
Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmatan wa hayyi lanaa min amrinaa rasyadaa.
"Ya Tuhan, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini." lirih Nurlia dalam pelukan Fahmi.
Fahmi melepaskan pelukannya, dia menciumi wajah istri yang begitu dia rindukan. Nurlia tersenyum dan menghapus air mata di pipi Fahmi.
Kini dia benar-benar menyadari besarnya cinta yang dimiliki sang suami untuknya.
"Bagaimana kabar calon bayi kita? Apa dia baik-baik saja? Apa dia menyusahkan kamu?" tanya Fahmi.
"Mari kita periksa dan mengetahui perkembangannya.." ucap Alika sambil tersenyum.
Fahmi bangkit dan bergeser untuk memberi ruang agar Alika bisa memeriksa kondisi Nurlia.
"Baik, ibu dan bayinya baik. Tolong jaga makan dan vitamin nya. Aku lihat kamu tidak menghabiskan vitamin dan juga minum susu yang khusus dari rumah sakit. Kenapa?" tanya Alika dengan ramah.
Nurlia tidak menjawab, dia menunduk. Itu membuat Alika mengerti yang dirasakan Nurlia.
"Aku tahu, ini adalah keadaan yang tidak ingin terjadi. Tapi, jangan sampai menyiksa diri dan juga bayi yang ada di dalam kandungan kamu."
"Hiks..." Nurlia kembali menangis.
"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan."
"Perjuangkan rumah tangga kalian... aku tahu kalian pasti bisa memperjuangkan rumah tangga kalian. Ini hanya sebuah kesalahpahaman, kalian harus bisa membuktikan kepada kak Andre bahwa rumah tangga kalian sekarang sudah dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang."
Tak lama berselang, istri Andre datang dan memberitahu jika waktu Fahmi bertemu dengan Nurlia hanya tinggal beberapa menit saja.
"Kebetulan aku sudah selesai memeriksa Nurlia, keadaannya memang tidak cukup baik. Itu mungkin sang Ibu terlalu stress atau sedih berlebihan." ucap Alika.
"Tolong pastikan bahwa kali ini Dia meminum obat dan juga susu yang sudah diberikan untuknya." imbuh Alika.
"Sayang, aku harus pergi... jika tidak kak Andre mungkin akan curiga dengan ku." ucap Fahmi yang membuat Nurlia kembali menangis.
"Apa mas akan datang lagi?"
"Ya, aku akan datang untuk menjemput kamu pulang..."
"Berjanjilah bahwa kamu akan segera kembali dan membawaku pergi dalam waktu dekat.."
Fahmi terdiam, dia bisa berjanji untuk datang dan membawa Nurlia. Tapi, untuk waktunya dia tidak bisa berjanji.
"Mas, kenapa diam?" tanya Nurlia yang membuat Alika dan kakak iparnya saling berpandangan.
"Doakan saja agar Tuhan membantu niat baik untuk menjemput kamu dalam waktu dekat."
"Aku sudah kehilangan banyak orang dalam kehidupan ini, akankah aku harus kehilangan kamu juga?" tanya Nurlia yang membuat terkejut kakak ipar juga Alika.
"Tidak, sayang. Aku berjanji Kamu tidak akan kehilangan aku."
"Kalau begitu berjanjilah kamu akan datang dan menjemput ku dalam waktu dekat."
"Aku berjanji..." akhirnya Fahmi berjanji, walaupun hatinya tidak tahu apakah bisa menepati janji itu dengan waktu dekat. Setidaknya untuk hari ini Nurlia merelakan kepergiannya.
"Bagaimana pemeriksaan nya?" tanya Andre saat istrinya kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan kepulangan Fahmi dan Alika.
"Baik, ibunya hanya terlalu stress dan sedih. Nurlia juga tidak menghabiskan vitamin dan susu yang diberikan."
"Tidak apa, aku yakin hal itu akan berlangsung selama beberapa minggu saja. Lagipula, ada kita yang akan selalu menghibur dan memberikan support kepadanya." ucap Andre.
"Support seperti apa yang akan kita berikan kepada seorang wanita yang baru saja menjalani kehamilan pertamanya?"
"Tentu saja dukungan bahwa dia bisa mendapatkan kebahagiaan yang lebih baik daripada mempertahankan rumah tangganya."
"Justru seharusnya kita tidak boleh memisahkan seorang istri dari suaminya. Apalagi sang istri sedang hamil, kehamilan pertama dan yang ditunggu-tunggu."
"Tentu saja aku tidak ingin melihat rumah tangga adikku hancur berantakan hanya karena sebuah kesalahpahaman." ketus Isma (maaf kalau nama istri dari Andre berbeda dari sebelumnya, soalnya lupa, hehe...)
"Salah paham maksud kamu? apa kamu lupa dengan yang dikatakan oleh Ibu Fahmi? pernikahan mereka terjadi hanya karena keluarganya merasa memiliki hutang budi kepada keluarga kita."
"Itu dulu, sekarang keadaannya sudah berubah. Tidakkah mas bisa melihatnya dari mata Fahmi dan juga Nurlia? mereka saling mencintai."
"Cukup, Isma. Aku tahu apa yang terbaik untuk adikku."
"Kamu salah jika kamu mengatakan seperti itu, jika memang kamu tahu apa yang terbaik untuk adikmu, Kamu tidak akan pernah mengirimkan surat perceraian tanpa sepengetahuan Nurlia.
"Darimana kamu tahu?" tanya Andre.
"Mas, jika ayah dan ibu masih ada. mereka pasti akan menyalahkan kamu, tidak seharusnya kamu melakukan tindakan hanya karena mendengar satu opini saja."
"Apa kamu mencoba mengatakan jika apa yang aku lakukan adalah salah?"
"Tentu saja, kamu mengambil keputusan ini secara sepihak tanpa membicarakannya dengan adik kamu."
"Untuk apa membicarakan ini dengan Nurlia,"
"Cukup, Mas. Cobalah mengontrol emosi saat akan mengambil keputusan."
"Isma, aku tidak sedang emosi saat aku memutuskan untuk mengirimkan surat perceraian kepada Fahmi."
"Setidaknya kamu juga mendengarkan opini dari Fahmi dan juga Nurlia. Ini tentang rumah tangga mereka, bukan rumah tangga kamu."
Andre terdiam saat melihat Isma pergi meninggalkannya. Andre menghela nafas panjang dan masih menganggap bahwa keputusan yang sudah diambil adalah keputusan yang benar.
Nurlia kembali masuk kedalam kamar saat dirinya yang hendak keluar untuk menemui sang kakak, tidak sengaja mendengar perdebatan antara kakak dan kakak iparnya.
Nurlia membuka jendela yang sudah beberapa hari dibiarkan tertutup. Angin dan cahaya mentari siang langsung memenuhi ruangan saat Nurlia mematikan lampu penerangan di ruangan nya.
Nurlia melihat kearah jalanan yang sudah padat merayap ditengah istirahat jam makan siang, dia menutup mata. Merasakan hembusan angin, mencoba mengingat kembali betapa hangat dan nyamannya pelukan Fahmi.
"Cintamu memberiku kedamaian dan harapan yang aku butuhkan dalam hidup, aku tidak ingin kehilanganmu, mas..." lirihnya.
"Tapi kamu harus rela kehilangan dia untuk kebahagiaan kamu sendiri." ucap Andre yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Nurlia.
"Kakak..."
"Nurlia, Ada yang ingin kakak bicarakan dengan kamu. Maaf, kakak telat memberitahu bahwa kakak sudah mengirimkan surat perceraian kalian kepada Fahmi."
"Kenapa?" tanya Nurlia dengan posisi masih berdiri yang membelakangi kakaknya.
"Dia sudah mempermainkan kamu, dia tidak benar-benar mencintai kamu. Bahkan pernikahan kalian saja hanya karena sebuah hutang budi. Bagaimana bisa kamu merasakan kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga?"
"Kak, Kenapa kakak selalu saja memutuskan sesuatu hanya karena mendengar pendapat dari satu pihak saja? tidakkah kakak ingin tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatiku?"
"Nurlia, kakak tahu ini adalah keputusan yang sangat berat bagi kamu, terutama dengan kondisi kamu yang sedang hamil. Tapi, kamu jangan khawatir ada kakak yang akan memberikan kebahagiaan dan juga kasih sayang kepada kamu dan juga bagi kamu."
"Sebaiknya kamu mulai mempersiapkan diri untuk sidang pertama perceraian kamu.."
Aku tidak akan bercerai dengan suamiku, kak. Tidak akan pernah.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...