Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dua pria


"Fia, tolong maafkan aku."


Dalam pelukan, Fia terbengong. Ia kaget sampai-sampai kunci yang ada di tangan terlepas. Gegas ia mendorong tubuh yang memeluknya dan mendapati wajah kusut orang yang sangat dikenal tengah menatap sendu.


"P-pak Dafin?" Fia terbata. Pupil mata membesar dengan detak jantung yang lebih cepat dari biasanya. "B-bapak ngapain ke sini? Terus sejak ka—"


Lisan gadis itu terjeda karena Dafin kembali memeluk. Sangat erat pelukan itu, bahkan sekedar bernapas saja Fia harus berusaha keras. Ia tatap heran Dafin saat pelukan sudah terlepas.


"Iya, ini saya. Saya mau minta maaf soal tadi pagi."


Lima belas jam sebelumnya.


"Saya bilang, pergi!" Suara Dafin begitu menggema. Telunjuknya bahkan tertuju ke pintu dengan mata penuh kebencian. Tak pernah sekalipun Fia melihat tatapan semengerikan itu sebelumnya.


Mendesah pelan, Fia pun pergi dengan membawa hati yang hancur. Dibentak sekejam itu oleh Dafin membuatnya mengerti kalau kesetiaan yang ia berikan selama ini sama sekali tak dianggap. Ia berusaha memberikan kenyamanan pada Dafin, mengutamakan segalanya untuk pria itu tapi tetap tak dihargai.


Kecewa? Jelaslah. Ibaratkan memberi air susu tapi dibalas air tuba. Rasa sakitnya menusuk sampai ke tulang.


Kadang kala ada saat-saat rasa lelah menghinggapi pikiran, tapi selalu cepat Fia usir jauh rasa itu dan bangkit lagi karena sebuah janji. Ia sudah bertekat akan memberikan kenyamanan dan kemudahan untuk Dafin. Ia sudah berjanji akan menjadikan urusan Dafin di atas segalanya. Itulah bunyi kontrak kerja mereka. Kesetiaan dan loyalitas.


Meski demikian fia tetap enjoy. Gadis itu menikmati hari-hari sebagai sekretaris Dafin tanpa beban. Ia merasa mendapatkan kepuasan tersendiri saat melihat senyum Dafin, dan merasa kesal jika yang diinginkan oleh Dafin tidak tercapai.


Akan tetapi kejadian hari ini membuat Fia sadar. Kesetiaannya kepada Dafin sama sekali tak dihargai. Dafin sama sekali tidak peduli padahal kesalahan yang dilakukan baru satu kali. Meskipun ia akui kesalahannya itu sangat fatal. Ia tahu betul kalau Dafin sangat membenci dengan yang namanya manis, tapi apa tidak ada kesempatan untuk menjelaskan? Dirinya adalah manusia dan manusia adalah gudangnya kesalahan. Apa Dafin tak bisa memaklumi? Ia bukanlah robot yang selalu bisa menyimpan apa pun dalam kepala. Lupa bisa mengintai kapan saja.


Fia mendesah panjang ketika keluar dari ruangan Dafin. Air mata yang bercucuran membuatnya sadar kalau ini salah, lagipula ia tak ingin menyita perhatian orang-orang. Ia memutuskan berbelok ke toilet dan menuntaskan segalanya di sana.


Di dalam toilet, Fia menangis sejadi-jadinya. Ia tutup mulut dengan telapak tangan. Sungguh berharap tak ada yang mendengar dan menyadari kalau dirinya tengah menangis di dalam sana.


Sebelumnya ia sudah menebak pasti akan ada luka, pasti akan ada perasaan terhina saat memilih profesi sebagai sekretaris. Menyandang profesi itu kita dituntut harus bisa dan handal dalam segala macam masalah, termasuk menyamarkan emosi dan memanipulasi ekspresi


"Tapi apa harus menegur dengan cara frontal seperti itu? Aku sekretarisnya, aku yang selalu mendampingi dia, tapi kenapa dia begitu marah karena aku melakukan satu kali kesalahan? Dasar bos jahat!"


Fia terus saja mengutuk Dafin. Masalah semalam belum kelar kini ia harus menerima masalah lain. Ia kembali terisak sambil berpikir tindakan apa yang harus dilakukan. Apakah balik lagi dan meminta maaf? Ataukah pergi seperti yang Dafin inginkan?


Tak berapa lama ponsel yang ada dalam genggaman, bergetar. Fia melihat nomor sang bos tertera di sana. Rasa kesal mendadak jadi banyak, ia pun menatap nyalang layar itu.


"Dasar licik," gumam Fia kesal. Ia reject panggilan dari Dafin, tapi Dafin lagi-lagi menelepon. Fia yang makin dongkol terus saja mereject setiap panggilan yang ada hingga ia memutuskan menjawab. Namun sialnya ponsel kehilangan daya dan mati total sebelum mengucapkan kata halo.


Fia mendesah panjang. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.


"Apes banget sih aku hari ini. Kenapa aku nggak bisa ngelakuin apa pun dengan benar? Semuanya terjadi diluar kendali," gumamnya sambil membenahi penampilan. Mata yang bengkak dan wajah yang sembab ia tutupi dengan bedak. Ia tidak ingin ada yang sadar kalau dirinya habis menangis.


"Baiklah, sepertinya aku memandang harus pergi."


***


Di rumah sakit.


Dafan yang baru tiba tengah mengisi daftar kehadiran. Ia menjadi perhatian para perawat yang berjaga di sana. Ketampanan dan wibawanya membuat siapa saja pasti terpesona. Meskipun baru tujuh bulan menjadi dokter umum di sana Dafan telah menjadi pujaan para hawa dan dijuluki si manis Coca cola—cowok cakep cowok idola—yang bermukim IGD.


Bukan tanpa sebab, Dafan memiliki senyuman yang khas, kesabaran yang tinggi dalam menghadapi pasien serta kepiawaiannya dalam mendiagnosis penyakit pun selalu tepat. Banyak pasien ingin dirawat olehnya.


"Pagi, Dok," sapa seorang perawat cantik bertubuh langsing. Ia menyerahkan segelas kopi hangat pada Dafan.


"Untuk saya?" tanya Dafan lalu menyambut gelas kopi itu.


Si perawat mengangguk lantas tersipu malu saat kopi yang ia berikan diterima dan dibalas dengan senyuman. Dafan bahkan menyesapnya sedikit.


"Terima kasih, ya. Kopinya enak," lanjut Dafan yang tentu saja membuat hati wanita cantik itu serasa akan terbang. Saking tak ingin membuang kesempatan yang ada, gadis itu tetap memandangi punggung Dafan hingga hilang ditelan belokan.


"Kamu terlalu sempurna, Dok," gumamnya pelan.


Diperjalanan menuju ruangan, Dafan sesekali menyeruput kopi pemberian dan tetap tersenyum saat ada yang menyapa sebelum akhirnya suara seruan dari belakang mengagetkan. Dokter berparas tampan itu pun membalik badan, mencari arah suara dan mendapati Edwin—teman sesama dokter umum—tengah mendekat.


"Ada apa, Win?" tanya Dafan.


Edwin berhenti lalu mensejajari Dafan. Mereka berjalan beriringan. "Gak kenapa-kenapa, aku cuma mau nanya, kamu gak ada niatan lanjutin pendidikan? Bukannya kamu pernah bilang kalau keinginan kamu itu jadi ahli padiatri?"


Dafan bungkam. Langkahnya melambat dengan sendirinya hingga Edwin yang keheranan menyikut dengan siku.


"Kenapa? Kamu berubah pikiran dan tetap mau jadi dokter umum?" tanya Edwin lagi. Dokter muda seusia dengannya.


"Tentu aja enggak. Cita-citaku dari dulu itu selalu jadi dokter spesialis anak, tapi ...."


Lisan Dafan menggantung hingga Edwin pun tersenyum ambigu. "Apa karena perempuan?" tanyanya lagi.


Menatap Edwin lekat-lekat, Dafan lalu mendesah. "Aku masih belum bisa pergi."


"Pikirkan baik-baik. Masih ada waktu beberapa bulan lagi. Jadi ambillah keputusan yang benar-benar gak akan kamu sesali. Kalau kamu mau tinggal di sini lebih lama juga gak masalah. Tapi bukankah lebih cepat lebih baik? Usaha kita untuk menyandang gelar dokter spesialis masih panjang. Kamu yakin mau berleha-leha di sini?"


Dafan menghentikan langkah dan termenung melihat wajah Edwin. Sementara Edwin, tetap mengulas senyuman lalu menepuk pundak sahabatnya itu. "Pikirkan baik-baik. Aku rencananya mau balik ke Harvard beberapa bulan lagi. Aku harap kita bisa bareng."


Edwin pun berlalu. Tinggallah Dafan sendiri yang masih membisu hingga suara sirene mengalihkan perhatian. Gegas ia berlari menuju IGD dan kaget setelah mengetahui siapa yang terbaring di hadapan.


"F-fia," panggilnya. Ia shock beberapa detik sebelum akhirnya memeriksa tanda vital gadis itu.


"Bapak kenal dia?" tanya seorang perawat.


"Dia kecelakaan, Dok. Taksi yang ditumpangi ditabrak dari belakang. Sopirnya baik-baik saja. Tapi gadis ini tidak sadar dari tadi," jelas perawat itu lagi.


"Ayo kita lakukan pengecekan ulang."


Meski hati tengah kalut, Dafan tetap melakukan tugasnya dengan baik. Semua rangkaian tes ia lakukan pada Fia. Beruntung tidak ada yang salah dan Fia pun dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP rumah sakit.


"Aku yakin pekerjaan kamu pasti berat. Kamu terlalu stres. Asam lambung kamu naik. Fisik kamu terlalu lemah, jadi sekarang beristirahatlah. Lupakan pekerjaan atau apa pun," ujar Dafan setelah membenarkan infus. Ia lantas mengecup kening gadis itu lalu merapikan anak rambutnya. "Tenang saja, aku akan rahasiakan ini dari Dafin. Aku ingin kamu beristirahat. Lupakan soal pekerjaan dan lupakan soal Dafin. Tidurlah yang tenang. Aku akan jaga kamu di sini."


Detik demi detik berlalu, tugas jaga Dafan pun selesai. Pria itu tetap menjaga janji. Ia terus saja menjaga Fia yang masih terlelap dengan damai di atas ranjang. Ia tersenyum, baru hari ini melihat wajah ayu Fia dari jarak dekat.


"Kamu sangat cantik. Aku selalu saja kagum sama kamu. Aku gak pernah bosan liat kamu. Tapi kenapa kamu belum bisa ngasih aku jawaban? Apa waktu 6 bulan belum bisa menggetarkan hati kamu? Apa kebersamaan kita selama 6 bulan ini belum bisa menumbuhkan benih cinta di hati kamu?" Tersenyum getir, Dafan genggam tangan Fia lalu mengecupnya. "Tapi nggak masalah. Aku akan setia menunggu. Demi kamu aku rela. Kamu terlalu berharga untuk disia-siakan. Kamu pantas untuk aku tunggu dan aku perjuangkan. Aku harap kamu sambut perasaanku ini Fia."


Setelah mengatakan itu Dafan melihat pergerakan. Fia tampak mengerjap. Ia yang kadung senang memanggil nama gadis itu berulang-ulang.


"Kamu sudah sadar?" tanya Dafan.


Fia yang tampak kebingungan mencoba duduk. Dafan yang paham langsung membantu. "Kamu jangan terlalu banyak gerak dulu," ujarnya penuh perhatian.


"Kok aku di sini? Sebenarnya apa yang terjadi? Apa aku ...?"


Fia menjeda kata, ia berusaha mengingat segalanya. Beberapa detik kemudian matanya membulat lebar. Satu persatu ia absen anggota tubuh. Kaki yang ada di balik selimut pun tak luput dari pengecekan. Ia gerakkan semuanya lalu menatap Dafan. "Aku gak parah, 'kan?" tanyanya panik.


"Tenanglah. Kamu nggak apa-apa. Itu cuma kecelakaan kecil, hanya saja kamu sepertinya kelelahan dan tertidur."


"Beneran?" tanya Fia mencoba meyakinkan diri dengan bertanya. Ia sungguh takut sesuatu yang besar akan mempengaruhi tubuh. Keluarga bergantung padanya. Ia sudah menjadi tulang punggung keluarga. Sungguh tak bisa membayangkan kalau dirinya harus menjadi cacat. Fia merinding membayangkannya.


"Iya, beneran kamu nggak apa-apa kok. Kamu cuma kelelahan dan aku sudah ngasih vitamin dan suplemen agar kamu bisa cepat pulih."


Fia mendesah lega, ia lantas melirik jam yang ada di pergelangan tangan. Mendadak ia teringat dengan Dafin. Bergegas ia hendak turun dari ranjang. Akan tetapi kemarahan Dafan tadi pagi membuatnya urung untuk menjejakkan kaki ke lantai. Wajahnya berubah total, ia murung seketika.


"Kamu kenapa?" tanya Dafan, "apa ada yang sakit?" lanjutnya yang terlihat panik


Fia menggeleng. "Apa boleh aku pulang sekarang? Aku mau istirahat di rumah."


"Tentu. Ayo aku antar tapi kamu tunggu di sini sebentar. Aku mau urus sesuatu di bagian administrasi."


Fia mengangguk dan melihat punggung Dafan hilang ditelan pintu, lantas membaringkan diri lagi. Entah kenapa bentakan Dafin tadi pagi kembali terngiang ke telinga. Efeknya ada air yang meleleh membasahi pipi.


"Astaga, kenapa aku jadi cengeng begini, sih? Aku ini Fia. wanita tangguh. Aku ini master-nya taekwondo."


Fia tergelak hambar. Setelah itu menghapus jejak air matanya. Ia lalu kembali duduk. "Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus nyerah dan pulang ke Bali menuruti apa yang Kevin mau? Atau bertahan dengan segala resikonya? Aku suka pekerjaan ini, tapi ....


Dalam perjalanan pulang, Fia terus bungkam. Sementara Dafan yang berada di balik kemudi hanya bisa melirik dalam diam.


"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Dafan.


Fia yang tengah melamun langsung menoleh. ''Nggak ada kok, Fan. Cuma lagi mikir aja. Kenapa kamu baik banget sama aku?"


"Bukankah kamu tahu jawabannya," balas Dafan tanpa menoleh..


Fia menelan ludah, matanya ia arahkan ke depan. Ia baru ingat kalau Dafan mempunyai rasa untuknya. Hanya saja ia belum bisa memberikan kepastian. Menurutnya Dafan tetaplah Dafan. Belum ada sesuatu yang membuatnya tertarik. Dafan memang baik. Namun kebaikan Dafan belum bisa menggetarkan sesuatu dalam dada. Memberikan efek luar biasa yang kata orang bisa membuat kita merasa berbunga-bunga, merasa melayang dan cemas di saat bersamaan.


"Tapi aku cuma gadis biasa, aku cuma ...."


Lisan Fia terjeda saat melihat Dafan menghentikan mobil. Pria di sebelahnya itu membuka sabuk pengaman lalu menatap lekat. Mata mereka bertatapan begitu dalam dan intens.


"Apakah kamu masih ragu?" tanya Dafan.


Bergeming, Fia tak tahu apa-apa, haruskah mengangguk atau menggeleng. Yang ia lakukan hanya menatap mata Dafan dan melihat keseriusan di sana.


"Izinkan aku membuktikan sesuatu. Izinkan aku mencari jawabannya sendiri."


Fia yang tidak paham hanya mengangguk.


Dafan tersenyum, perlahan ia mendekatkan wajahnya dan dengan cepat mencium bibir Fia. Fia yang kaget sontak menjauhkan kepala. Matanya melotot melihat Dafan


"Kamu ...."


Fia menggeram. Bisa-bisanya Dafan mencium tanpa meminta izin. Ia ingin memukul tapi kebaikan Dafan membuatnya urung melakukan itu.


"Pikirkan apa yang kamu rasakan saat ciuman tadi. Beri aku jawabannya besok siang."


Hening. Sepanjang perjalanan Fia bungkam. Begitu banyak masalah yang saling berkesinambungan dalam hidupnya. Masalah pekerjaan saja sudah membuatnya tak karuan dan kini harus diberi PR oleh Dafan. Fia mendesah lagi hingga tibalah mereka di depan kontrakan.


"Beristirahatlah. Jangan terlalu stres. Besok sebelum ke rumah sakit aku bakalan mampir," ujar Dafan.


Fia lagi-lagi bergeming. Sementara Dafan. Senyumnya sangat merekah.


"Sekarang kami lebih baik masuk. Ini sudah hampir tengah malam. Mandi pake air hangat lalu istirahat."


Fia mengangguk. Ia mendapat usapan di kepala sebelum akhirnya Dafan menghilang dari mata. Ia yang masih gamang mencoba membuka pintu. Namun tanpa di duga sebuah cekalan dari belakang sukses membuat gadis itu berputar dan berakhir mendarat di sebuah dada yang bidang.


Parfum ini ... ini kan parfumnya Pak Dafin. Fia bermonolog. Ia ingin meronta tapi pelukan itu terlalu kuat.


"Fia, tolong maafkan aku."