepon, terjeda. Dafin yang tengah berlari pun menghentikan langkah.


"Dan apa Om?" cecar Dafin tak sabar. Ia ngos-ngosan.


"Semua orang yang ada di dalam sana tewas termasuk anaknya itu. Semua sepertinya sedang istirahat dan tidak sadar kalau ada api," jawab Rio.


Seketika jantung Dafin lemah, kakinya seperti kehilangan tenaga. Tak percaya kalau anak Sisi pergi begitu saja dengan cara yang mengenaskan. Punggung pria itu pun berakhir membentur dinding. Ia benar-benar tak tahu bagaimana cara menjelaskan kejadian itu kepada Sisi nantinya.


Menghela napas, Dafin berusaha kembali berdiri tegak. "Sekarang bagaimana keadaan di sana?" tanyanya lagi.


"Saya lihat petugas dan warga tengah memadamkan api," balas Rio.


Dafin kembali melanjutkan langkah. Langkahnya sungguh lebar ketika menyusuri lorong rumah sakit. Ia bahkan tidak menyadari kalau ada Fia yang tergopoh mengikutinya dari belakang.


"Sekarang kita harus bertemu, Om. Saya ingin tau seperti apa si brengsek itu," geram Dafin.


"Baiklah. Lebih baik kita bertemu di rumah. Kita juga harus menceritakan tentang ini pada orang tua kamu."


Dafin kembali menghentikan langkah. "Kenapa harus di rumah saya?" tanyanya.


"Karena ini ada sangkut-pautnya dengan Pak Chandra serta istrinya, ibu Anda," jawab Rio.


Telepon pun terputus saat mereka sudah menyepakati untuk bertemu dan merundingkan masalah pelik yang tengah dihadapi Dafin.


"Pak Dafin, kita mau ke mana?" tanya Fia. Ia sudah berancang-ancang akan mengemudi, tapi Dafin dengan cepat meraih kunci dari tangan gadis itu.


"Biar saya saja yang nyetir," kata Dafin seraya menggerakkan tangan kanan, kode agar Fia duduk di sebelahnya. Gadis itu pun menurut.


Masih dengan wajah tegang, Dafin melirik jam yang ada di pergelangan dan waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Sebenarnya waktu itu bukanlah waktu yang pas untuk bertemu orang lain maupun membawa sekretaris untuk lembur.


Membawa perasaan yang kacau Dafin pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Pikiran tidak bisa tenang apalagi mengingat pelaku bukanlah orang biasa, orang itu nekat melakukan apa saja. Terbukti bagaimana dia menyingkirkan anak yang baru berusia empat tahun. Anaknya, darah dagingnya sendiri.


Dafin yang kesal memukul setir. Fia yang ketakutan memegang hand grip mobil dengan erat, ia tak berani bersuara dan hanya bisa berdoa agar mereka tiba di rumah dengan selamat dan bukannya di alam baka dengan cepat.


Tibalah di rumah, Dafin membuka pintu dan melihat 4 orang sudah duduk saling berhadapan di ruang tamu. Ada Chandra, Rio, Dafan dan Litania yang menangis.


Dafin duduk, ia keheranan melihat sang bunda menangis seperti itu. Wajahnya pun serius menatap satu persatu orang yang ada di sana, matanya lalu terarah ke Rio.


"Katakan, Om. Katakan siapa pelakunya? Sebenarnya siapa si brengsek itu?" cecar Dafin, mukanya merah. Kekesalan mendominasi pikiran. Jika saja orang itu ada di depan mata, bisa di pastikan akan ada pertumpahan darah.


Rio melihat Litania sekilas lalu kembali ke Dafin. Pria berusia hampir lima puluh tahun itu membuang napas panjang lalu berkata, "Orang ini bernama Reno Rahardian Sanjaya. Usianya 44 tahun, pengangguran. Dia mantan narapidana, pernah dipenjara karena kasus penculikan dan percobaan pemerkosaan yang dilakukannya pada ibumu."


Seketika mata Dafin melotot. Ia lihat Litania yang masih sesenggukan.


"Kalau motif, untuk sementara saya bisa simpulkan karena dendam. Dia dibuang keluarga karena kasus itu. Dan saya pikir setelah mendekam di penjara selama dua belas tahun membentuk dia memupuk rasa benci untuk keluarga ini. Dia bahkan mencuri kendaraan. Dia memperhitungkan segalanya dengan matang," lanjut Rio lagi.


Sementara Dafin, bungkam. Ia benar-benar tak menyangka bahwa orang yang ada di balik tragedi yang menimpa dirinya dan Sisi adalah masa lalu orang tuanya sendiri.


Melepqskan diri dari pelukan Chandra, Litania pun menyeka air mata lalu menatap Dafan dan Dafin secara bergantian. "Maafkan Bunda, Bunda nggak nyangka kalau Reno begitu nekat. Dendamnya begitu besar untuk keluarga kita. Bunda nggak nyangka kalau dia menjadi lebih mengerikan. Rio bilamg seperti dia sampai rela membunuh darah dagingnya sendiri."


Dafin yang frustrasi menyugar rambutnya ke belakang. "Kenapa Bunda sama Ayah nggak pernah bilang kalau punya musuh semengerikan ini?" tanyanya dengan nada kesal.


"Karena kami pikir dia sudah sadar, tapi ternyata ...." Litania kembali sesenggukan.


Dafin yang masih kesal langsung berdiri, cepat-cepat Dafan mencegahnya. "Kamu mau ke mana?"


"Tentu saja mau buat perhitungan sama psikopath itu," balas Dafin dengan emosi yang makin meletup.


"Lebih baik kamu duduk lagi. Tenang."


"Bagaimana aku bisa tenang, Fan. Dia itu si brengsek yang memperkosa Sisi. Dia mampu membunuh anaknya dan merencanakan ini semua demi menghancurkan keluarga kita. Dia ...."


"Oh Shit! Aku harus segera ke Semarang." Gegas ia berdiri tapi dihadang oleh Rio.


"Lepasin aku, Om! Anya dalam masalah! Anya dalam bahaya! Laki-laki itu merencanakan sesuatu yang busuk untuk Anya." Dafin berteriak dan tentunya membuat Litania terisak makin nyaring. Chandra pun sibuk menenangkan istrinya itu.


"Tenanglah, ini sudah malam. Ayah sudah mengutus banyak orang untuk menjemput adik kamu. Sekarang lebih baik kamu masuk dan istirahat. Sekarang sudah hampir tengah malam, percuma juga ke sana kalau keadaan kamu sedang tidak karuan seperti ini. Nanti bakalan membahayakan diri kamu juga orang disekitar," ujar Chandra tenang, meskipun di wajah tak demikian. Biar bagaimanapun juga Anya adalah anak gadisnya.


Dafin menggeleng. "Gak bisa, Yah. Laki-laki itu jahat. Dia bahkan memasang alat penyadap di bawah ranjangnya Sisi. Dafin nggak tahu terbuat dari apa hati laki-laki itu. Dia benar-benar gak punya nurani. Apa Ayah tahu, dia tertawa, dia mentertawakan aku yang kebingungan karena gak punya petunjuk sama sekali mengenai dia? Dia tertawa di depan pintu ruangan Sisi. Aku kesal. Aku mengejarnya tapi dia berlari begitu cepat. Aku kehilangan jejak."


Fia yang berdiri langsung tertegun. Ia baru sadar alasan Dafin membentak hingga tega menepis kopi yang ia bawa saat di rumah sakit tadi. Ia merasa gagal sebagai sekretaris, merasa keberadaannya benar-benar tak membantu Dafin sama sekali. Gadis itu tertunduk dan meremat jemari tangan.


"Aku harus ke Semarang, Sekarang," ulang Dafin tapi lagi-lagi Rio menghentikan.


"Dengarkan Ayah. Ayah juga takut terjadi sesuatu sama Anya. Tapi kita nggak bisa gegabah seperti ini. Kita butuh rencana. Reno ini licik. Bertahun-tahun dia merencanakan segalanya hanya untuk menghancurkan keluarga kita. Dendamnya begitu besar pada keluarga kita, Fin. Kita nggak bakalan menang hanya dengan mengandalkan kemarahan. Kita harus tenang. Ayah janji akan menjebloskan dia ke dalam penjara sekali lagi. Akan Ayah pastikan dia membusuk selamanya di sana," geram Chandra. Rahangnya mengetat. Ia sudah bertekat.


"Tapi Anya ...."


"Tenanglah, adik kamu baik-baik saja. Tadi Ayah sama Bunda sudah menghubungi Lita. Kami minta dia menahan Anya agar tidak ke mana-mana sampai orang-orang kita tiba di sana dan menjemputnya," lanjut Chandra.


Dafin mengembuskan napas, sedikit lega karena sang ayah lebih maju dari dia. Jujur, ia akan menyalahkan diri sendiri kalau terjadi apa-apa sama adiknya itu. Ia benar-benar tidak ingin kemalangan yang menimpa Sisi juga dirasakan oleh adiknya. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.


Dafin terduduk, ia topang kepala yang berat dengan bertumpu pada kedua siku. Tanpa ia sadari Fia maju, gadis itu mendekat dengan kepala tertunduk pula.


"Maafkan saya, Pak. Andai tadi saya berada di depan pintu, saya pasti akan mendapatkan orang itu, saya ...."


Litania yang melihat, angkat suara, "Sudahlah Fia. Jangan menyalahkan diri sendiri. Saya yakin dan kenal betul siapa Reno itu. Dia keras kepala dan pantang nyerah. Kalau cara 1 gagal dia akan melakukan cara yang lain." Mata Litania yang sembab m memindai penampilan Fia yang masih saja rapi tapi tercetak jelas kalau gadis itu kelelahahan, biar bagaimanapun sekarang waktunya istirahat. "Terima kasih, Fia. Dan maaf ... karena kami kamu terjebak masalah keluarga ini," lanjutnya.


Fia bungkam, semua orang tak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing hingga Dafin yang tadinya tertunduk, mengangkat kepala dan menatap lekat wajah Fia. "Malam ini kamu istirahatlah di sini. Besok saya minta kamu handle semua jadwal saya yang ada di kantor. Kami harus menyelesaikan masalah keluarga."


Fia mengiyakan. Ia di antar Dafan menuju kamar tamu.


"Istirahatlah, kamu keliatan capek," ujar Dafan seraya memaksakan senyuman. Ia acak-acak rambut Fia lalu meninggalkannya dan kembali berunding dengan keluarga di ruang tamu.


***


Sementara itu, di sebuah kontrakan kecil, duduk Reno yang mengenakan topi di kepala. Pria paruh baya itu membuka jaketnya dengan mata menatap foto gadis remaja yang tertempel di dinding.


"Anya. Kamu sangat cantik. Kamu persis seperti ibu kamu. Apa kamu tau, aku begitu menyayangi dan menyukai ibumu, tapi ibumu dengan teganya berkhianat. Dia lebih memilih laki-laki tua bangka itu ketimbang aku. Dia lebih memilih Ayah kamu yang brengsek itu ketimbang aku."


Reno kemudian tergelak jahat. Ia raih kertas foto Anya lalu membelainya. "Sebenarnya aku nggak tega untuk ngelakuin ini sama kamu, gadis kecil. Ngeliat kamu aku seperti melihat Litania waktu muda. Dia energik, sangat menggemaskan. Dia sangat menggiurkan, hasrat dan cintaku begitu besar untuk dia, tapi ...."


Reno berhenti membelai foto Anya. Kini matanya terarah ke foto Litania yang sedang tersenyum bersama anak-anak serta suaminya. Mendadak gejolak kemarahan Reno memuncak. Ia kesal melihat senyum Litania yang begitu manis di samping pria lain. Tanpa perasaan, ia meremas-remas foto Anya lalu membuangnya.


"Sekarang rasa cintaku sudah berubah benci. Sekarang giliran kamu yang harus merasakan sakitnya kehilangan semua yang kamu punya, Litan. Aku mau kamu menanggung rasa benci itu. Aku ingin melihat kamu dan suami kamu menangis karena anak kalian hancur." Reno kembali tergelak jahat. Suaranya menggelegar di rumah tak terurus itu.


Namun, tak lama, Reno kembali terduduk lalu mengusap wajahnya yang tertutup masker. Perlahan ia buka penutup wajah itu lalu membelai coretan panjang yang ada di pipi sebelah kiri. Ia meraung seperti orang yang kehilangan akal, lantas melihat nyalang lagi foto keluarga Litania.


"Aku ingin kamu merasakan apa yang aku lalui selama ini. Aku ingin melihat anak-anak kamu menderita, lalu satu persatu akan pergi ninggalin kamu. Aku ingin kamu merasakan sakitnya sendirian dan tmgak punya satu orang pun yang tersisa."


Gelak suara tawa Reno kembali mengudara. Ia beranjak dari kursi, menuang alkohol yang ada di atas meja, lalu menatap langit dari jendela kaca yang buram tertutup debu.


"Litania ... Litania. Aku akan buat kamu nangis darah. Aku akan buat perhitungan yang benar-benar nggak pernah kamu bayangkan. Aku Reno, aku Reno Rahardian Sanjaya akan membuat perhitungan yang setimpal sama kamu."


****


Seperti yang sudah direncanakan, pagi-pagi sekali Anya dijemput oleh ajudan terbaik yang Chandra punya. Tiga buah mobil sedan berwarna hitam berderat melintasi jalanan kota Semarang. Ia dikawal ketat bak Putri pejabat terpenting di Indonesia. Kasih sayang Chandra dan Litania bukan kaleng-kaleng. Meskipun kadang kala Litania tegas dan cenderung kejam dalam mendidik anak-anaknya, tapi berbeda kasus yang tengah keluarganya hadapi. Ancaman mengintai masa depan dan keselamatan anak gadis semata wayangnya itu.


Sementara Anya, gadis itu bersungut di dalam mobil. Masih tak mengerti kenapa orang tuanya bersikap berlebihan seperti itu padahal sebelumnya tidak. Tidurnya yang nyenyak harus terganggu karena kedatangan belasan pengawal ke kediaman Lita.


"Om, ini sebenarnya ada apa, sih?" tanya Anya untuk yang kesekian kali. Namun si sopir yang berseragam hitam dan pria yang ada di sebelahnya tak menjelaskan lebih rinci selain mengatakan kalau ini adalah perintah dari Chandra.


Anya mendesah. Bosan karena perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Ia kesal karena di dalam mobil tak ada yang bisa di ajak bicara hingga terasa sesuatu serasa akan keluar. Jika ditahan lebih lama ia takut akan meledak tanpa pemberitahuan. Anya tepuk kursi si sopir. Wajahnya pucat, pori-pori mengeluarkan keringat yang besar-besar.


"Om, bisa pinggiran mobilnya bentar, gak? Aku mau ke toilet. Aku udah gak kuat nahan."