
Yang terjadi beberapa saat sebelum Fahmi bertemu dengan Alika,
Nurlia yang baru saja selesai membersihkan rumah untuk menghilangkan rasa sedihnya, mendapati ponselnya berdering.
"Assalamualaikum, mas. Ada apa?" tanya Nuria.
"Walaikumsalam, Nurlia. Maaf, jika aku menganggu kamu." suara Fahmi di seberang sana.
"Mas tidak menganggu aku. Ada apa, mas? Apa ada sesuatu yang perku aku bantu?"
"Ya, aku meninggalkan berkas untuk bahan pertemuanku dengan kolega bisnis hari ini. Aku akan menyuruh orang datang untuk mengambil berkas itu."
"Apa karena itu mas menelpon aku?" tanya Nurlia.
"Ya, jadi nanti saat kamu mendapati ada orang yang datang, kamu tidak terkejut,"
"Apa berkas ini sangat penting?"
"Ya, tentu saja. Ini adalah berkas perusahaan."
"Katakan saja dimana mas akan melakukan pertemuan bisnis, aku sendiri yang akan mengantarkan berkas ini,"
"Kamu yakin?"
"Tentu, anggap saja ini adalah ungkapan terima kasihku karena mas sudah mau menghibur saat aku bersedih.."
Fahmi tersenyum saat mendengar kata yang baru saja di ucapkan oleh Nurlia.
"Seandainya aku bisa mendengarnya secara langsung," goda Fahmi.
"Sudah, jangan menggodaku. Katakan, dimana berkas itu berada?"
Nurlia segera naik ke lantai atas, tepatnya pergi menuju ruang kerja Fahmi untuk mengambil berkas yang tadi sudah Fahmi katakan.
Nurlia sempat kesulitan mencari berkas yang di maksud Fahmi, sebelum kemudian bisa menemukannya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa menemukan berkas ini," lirih Nurlia setelah membuka isi dari berkas itu untuk memastikan bahwa itu adalah berkas yang benar.
Nurlia yang bangkit dari tempat duduknya tidak sengaja menemukan kotak kecil yang terjatuh di bawah meja, Nurlia mengambil dan mendapati isi dari kotak itu adalah sebuah cincin dengan ukiran nama Alika dan Fahmi.
Nurlia membawa serta cincin itu dan berusaha untuk tidak berpikiran negatif pada Fahmi. Walaupun sangat sulit bagi Nurlia untuk melawan pikiran negatif itu.
Nurlia berjalan menaiki eskalator untuk mencari keberadaan Fahmi. Begitu Nurlia bisa menemukan Fahmi, Nurlia mendapati Fahmi sedang bercanda tawa dengan Alika.
Hingga saat Fahmi menyinggung soal cincin, barulah Nurlia memahami jika Fahmi memang ingin Nurlia datang dan melihat apa yang akan dia lakukan. Yaitu melamar Alika.
Setidaknya itulah yang ada di pikiran Nurlia.
"Aku datang untuk membawa cincin dan berkas ini," Nurlia segera pergi begitu Fahmi bangkit dari posisi berjongkok dan mengambil berkas serta cincin yang di berikan Nurlia.
"Fahmi, bagaimana Nurlia bisa ada di sini? Dia pasti sudah salah paham sekarang," ujar Alika.
"Aku menelponnya untuk menyiapkan berkas yang lupa aku bawa, tapi kemudian dia mengatakan bahwa dia sendiri yang akan mengantarkan berkas itu. Ini salahku, seandainya saja aku tidak melupakan cincin itu mungkin semua ini tidak akan terjadi,"
"Apa maksud kamu?"
Fahmi kemudian menceritakan jika dia meninggalkan kotak cincin itu di meja tempat kerjanya.
"Maksud kamu, Nurlia menemukan cincin itu dan memutuskan untuk membawanya bersama ke sini?"
"Mungkin saja, Nurlia mungkin saja mengira bahwa di antara kita masih ada hubungan yang akan kembali terjalin,"
"Kalau begitu apalagi yang kamu tunggu, Fahmi? Cepat kejar dia,"
"Lalu bagaimana dengan cincin ini? Aku sudah berjanji akan memasangkan cinci ini di jari manis kamu?"
"Nurlia lebih penting untuk saat ini,"
"Kau memang yang terbaik." Ucap Fahmi sambil memegang pipi Alika dan memberikan cincin itu.
"Pergilah.."
Fahmi berlari dan berusaha untuk mengejar Nurlia. Sayangnya, Nurlia sudah meninggalkan tempat itu.
----------------
Sudah beberapa hari terakhir ini, Nurlia selalu pergi saat Fahmi belum bangun.
Seperti pagi ini, Fahmi kembali hanya mendapatkan pesan yang di tinggalkan Nurlia di meja makan bersama dengan sarapan yang selalu di sediakan oleh Nurlia sebelum pergi.
"Nurlia, kamu sebenernya pergi kemana? Aku sudah berusaha bangun pagi. Tapi, tetap saja aku tidak bisa memiliki kesempatan untuk berbicara dengan kamu," lirih Fahmi sambil duduk dan melihat pesan Nurlia.
Hari ini, Fahmi memutuskan untuk mengosongkan waktu di kantor demi bisa mencari keberadaan Nurlia.
Bunyi perutnya menandakan jika hari sudah memasuki jam makan siang, Fahmi memutuskan untuk menepikan mobilnya di salah satu cafe yang ada di pinggir jalan.
Setelan memesan makanan, Fahmi memilih tempat duduk out door.
Tak lama setelah Fahmi duduk, matanya menangkap sosok mirip Nurlia yang sedang mengantarkan makanan dan berjalan menuju meja nya.
"Nurlia..."
Wanita yang mengenakan pakaian kerja dan mengenakan masker itu, terlihat menata makanan dengan cepat di atas meja tempat di mana Fahmi duduk.
"Nurlia, kamu Nurlia.." Fahmi hendak memegang tangan pelayan itu. Namun, pelayan itu segera pergi menjauh.
Fahmi memakan makanannya sambil terus fokus melihat situasi.
Entah kenapa aku merasa jika yang tadi mengantarkan makanan itu adalah Nurlia. Aku harus mencari tahu.
Setelah makan, Fahmi sengaja menunggu di pintu belakang untuk memastikan jika yang tadi mengantar makanan untuknya adalah Nurlia.
Penantian yang membuahkan hasil, setelah menunggu selama kurang lebih dua jam. Fahmi melihat dua orang keluar dari pintu belakang. Terlihat salah satu dari mereka membawa kantung sampah.
"Eh, Lia. Tadi itu bukan nya suami kamu ya? Kenapa kamu tidak menemaninya makan?"
Sudah ku duga, pelayan yang mengatarkan makanan padaku adalah Nurlia. Jadi dia bekerja di sini. Tapi kenapa?
"Aku sedang tidak ingin membahasnya. Lagipula dia ke sini sebagai pembeli, bukan sebagai suamiku."
"Lia, seharusnsya kamu tidak boleh begitu."
"Sudahlah ayo, kamu bilang akan mengajak aku pergi ke rumah kamu kan? Jam kerja kita sudah habis,"
Keduanya terlihat berjalan kembali masuk setelah membuang sampah, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Fahmi segera menarik tangan yang dia yakini adalah Nurlia.
"Nurlia, mau sampai kapan kamu menghindari aku seperti ini? Kita harus bicara,"
Nurlia melihat ke arah rekan kerjanya seolah-olah meminta bantuan, namun yang dilakukan oleh rekan kerjanya justru masuk dan meninggalkan Nurlia.
Fahmi menarik tangan Nurlia sehingga keduanya kini saling berhadapan.
Fahmi terus mendekat hingga Nurlia bersandar ke tembok.
"Apa kamu begitu terluka sejak kejadian itu, sehingga untuk berbicara denganku saja kamu tidak sudi."
"Aku harus kembali bekerja." Nurlia berusaha pergi, namun Fahmi mengunci tubuhnya dan membuka masker yang di kenakan.
"Apa yang kamu liat itu tidak seperti yang kamu pikirkan,"
"Kenapa mas ingin mencoba menjelaskan hal yang tidak seharusnya aku tahu?"
"Nurlia..."
"Aku tidak akan mencampuri urusan mas. Jadi, bukankah seharusnya mas tidak mencampuri urusanku?"
"Bagaimana bisa aku tidak akan mencampuri urusan kamu. Jika kamu mulai melenceng dari tugas kamu sebagai seorang istri?"
Deg !!!
Nurlia langsung menatap Fahmi.
"Aku tahu di awal pernikahan kita tidak berjalan baik. Mungkin aku banyak memberikan luka pada dirimu. Jadi...."
"Mas, apa yang kamu lakukan?" tanya Nurlia saat mendapati Fahmi berlutut di hadapannya.
"Wanita itu adalah Alika. Dia adalah wanita pertama yang mengisi hatiku. Tapi, aku sekarang sadar jika tidak ada ikatan yang lebih suci dan lebih baik dari ikatan pernikahan."
"Nurlia, ijinkan aku untuk menjadi seorang suami untukmu.."
"Mas memang sudah menjadi suamiku. Setidaknya itulah yang ada di buku pernikahan"
"Tidak, maksud aku. Maukah kamu memulai hubungan kita dari awal?"
Ya Tuhan, apakah mas Fahmi benar-benar dengan apa yang baru saja dia katakan? Aku harus apa? Rasa takut akan kecewa itu masih ada.
...----------------...
...----------------...
...----------------...