Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Hamil


Memindai wajah damai Litania yang terpejam, Candra tersenyum penuh bahagia. Euforia jelas kentara di wajah pualamnya. Bagaimana tidak bahagia kalau mendengar kabar yang membuat selaksa kama ada dalam dada membuncah hebat? Adanya janin dalam rahim Litania adalah kabar gembira yang membuatnya tak bisa mengalihkan pandangan. Ia tetap terus wajah Litania yang terpejam, lantas mengusap rambut hitam Litania yang sedikit acak-acakan. Dikecupnya dengan hangat punggung tangan Litania yang sudah ada dalam genggaman.


"Sayang terima kasih banyak ya." Membelai perut Litania, Chandra kembali bergumam, "Ini sungguh kado terindah dari Tuhan. Aku janji, aku janji bakalan menjadi suami yang baik, dan ayah yang baik. Terima kasih, Litania."


Saking bahagianya, tanpa Chandra sadari, air telah menggenang di pelupuk mata. Sedetik kemudian jejak kebahagiannya menetes juga. Ia belai pipi mulus Litania hingga yang punya pipi tersadar dan mengerjapkan mata. "Kamu bangun, Sayang?"


Litania melenguh pelan. Ia sapu sekeliling dengan pandangan yang masih memburam dan mendapati Chandra tengah duduk di sebelahnya. "Aku di mana?" tanyanya seraya berusaha untuk duduk.


Dengan sigap dan cepat, Chandra membantu Litania dan memberikan alas bantal untuk Litania bersandar. Sementara mata dan senyuman masih saja melekat di wajahnya. Membuat Litania mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya dalam benak. Ada apa ini. Kenapa dia aneh begini?


Kembali mengecup punggung tangan Litania kemudian membelai rambut itu, Chandra dengan lirih berucap, "Kamu di rumah sakit, Sayang. Selamat kamu bakalan jadi ibu."


Litania yang masih bingung antara mimpi dan nyata kembali mengerjapkan matanya berkali-kali, lalu menatap fokus pada Chandra yang membuatnya berpikir, apakah orang ini bercanda?


Namun, setelah mengingat gejalanya beberapa hari ini, senyuman Litania terukir juga. Matanya bahkan berbinar menatap Chandra. "Ini beneran?" tanyanya. Sedetik kemudian air mata Litania yang tadinya menggenang, tumpah tanpa bisa ditahan.


Chandra mengangguk. "Iya, Sayang. Usianya enam minggu."


"Akhirnya ... akhirnya aku mengandung anak kamu, Bang. Aku seneng. Aku bahagia," ucap Litania, suaranya bahkan telah bergetar—beradu dengan tangisan.


"Iya, kamu hebat Litania. Kamu istri terhebat." Chandra mendaratkan ciuman di kening Litania lantas menghapus jejak air mata yang sudah membasahi pipi. "Terima kasih banyak," ucapnya sekali lagi.


***


Di mobil


Litania sandarkan kepalanya di dada bidang Chandra. Sementara Chandra, terus saja mengelus rambut Litania dengan senyum yang tak pudar sama sekali. Sebuah pemandangan yang membuat Ara tersenyum, tetapi tidak untuk Arjun. Pria itu mengernyit heran setiap kali melihat Chandra dan Litania dari kaca spion tengah mobil. Hanya ada satu kalimat dalam benaknya, lebay banget sih. Sampai segitunya.


"Jadi, bagaimana, Pak? Hari ini jadwalnya mau di-cancel aja atau—"


"Ya tentu di-cancel, dong. Saya nggak mau melewati hari bahagia ini di kantor. Saya ingin menghabiskan waktu bersama istri saya ini," ucapnya dengan nada datar tapi tetap berbumbu bucin. Membuat Litania tersenyum malu lantas memukul dada bidangnya. "Jangan jujur napa? Malu tau," gumam Litania pelan.


"Biarin. Lagian malu sama siapa? Ara? Dia aja paham, kok. Ya, 'kan, Ra?" ucap Chandra ketika melirik tajam pada Ara yang hanya tampak pucuk rambutnya saja.


Ara mengangguk lantas tersenyum. "Iya, saya paham dan saya nggak akan komentar apa pun. Karena perempuan yang sedang hamil memang memerlukan kasih sayang lebih dari suami.


"Nah, itu tau. Jadi, kalau nggak ada yang mendesak mendesak banget, jangan hubungi saya, ya. Saya mau menghabiskan waktu bersama dengan istri saya."


Ara lagi-lagi mengangguk. "Iya, Pak. Saya paham."


"Tapi ngomong-ngomong dia ini siapa?" Litania bertanya seraya membenarkan posisinya. Iya duduk tegap dan melihat fokus wajah Arjun dari samping. "Ini asisten yang direkomendasikan sama bang Irwan, ya?" lanjutnya


"Iya, Mbak, eh, Bu." Arjun gelagapan, tak tau harus memanggil apa untuk istri dari bos-nya itu. Astaga, bikin malu, batin Arjun seraya menggenggam kuat setir mobil.


"Maaf, saya enggak tau mau manggil apa," ujar Arjun lagi. Sebuah perkataan yang membuat Ara tersenyum menahan geli. Namun tidak untuk Candra. Pria itu berdengkus dengan wajah yang sudah terlihat masam.


"Ya ... panggilnya yang formal, dong. Panggil Nyonya atau Ibu. Dia 'kan istri saya. Dia istri bos-mu. Jadi jangan sampai kurang ajar."


Litania memanyunkan bibirnya, lantas bersedekap dada. "Enggak perlu seformal itu kali. Aku juga masih muda. Aku nggak mau dipanggil Ibu atau Nyonya atau Mbak."


"Lalu kamu maunya dipanggil apa?" Mode suara Chandra berputar 180 serajat. Tadinya yang terdengar tegas menjadi penuh kasih lagi. Tangan bahkan kembali membelai ujung rambut Litania.


"Panggil aja aku ... apa ya?" Litania terkekeh. Bingung dengan panggilan untuknya sendiri. Kalau dilihat dari segi umur, jelas dia lebih muda. Namun, kalau dilihat dari segi status sosial ... dirinya lebih tinggi.


Litania garuk kepalanya. "Panggil Litania aja, bagaimana?" usulnya.


Sontak saja tiga orang yang ada di mobil saling adu pandang. Heran dengan permintaan Litania yang tak masuk akal.


"Ya, nggak bisa gitu, dong." Chandra protes, membuat Litania mengembungkan pipi—kesal karena permintaannya ditolak.


"Ya udah, aku dipanggil apa?"


Hening, Chandra bungkam begitu juga dua asistennya.


"Panggil Nona aja gimana? Enggak apa-apa, 'kan? Setuju, 'kan?" usul Litania lagi. Sementara wajah masih terlihat masam. Ia pindai wajah tiga orang di sana secara bergantian. "Bagaimana? Setuju gak?" ulangnya lagi. Suaranya sedikit meninggi, membuat tiga orang manusia yang ada di sana berjengket kaget dan mendadak mengangguk.


"Nah, gitu, dong." Senyum Litania terukir, ia sandarkan kembali kepalanya di dada Chandra. Menghirup aroma tubuh suaminya itu tanpa malu.


Bagaimana bisa suami Dipanggil bapak Sedangkan istri dipanggil Nona. Arjun tersenyum canggung. Dilihatnya lagi kebersamaan Chandra dan Litania, dan gelengan kepalalah yang menjadi responnya. Bener-bener pasangan aneh.


***


Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun sialnya mata Litania belum juga terpejam. Ia putar beberapa kali tubuhnya—mencari posisi ternyaman agar bisa terlelap. Akan tetapi, nihil. Mata masih enggan untuk terpejam.


Beringsut dari ranjang, Litania berdiri di dekat jendela kamar. Ia lemparkan pandangan menatap langit yang tak berbintang. "Malam udah larut, tapi kenapa aku gak bisa tidur?"


Memegang perut yang masih rata, senyum Litania terukir sempurna. Kenyataan bahwa dirinya tengah mengandung menyisakan kebahagiaan yang tak ada habisnya. Tak bosan ia sentuh perutnya yang masih rata.


Namun, sekelebat bayangan dalam benak membuatnya menginginkan sesuatu. Keinginan yang sontak saja membuatnya menelan ludah dengan cepat.


Gila, kenapa mendadak aku ingin itu? Batinnya. Diperhatikan wajah terlelap Chandra lantas menghampirinya. Dia kelihatan lelah. Tapi ... ah sialan. Kenapa aku gak bisa tenang? Apa ini bawaan bayi? Ah, masa sih.


Litania terus saja membatin. Dorongan sesuatu dalam diri membuatnya tak tenang. Ya udah, deh. Aku coba bangunin dia. Siapa tau dia ngerti, batin Litania lagi.


Namun, belum sempat menyentuh, Chandra telah terlebih dulu membuka mata.


"Kenapa berdiri? Kamu gak bisa tidur?" tanya Chandra dengan suara serak.


Litania mengangguk, lantas merebahkan diri di sisi ranjang. Matanya bahkan telah menatap fokus pada Chandra. "Aku gak bisa tidur. Aku mau sesuatu."


"Oh ...." Chandra usap mataya kemudian duduk. Ia pegang tangan Litania dan menggenggamnya. "Kamu mau apa? Mau makan?"


Litania menggeleng. "Aku mau Arjun. Aku mau belai jakun dia."