Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Keputusan Andre


"Apa kamu melihatnya sekarang, Mas?" tanya Isma pada Andre.


"Melihat apa?"


"Cinta Nurlia untuk Fahmi. Tidakkah Mas melihat tatapannya? Itu tatapan cinta."


"Sayang, Nurlia hanya khawatir dengan Fahmi. Bukan karena cinta..."


"Kenapa kamu belum mengerti juga, Mas? Nurlia dan Fahmi saling mencintai dan melengkapi. Awal rumah tangga mereka memang tidak indah, tapi lihat... Sekarang mereka saling membutuhkan.."


"Nurlia juga sangat sedih saat kamu membawanya secara paksa ke rumah ini, mas..."


Andre terdiam, diam kembali memikirkan tentang Nurlia dan segala yang dikatakan Isma. Sesekali dia melihat Nurlia dan Fahmi.


"Cinta merupakan suatu hal yang dialami oleh setiap orang manusia. Dengan hadirnya cinta, bisa membuat orang bahagia tanpa alasan dan dapat merasakan kesedihan yang mendalam."


"Aku harap kamu akan mengerti cinta mereka, Mas..." ucap Isma sambil pergi meninggalkan Andre untuk melihat keadaan Fahmi.


Melihat Fahmi pingsan, membuat Isma memerintahkan satpam untuk membawanya masuk ke dalam kamar dan memanggilnya dokter.


Isma berusaha menenangkan Nurlia yang terus menangis, beruntung luka yang dialami Fahmi tidak serius, walaupun tubuhnya penuh luka memar. Tapi, tidak sampai mengalami luka dalam.


"Mas, bagaimana keadaan Mas Fahmi?" tanya Nurlia saat melihat suaminya sudah sadar.


"Jangan, tetap ditempat." ucap Nurlia saat melihat Fahmi hendak bangkit.


"Hmmm, aku tidak merasa sakit. Aku baik-baik saja."


Nurlia masuk dan menutup pintu, dia menghampiri Fahmi setelah meletakkan nampan berisi air hangat. Nurlia berencana untuk mengompres tubuh Fahmi yang memar. Namun, siapa yang menduga saat Nurlia baru membuka pintu, melihat Fahmi sudah sadar.


"Ada apa, sayang?" tanya Fahmi saat Nurlia hanya menatapnya diam.


"Hiks.... kenapa mas melakukan itu?" tanya Nurlia.


"Karena aku ingin membuktikan cintaku. Cinta kita."


"Apa harus dengan cara berkelahi?"


"Hanya menerima tantangan dari Kak Andre."


"Aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun untuk membuat seseorang percaya tentang cinta kita." ucap Fahmi.


"Aku mencintaimu bukan karena siapa kamu, tetapi karena siapa aku ketika aku bersamamu. Jangan menangis lagi, aku tidak bisa melihat air mata terus keluar dari ini..." ucap Fahmi sambil mengusap mata Nurlia yang mengembun.


Memang berbagai rintangan dan persoalan silih berganti menerpa rumah tangga kita. Karena semua orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, sama halnya dengan sepasang suami istri. Walaupun terkadang masalah itu datang dari luar.


Agar masalah dapat terpecahkan dengan baik, harus ada pengertian dan sikap saling mengasihi satu sama lain. Tidak peduli sebesar apa ombak yang ada di depan. Selama saling percaya dan bertahan. Semua akan baik-baik saja.


Kata-kata itu seolah-olah terucap saat mereka saling menatap. Fahmi mencium kening Nurlia. Memintanya untuk tidak khawatir dan fokus menjaga calon buah hati kita.


Sementara itu, perdebatan masih berlanjut antara Andre dan juga istrinya, Isma.


Andre yang masih bersih keras ini menceraikan Nurlia dari Fahmi. Sementara Isma berusaha untuk meredam emosi dan juga kekesalan yang menguasai diri suaminya.


"Aku kakaknya, aku tahu pria seperti apa yang bisa membuat hatiku bahagia. Sedangkan, Fahmi, dia tidak sempurna. Dia tidak bisa membuat adikku bahagia." ketus Andre.


"Sama seperti aku yang menginginkan seorang istri sempurna seperti kamu. Aku juga ingin adikku mendapatkan pasangan yang sempurna." imbuhnya.


"Seorang pria mendambakan sosok istri yang sempurna, seorang perempuan juga memimpikan sosok suami yang sempurna. Namun, Mas tidak menyadari bahwa mereka diciptakan untuk saling menyempurnakan."


"Maksudnya Nurlia dan Fahmi?"


"Lihat mereka sekali saja, Mas. Saat pasangan suami istri berdoa bersama-sama, mereka sesungguhnya sedang berbagi keintiman yang tidak dapat diciptakan dengan cara apa pun. Itu adalah perasaan yang luar biasa."


"Nurlia dan Fahmi tidak bisa di pisahkan. Mau dengan cara apapun Mas berusaha memisahkan mereka. Mereka akan tetep bersama." ucap Isma.


Saat melewati kamar Nurlia, samar samar Andre mendengar percakapan antara Nurlia dan Fahmi.


"Bagaimana dengan Kak Andre?"


"Aku tidak peduli lagi apa yang diinginkan kak Andre.," ucap Nurlia.


"Karena saat kita berdua bersama, tidak ada hal lain di dunia ini yang penting bagiku. Kebahagiaan terbesar dalam hidup adalah bersamamu dan mengetahui bahwa aku milikmu selamanya."


"Ya, kamu adalah milikku. Tidak ada siapapun yang bisa memisahkan kita."


"Kamu hadir memberi cinta, membawa bahagia, dan memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya. Aku berjanji kita akan selalu bersama."


Andre melangkahkan kakinya, dia berada di dapur sekarang. Meminta sebuah kopi kepada pembantu yang kebetulan sedang membersihkan dapur.


Andre terdiam, memikirkan perkataan Isma dan juga percakapan yang tidak sengaja dia dengar antara Fahmi dan Nurlia.


Semoga kali ini Mas Andre akan benar merubah pola pikirnya tentang rumah tangga Nurlia dan Fahmi.


Isma yang kebetulan melihat Andre berhenti tepat di depan kamar Nurlia. Sengaja mengikuti kemana Andre akan pergi selanjutnya.


Pagi harinya, baik Isma atau Nurlia tidak bisa menemukan keberadaan Andre.


Padahal Nurlia berencana untuk mengatakan bahwa dia akan kembali tinggal bersama dengan Fahmi, apapun jawaban dari Andre.


"Mungkin kakakmu masih pergi mengurus pekerjaan. Lagipula, kondisi dari Fahmi juga tidak memungkinkan untuk kamu dan dia pergi sekarang. Kakak tidak akan mengizinkan kalian pergi."


"Tunggulah sampai kondisi dari suami kamu benar-benar pulih. Setelah itu, kakak akan membantu kamu untuk pergi dari rumah ini, dan ataupun tanpa izin dari Mas Andre." ucap Isma yang membuat Nurlia sangat bahagia.


"Terima kasih, Kak..." ucap Nurlia sambil memeluk Isma.


"Berjanjilah setelah ini kamu tidak akan pernah menangis lagi dan terus bahagia. Ingat, ada calon bayi yang juga menginginkan hal yang sama seperti yang aku inginkan. Ingin kamu selalu bahagia..." Nurlia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Isma kembali memeluk Nurlia dan mendoakan yang terbaik untuk adik iparnya itu.


Sementara, yang dilakukan Andre bukanlah mengurus pekerjaan. Melainkan datang ke rumah orang tua Andre.


"Akhirnya kamu datang, jadi aku tidak perlu pergi ke rumah kamu." ketus Mila.


"Mana?" tanya Mila.


"Apa maksudnya mana?"


"Surat perceraian Nurlia dan Fahmi. Kamu sendiri kan yang mengatakan akan mengurus surat itu dalam waktu cepat? Kamu tahu kan pernikahan Fahmi dengan Alika sudah tinggal menghitung hari. Pernikahan mereka bisa batal, karena sampai sekarang kamu belum memberikan aku surat perceraian Nurlia dan Fahmi."


"Biarkan saja pernikahan Fahmi dan juga Alika yang sebenarnya direncanakan oleh anda sendiri itu batal."


"Apa maksud kamu?"


"Aku datang untuk mengatakan bahwa aku tidak akan membiarkan adikku bercerai dengan suaminya."


"Apa? Tidak bisa begitu dong. Baiklah, jika memang kamu tidak mau memisahkan mereka maka aku yang akan melakukannya."


"Silahkan, karena aku akan menjadi tembok penghalang mereka berdua. Aku akan menjaga keutuhan rumah tangga mereka."


"Kurang ajar, Apa kamu ingin bermain-main denganku?"


"Tidak, Aku tidak mempunyai waktu untuk bermain-main dengan anda. Tidak peduli apa yang anda rencanakan. Yang aku pedulikan adalah kebahagiaan dari adikku." ucap Andri sampai berantakan kakinya pergi meninggalkan rumah Mila.


...----------------...


...----------------...


...----------------...