
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Fahmi yang sedang melihat Nurlia termenung sendiri di balkon rumah.
Sayang.... sungguh itu adalah hal terindah yang pernah di dengar Nurlia dan Nurlia ingin selalu mendengar kata itu. Namun, setelah mendengar pernyataan sang mertua beberapa waktu lalu.. membuat Nurlia seperti tidak lagi merasa bahagia atas panggilan sayang dari Fahmi.
"Ada apa?" Fahmi yang berjalan dan memeluk sang istri dari belakang.
"Tidak ada apa-apa, mas." Nurlia tersenyum sambil melepas tangan Fahmi dan berbalik hingga keduanya kini saling berpandangan.
"Ayo masuk. Udara sangat tidak bersahabat. Aku tidak ingin kamu kenapa kenapa,"
Nurlia tersenyum manis sambil menyambut hangat uluran tangan Fahmi yang menuntun nya masuk ke dalam kamar.
"Bagaimana?" tanya Fahmi beberapa saat setelah mereka masuk ke dalam kamar.
Nurlia menghela nafas panjang, entah jawaban apa yang harus dia berikan saat Fahmi mengatakan jika Alika ingin bertemu dengan Nurlia secara langsung.
"Apa kamu masih merasa jika aku..."
"Tidak, Mas. Bagaimana jika lusa?" Nurlia yang tahu tentang kekhawatiran sang suami, segera menjawab sebelum Fahmi meneruskan kata-katanya.
Lusa adalah waktu terbaik, mengingat lusa ada jadwal Nurlia kontrol terkahir sebelum dokter memutuskan berakhirnya masa pengobatan rawat jalan Nurlia.
Malam itu, Nurlia hanya bisa melihat Fahmi yang tertidur lelap sambil sesekali menyeka air yang beberapa kali menggenang di pelupuk mata.
Mas Fahmi, kenapa aku harus mendengar sesuatu yang menyakitkan di saat Mas mulai memberikan apa yang selalu aku inginkan sebagai seorang Istri?
...----------------...
"Apa kamu baik-baik saja, sayang?" Fahmi menggenggam erat tangan Nurlia saat mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Bagaimana aku bisa baik-baik saja sementara aku akan bertemu dengan wanita yang sangat kamu cintai dan begitu di bangga bangga kan oleh ibu kamu, mas.
"Jangan takut. Aku yakin hasil pemeriksaan medis kamu baik baik saja, dan kita bisa segera melakukan honeymoon kedua," lirih Fahmi saat Nurlia hanya tersenyum menjawab pertanyaannya.
Rupanya Fahmi menganggap bahwa senyuman dari Nurlia adalah ketakutan dan keraguan atas hasil pemeriksaan yang akan segera disampaikan oleh dokter.
Fahmi keluar dulu saat Nurlia belum selesai berbicara dengan dokter, entah apa yang membuat Fahmi memilih untuk keluar terlebih dahulu. Hingga kemudian, Nurlia mengetahui jika Fahmi keluar lebih dulu karena mendapat pesan dari Alika.
Nurlia tidak segera keluar dari pintu dan tetap berdiri di sana saat dia melihat Fahmi sedang berbicara dengan Alika.
Entah apa yang sedang mereka bicarakan, rasanya Nurlia ingin sekali berbalik badan dan bertanya kepada dokter apakah ada pintu rahasia lain sehingga dirinya tidak perlu keluar melewati koridor.
"Nona Nurlia, apa anda baik baik saja?" tanya dokter yang merasa heran karena sedari tadi Nurlia hanya berdiri sambil memegangi gagang pintu.
”Ah, tentu saja. Terima kasih, dokter."
"Sama sama, jangan lupa untuk segera menemui dokter Obgyn."
Sekali lagi Nurlia tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada dokter.
Langkah pertama Nurlia keluar dari ruangan dokter adalah disambut senyuman hangat penuh cinta oleh Fahmi.
"Sayang, bagaimana pembicaraan dengan dokter?" tanya Fahmi yang sepertinya pembuka basa basi.
"Alhamdulillah," ucap Nurlia tersenyum.
Sungguh sikap hangat Fahmi membuat Nurlia semakin tidak mengerti. Nurlia semakin tidak mengerti perkataan siapa yang harus dia percaya. Sang mertua atau sang suami.
Fahmi mengajak Nurlia beserta Alika untuk makan di salah satu restoran yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit. Dengan Alika yang mengendarai kendaraan berbeda tentunya.
Nurlia bersyukur karena dirinya tidak harus satu kendaraan dengan Alika. Sungguh rasanya Nurlia ingin sekali melompati waktu.
"Aku permisi sebentar," ucap Fahmi setelah dia menyadari jika ada panggilan masuk dari sekertaris nya.
Basa-basi kemudian terjadi di antara Alika dan Nurlia. Nurlia berusaha tenang menjawab setiap basa-basi yang di lontarkan Alika. Siapa yang sangka, jika percakapan itu sama sekali tidak mengarah pada masih adanya cinta diantara Alika dan Fahmi. Itu semakin membuat Nurlia pusing dan tidak bisa membedakan mana yang benar.
"Ohya, sebentar lagi ulang tahun pernikahan dari mama dan juga papa mertua kamu. Aku tidak bisa datang, jadi apa kamu tidak keberatan menyampaikan salam ku pada Mama Fahmi?" tanya Alika.
"Insyallah," Nurlia tersenyum hingga kemudian matanya melihat Fahmi yang datang membawa desert.
"Sayang, ada masalah yang cukup rumit di kantor yang mengharuskan aku datang." Ucap Fahmi setelah meletakkan desert yang dia bawa.
"Tidak apa, pergilah, aku bisa pulang naik taksi." Nurlia tersenyum, senyuman yang begitu penuh kasih sayang di mata Alika.
"Tidak perlu naik taksi, aku akan mengantarkan Nurlia pulang. Itupun kalau suaminya mengijinkan." Alika dengan santai berkata sambil memakan desert yang sudah diberikan Nurlia padanya.
Fahmi tentu saja terkejut dengan penuturan Alika, hingga kemudian Nurlia tersenyum dan menganggukkan kepalanya saat Fahmi menatap seolah-olah menunggu jawaban dari Nurlia.
"Hati hati, maaf karena aku harus meninggalkan kamu seperti ini," entah sadar atau tidak, tapi secara terang-terangan Fahmi mencium kening, pipi hingga bibir Nurlia.
"Ehem, ada jomblo disini,"
Fahmi tersenyum, sementara Nurlia menunduk untuk menyembunyikan rona wajahnya yang sudah seperti tomat india.
"Hati hati, tolong jaga istriku dengan baik."
"Tenang saja,"
Bruk.....
Nurlia tiba tiba pingsan saat akan masuk ke dalam mobil Alika.
"Nurlia..." Alika di bantu satpam mengangkat Nurlia dan membawanya ke rumah sakit. Tentu saja hal itu dilakukan Alika untuk memastikan kondisi Nurlia baik-baik saja.
Di rumah sakit....
"Alika, bisakah aku meminta tolong kepada kamu agar jangan memberi tahu Mas Fahmi perihal ini?" tutur lembut Nurlia setelah beberapa saat dia sadar dan setelah dokter menyampaikan apa yang membuatnya pingsan.
"Kenapa? bukankah Fahmi berhak tahu tentang ini?" Alika tentu saja merasa heran dengan Nurlia yang seakan ingin menyimpan ini sendiri.
Nurlia menghela nafas panjang, sangat panjang dan dalam sehingga membuat Alika berpikir jika diantara keduanya tidak sedang baik-baik saja.
"Nurlia, Apa kamu masih belum percaya bahwa di antara aku dan Fahmi sudah tidak ada lagi hubungan apa-apa selain hubungan pertemanan?" Alika yang sedari tadi menahan diri akhirnya tidak dapat lagi menahan diri dan segera menanyakan hal ini langsung kepada Nurlia.
"Walaupun dalam hati seorang istri ada perasaan seperti itu, tapi ini tidak ada kaitannya dengan apa yang baru saja kamu sampaikan. Aku hanya...."
"Jika kamu mendengar sesuatu yang menyakitkan, sesuatu yang dikatakan oleh Mama Fahmi. Aku harap kamu tidak akan pernah mempercayainya."
Sontak hal itu membuat Nurlia menatap Alika, sementara Alika hanya tersenyum dan mengatakan jika dia melihat Mama Fahmi keluar dari ruangan Nurlia, saat dirinya masih dirawat di rumah sakit.
"Aku tidak tahu apa yang sudah beliau katakan kepada kamu, yang jelas aku tahu jika apa yang dikatakan beliau menyakitkan bagi kamu. Mengingat, aku cukup baik mengenal keluarga Fahmi."
"Percayalah, walaupun aku pernah ada di hati Fahmi. Posisi itu sudah digantikan oleh dirimu. Kamu satu-satunya dan hanya kamu. Itu fakta yang tidak akan pernah bisa berubah."
...----------------...
...----------------...
...----------------...