Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Fahmi Yang Keras Kepala


"Bisa kamu katakan apa alasannya?" tanya Nurlia.


"Tidak."


"Kenapa tidak?"


"Bukankah Kakak sendiri yang menyuruh aku untuk mengatakan jika aku hanya boleh menjawab iya atau tidak."


Nurlia tersenyum sambil memegang tangan Sinta.


"Sekarang kamu boleh menjawab pertanyaanku dengan kata apapun selain ia atau tidak."


"Kenapa Kakak tiba-tiba bertanya seperti ini? apa Mas Fahmi mengatakan sesuatu kepada kakak?" tanya Sinta.


"Tidak."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin mengetahui karena selama beberapa bulan ini aku masih belum bisa mendapatkan hati mas Fahmi."


"Kakak, ada pepatah yang mengatakan jika lebih baik tidak tahu dan tidak mencoba untuk mencari tahu. Demi menjaga kewarasan kita,"


"Kakak harus sabar dan jangan lupa untuk terus berusaha, Oke. Aku harus pergi. Bye bye. Terima kasih makanannya." Sinta segera bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Nurlia sebelum dirinya meninggalkan rumah Nurlia.


"Sinta, tunggu..."


Nurlia berusaha mengejar Sinta namun Sinta sudah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar segera pergi dari rumah itu.


Nurlia menghela nafas panjang dan mulai berpikir jika memang ada sesuatu yang tersembunyi di balik pernikahan yang terjadi antara dirinya dan juga Fahmi.


Sementara itu...


Fahmi tidak bisa menemukan Alika karena Alika sudah lebih dulu pergi dengan menstop taksi.


"Argh. Sial."


Fahmi mencoba menghubungi Danang dan mengatakan jika Alika datang untuk mengambil mobilnya, Danang harus berusaha menahannya.


"Aku tidak mau tahu, kamu harus menahannya dengan berbagai cara. Aku sedang dalam perjalanan menuju kantor." Ucap Fahmi sebelum mematikan ponselnya.


"Alika, Aku tidak akan membiarkan kamu pergi untuk kedua kalinya dari hidupku."


Di kantor...


Fahmi memarahi satpam karena membiarkan mobil milik Alika pergi. Untung saja Danang segera datang sehingga satpam itu terhindar dari kemarahan Fahmi yang mulai membabi buta.


"Fahmi, apa kamu sudah gila? satpam itu hanya menjalankan tugasnya. Kenapa kamu sebegitu marahnya kepada satpam?" ketus Danang.


"Danang, Bukankah aku sudah mengatakan kepada kamu agar kamu menahan Alika untuk pergi dari sini."


"Ya, aku memang melakukannya jika memang Alika yang datang untuk mengambil mobilnya."


"Maksud kamu?"


"Ya. Yang datang untuk mengambil mobil itu bukanlah Alika tapi orang suruhan Alika. Itulah kenapa aku memerintahkan kepada satpam untuk membiarkan mobil itu pergi dari kantor."


"Aku tidak yakin kamu akan membiarkan mobil itu lolos begitu saja."


"Ya, aku sendiri mengikuti mobil itu namun yang aku dapatkan, mobil itu adalah mobil sewaan."


"Tidak mungkin."


"Jika kamu tidak percaya kamu bisa mendatangi David cargo. Mobil itu dari sana."


"Jadi kamu tidak bisa menemukan keberadaan Alika?" tanya Fahmi yang dibalas gelengan kepala oleh Danang.


"Sial."


"Fahmi, tunggu." Danang berusaha menghentikan langkah kaki Fahmi yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan Danang.


"Aku rasa sudah saatnya kamu melupakan Alika dan mulai menerima Nurlia sebagai istri kamu."


"Ini hidup ku. Jadi jangan pernah mencampuri urusan hidupku, apalagi urusan hati."


Danang hanya bisa menghela nafas panjang saat Fahmi mengatakan itu tanpa melihat ke arahnya dan kembali berjalan meninggalkan dirinya.


Aku mengatakan itu sebagai sahabat sejak sekolah, Fahmi. Tapi sepertinya kamu sudah dibutakan oleh satu cinta. Sehingga kamu tidak melihat cinta yang lain.


"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Nurlia sambil tersenyum, saat dirinya sengaja menyambut kedatangan Fahmi malam hari.


"Ya, Kenapa kamu tidur di kursi ini? Bukankah sudah aku katakan kepada kamu agar kamu tidak perlu menunggu aku?" ketus Fahmi.


"Maaf, tapi sepertinya aku berhutang permintaan maaf karena aku sudah membuat kekacauan tadi siang."


"Lupakan, permintaan maaf kamu tidak akan membuat Alika bisa ditemukan."


Seperti biasa, Fahmi langsung pergi meninggalkan Nurlia.


Baru saja Fahmi merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, pintu di ketuk oleh Nurlia.


"Mas. Mas Fahmi, tolong." Suara Nurlia terdengar serak dan gemetar. Namun Fahmi tidak bisa mendengar nya karena pikirannya tertuju pada Alika.


Satu panggilan tidak di hiraukan oleh Fahmi, Fahmi merasa Nurlia hanya mencari alasan untuk bisa bersama nya.


"Mas, aku mohon. Keluar sebentar saja." Nurlia memberanikan diri untuk membuka pintu, sialnya pintu itu sudah lebih dulu dikunci oleh Fahmi.


"Pergilah, Nurlia. Aku tidak ingin bicara dengan kamu. Sudah cukup kamu mengacaukan hariku. Pergilah." Teriak Fahmi.


Fahmi memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu dan berendam di air hangat. Di sana, suara Nurlia tidak terlalu terdengar.


Satu jam Fahmi berendam. Dia memutuskan untuk kembali tidur setelah berganti pakaian.


"Cih, dasar perempuan," lirih Fahmi saat dirinya tidak lagi mendengar suara Nurlia.


Baru saja Fahmi akan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Pintu kamar kembali di ketuk.


Fahmi yang kembali merasa emosi, segera membuka pintu sambil berteriak,


"SUDAH AKU KATAKAN AKU....." Fahmi terdiam, dia tidak meneruskan kata kata nya saat melihat Alika berada di hadapannya.


"Alika?" Fahmi yang awalnya merasa emosi, kini emosi itu berganti kebahagiaan.


Fahmi hendak memeluk Alika, namun yang terjadi..


Plak !!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fahmi. Pelakunya adalah Alika.


"Aku tidak pernah bertemu laki-laki se-egois kamu!"


"Alika, apa maksud kamu?"


"Apa kamu tidak peduli dengan istri kamu? apa kamu tahu yang baru saja terjadi pada istri kamu?"


"T.entu saja aku tidak tahu Karena, sejauh ini yang aku pedulikan hanyalah kamu,"


"Sekarang lebih baik kamu ikut aku. Sana cepat ganti baju,"


"Kemana?"


"Rumah sakit."


"Kami sakit?" tanya Fahmi dengan nada khawatir.


"Bukan aku, tapi ini mengenai istri kamu."


Fahmi menghela nafas panjang dan berjalan menuju sofa yang letaknya tidak jauh dari pintu kamarnya.


Fahmi duduk sambil menyandarkan kepalanya.


"Aku meminta kamu untuk berganti pakaian, kenapa kamu jadi duduk?" ketus Alika.


"Aku tidak mau."


"Terserah kamu."


Fahmi merasa heran karena Alika kembali pergi meninggalkan dirinya.


"Sial." Fahmi segera berlari untuk mengejar Alika. Sayangnya, Alika sudah pergi dengan mobilnya.


Tak lama berselang, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah.


"Itu mobil mama, tumben mama datang."


"Fahmi, kenapa kamu masih ada di sini?" tanya mama begitu mama turun dari mobil dan menghampiri Fahmi.


"Memang sudah seharusnya Fahmi ada disini kan?"


"Dasar anak linglung. Apa Nurlia tidak memberi tahu kamu jika ibunya masuk rumah sakit dan keadaannya kritis?"


"Apa?" Fahmi terkejut. Ingatan nya kembali pada beberapa waktu lalu dimana Nurlia mengetuk-ngetuk pintu kamar nya.


"Hei, malah bengong. Ayo cepetan ke rumah sakit. Mama tahu kamu tidak menyukai Nurlia. Tapi setidaknya kamu harus terlihat perhatian di depan keluarga Nurlia."


Di rumah sakit...


Mama Fahmi lebih dulu menemui kakak Nurlia, sementara Fahmi segera masuk ke dalam ruangan tempat di mana Ibu Nurlia terbaring lemah.


Fahmi merasakan sesuatu yang mengganjal di hatinya saat melihat Nurlia menangis sambil memegang tangan ibunya.


Mengetahui kedatangan Fahmi, Nurlia menghapus air matanya, dan bersikap seolah-olah dia baik-baik saja.


"Mas boleh pulang, sudah ada aku dan kakak Andre yang akan menjaga Ibu."


"Nurlia, aku..."


"Aku akan di sini menemani Ibu, jadi aku tidak akan pulang ke rumah. Mas bisa berduaan dengan kekasih mas tanpa ada yang menganggu."


Deg !!


Nurlia..


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...