Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Kinar dan Arjun.


Mobil berlalu. Litania lambaikan tangan pada mobil itu. Dan Kinar, gadis sesat akal itu juga melakukan tindakan yang sama dengannya. Sementara wajah, masih saja tersenyum, raut wajah yang ... entah, Litania tak bisa menjabarkan satu-satu.


Litania senggol bahu Kinar. "Hoi! Neng. Eling. Tutup tu mulut. Entar ngeces."


Kinar berjengket kaget lantas berdengkus. "Kamu kok nggak bilang punya asisten ganteng sejagat raya dunia nyata dan maya kayak begitu," sungutnya, sedangkan mata masih memandang mobil yang baru saja ditelan oleh pagar besar rumah Litania.


"Lah, ngapain bilang bilang? Kamu aja tinggal ke luar negri." Memindai wajah Kinar, Litania kembali berucap, "Oh iya, kamu kenapa ke sini? Tumben nggak ngasih tahu. Bukannya kamu baru aja balik ke Inggris seminggu yang lalu. Nah, sekarang kenapa ada di sini lagi? Demen banget bolak balik. Ngabisin duit orang tua aja."


Kinar garuk tengkuknya. Gadis yang berpenampilan feminim itu merangkul lengan Litania seraya nyengir kuda. "Aku baru sampe dan langsung ke sini. Aku udah mutusin buat balik lagi ke Indonesia. Aku nggak betah tinggal di sana. Aku kesepian. Kangen kamu. Apalagi sekarang ada Arjun. Ah ...."


Ekspresi Kinar kembali aneh. Mesam-mesem tak jelas. Dilihatnya kembali Litania. "Aku boleh nginep sini, ya? Soalnya aku belum sempet cari kosan."


"Kok, kosan? Kenapa gak balik rumah kamu? Katanya udah gak mau balik ke sana lagi?"


"Hem, sebenarnya ada sedikit trouble."


"Nah, loh. Trus kuliah kamu apa kabarnya? Mau kamu anggurin gitu aja? Sayang dong." Litania mulai penasaran. Mata bahkan telah menyipit menyelidik. "Kamu gak ngelakuin hal yang terlarang, 'kan? Kamu gak diburu polisi, 'kan?"


Kinar berdengkus. "Ya enggaklah. Kamu kira aku kriminal?"


"Terus?"


"Ada deh. Entar aku jelasin kalo waktunya pas. Tapi please ... aku boleh nginep sementara di sini, ya?"


Litania tampak berpikir sejenak. Ia pindai wajah Kinar secara menyeluruh lantas tersenyum licik. "Tapi ada syaratnya. Ada dua."


Kinar melepaskan kalungan tangan dengan ekspresi bingung. "Syarat apaan? Kamu aja udah kayak Sinderlelong begini apa perlu bantuan lagi?"


Litania masih tersenyum. Senyuman yang makin membuat Kinar merasa horor. Ia sudah hapal tabiat sahabatnya itu jika meminta pertolongan.


"Cepetan, apa syaratnya?" desak Kinar tak sabar.


"Pertama, temenin aku nginep di rumah nenek malam ini."


Kinar mengangguk. "Brebes itu, aku juga kangen nenek kamu." Kini wajah Kinar kembali serius. Ia picingkan matanya menatap Litania. "Syarat yang kedua apaan? Firasat aku mengatakan ada yang berbau-bau gak enak," terkanya kemudian.


"Temenin aku nonton film itu ...." Litania sengaja menggantung lisan, sementara bibir makin merekah saja. Senyuman yang Kinar bisa tebak apa artinya. "Mau, yah. Aku udah lama gak pernah nonton. Aku perlu referensi buat dipraktekin."


"Ebuset, ni otak setelah nikah kok eror. Gak malu apa minta temenin nonton begituan sama aku yang masih perawan ting-ting begini." Kinar berucap seraya memanyunkan bibir beberapa senti hingga Litania gemas dan melayangkan cubitan kasar di bibir berwarna merah menyala itu.


"Yaelah sok protes, dulu malah paling seneng nonton begituan. Otak aku ini terkontaminasi karena kamu, tau gak. Jadi sekarang kamu harus tanggung jawab."


Kini Kinar yang tersenyum kikuk. Ia tempelkan telapak tangannya di bibir Litania seraya berbisik, "St! Jangan nyaring-nyaring ngapa? Jangan buka kamus. Malu dong kalau didengar orang lain. Rahasianya cukup kita aja yang tahu."


Litania lepas tangan Kinar dengan kasar lantas melepeh beberapa kali. "Tangan kamu asin. Megang apaan, sih."


Kinar tak menjawab. Hanya gigi yang tampak rapi karena tak henti tersenyum. Ia garuk tengkuknya lagi. "Maaf ...."


"Jadi, mau apa kagak? Kalau gak mau, buruan pergi!" ucap Litania memasang wajah galak. Tangan bahkan telah menunjuk pagar tinggi rumahnya. Bak adegan pengusiran yang dilakukan seorang ibu kepada anak tirinya.


Mendadak Kinar melemaskan kakinya. Ia bersimpuh memeluk kaki Litania. "Ampun, Bawang Merah, jangan usir saya. Saya gak tau harus ke mana lagi. Kalau saya diculik bagaimana? Kalau saya di jual, gak bakalan laku juga."


Bersuara seperti terisak-isak, Kinar dongakkan wajahnya seraya memasang wajah mengiba. "Mulai sekarang saya akan terus cuci bajunya bawang merah. Tapi tolong jangan usir saya."


Litania berdecih lantas berkacak pinggang. Namun, sedetik kemudian tawa dua remaja itu menggelegar. Berpuas hati memerankan adegan penuh drama hingga Sri—sang asisten rumah tangga—yang tak sengaja melihat adegan itu hanya mampu menggeleng heran. Tak menyangka sang nyonya rumah ternyata titik titik titik titik.


Beranjak dari posisinya, Kinar kembali mememeluk Litania dari belakang. "Hayuklah kalo gitu. Aku punya file-nya di hp-ku."


"Lah tadinya protes kok sekarang malah koleksi begituan?"


"Eh, Neng. Aku bukan koleksi. Aku cuma mau mengedukasi diri biar pas MP entar aku gak kaget." Senyum Kinar kembali terukir. Mendadak pikiran membayangkan Arjun.


"Mengedukasi palelu. Ya udah ayuk." Litania terkekeh, sahabatnya itu memang sedikit gila. Gadis normal mana yang berani mencium lelaki yang baru pertama bertemu. Lebih parahnya minta dinikahi pula.


Kinar mengangguk. Ia seret koper berwarna merah muda yang berdiri tak tauh darinya dan mengikuti langkah Litania.


***


"Dia beneran mau ikut juga ke Semarang?" tanya Arjun tak percaya. Pasalnya si remaja labil yang mengambil ciuman pertamanya dan mengatakan memberikan ciuman pertama kepadanya itu tengah duduk dengan senyum yang merekah. Mata bahkan telah berkali-kali mengedip. Horor. Begitu mengerikan.


"Iya, enggak apa-apa, 'kan? Litania menjawab dari belakang. Sementara Chandra yang baru masuk dalam mobil, hanya diam saja.


"Tapi—"


Arjun menggantung lisan. Ingin rasa bersuara lantang dan menolak sosok gadis berpenampilan heboh itu—gaun panjang dengan mantel bulu berwarna merah, kacamata besar serta topi yang cukup lebar dengan salah satu sisi dibuat naik atau yang disebut asyimmetric upswept brim hat. Penampilan yang sungguh membuatnya ingin berkata kasar.


Namun, semua terhalang oleh situasi. Malang banget sih. Mimpi ketiban apaan aku semalam. Bisa-bisanya semobil dengan perempuan jejadian ini. Astaga, entah apalagi yang bakalan dia perbuat.


"Ya udah, jangan banyak protes. Ayo kita jalan, entar keburu malem," perintah Chandra.


Dua jam lebih perjalan. Dua jam yang serasa setahun bagi Arjun. Bagaimanapun ingin rasanya ia lempar Kinar dari jendela mobil. Gadis itu sama sekali tak melepaskan pandangan darinya. Bahkan berkedip saja jarang, membuatnya salah tingkah juga.


Berdehem, Arjun tekan rasa kesalnya. "Kamu gak capek ngeliatin saya kayak begitu?"


Kinar menggeleng.


"Mata kamu gak pegel?"


Kinar lagi-lagi menggeleng.


"Entar kalau sakit jangan salahin saya, ya."


Kinar mengangguk cepat. Sementara senyum masih saja terkembang.


"Arjun, waktu kamu dalam perut, mama kamu ngidam apaan, sih."


Arjun tak merespon. Lebih tepatnya malas untuk menyahut. Mata masih saja menatap jalanan. Bagaimana bisa ia tau mamanya ngidam apaan, sedangkan dirinya saja tak pernah bertanya dan tak pernah mau tau.


Dasar perempuan jejadian, batin Arjun. Persetan dengan anggapan Kinar terhadap dirinya. Yang jelas sekarang ia begitu malas untuk bersuara. Apalagi meladeni pertanyaan Kinar yang unfaedah.


Namun, Kinar tak patah arang. Ia mulai menggoyang-goyang pundak Arjun. "Arjun Arjun Arjun, umur kamu sekarang berapa?"


Arjun bergeming. Membuat Kinar makin gencar bertanya.


"Arjun, jawab dong. Umur kamu berapa?"


Chandra yang merasa terganggu dengan suara Kinar yang cempreng, angkat suara. "Umurnya 24."


Senyum Kinar terkembang. "Wah 24 berati cuma beda enam taun. Masa produktifitasnya tinggi itu. Dan kalau kita nikah taun ini, kemungkinan bisa punya anak sebelas. Eh enggak, 12 aja deh. Biar bisa ngalahin gen Halilintar itu."


Stres, hayalan seperti apa itu. Dasar perempuan gila, batin Arjun dongkol.


"Lalu kamu berapa sodara?" tanya Kinar lagi. Mata bahkan makin membulat antusias.


"Arjun anak tunggal." Lagi, jawaban keluar dari mulut Chandra.


Arjun yang merasa privasinya terbuka merasa gondok juga. Namun, berhubung yang membuka adalah Chandra, ia urungkan niat untuk protes dan sebisa mungkin menahan hati agak tak kurang ajar pada Kinar.


"Wah, itu artinya kita samaan, dong. Aku juga anak tunggal. Ternyata kita banyak persamaan dan itu tandanya kita jodoh."


Banyak dari mananya. Cuma satu, woi! Satu!


Ah, Arjun frustrasi. Ia tekan klakson beberapa kali padahal tak ada yang menghalangi laju kendaraannya.