Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Penjelasan Fahmi


Fahmi memegang tangan Nurlia dan berharap dia akan segera kembali sadar. Ucapan dokter benar-benar membuatnya tertampar.


Fahmi terus menyesali keputusannya yang meninggalkan Nurlia saat acara peringatan ulang tahun pernikahan orang tua nya.


Tanpa sadar, Fahmi menetaskan air mata dan tetesan itu membuat Nurlia terkejut karena jatuh ditangannya.


"Mas, kenapa kamu di sini? Tunggu, aku dirumah sakit? Kenapa aku dirumah sakit?" tanya Nurlia.


Melihat Nurlia yang sudah sadar, Fahmi segera memeluknya. Fahmi membantu Nurlia untuk setengah duduk dan memberikan air padanya.


"Bagaimana bisa kamu menemukan aku, mas?"


"Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika aku tidak bisa menemukan keberadaan kamu."


"Ini tidak bener, mas. Seharusnya kamu tidak boleh menemukan keberadaan ku."


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Fahmi saat melihat Nurlia mencoba untuk melepaskan infus yang ada ditangannya.


"Aku harus pergi. Aku, aku, aku tidak bisa lagi bertemu dengan kamu, mas..." Air mata Nurlia mulai mengambang. Melihat itu, Fahmi segera memeluk Nurlia.


"Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak bisa mengendalikan diriku saat itu."


"Aku ikhlas jika memang keadaannya akan seperti itu." ucap Nurlia yang membuat Fahmi melepaskan pelukannya.


"Bicara apa kamu ini." ketus Fahmi.


"Kebahagiaanku memang terletak pada Mas. Tapi, jika memang kebahagiaan Mas ada pada Alika. Aku ikhlas, mas."


"Aku sudah tahu alasan kenapa mas menikahi aku dulu. Sekarang, tidak ada alasan untuk tetap membuat kita bersama. Aku pikir sudah waktunya melepaskan mas untuk Alika."


"Kamu memutuskan sesuatu tanpa berbicara denganku terlebih dahulu, Nurlia. Apa kamu tahu jika itu menyakiti hatiku?"


"Aku juga sakit saat mengetahui jika pernikahan kalian sudah diatur dan akan dilakukan dalam waktu dekat." isak Nurlia.


"Jika saja kamu jujur tentang keadaan kamu yang sebenarnya, aku tidak akan datang ke acara pesta pernikahan orang tua ku, Nurlia."


"Kenapa kamu tidak mengatakan jika kamu hamil, Nurlia?"


Deg!!


"Kenapa?" lirih Fahmi sambil kembali memegang tangan Nurlia.


"Apa perkataan ibuku terlalu menyakiti kamu sehingga untuk bicara jujur saja kamu tidak bisa?"


"Apa kamu kurang percaya padaku sehingga kamu tidak mengatakannya?"


"Kamu langsung pergi dan berharap aku tidak akan menemukan keberadaan kamu? bagaimana bisa kamu seegois itu, Nurlia?"


"Aku tidak egois, mas. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk dilakukan."


"Apa menurutmu adalah hal yang terbaik dengan menjauhkan aku dengan calon anakku? Anak kita, Nurlia."


Nurlia menundukkan kepalanya, air mata yang berusaha dia tahan kini sudah jatuh membasahi pipinya.


Dengan penuh cinta, Fahmi mengangkat dagu Nurlia dan menghapus air matanya.


"Bagaimana bisa kamu berpikir aku akan menikahi Alika, sementara aku sudah bahagia memiliki wanita istimewa seperti kamu?" ucap Fahmi.


"Mas..."


"Aku mencintaimu, Nurlia. Hari ini, esok, dan seterusnya. Tidak ada orang yang bisa merusaknya."


"Tidak peduli dengan kedua orang tuaku yang menentang hubungan ini. Mereka yang membuatku menikah denganmu. Dan, karena mereka juga aku akan tetap bersama dengan kamu."


"Berjanjilah kamu akan tetap menggenggam erat tanganku. Bersama kita melewati badai yang ada di hadapan kita."


Nurlia menangis dan memeluk Fahmi. Setelah Fahmi memberikan kecupan mesra di bibirnya.


"Aku takut, hiks.... Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Orang yang paling aku sayangi. Haruskah aku akan kehilangan kamu juga, Mas." lirih Nurlia dalam pelukan Fahmi.


"Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku berjanji, kamu tidak akan kehilangan aku."


"Kebahagiaan kamu bukan lagi bersama dengan aku, Fahmi. Tapi bersama dengan Nurlia. Aku bahagia karena kamu berhasil meyakinkan Nurlia dan meluruskan kesalahpahaman yang terjadi."


...----------------...


"Aku tidak yakin jika bayi yang ada dalam kandungan kamu adalah bayi Fahmi. Memangnya kamu begitu subur sehingga sekali berbulan madu saja sudah bisa langsung hamil." ketus Mila saat dirinya mendengar kabar kehamilan Nurlia setelah Fahmi menegaskan dia tidak akan menikahi Alika dan mempertahankan pernikahannya.


Nurlia hanya diam, dia ingin melawan. Tapi, dia tidak mempunyai keberanian. Nurlia berdoa agar Fahmi yang pergi untuk membeli makanan akan segera datang.


"Aku tahu, kamu pasti sudah meracuni pikiran Fahmi dan membuat Fahmi tidak lagi mencintai Alika. Dasar wanita tidak berguna. Tega kamu yang merusak kebahagiaan Fahmi."


"Jika kedatangan ibu hanya untuk menghina aku. Lebih baik Ibu pergi saja. Tidak cukupkah ibu menghina diriku?" tanya Nurlia.


"Sombong sekali kamu hanya karena Fahmi lebih memilih kamu daripada Alika, wanita yang dia cintai."


"Dulu, dulu memang Alika adalah wanita yang di cintai Mas Fahmi. Sekarang, mas Fahmi menikahi aku, istrinya."


"Halah, dinikahi karena hutangbudi saja begitu bangga dengan mengatakan bahwa Fahmi sudah mencintai kamu. Asal kamu tahu ya, tanpa sepengetahuan kamu Fahmi dan Alika masih sering bertemu bahkan mereka merencanakan pernikahan mereka secara diam-diam di belakang kamu."


"Tunggu, Apa maksud anda dengan mengatakan Fahmi menikahi nurlia hanya karena hutangbudi?"


"Kak Andre???" Nurlia benar-benar terkejut dan tidak menyangka jika secara tiba-tiba sang kakak datang dari luar negeri dan langsung menemuinya di rumah sakit.


"Wah, wah. ternyata Nurlia belum menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada kamu?" ketus Mila pada Andre.


"Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andre.


Mila kemudian menceritakan jika sebenarnya dia terpaksa menikahkan Fahmi dengan Nurlia.


"Sekarang, karena kedua orang tua kalian sudah tiada. Maka, keluarga kami menganggap jika hutangbudi kami sudah lunas dan kami tidak perlu lagi memaksa Fahmi untuk tetap menjadi suami Nurlia."


"Apa maksud anda?"


"Dengar, Fahmi memiliki wanita yang sangat dia cintai. Aku sudah meresmikan pertunangan mereka dan mereka akan menikah dalam waktu dekat. Jadi, Aku harap adik kamu ini segera sadar diri dan melepaskan Fahmi."


"Saya pamit undur diri yaa, semoga secepatnya kamu akan memberikan aku kabar yang aku tunggu-tunggu. Sebagai seorang ibu, Aku tidak ingin melihat anakku tidak bahagia dalam pernikahannya."


Sepeninggalan Mila, Andre dan istrinya segera mendekati Nurlia.


"Nurlia, ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Jihan, istri Andre.


"Nurlia, sebaiknya katakan apa yang sebenarnya terjadi, sebelum kakak yang mencari tahu sendiri."


Nurlia akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di awal pernikahan hingga kejadian kemarin.


"Tapi Fahmi sudah berubah kak, dia sudah mencintai aku. Dia mencintai aku..." ucap Nurlia saat dia merasakan emosi Andre yang meninggi.


Melihat Fahmi datang, Andre refleks mendatangi Fahmi dan bersiap untuk memukulnya.


"Kurang ajar, ternyata selama ini kamu tidak memperlakukan adikku dengan baik."


"Kakak, jangan..." teriak Nurlia.


Brak !!!


Bug !!!


Bersama dengan mendaratnya pukulan di wajah Fahmi, bersama itu juga Nurlia terjatuh dari tempat tidur.


"Astaghfirullah, Nurlia..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...