Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Sebuah Penjelasan


"Fahmi, maafkan aku. Tidak seharusnya aku membuat acara kejutan ulang tahun kamu di rumah ini," lirih Alika sambil menunduk.


Fahmi tersenyum dan berjalan mendekati Alika, diangkatnya dagu wanita yang masih menjadi primadona di dalam hatinya.


"Terima kasih."


"Heu?"


"Terima kasih karena kamu sudah memberikan aku kejutan yang sangat spesial. Untung saja yang kamu ajak tidak menyadari keberadaan Nurlia, sehingga aku tidak perlu menjelaskan apapun kepada mereka yang bertanya."


"Fahmi, kamu tidak boleh seperti itu."


"Maksudnya, jika mereka menyadari keberadaan Nurlia. Bukankah itu artinya rencana kejutan yang kamu buat berantakan?"


"Hmm, sepertinya Nurlia mulai menyadari posisinya. Dia mungkin sekarang sudah salah paham dengan hubungan kita," ucap Alika.


"Biarkan saja, bukankah itu lebih baik?" jadi kita bisa..." Fahmi tidak melanjutkan kata-katanya saat jadi telunjuk Alika menutup bibirnya.


"Jangan seperti itu. Bukankah kamu sudah berjanji akan mencoba untuk menerima Nurlia sebagai istri kamu?"


Fahmi tersenyum dan mengelus lembut pipi Alika.


"Aku tahu jika aku memang tidak salah mencintai wanita seperti kamu."


Di balik adegan itu, ada Nurlia yang melihatnya. Nurlia sebenarnya ingin meminjam kunci mobil Fahmi karena ponselnya tertinggal dalam mobil.


"Tidak, Nurlia. Jangan lagi menangis melihat ini. Bukankah sudah kita bicarakan mengenai ini?" lirih Nurlia sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan mundur dan pergi dari sana.


Nurlia memilih untuk mencari kunci mobil itu di meja kamar Fahmi.


"Maafkan aku yang lancang memasuki kamar kamu, mas Fahmi. Aku terpaksa karena aku butuh ponsel ku dan aku tidak ingin menganggu momen kamu dengan wanita cantik itu."


Setelah cukup lama mencari, akhirnya Nurlia berhasil menemukan kunci mobil Fahmi dan segera pergi untuk mengambil ponselnya dan segera mengembalikan kunci itu sebelum Fahmi memasuki kamar.


Nurlia membuka ponsel berharap akan ada pesan dari sang kakak yang menyuruhnya untuk kembali ke rumah sakit.


Jujur saja, tidak akan ada wanita yang ingin tidur dimana ada wanita lain di dalam rumah itu.


Nurlia memutuskan untuk membaca kitab suci Al-Quran untuk membuat sibuk diri sendiri sambil mendoakan kesehatan sang Ibu.


Kembali pada Fahmi dan Alika.


"Alika, aku sudah berjanji akan mencoba untuk menerima Nurlia dan menciptakan kisah cinta yang baru. Untuk itu, kamu juga harus berjanji padaku. Jika kisah cinta ini tidak berhasil dan Nurlia mengalah. Kamu harus kembali berjuang bersama dengan aku."


"Aku jamin, Nurlia tidak akan pernah mengalah."


"Siapa tahu setelah kejadian ini, dia akan mulai menyadari jika aku hanya mencintai kamu."


"Fahmi.."


"Baiklah, baik. Aku hanya bercanda."


Alika tersenyum dan memeluk Fahmi. Sementara Fahmi? tentu saja terkejut mengetahui Alika memeluk dirinya tanpa di minta.


"Selamat ulang tahun lelaki terhebat ku. Aku tahu kamu akan bisa menciptakan kisah cinta yang lebih besar dari kisah cinta kita. Aku yakin kamu akan bisa membuat Nurlia bahagia."


Fahmi memeluk Alika dengan erat, tidak pernah dia temui wanita setegar Alika yang mau melepaskan pria demi wanita lain.


"Bagaimana jika Nurlia..."


"Jangan berpikir negatif sebelum mencoba apapun. Aku akan membantu kamu untuk membuat Nurlia percaya jika suatu saat dia mengira kita masih ada hubungan spesial."


Fahmi semakin memeluk Alika dengan erat. Dalam diam, keduanya meneteskan air mata.


Sungguh kisah cinta yang sulit untuk di nikmati.


...----------------...


"Dalam kehidupan rumah tangga, tidak ada yang tidak menginginkan kebahagiaan. Semua ingin kebahagiaan. Semua ingin mendapatkan pasangan sesuai yang di inginkan. Namun, semua itu kembali pada ketentuan yang sudah di tetapkan Allah SWT."


"Benar, nak. Jadi jika di awal pernikahan kamu tidak mendapatkan kebahagiaan. Jangan menyerah. Percayalah jika tidak akan selalu terjadi kegelapan. Suatu saat percikan cahaya, walaupun itu sangat kecil akan bisa menciptakan keindahan yang luar biasa."


"Tugas kami sudah selesai, nak. Kami tidak bisa menemani kamu lebih lama lagi."


"Benar nak, semoga setelah ini kamu dan suami bisa segera memberikan kami cucu. Walaupun ibu tidak akan bisa untuk menggendong nya secara langsung."


"Bu, apa yang Ibu katakan?"


"Ayah, ayah akan membawa ibu pergi kemana?"


"Selamat tinggal, Nurlia..."


"Ibu..."


"Ayah..."


Tit...


Tit...


Tit...


Nurlia segera membaca sholawat dan bacaan bacaan lain nya.


"Syukurlah itu tadi hanya mimpi. Ibu, ibu tidak boleh meninggalkan aku."


Nurlia melihat ke arah jam, setengah jam sebelum memasuki waktu sholat subuh.


Nurlia memutuskan untuk segera bersiap. Saat Nurlia baru saja akan menggelar sajadah, suara ketukan pintu membuatnya sedikit terkejut.


"Nurlia, ini aku..."


"Mas Fahmi," lirih Alika.


"Nurlia, aku tahu kamu sudah bangun. Aku ingin mengajak kamu untuk sholat subuh bersama."


Suara ketukan pintu kembali terdengar saat Nurlia tidak kunjung mendapatkan jawaban.


"Nurlia..."


Dengan ragu ragu, Nurlia berjalan menuju pintu dan membukanya.


"Alhamdulillah, aku hampir saja mendobrak pintu karena kamu tidak juga membuka pintu atau menjawab ku."


"Tidak perlu melakukan itu. Ayo, adzan subuh sudah terdengar. Mas mau kita sholat di mana?" tanya Nurlia sambil menundukkan kepalanya.


"Bukankah sangat tidak pantas saat seorang suami berbicara, sementara sang istri hanya menunduk?" ucap Fahmi.


"Bukankah sangat tidak pantas ada wanita lain yang datang ke rumah ini dan berduaan dengan pria yang sudah memiliki istri?"


Skakmat..


Fahmi memejamkan mata, jika saja dia tidak berjanji pada Alika. Mungkin Nurlia sudah kena amarahnya saat ini karena berani mengusik tentang dirinya dan Alika.


"Maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi."


"Mas, sepertinya Mas harus belajar untuk tidak berjanji akan sesuatu jika mas tidak bisa menepatinya."


"Aku sadar siapa aku. Jadi, tidak perlu minta maaf."


Nurlia kemudian berjalan mendahului Fahmi


dan langsung menuju salah satu ruangan yang memang di buat untuk tempat ibadah.


Keduanya menjalankan sholat subuh bersama dengan khusus. Setelah selesai sholat, Fahmi berbalik dan Nurlia segera meraih tangan nya.


Ada getaran saat tangan Nurlia menyentuh tangannya. Hal itu membuat Fahmi terpaku sesaat.


Fahmi menarik tangan Nurlia saat Nurlia akan bangkit dari tempat duduknya.


"Duduk lah, aku ingin membicarakan sesuatu dengan kamu."


"Sebentar saja.." imbuh Fahmi saat Nurlia tidak berkomentar.


Nurlia akhirnya kembali duduk dan dengan jelas Nurlia melihat Fahmi tersenyum. Senyum yang ditunjukkan padanya.


"Terima kasih.," ucap Fahmi.


"Nurlia, semalam itu adalah teman temanku. Dan wanita yang membawa kue untuk aku adalah..."


"Mas, jika Mas meminta aku untuk duduk dan membicarakan hal yang terjadi semalam. Aku rasa lebih baik Mas tidak menceritakan hal itu dengan aku."


"Kenapa? aku yakin kamu ingin tahu tentang siapa yang berdiri di depanku sambil membawa kue ulang tahun semalam. Aku juga yakin jika kamu ingin tahu kenapa ada wanita lain yang masuk rumah ini."


"Tidak."


"Kenapa?"


"Bukankah mas sendiri yang mengatakan jika setelah kita tinggal di rumah ini. Maka, kita tidak boleh saling mengurusi urusan pribadi masing-masing?"


"Lagipula, bukankah sebelumnya mas sudah mengatakan jika wanita itu adalah wanita spesial?"


"Tidak lagi," lirih Fahmi.


"Jangan coba berbohong padaku, Mas. Jika dia tidak lagi menjadi wanita spesial. Mas tidak akan memeluk sambil menangis bersama dengan wanita itu."


Deg!!!


Nurlia...


...----------------...


...----------------...


...----------------...