Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Bertemu Dengan Nurlia


"Alika, aku tidak tahu harus dengan cara apa untuk berterima kasih kepada kamu dan juga keluarga kamu. Kamu datang untuk menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi."


"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah tugasku." ucap Alika sambil tersenyum.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Alika yang bertemu dengan Fahmi di sebuah restoran.


"Nurlia..."


"Ada apa dengan nya? Tunggu, kamu berhasil menyakinkan dia, kan?"


"Aku berhasil membuat dia percaya."


"Lalu, apa yang membuat kamu sedih?"


"Dia dibawa pergi oleh kakaknya."


"Aku tidak mengerti..."


Fahmi kemudian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga perdebatan antara ibu dan juga kakak Nurlia. Salah paham dan emosi menguasai Andre, sehingga membawa Nurlia pergi dan tidak mengijinkan Fahmi untuk bertemu dengannya.


"Jadi sekarang Nurlia berada dirumah Kak Andre?" tanya Alika.


"Ya, sangat sulit untuk bertemu dengan Nurlia sekarang." ucap Fahmi dengan nada sedih dan menundukkan kepala.


Sebenarnya, kesedihan Fahmi bukan hanya karena tidak bisa bertemu dengan Nurlia. Tapi, karena surat yang dia terima pagi tadi. Surat perceraian dirinya dan Nurlia.


"Aku akan membantu kamu untuk bertemu dengannya." ucap Alika yang membuat Fahmi langsung menatapnya.


"Caranya?"


"Apa kamu lupa siapa aku?" tanya Alika sambil tersenyum.


"Kamu Alika, kan?"


"Haha, kamu lucu sekali. Maksud aku, aku berprofesi sebagai apa?"


"Perawat."


"Tidak lagi, aku sudah resmi menyandang gelar sebagai dokter Obgyn."


"Kamu bercanda."


"Aku baru saja menandatangani kontrak kerja dengan rumah sakit Widya Chandra."


"Apa hubungannya dengan rencana kamu untuk mempertemukan aku dengan Nurlia?"


"Sebentar, aku harus memastikan sesuatu sebelum aku mengatakan kepada kamu Apa rencana ku untuk mempertemukan kamu dengan Nurlia.


Nurlia permisi sebentar karena dia harus menghubungi seseorang. Lama Fahmi menunggu, dia merasa jika Alika tidak akan bisa membantunya untuk bertemu dengan Nurlia.


Fahmi harus bertemu dengan Nurlia untuk memastikan surat perceraian itu dari Nurlia atau kakaknya. Mengingat, ini sudah hari ketiga sejak Fahmi berusaha untuk bertemu dengan Nurlia dan tidak pernah bisa.


"Yes, aku menemukan cara tepat untuk membuat kalian bertemu." ucap Alika setelah dia selesai menelpon.


"Apa?"


"Aku akan membawa kamu ke rumahnya."


"Haha, bagaimana bisa. Aku saja tidak diijinkan masuk. Jangankan masuk, untuk bertemu dengan Nurlia di depan pintu gerbang saja tidak bisa."


"Kamu mungkin tidak bisa masuk. Tapi aku bisa."


"Caranya?"


"Pihak rumah sakit menolak saat kak Andre ingin memindahkan perawatan Nurlia ke rumah sakit terdekat dirumahnya. Jadi, Nurlia di rawat dirumah, dan..... Besok adalah jadwal Nurlia untuk melakukan pemeriksaan."


"Aku sudah menghubungi dokter yang akan memeriksa Nurlia besok. Beliau setuju bertukar posisi denganku. Jadi, aku akan datang dengan kamu yang menyamar sebagai asisten ku.."


"Aku laki-laki, bagaimana bisa masuk untuk memeriksa pasien perempuan.," ucap Fahmi.


"Hmmmm, kamu harus berkorban untuk itu."


"Maksudnya?" tanya Fahmi.


"Apa? Tidak tidak, aku tidak mau melakukan itu." tolak Fahmi setelah Alika membisikkan sesuatu.


"Ya, hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa kembali bertemu dengan Nurlia. Jika kamu tidak mau. Tidak masalah juga bagiku." ucap Alika sambil tersenyum dan meminum minumannya.


Alika sendiri tidak tahu ide gila dari mana yang muncul begitu saja di dalam pikirannya. Tapi memang hanya itu jalan satu-satunya untuk membawa Fahmi masuk rumah Andre dan bertemu dengan Nurlia.


"Baiklah, aku bersedia."


"Bagus, sampai bertemu besok, di rumahmu. Ah, tidak, di rumahku." ucap Alika sebelum pergi meninggalkan Fahmi karena ada tugas yang sudah menunggu nya.


Keesokan harinya, Fahmi menangis saat melihat dirinya di cermin. Sementara Alika dan satu rekan yang membantu dalam penyamaran Fahmi, tertawa melihat raut muka Fahmi yang bercampur antara sedih dan terkejut.


"Sangat cantik..." puji Alika sambil memberikan jempol pada Fahmi yang kini sudah berganti nama Fania.


"Hiks, ini benar-benar menghancurkan harga diriku sebagai laki-laki."


"Mau bertemu Nurlia atau tidak?" tanya Alika.


"Iya,.aku mau..."


"Oke, sekarang...." Alika dan rekannya memberikan pelajaran kilat pada Fahmi bagaimana cara seorang perawat wanita berjalan dan tersenyum. Fahmi di paksa menelan obat dan menahan nya di tenggorokan untuk membuat sandiwara dia yang tidak bisa bicara berjalan dengan lancar.


"Tenang saja,. selama kamu mengikuti apa yang aku dan Sinta ajarkan tadi. Penyamaran kamu akan berhasil." ucap Alika yang mengerti tatapan tajam dari Fahmi saat mereka dalam perjalanan ke rumah Andre.


Sesampainya di sana... Alika menunjukkan kartu identitas milik rekannya, dan satpam yang tidak teliti langsung membukakan pintu.


Disana, Alika dan Fahmi disambut baik oleh istri Andre. Mereka di persilahkan langsung masuk dan memeriksa kondisi Nurlia.


Mata Fahmi mencari sosok Andre, ternyata sosok itu sedang menikmati makan di dapur.


Fahmi tersenyum dan menundukkan kepala saat Andre melihat mereka yang berjalan menaiki anak tangga.


Nurlia....


Hati Fahmi sangat sakit, melihat wanita yang begitu dia rindukan, duduk termenung sambil melihat kearah jendela.


Tergambar jelas kesedihan di wajah Nurlia, itu membuat Fahmi tidak bisa menahan diri dan langsung memeluknya. Alika menepuk dahinya dan langsung menutup pintu.


"Kakak, maafkan aku, dia...."


"Aku tahu dia siapa dari matanya. Tidak apa, aku akan memastikan suamiku tetap di bawah sampai pemeriksaan selesai."


"Tunggu, kakak tahu dia adalah Fahmi?" tanya Alika yang terkejut.


"Nurlia sebenarnya sehat secara fisik. Yang terluka adalah batinnya. Aku berusaha membujuk suamiku, tapi dia adalah orang yang sangat keras kepala. Entah bagaimana cara meluluhkan hatinya."


"Sedih sebenarnya sangat tidak bagus untuk bayi dalam kandungannya." ucap Alika.


"Jika memang mereka ditakdirkan bersama. Maka, hanya kekuatan cinta mereka yang bisa meluluhkan hati Kak Andre."


"Kamu adalah wanita yang baik, Alika. Semoga kamu akan bertemu dengan laki-laki yang akan memperlakukan kamu bagai ratu." Sekali lagi, Alika terkejut saat mengetahui kakak ipar dari Nurlia mengetahui siapa dirinya.


"Aku akan keluar untuk menjaga suamiku. Fahmi punya waktu setengah jam. Itu adalah waktu yang biasa dihabiskan dokter yang datang untuk memeriksa Nurlia."


"Terima kasih,. Kak.."


"Sama sama..."


Alika mengunci pintu untuk menghindari hal tidak terduga. Setelahnya, tanpa sadar Alika menetaskan air mata melihat dua pasangan yang harus dipisahkan karena sebuah kesalahpahaman.


"Aku merindukan kamu, mas.." ucap Nurlia dalam pelukan Fahmi.


"Nurlia, aku berusaha untuk menemui kamu. Tapi aku tidak bisa, aku langsung diusir sebelum sempat berteriak memanggil nama kamu., dan...."


"Apa?" tanya Nurlia sambil melepaskan pelukannya.


"Apa kamu yang mengirimkan surat perceraian kita?"


Syok....!!


Nurlia sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Fahmi. Dia marah dan hampir saja hilang kendali. Untung saja Alika berhasil meredam amarah Nurlia.


"Kamu harus tenang, tidak mudah bagi aku untuk membawa Fahmi masuk ke rumah ini."


"Hiks, kenapa ini terjadi pada kita, Mas..."


Nurlia kembali menangis hingga pingsan dalam pelukan Fahmi.


...----------------...


...----------------...


...----------------...