Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Seharusnya Tidak Datang


"Kamu yakin?" tanya Alika yang ingin memastikan keinginan Nurlia untuk merahasiakan hal ini dari Fahmi.


"Iya, bisakah kamu membantuku menjaga rahasia ini?"


"Aku tidak berjanji karena bagaimanapun Fahmi sebagai suami kamu berhak tahu perihal ini," Alika seolah berusaha meyakinkan Nurlia jika memang tidak akan terjadi apapun yang membuat hubungan antara dirinya dan Fahmi memburuk.


"Aku tahu, hanya saja....."


"Sayang...."


Fahmi segera berjalan dan menghampiri Nurlia. Alika tidak heran jika Fahmi tiba-tiba datang. Jika sudah menyangkut orang yang dicintai, Fahmi pasti mengutus orang untuk menjaga dari jauh guna memastikan dia aman.


"Mas, kamu disini?" tanya Nurlia yang heran.


"Bagaimana Mas bisa tetap di kantor sementara kamu kembali masuk ke rumah sakit."


Nurlia menatap Alika yang seolah-olah mengatakan jika apa yang dia sampaikan barusan adalah hal benar dan Nurlia tidak perlu khawatir akan perkataan yang di sampaikan Ibu Fahmi.


"Dia hanya perlu istirahat, mungkin tidak seharusnya aku mengajak istri kamu bertemu dan berbicara banyak hal.."


"Tidak, bukan sepenuhnya salah kamu." Nurlia tersenyum sambil melepas pelukan Fahmi.


Berulangkali Fahmi menciumi Nurlia, seakan-akan ciuman itu adalah permintaan maaf karena hal ini terjadi karena ulah Fahmi yang meminta kesediaan Nurlia untuk bertemu dengan Alika.


Nurlia merasa tenang karena Alika benar-benar menepati janjinya untuk tidak memberitahu kepada Fahmi alasan kenapa dia bisa pingsan dan kembali masuk ke rumah sakit.


Hari berlalu, tidak terasa ini adalah hari dimana keluarga Fahmi berkumpul disalah satu gedung ternama untuk merayakan anniversary orang tua Fahmi yang memang selalu di rayakan setiap tahunnya.


"Apa kamu yakin akan pergi? aku sudah meminta izin Mama dan Papa jika aku tidak akan hadir."


"Mas, Bagaimana bisa kamu tidak akan hadir di acara penting yang selalu diadakan keluarga setiap tahun?"


"Aku hanya khawatir sikap mereka belum berubah terhadap kamu, aku tahu di awal pernikahan tidak ada satupun anggota keluargaku yang bersikap baik terhadap kamu kecuali papa."


"Maafkan aku. Itu terjadi karena sikapku yang juga acuh kepada kamu." Fahmi menundukkan kepala seolah-olah dirinya benar-benar menyesal atas apa yang terjadi di saat mereka menikah.


"Tidak masalah, bukankah mas sendiri yang mengatakan jika kita harus menutup lembaran yang lama demi bisa menjalani lembaran kehidupan yang baru?"


Fahmi memegang tangan Nurlia dan mencium nya. Rasa syukur memiliki istri seperti Nurlia memenuhi ruang hati Fahmi.


Aku janji akan menebus semua rasa sedih dan juga kecewa yang kamu rasakan di bulan-bulan pertama pernikahan kita.


Fahmi membantu Nurlia menuruni anak tangga, sebelum keduanya melesat menuju gedung tempat dimana semua keluarga sudah berkumpul.


Sepanjang perjalanan Fahmi sesekali memegang tangan Nurlia sambil fokus menyetir dan fokus pada jalanan. Fahmi seolah-olah tahu perasaan yang dirasakan istrinya.


"Katakan saja jika nanti kamu tidak merasa nyaman, kita akan pulang lebih dulu. Lagipula Papa sudah mengatakan kepada aku agar tidak memaksa kamu untuk ikut datang dalam perayaan tahun ini, mengingat...."


"Aku baik-baik saja, Mas... percayalah." Nurlia tersenyum sambil menatap Fahmi.


"Baiklah, ini dia..." Fahmi menghela nafas panjang saat mobilnya memasuki halaman gedung dimana sudah banyak sekali tamu undangan yang datang.


"Lebih banyak dari biasanya..." lirih Fahmi.


"Ada apa mas?" tanya Nurlia.


"Aku merasa jika tamu undangan yang ada menjadi dua kali lipat dari biasanya."


"Mungkin Mama dan Papa sedang sangat merasa bahagia."


"Semoga saja.," Fahmi merasa sangat tidak nyaman dengan banyaknya tamu undangan dibanding tahun-tahun sebelumnya.


Ada apa ini? apa mungkin Mama dan Papa merencanakan sesuatu yang tidak aku ketahui?


Fahmi dan Nurlia berjalan memasuki ruangan yang sudah di sulap bak pernikahan pasangan muda. Padahal itu adalah anniversary orang tuanya. Perasaan campur aduk mulai menjalar di sekujur tubuh Fahmi.


Terlebih lagi saat beberapa sanak saudara bertanya kenapa Fahmi masih bersama dengan Nurlia.


Apa maksud dari pertanyaan beberapa sanak saudara keluarga papa dan mama? sebaiknya aku segera mencari tahu.


Saat Fahmi berusaha untuk mencari keberadaan orang tua nya. Dia melihat Alika sedang berbicara dengan adik Fahmi, Raya.


"Alika ada disini juga?" lirih Fahmi.


"Ah, tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir untuk mengambilkan kamu makanan."


"Tunggu di sini, oke." perintah Fahmi.


"Mas, bukankah kita seharusnya menemui Mama dan Papa dulu untuk memberikan hadiah ini sebelum Mas mengambilkan aku makanan?"


"Sayang, aku tahu sejak tadi kamu gelisah dan hanya makan sedikit. Jadi, aku berpikir untuk mengambilkan kamu makanan agar kamu tidak terlihat lemas di hadapan Mama dan Papa."


Pandai sekali Fahmi dalam mengambil hati Nurlia... terbukti dengan Nurlia yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Fahmi segera menemui Alika begitu dia selesai mengambil beberapa hidangan pembuka dan melihat sang adik, Raya, sudah pergi meninggalkan Alika sendirian.


"Alika, kamu ada disini?"


"Ya, sebenarnya aku sangat bingung saat Raya datang ke apartemen dan mengatakan jika dia ingin minta diantar untuk membeli hadiah pernikahan orang tuanya. Lalu aku...."


"Tunggu, Raya datang ke apartemen kamu dan membawa kamu ke sini?"


"Itulah yang aku tidak mengerti..... kenapa Raya justru membawa aku ke salon sebelum aku dibawa ke sini."


"Apa?"


Alika kemudian menceritakan tentang bagaimana awal mulanya Raya datang, dan meminta Alika untuk mengantarkannya membeli kado dengan alasan Alika yang paling tahu banyak tentang apa saja yang disukai oleh sang Ibu. Hingga kemudian Alika di dandani bak wanita yang akan bertunangan dan datang kesini.


"Fahmi, kamu harus segera mencari tahu sebenarnya apa rencana dari adik kamu. Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan terutama saat aku tidak bisa menemui orang tua kamu.." pinta Alika setelah Fahmi memahami situasinya.


"Aku juga berpikir seperti itu setelah aku menyadari bahwa tamu undangan yang datang tahun ini dua kali lipat dari tahun-tahun sebelumnya."


"Really?"


"Ya... dan, Alika. Nurlia ada di sana, aku akan mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi tapi jangan sampai Nurlia mengetahuinya."


"Baiklah..."


"Bawa ini juga, katakan padanya aku harus ke kamar mandi. Aku sengaja berpura-pura akan mencarikan dia makanan, agar dia tidak mengetahui kegelisahan yang sedang aku rasakan."


"Tentu..." Alika mengambil alih makanan yang berada di tangan Fahmi dan segera berjalan menuju meja Nurlia.


Deg!!!!


Langkah kaki Alika terhenti saat dia melihat siapa yang sedang berbicara dengan Nurlia.


Tante Mila...


"Nurlia...." sapa Alika beberapa saat setelah Mila pergi dari hadapan Nurlia.


"Alika..." Nurlia terlihat menundukkan wajahnya, Alika tahu jika Mila pasti mengatakan sesuatu yang menyakitkan... terlihat jelas Nurlia menghapus air mata walaupun tidak sempat terjatuh.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Alika sambil duduk dan meletakkan makanan di hadapan Nurlia.


"Seharusnya aku tidak datang, Alika."


"Apa maksud kamu?"


"Aku....__"


"Di momen yang bahagia ini, aku juga ingin mengumumkan pertunangan putraku Fahmi dengan kekasihnya, Alika..."


Deg !!!!


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...