Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Bertahanlah...


Nurlia membuka mata, dia melihat ke sekeliling dan menyadari jika dia berada di tempat asing. Bukan rumah sakit, ini di sebuah rumah. Hanya saja Nurlia tidak tahu dia berada di rumah siapa.


Nurlia bertanya-tanya siapakah orang yang sudah membawa dirinya. Mengingat, Nurlia tidak sadarkan diri saat dia mulai meninggalkan pemakaman.


Nurlia membuka pintu dan mencoba mencari pemilik dari rumah itu. Sayangnya, Nurlia tidak bisa menemukan siapapun di rumah itu.


"Aku dimana?" lirihnya sambil melihat ke luar jendela yang terbuka.


"Kamu dirumah ku." suara pria yang mengejutkan Nurlia.


Nurlia segera berbalik badan untuk melihat siapa yang memiliki suara itu.


"Riko?"


"Hai, Nurlia. Apa kabar?"


Nurlia terdiam sejenak. Dia tidak menyangka setelah sekian tahun berpisah, dia akan bertemu kembali dengan Riko.


Riko sendiri adalah orang yang pernah mencuri hati Nurlia. Sayangnya, Riko belum berani untuk menyatakan perasaannya setelah mengetahui jika Nurlia berasal dari keluarga kaya.


Nurlia yang sebenarnya juga menyukai Riko saat itu, berencana untuk mencari Riko dan mengungkapkan perasaannya lebih dulu. Sayangnya, Nurlia harus menelan kekecewaan saat mengetahui jika Riko sudah tidak ada lagi di kota itu.


Dia pergi keluar negeri untuk memperbaiki ekonomi keluarganya. Sejak saat itulah, Nurlia tidak pernah lagi dekat dengan pria lain. Fahmi adalah pria kedua dalam hidup Nurlia.


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Riko yang membuat Nurlia tersadar.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolongku."


"Sama-sama, kebetulan aku juga berada di pemakaman saat aku melihat kamu. Sepertinya kamu sedang tidak begitu sehat."


"Hmmm, ya. Aku memang merasa kurang sehat akhir-akhir ini." ucap Nurlia berbohong.


"Ayo, makanan sudah siap. Buat dirimu nyaman sebelum aku mengantarkan kamu pulang."


"Baiklah..."


Di meja makan, mereka mengobrol obrolan yang membuat Nurlia tahu jika Riko masih belum menikah hingga saat ini.


"Bagaimana dengan kamu? apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu? Maaf, tapi aku dengar jika kamu menikah karena sebuah perjodohan." ucap Riko yang membuat Nurlia sedikit merasa tidak nyaman.


"Aku rasa begitu." ucap Nurlia sambil tersenyum.


Riko bisa melihat kebohongan dari wajah Nurlia. Namun, Riko menyadari posisinya yang tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan rumah tangga Nurlia.


"Apa kamu tinggal di sini sendirian?" tanya Nurlia yang berhasil menemukan topik pembicaraan lain.


"Untuk sekarang belum. Aku masih tinggal bersama dengan kedua orang tuaku. Rumah ini baru saja selesai dibangun beberapa bulan yang lalu. Aku datang setiap minggu dan bermalam di sini setelah aku mengunjungi makam adikku."


"Aku turut bersedih atas kematian adik kamu. Jadi, kapan kamu berencana untuk menempati rumah ini?"


"Segera, setelah aku menikah." ucap Riko sambil menghabiskan minuman yang ada di tangannya.


"Begitu, apa kamu akan menikah dengan waktu dekat?" tanya Nurlia.


"Tentu saja, jika aku menemukan wanita seperti kamu."


Deg !!


Nurlia melihat sekilas ke arah Riko yang tersenyum sebelum kemudian mengalihkan pandangannya. Sungguh, Nurlia tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Riko.


"Ohya, alamat rumah kamu di mana? biar aku yang mengantarkan kamu pulang. Kebetulan, aku harus kembali hari ini karena ada pekerjaan yang sudah menungguku."


"Emmm, itu...." Nurlia terlihat ragu untuk meminta izin kepada Riko untuk tinggal selama sehari di rumah itu. Nurlia sepertinya belum siap untuk pulang dan bertemu dengan Fahmi setelah apa yang terjadi. Namun, Nurlia juga tidak ingin membuat Rico curiga jika rumah tangganya tidak sedang baik-baik saja.


Akhirnya, Nurlia berbohong dengan mengatakan alamat rumah nya.


"Suami kamu tidak akan marah kan jika aku yang mengantarkan kamu pulang?" tanya Riko saat mereka sudah dalam perjalanan.


"Tidak, Suamiku sedang pergi ke luar. Jadi dia tidak akan tahu jika kamu mengantarkan aku kecuali aku yang memberitahunya." kekeh Nurlia.


"Terima kasih atas tumpangannya." ucap Nurlia sebelum dia turun dari mobil Riko.


"Sama-sama." Nurlia masih berdiri di pinggir jalan untuk memastikan mobil Riko benar-benar hilang dari pandangannya.


Setelah memastikan jika mobil Riko sudah pergi jauh, Nurlia menstop taksi dan memutuskan untuk beristirahat di butik yang sudah tidak lagi buka setelah orang tuanya meninggal.


Nurlia masuk melalui pintu belakang dan berharap kunci cadangan yang selalu diletakkan di bawah pot bunga masih ada di sana.


"Sepertinya, kakak dan kakak ipar belum sempat datang ke sini." lirih Nurlia saat dia menemukan kunci cadangan yang masih tersimpan di tempat sebelumnya.


Nurlia masuk dan langsung menuju lantai atas. Kondisi butik yang masih bersih membuat Nurlia merasa nyaman dan memutuskan untuk beristirahat.


Sayangnya, setiap kali Nurlia memejamkan mata. Dia teringat dengan semua perkataan dari ibu mertuanya dan juga kejadian dimana Fahmi dan Alika bertukar cincin.


"Hiks, kenapa ini terjadi padaku.." Nurlia menangis, menangis sambil memegangi perutnya.


Sementara itu, Fahmi mulai panik karena hingga matahari terbenam. Dia belum bisa menemukan keberadaan Nurlia.


Fahmi mendatangi rumah Andre, sayangnya, Andre dan keluarganya baru saja pergi ke luar kota untuk urusan bisnis.


"Tidak mungkin jika Nurlia akan ikut ke luar negeri bersama dengan kakak. Apa aku telpon saja? Ah, tidak. Jika Aku menelpon kak Andre dan menanyakan tentang keberadaan Nurlia. Kakak pasti akan mencari tahu penyebab dari hilangnya Nurlia."


Fahmi kemudian memutuskan untuk mencari keberadaan Nurlia seorang diri. Bahkan, Alika juga ikut membantu mencari keberadaan Nurlia.


"Fahmi, Bagaimana bisa kamu kehilangan jejak Nurlia. Bukankah sebelumnya kamu selalu mengutus satu orang untuk menjaga Nurlia." tanya Alika.


"Itu kesalahan ku."


"Bagaimana dengan melacak posisi Nurlia dari ponselnya?" tanya Alika.


"Astaga, Bagaimana bisa aku tidak memikirkan tentang hal itu. Aku sudah membuat ponsel nurlia terhubung dengan ponselku."


"Kalau begitu apalagi yang kamu tunggu, segera temukan keberadaan Nurlia."


Tidak ingin membuang waktu untuk segera menemukan istrinya, Fahmi segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi setelah dia berhasil mendapatkan posisi Nurlia melalui ponselnya.


"Kamu yakin Nurlia ada disini?" tanya Alika yang juga ikut membantu Fahmi dalam mencari Nurlia, saat mereka sampai di butik keluarga Nurlia.


"Ya, lokasi yang ditunjukkan oleh ponsel Nurlia ada di sini."


"Tapi, lihat saja butik ini gelap dan tidak menunjukkan tanda-tanda ada orang di dalamnya."


"Aku yakin dia ada disini.." Fahmi segera turun dari mobilnya dan berjalan menuju belakang butik. Fahmi tahu, jika ada ruang untuk beristirahat di lantai 2 dan hanya bisa dilihat dari belakang.


"Lihat, ada lampu yang menyala dari lantai 2." ucap Alika.


"Sudah aku bilang jika dia ada di sini."


Fahmi mendobrak pintu belakang karena tidak bisa membukanya, dan Nurlia yang tidak menjawab saat keduanya terus berteriak memanggil namanya.


Khawatir terjadi hal yang buruk pada Nurlia, mengingat tidak ada pergerakan walaupun Fahmi dan Alika melempar kaca yang ada di lantai atas itu dengan batu. Membuat Fahmi memutuskan untuk masuk dengan mendobrak pintu.


Fahmi dan Alika segera naik ke lantai atas dan mendapati Nurlia tidur. Tidak, Nurlia tidak tidur melainkan pingsan. Itu dibuktikan setelah Alika memeriksanya.


"Kita aku harus segera membawanya ke rumah sakit. Denyut nadinya lemah."


"Nurlia, bertahan lah..."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


...----------------...