
Di kantin rumah sakit...
"Ibu Nurlia masuk rumah sakit, aku sendiri yang membantu mempersiapkan ruang operasi. Aku sangat terkejut saat mengetahui kamu tidak ada bersama dengan Nurlia," ucap Alika pada Antoni.
"Aku pikir kamu akan ada bersama dengan Nurlia. Ternyata aku salah. Kamu tidak pantas di sebut sebagai seorang pria." imbuhnya.
"Tunggu, Ibu Nurlia masuk rumah sakit sampai dioperasi?" tanya Fahmi dengan nada terkejut.
"Aku ragu kamu tidak tahu jika ibu Nurlia menderita penyakit mematikan?"
"Aku...." Fahmi binggung harus menjawab apa, karena sejatinya dia memang tidak mau tahu mengenai keluarga Nurlia, setelah mereka menikah.
"Sudah aku duga kamu tidak mengetahui ini," Alika tersenyum smirk melihat ekspresi wajah Fahmi.
"Alika, jangan menyalahkan aku karena aku tidak mengetahui tentang apa yang terjadi pada keluarga Nurlia. Karena...."
"Karena kamu masih berharap dan bermimpi akan bisa menjalin kembali hubungan kita yang sudah berakhir?" tegas Alika yang langsung memotong pembicaraan dari Fahmi.
"Alika..."
"Cukup, Fahmi. Tidakkah kamu merasa kasihan terhadap wanita yang sudah menjadi istri kamu?"
"Aku?"
"Tidakkah kamu merasa kasihan terhadap seorang istri yang seharusnya mendapatkan nafkah batin dari suami nya?"
"Tidak usah bicara yang lebih intim. Sikap kamu yang kemarin itu sudah sangat menyakiti hati seorang istri," imbuh Alika yang semakin membuat Fahmi merasa bersalah.
"Aku tahu jika kamu ingin pernikahan yang sempurna. Menikah dan berumah tangga merupakan impian dari semua orang. Tak heran jika seseorang memilih untuk mengenal pasangannya terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan."
"Jika kamu tahu aku menginginkan hal itu, kenapa kamu memilih mundur saat aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai. Bukankah kita sudah berjanji bahwa kita akan memperjuangkan hubungan ini sampai ke jenjang yang kita inginkan. Yaitu pernikahan," Fahmi berusaha menyakinkan Alika jika hubungan mereka masih bisa di perbaiki.
"Tidak, Fahmi. Kamu harus mulai terbiasa dengan takdir. Dimana kita tidak bersama dan mulai-lah terbiasa dengan kehadiran Nurlia yang merupakan istri kamu."
"Aku tidak bisa, Alika."
"Kenapa?"
"Karena kamu adalah wanita yang sangat aku cintai, bagaimana bisa aku mencintai wanita lain selain dirimu?" kali ini Fahmi mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca.
"Cobalah untuk melihat Nurlia, seperti saat kamu melihat aku. Aku yakin, perasaan itu akan muncul seiring berjalannya waktu. Terutama saat kamu mulai ikhlas dan mencoba."
"Apa kamu sudah tidak lagi mencintai aku, Alika?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Alika.
"Lihat saja, kamu seolah-olah merelakan aku untuk wanita lain."
"Fahmi, sejatinya cinta itu tidak mengikat. Aku tetap mencintai kamu walaupun kamu tidak akan menjadi milikku."
Fahmi terdiam, dia sudah tidak memiliki kata kata lagi.
"Aku harus kembali. Jam istirahat ku sudah habis." Alika bangkit dari tempat duduknya dan mulai berjalan meninggalkan Fahmi.
Alika memutuskan untuk menekuni profesinya sebagai seorang dokter yang sempat terhenti beberapa bulan.
Alika berjalan melewati seorang wanita yang tengah berdiri membelakanginya, wanita yang tidak lain adalah Nurlia.
Sepertinya sang Ibu mertua sengaja meminta Nurlia untuk mencari Fahmi. Seolah-olah sang mertua ingin Nurlia tahu jika Fahmi sudah memiliki wanita lain di dalam hatinya.
"Semoga setelah ini, Nurlia akan menuntut cerai dari Fahmi. Sebagai seorang Ibu, tentu aku tidak tega melihat anakku harus menderita karena berpisah dengan kekasihnya." Lirih Ibu Fahmi setelah sebelumnya dia melihat Fahmi dan Alika bertemu.
"Nurlia, kamu disini?" ucap seorang pria yang mengejutkan Nurlia.
"Kak Andre?" Nurlia tersenyum pada kakak laki-lakinya itu.
"Sedang apa kamu di sini?"
"Aku mencari mas Fahmi. Tapi sepertinya dia tidak ada di sini."
"Ya sudah, ayo kembali ke ruangan Ibu. Siapa tahu ibu sudah siuman." Andre mengandeng tangan Nurlia, sementara Nurlia masih melihat ke arah Fahmi yang duduk sambil menundukkan kepalanya.
****************
Fahmi mencoba mencari keberadaan Nurlia. Setelah di beri tahu Andre, sang kakak ipar. Fahmi segera pergi ke musholla rumah sakit.
Fahmi melihat Nurlia yang berdoa sambil meneteskan air mata. Tiba tiba Fahmi merasakan sesuatu yang terasa sesak di hatinya.
"Perasaan apa ini?" lirih Fahmi.
Sudah beberapa hari ini, Nurlia selalu menghindarinya. Bahkan Nurlia tidak ingin kembali pulang saat Fahmi mengajak nya pulang.
Fahmi memutuskan untuk masuk ke kamar mandi pria, jika cara biasa tidak membuat dirinya bisa berbicara dan meminta maaf kepada Nurlia. Fahmi akan mencoba berbicara dengan Nurlia disini, di musholla tempat dimana Nurlia selalu berdoa akan kesembuhan sang Ibu.
Nurlia yang baru saja selesai berdoa dan hendak membuka mukena nya, tentu saja terkejut saat melihat Fahmi melakukan sholat untuk pertama kalinya.
Ya, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Nurlia. Pertama kalinya melihat Fahmi melakukan sholat.
"Assalamualaikum, Nurlia."
Langkah kaki Nurlia terhenti saat mendengar Fahmi mengucapkan salam dan menyebut namanya.
"Walaikumsalam, mas." lirih Nurlia.
"Kamu mau kemana? sebentar lagi masuk waktu sholat isya. Tidakkah kamu ingin tetap berada di sini? menunggu waktu sholat, dan..." Fahmi menjeda kata-katanya beberapa saat sebelum melanjutkan kembali.
"Sholat bersama ku?"
Deg !!
Walaupun dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan, Nurlia dan Fahmi melakukan sholat bersama untuk pertama kalinya.
Dengan ragu Fahmi berbalik ke belakang, perlahan tapi pasti, Fahmi menjulurkan tangannya dan siapa yang menduga jika Nurlia menyambut uluran tangan itu dan menciumnya.
Persis seperti momen saat mereka baru saja dinyatakan resmi menjadi pasangan suami istri.
"Maafkan aku, Nurlia. Aku tahu tidak seharusnya aku meninggalkan kamu dan tidak mendengarkan panggilan kamu saat itu."
"Tidak masalah. Lagipula aku sudah terbiasa dengan hal itu." Nurlia tersenyum pada Fahmi.
Senyuman manis, namun terasa menyakitkan untuk Fahmi.
Bagaimana bisa begitu? entahlah. Hanya Fahmi yang tahu.
Alika yang kebetulan akan melakukan sholat, tersenyum saat melihat Nurlia dan Fahmi berbicara.
"Alhamdulillah, semoga setelah ini Fahmi akan benar-benar bisa membuka hati dan menerima Nurlia sebagai istri nya."
Alika memutuskan untuk masuk melalui sisi musholla yang berbeda. Dia tidak ingin Nurlia mengetahui keberadaan nya, mengingat selama ini saat melihat kehadiran Alika. Nurlia selalu menghindar, seolah-olah tahu apa yang terjadi di antara Fahmi dan Alika.
"Nurlia, kamu mau kemana? bukankah kita belum selesai bicara?" tanya Fahmi saat melihat Nurlia melipat mukena nya.
"Bukannya selama ini mas tidak suka jika kita bicara terlalu banyak. Bahkan mas sendiri yang mengatakan jika tidak ingin melihat wajah ku terlalu lama? jadi aku hanya..."
Nurlia menghentikan ucapannya saat Fahmi tiba-tiba memeluknya.
"Maafkan aku, Nurlia. Aku tahu aku banyak dosa kepada mu. Ijinkan aku untuk memperbaiki nya."
Nurlia melepaskan pelukan Fahmi dan sedikit menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya.
"Jika permintaan maaf ini karena apa yang terjadi sekarang. Maaf, aku tidak bisa memaafkan. Aku tidak bisa menerima permintaan maaf hanya karena sekarang ibuku dalam kondisi kritis," ucap Nurlia sebelum pergi meninggalkan Fahmi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...