
Nurlia kembali masuk ke dalam setelah selesai memberikan makanan kepada tukang sampah. Nurlia yang tidak tahu harus berbuat apa, memilih untuk berkeliling rumah agar suasana hatinya tidak bersedih karena ucapan Fahmi..
Nurlia menikmati waktu berkeliling rumah hingga telinganya mendengar bunyi ponsel. Senyuman terlukis di wajah Nurlia saat mengetahui bahwa yang menelpon adalah sang ibu.
"Assalamualaikum, Ibu?"
Nurlia terlihat sangat sedih saat sang ibu mengatakan jika beliau sangat merindukannya.
"Ibu sakit?" tanya Nurlia dengan hati-hati saat menyadari nada bicara Ibu yang tidak biasa.
"Baiklah, setelah ini aku akan datang," ucap Nurlia setelah Ibu mengatakan jika suaranya berbeda hanya karena merindukan Nurlia.
Aneh sekali, bukannya baru beberapa hari yang lalu aku mengunjungi ibu. Kenapa ibu kembali merindukan aku?
Nurlia yang tidak ingin berpikiran negatif memutuskan untuk masuk ke dalam rumah dan berganti pakaian sebelum dia pergi menemui ibunya.
Nurlia menatap ponselnya dan mulai bimbang antara menekan tombol panggilan kepada Fahmi atau tidak.
"Bismillah.." Nurlia akhirnya menghubungi Fahmi walaupun Fahmi berulang kali menolak panggilan Nurlia yang menelpon. Padahal Nurlia hanya akan meminta izin keluar dari rumah.
Nurlia tersenyum karena untuk pertama kali, akhirnya Fahmi mengangkat panggilan dari nya.
"Ada apa?" suara ketus Fahmi di seberang sana.
"Assalamualaikum, Mas?"
"Walaikumsalam," suara Fahmi terdengar berat.
"Mas, aku ijin mau..."
"Nurlia, sudah aku katakan bahwa setelah kita tinggal di rumah itu. Maka, lakukan apapun sesuka hati kamu. Kamu tidak perlu lagi meminta izin kepadaku untuk pergi kemanapun, karena aku tidak peduli dan tidak akan mau tahu ke mana kamu pergi dan apa yang akan kamu lakukan."
Nurlia menghela nafas panjang saat Fahmi mematikan ponselnya secara sepihak.
Nurlia akhirnya mengirimkan pesan yang mengatakan bahwa dia akan pergi menemui sang ibu. Pesan yang bahkan tidak dibaca oleh Fahmi.
Saat jam makan siang...
"Permisi Tuan, ada yang datang dan meminta ijin untuk masuk kedalam ruangan Tuan Fahmi," ucap salah seorang pegawai yang masuk ke dalam ruang kerja Fahmi setelah mengetuk pintu.
"Siapa?"
"Maaf Tuan, saya lupa bertanya siapa yang datang tapi sejauh yang saya tahu tamu itu adalah perempuan. Beliau datang dengan membawa makanan siang."
"Tidak, aku tidak mengizinkan dia masuk ke dalam ruanganku. Suruh saja dia pergi," ucap Fahmi sambil tetap fokus pada laptopnya.
Setelah mendapatkan jawaban dari atasannya, pegawai itu segera keluar dan menutup kembali ruang kerja Fahmi sebelum akhirnya kembali ke meja resepsionis dan mengatakan kepada wanita yang sudah menunggu dengan membawa kotak berisi makan siang.
"Maaf, nona. Tuan Fahmi saat ini sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun dan tidak mengizinkan anda untuk masuk ke dalam ruangannya."
"Baiklah, kalau begitu bisakah saya minta tolong kepada anda untuk mengantarkan makanan ini ke ruangan Tuan Fahmi?" tanya wanita berlesung pipi dan berambut ikal dengan panjang sepinggang.
"Baiklah."
Wanita cantik itu menghela nafas panjang kemudian berjalan menuju pintu keluar, sambil sesekali menoleh dan berharap Fahmi akan datang menemuinya.
Pegawai tadi segera kembali masuk ke dalam ruangan Fahmi dan meletakkan kotak berisi makanan di meja, setelah sebelumnya mengetuk pintu dan diijinkan masuk oleh Fahmi.
"Apa itu?" tanya Fahmi.
"Ini adalah makanan yang dibawa wanita tadi, Tuan."
"Bawa saja. Aku tidak ingin memakannya,"
"Wanita itu berpesan agar Tuan melihat dulu makanan nya sebelum memutuskan akan memakannya atau tidak,"
Deg !!
Fahmi yang sedari tadi fokus dengan laptopnya dan mengira bahwa wanita serta makanan itu dari Nurlia, tiba-tiba teringat perkataan seseorang yang sangat amat dia rindukan.
Lihat dulu makanannya sebelum kamu memutuskan ingin memakan makanan itu atau tidak. Bagaimana kamu bisa langsung menyimpulkan jika kamu tidak mau memakan makanan itu jika kamu belum melihatnya.
"Di mana? di mana wanita yang membawa makanan ini?" tanya Fahmi yang kini sudah berdiri di depan pegawai itu dan membuka isi kotak makanan yang ada di atas meja.
"Wanita tadi mungkin sudah pergi karena Tuan sendiri yang mengatakan agar wanita itu pergi dari sini."
Fahmi segera pergi meninggalkan ruangannya dan berlari menuju lift, lift yang baru saja tertutup membuat Fahmi akhirnya memilih tangga darurat agar segera turun ke bawah dan mencari wanita yang sangat dia rindukan.
"Alika.." Fahmi berteriak saat dirinya berada di halaman parkir.
Alika yang sudah menghidupkan mesin mobilnya tentu saja tidak mendengar suara teriakan dari Fahmi.
Fahmi yang tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan Alika, setelah sebelumnya Fahmi tidak bisa menemukan keberadaan Alika selama beberapa bulan terakhir paska memutuskan hubungan, segera menelpon kepada satpam jaga agar melarang semua mobil yang hendak keluar dari kantor.
Fahmi kembali berlari dan memeriksa setiap mobil yang sudah mengantri untuk keluar dari kantor. Namun, tidak satupun dari deretan mobil itu dikemudikan oleh Alika.
"Tuan, ada apa? apa ada masalah?" tanya Danang, sekertaris Fahmi. Yang heran karena Fahmi melarang semua mobil untuk keluar dari kantor.
"Tidak ada, hanya memastikan bahwa semua baik-baik saja. Perintahkan kepada satpam jaga untuk membuka pintu dan membiarkan mobil-mobil ini keluar," perintah Fahmi pada Danang.
Walaupun Danang memiliki sejuta pertanyaan, namun dia tidak mempunyai pilihan lain selain berlari menuju pos siaga dan memerintahkan satpam untuk membuka pintu keluar.
Fahmi berjalan seperti orang tanpa tujuan, sepertinya dia sudah kehilangan harapan untuk bertemu dengan Alika.
"Arghhh, sial..." Fahmi mengutuk dirinya sendiri karena langsung memutuskan sesuatu tanpa melihatnya.
Tiiiiiiiiiiiiittttttttttt....!!
Fahmi yang berjalan tanpa melihat ke arah depan, membuatnya hampir saja ditabrak oleh mobil yang baru saja keluar dari parkiran.
"Hei, apa kamu sudah bosan hidup?" suara wanita dari dalam mobil.
"Alika?"
Fahmi mendongak dan dia melihat Alika berada di dalam mobil yang hampir saja menabrak dirinya.
"Fahmi?"
Fahmi berjalan ke samping mobil dan memerintahkan Alika untuk membuka pintu mobil. Alika turun dari mobil, dia tidak menyangka jika dirinya hampir menabrak Fahmi.
"Fahmi, apa itu kau..." Fahmi segera memeluk Alika, sebelum Alika menyelesaikan bicara nya.
"Kenapa? kenapa kamu pergi sebelum bertemu dengan ku?" tanya Fahmi yang masih memeluk Alika.
"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika kamu tidak ingin bertemu dengan aku?" ucap Alika sambil melepaskan pelukan Fahmi.
Fahmi yang melihat Danang, segera memerintahkan Danang untuk membawa pergi mobil Alika. Danang akhirnya mengerti jika inilah alasan Fahmi tadi menutup pintu keluar masuk perusahaan.
"Jika kamu mengatakan siapa kamu pada resepsionis, aku pasti akan segera mendatangi kamu."
"Kenapa kamu tidak ingin ditemui olehku?"
"Aku pikir yang datang adalah Nurlia."
"Istri kamu?"
"Kita bicara di dalam."
Fahmi dan Alika sekarang sudah berada di ruangan Fahmi.
"Nurlia, jadi nama istri kamu Nurlia?" tanya Alika setelah Fahmi menghabiskan makanannya.
"Jangan menyebut namanya di depanku,"
"Kenapa? bukankah kamu dan dia sudah menjadi pasangan suami istri?"
"Alika, aku dan kamu tahu bahwa sampai detik ini aku masih mencintai kamu."
"Fahmi, kamu tidak boleh seperti itu. Kamu.." ucapan Alika terhenti karena Fahmi memeluknya.
"Aku merindukanmu, Alika."Fahmi memeluk erat Alika, seolah-olah dia tidak akan membiarkan Alika pergi untuk kedua kalinya.
Aku juga merindukan kamu, Fahmi. Tolong jangan salah paham dengan kedatangan ku.
...----------------...
...----------------...
...----------------...