
"Tidak usah sok perhatian, aku bisa melakukannya sendiri," ketus Fahmi saat Nurlia mencoba membantunya memakai dasi.
"Sekalipun hubungan kita hanya diatas kertas. Tapi aku ini adalah istri kamu. Kewajiban seorang istri adalah melayani suami nya."
Fahmi mendengus kesal, dia membiarkan Nurlia membenarkan dasi miliknya.
Dengan penuh senyuman, Nurlia bersemangat memasangkan dasi milik Fahmi, walaupun Fahmi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku tahu, awal pernikahan adalah awal yang sulit. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja seiiring berjalannya waktu,"
"Nurlia, sudah aku katakan kepada kamu jangan pernah terlalu berharap lebih pada pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu."
...Aku tidak mencintaimu...
...dan tidak akan pernah ...
...mencintai kamu. Aku membenci ikatan ini, bahkan aku juga membenci kamu, Nurlia....
Nurlia hanya bisa menghela nafas panjang kemudian berjalan di belakang suaminya untuk bergabung sarapan pagi.
Itu adalah kesekian kalinya Fahmi mengungkapkan secara langsung jika dia tidak akan pernah mencintai Nurlia, bahkan membencinya.
Lagi, lagi. Nurlia harus duduk sendiri dengan makanan yang terpisah. Tidak ada tegur sapa pada dirinya. Nurlia benar benar seperti orang asing yang bahkan kehadirannya tidak terlihat.
"Bersiaplah, siang nanti aku akan mengajak kamu untuk tinggal bersama di rumah ku yang baru," ucap Fahmi sambil melirik ke arah Nurlia.
"Fahmi, Apa kamu yakin akan tinggal di rumah itu bersama dengan dia?" tanya Mila.
"Biarkan saja," ucap Anton yang merupakan ayah Fahmi.
"Tapi kan, rumah itu..."
"Cukup, Ma. Fahmi sekarang sudah menjadi suami dari Nurlia."
Mila terlihat sangat kesal, dia meninggalkan meja makan lebih dulu. Nurlia tidak berani melihat itu setelah Mila menatap dirinya dengan tatapan tajam.
Nurlia menghabiskan waktu dengan mengemasi barang-barang miliknya yang ada di kamar. Tidak banyak barang milik Nurlia karena memang dia berencana untuk membawa semua barangnya setelah pindah ke rumah yang disebutkan oleh Fahmi.
"Aku akan menunggu di luar," ucap Fahmi saat dirinya datang untuk menjemput Nurlia.
"Tidak bisakah kamu menungguku sebentar lagi, mas?" tanya Nurlia.
"Aku tidak mempunyai banyak waktu karena setelah ini aku harus segera kembali ke kantor."
Nurlia hanya menghela nafas panjang sambil melihat Fahmi yang keluar dengan membawa koper milik Nurlia.
Sebenarnya cukup membingungkan, mengingat Fahmi pernah berkata bahwa supir lah yang akan menjemputnya ke rumah baru. Namun ternyata dia sendiri yang mengantar Nurlia.
"Pa, aku pamit ya.." Nurlia mencium tangan Anton.
"Semoga pernikahan kamu menemukan titik terang menuju kebahagiaan."
"Insyallah. Terima kasih, pa."
Nurlia beralih pada Mila. Mila terlihat sinis namun tetep membiarkan Nurlia berpamitan dan mencium punggung tangannya.
Tit !!
Suara klakson mobil membuat Nurlia segera pergi dari hadapan kedua mertuanya dan masuk ke dalam mobil Fahmi.
"Memangnya aku sopir? siapa yang menyuruh kamu duduk di belakang?" ketus Fahmi saat Nurlia membuka pintu mobil bagian belakang.
"Maaf, biasanya mas tidak suka saat aku duduk di dekat mas. Sama seperti keluarga mas, kan?"
Fahmi refleks melihat ke arah Nurlia, entah kenapa perkataan dari Nurlia membuat hatinya tersentil.
"Maaf."
Nurlia tersenyum tipis saat mendengar Fahmi mengucapkan kata maaf, walaupun lirih.
Insyallah, jika memang aku adalah tulang rusukmu. Semua keadaan akan menjadi lebih baik.
"Kita sudah sampai," ujar Fahmi yang membuat Nurlia berhenti membaca Alquran kecil yang selalu dia bawa.
"Alhamdulillah.." Nurlia tersenyum dan bernafas dengan lega. Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya mereka sampai juga.
"Jika aku boleh tahu, Kenapa Mas memilih rumah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah orang tua?" tanya Nurlia dengan hati hati sambil memasuki rumah berlantai 2.
"Sebenarnya aku tidak suka terlalu dekat dengan kedua orang tua saat aku sudah menikah, lagipula rumah ini dulunya adalah impian dari ..."
"Dari siapa, mas?"
Fahmi memejamkan mata, kemudian berjalan masuk melewati Nurlia.
"Bukan siapa siapa. Di sini ada lima kamar, 2 diatas, dan tiga di bawah. Terserah kamu akan menempati kamar yang mana."
"Tunggu, bukankah kita suami istri. Tapi Kenapa kamu ingin kita tidur di kamar yang terpisah?"
Nurlia kembali hanya bisa menghela nafas panjang saat Fahmi meninggalkan dirinya dan mulai naik ke lantai atas.
Nurlia memilih untuk menempati kamar yang ada di lantai atas. Kamar yang letaknya tidak terlalu jauh dari kamar di mana Fahmi masuk ke dalam sana.
Bisa dibilang Fahmi menempati kamar utama di rumah ini.
Tok
Tok
Tok
"Nurlia, aku harus kembali ke kantor sekarang."
"Apa mas tidak mau makan siang dulu?" tanya Nurlia yang cepat-cepat membuka pintu saat dia mendengar suara dari Fahmi.
"Tidak, jika aku menunggu kamu memasak untuk makan siang aku akan terlambat untuk meeting." Ucap Fahmi sambil melihat jam tangannya.
"Baiklah. Hati hati.." Nurlia segera meraih tangan Fahmi dan mencium nya.
Fahmi terdiam.
"Walaupun kita tinggal serumah namun tidur di kamar yang berbeda, Aku harap Mas tetap akan membiarkan aku melayani mas selayaknya seorang istri."
"Terserah."
...----------------...
Satu bulan berlalu..
Nurlia benar-benar menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, walaupun Fahmi tidak pernah mempedulikannya.
"Besok, tidak perlu memasak makanan juga untukku."
"Apa masakanku tidak enak?"
"Enak, hanya saja aku tidak ingin terlalu larut dalam keadaan seperti ini yang mungkin saja membuat aku merasakan sesuatu yang tidak seharusnya aku rasakan kepada kamu."
"Mas, Bukankah sudah sewajarnya jika seorang suami memiliki perasaan terhadap istrinya?"
Brak !!
"Nurlia, dengar. Aku tidak mencintaimu. Karena kamulah aku harus memutuskan hubunganku dengan Alika. Aku yang sudah menjalin hubungan selama 5 tahun dengan Alika dan berjanji akan menikahinya di tahun ini harus membatalkan semuanya hanya demi menikahi kamu!"
"Sekarang aku harus melihat Alika terpuruk karena aku memutuskannya dan membatalkan pernikahan yang sudah kami direncanakan. Dan kamu, dengan gampang mengatakan bahwa wajar jika aku memiliki perasaan terhadap kamu. Jangan bermimpi."
Fahmi bangkit dari tempat duduknya dan segera meninggalkan meja makan bahkan sebelum dia selesai menghabiskan makanannya.
Nurlia terdiam, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Hingga saat Nurlia mendengar suara tukang sampah. Nurlia memutuskan untuk memberikan semua makanan itu kepada tukang sampah.
"Terima kasih yaa, Mbak Nurlia. Saya jadi tidak enak, setiap kali saya mengambil sampah selalu saja diberi makanan."
"Itu artinya memang sudah menjadi rejeki bapak."
"Alhamdulillah, semoga rumah tangga mbak Nurlia sakinah mawadah warohmah."
"Amin." Nurlia berusaha tersenyum agar air mata tidak terjatuh mengingat perkataan menyakitkan yang diucapkan Fahmi.
Sebuah mobil berwarna putih berhenti tepat di seberang rumah Nurlia, seseorang di dalam sana terlihat fokus melihat Nurlia yang sedang memberikan beberapa bungkus makanan kepada tukang sampah.
Air mata tiba-tiba membasahi pipinya saat melihat rumah yang sudah berdiri kokoh nan indah, dengan taman air mancur di halaman depan.
"Fahmi, Aku tidak menyangka Jika kamu benar-benar membangun rumah ini seperti rumah impianku. Sayangnya, bukan aku yang berada di rumah itu dan menikmati segala keindahannya."
"Hai semuanya, kenalkan aku Alika. Orang yang dicintai oleh Fahmi dan dijanjikan untuk menikah. Penasaran seperti apa peranku dalam cerita ini? Yang pasti nya tidak akan seperti pihak ketiga pada umumnya."
"Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak pada setiap cerita yang kalian baca..."
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...