
"Fahmi kamu dari mana?" tanya Mila.
"Mama sedang apa di rumah Fahmi?"
"Kamu ini, ditanya kok balik tanya." ketus Mila.
"Fahmi sudah dewasa, Ma. Sudah berumah tangga. Tidak perlu Fahmi mengatakan kemana Fahmi pergi dan darimana Fahmi."
"Haduh, kamu itu mau bercerai dengan Nurlia. Tentu saja Mama bertanya kamu kemana."
"Kata siapa Fahmi akan bercerai dengan Nurlia?"
"Tentu saja kata surat ini. Ini surat yang dikirimkan Nurlia untuk kamu, kan? baguslah dia akhirnya memilih mundur dan merelakan kamu untuk Alika."
"Ma, Fahmi tidak akan pernah bercerai dari Nurlia, dia sedang hamil anak Fahmi, Ma." ketus Fahmi.
"Lagipula, Fahmi dan Alika sudah saling merelakan satu sama lain." imbuhnya masih dengan nada kesal.
"Halah, paling cuma akal-akalan nya Nurlia, dia sebenernya tidak hamil. Itu hanya alasan agar bisa terus bersama dengan kamu. Kan enak jadi istri kamu,. tidak perlu bekerja."
"Cukup, Ma. Jika kedatangan Mama kesini hanya untuk menjelekkan Nurlia. Sebaiknya mama pergi, Fahmi sedang sibuk memikirkan cara untuk membawa Nurlia kembali ke rumah ini."
"Fahmi, undangan pernikahan kamu dan Alika sudah disebar. Jadi, bagaimana bisa kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Kamu mau keluarga kita menanggung malu?" ketus Mila.
"Mama sendiri kan yang tiba-tiba merencanakan pernikahan ini? Jadi, Fahmi tidak mau tahu, tidak mau peduli. Yang Fahmi pedulikan hanya Nurlia dan bayi dalam kandungannya."
"Mama tidak akan pergi sebelum kamu menandantangani berkas ini." ucap Mila sambil melempar berkas itu ke atas meja dan menjatuhkan diri di sofa.
Fahmi mendengus kesal, dia mengambil pulpen dan duduk. Mila tersenyum saat Fahmi membuka berkas itu dan siap untuk menandatangani nya.
"Fahmi, apa yang kamu lakukan?" ketus Mila saat Fahmi mencoret-coret berkasnya, bukan menandatanganinya.
"Fahmi...." Mila semakin kalang kabut saat Fahmi merobek berkas itu di hadapannya.
"Sudah Fahmi katakan bahwa Fahmi tidak akan pernah bercerai dengan Nurlia."
"Fahmi, tunggu Fahmi..... Fahmi...."
Mila berteriak dan berusaha menghentikan Fahmi yang kembali pergi meninggalkan rumah.
Aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilanganmu. Hidupku menjadi lebih baik sejak aku bertemu denganmu.
Nurlia, aku pasti akan membawa kamu kembali. Aku tidak akan membiarkan kesalahpahaman ini terus memisahkan kita.
Fahmi terus berkendara tanpa arah dan tujuan. Hingga kemudian dirinya teringat dengan Nurlia. Kondisinya yang sedang tidak baik-baik saja, ditambah dengan penjelasan Alika yang mengatakan bahwa calon bayi mereka mengalami keterlambatan berkembang karena stress yang dialami oleh sang ibu. membuat Fahmi memutarbalikkan mobilnya dan segera melaju menuju rumah Andre.
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku sudah menyiksa batin Nurlia di awal pernikahanku dengannya. Sekarang, Aku tidak akan membiarkan dia kembali menderita bersama dengan calon bayiku."
Tidak peduli lagi risiko apa yang akan dihadapi saat berusaha masuk ke rumah Andre. Fahmi tetap melanjutkan kendaraannya dan berhenti tepat di depan pintu gerbang.
"Maaf, Pak. Anda tidak diizinkan masuk." ucap satpam yang biasa mencegah Fahmi untuk masuk ke dalam.
Bruk !!
Tanpa pikir panjang lagi Fahmi segera menyerang dua satpam itu dan masuk begitu dia berhasil mengalahkannya.
"Hei, berani sekali kamu masuk ke sini dan menyerang dua satpamku. Apa kamu ingin mati, Ha?" ketus Andre yang kebetulan melihat secara langsung kejadian di mana Fahmi menyerang dua satpamnya untuk bisa masuk ke dalam.
"Jika kematianku bisa menjadikan kakak mengerti bahwa aku benar-benar mencintai Nurlia, aku tidak keberatan." tantang Fahmi.
"Tolong, kak. Kakak salah paham. Aku akui memang di awal pernikahan tidak ada cinta diantara kami. Tapi sekarang, cinta itu sudah mekar dan kami tidak ingin berpisah satu sama lain." teriak Fahmi.
"Jika kamu menginginkan ajalmu di sini, maka aku akan mewujudkannya. Kita lihat, seberapa besar cintamu untuk adikku." ucap Andre sambil memberikan kode kepada dua orang satpam yang merintih kesakitan karena serangan Fahmi.
Beberapa saat kemudian, 5 orang bertubuh kekar tiba-tiba masuk dan langsung mengelilingi Fahmi.
"Ada apa? apa kamu takut sekarang? masih ada kesempatan bagi kamu untuk pergi dari sini dan menyerahkan berkas yang sudah aku kirim kepada kamu." teriak Andre saat Fahmi menatapnya.
"Bekas itu sudah tidak ada lagi, aku sudah merobeknya. Karena, aku tidak akan pernah menceraikan Nurlia sampai kapanpun."
Sementara itu, Isma yang ada di dapur sangat penasaran dengan suara bising yang sudah tadi dia dengarkan saat membuatkan susu dan juga cemilan untuk Nurlia.
"Bi, Sebenarnya apa yang terjadi di luar kenapa terdengar begitu ribut? seperti ada seseorang yang sedang berkelahi?" tanya Isma pada Bik Sumi.
"Di luar memang sedang terjadi keributan, Nyonya. Seseorang sedang melawan 5 penjaga rumah."
"Seseorang? Siapa?" tanya Isma sambil memberikan nampan kepada Bik Sumi dan memintanya mengantarkan ke ruangan Nurlia.
"Saya sempat mendengar Bapak menyebutkan nama Fahmi."
"Fahmi?"
"Benar, nyonya. Kalau begitu saya permisi mengantarkan makanan dan minuman ini ke ruangan non Nurlia."
"Baiklah.." Isma kemudian segera melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Fahmi, tidak mungkin Fahmi suami Nurlia yang melawan penjaga rumah ini.
Isma mempercepat langkahnya untuk melihat siapa Fahmi yang disebutkan tadi. Betapa terkejutnya dia saat melihat Fahmi yang sedang berjuang melawan 5 orang adalah Fahmi suami Nurlia.
"Astaga, Mas. Apa yang kamu lakukan kenapa kamu membiarkan Fahmi melawan 5 orang?" tanya Isma pada suaminya.
"Lihat saja, dia sendiri yang menantang mau dengan datang ke sini dan mengatakan bahwa dia bersedia mati untuk membuktikan cintanya."
"Kamu benar-benar tidak memiliki hati, Mas. Kamu terlalu kukuh pada pendirian kamu dan tidak pernah berpikir perasaan mereka berdua."
"Sudah, biarkan saja. Kita lihat sampai mana dia bertahan untuk membuktikan bahwa cintanya benar-benar tulus untuk Nurlia." ucap Andre yang membuat Isma pergi meninggalkannya.
Kepergiannya bukan untuk tidak peduli dengan apa yang Andre lakukan. Dia ke kamar Nurlia dan mengatakan apa yang sedang terjadi di luar.
"Dengar, berjanjilah bahwa kamu tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan kamu dan bayi kamu. Kakak mengatakan ini hanya agar kamu membuat kakak kamu berhenti melakukan hal gila." pesan Isma sebelum dia mengajak Nurlia untuk melihat Fahmi.
"Aku janji..."
Dengan perasaan tidak menentu setelah mendengar berita yang disampaikan oleh kakak iparnya. Nurlia berjalan dan melihat sesuatu yang membuat dunianya terasa hancur.
"Mas Fahmi...." lirih Nurlia.
"Nurlia..."
Walaupun Nurlia memanggil nama Fahmi dengan suara lirih, tapi Fahmi bisa mendengarnya.
Fahmi melihat ke arah Nurlia yang meneteskan air mata. Itu membuatnya tidak fokus dan langsung mendapatkan serangan bertubi-tubi.
Bruk !!
Mendapatkan tangan dari 5 orang sekaligus membuat Fahmi akhirnya tumbang.
"Mas Fahmi...." Nurlia tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya. Dia memerintahkan kepada lima orang itu untuk berhenti memukuli Fahmi.
Lima orang penjaga itu akhirnya pergi setelah melihat Andre dan Andre memberikan kode agar mereka meninggalkan Fahmi.
"Mas, apa yang kamu lakukan?" isak Nurlia.
"Aku hanya berusaha untuk untuk membuktikan cintaku..." ucap Fahmi sambil tersenyum. Dia tidak peduli dengan sakit di sekujur tubuh yang dia rasakan.
"Aku mencintaimu, Nur...lia. Ak....u ti...dak ak...an per...nah ber...ce...rai... den....gan ka...mu." ucap Fahmi dengan terbata-bata sebelum menutup mata.
"Mas Fahmi?"
...----------------...
...----------------...
...----------------...