
"Aku pikir kamu tidak akan datang," suara yang tidak asing di telinga Nurlia. Nurlia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum. Dia bangun dan mengulurkan tangannya dengan niat ingin mencium tangan dari wanita yang masih berstatus sebagai Ibu mertua nya itu.
"Ma..." Nurlia berusaha tenang ketika dia hendak meraih tangan Mila.
"Tidak usah bersalaman, aku takut nanti tanganku tertular penyakit dari kamu,"
Nurlia menarik kembali tangannya dan tersenyum. Percayalah, dalam hati Nurlia kini menjerit-jerit.
"Ohya, aku harap kamu tidak menyesal karena sudah datang kesini. Mengingat nama kamu tidak ada dalam daftar tamu undangan," ketus Mila sambil melihat Nurlia yang menundukkan kepala.
"Aku istri Mas Fahmi, Ma. Aku juga menantu Mama,"
"Sayangnya aku tidak pernah menganggap kamu sebagai menantu. Jika kamu ingin tahu siapa menantu ku, tunggu saja. Kamu akan segera mengetahuinya."
"Ma..." Nurlia bergetar, sekuat tenaga dia berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Aku melakukan kesalahan dengan memaksa Fahmi menikahi kamu hanya karena keluarga kami mempunyai hutang pada keluarga kamu. Sekarang, hutang keluarga kami lunas. Jadi...."
Nurlia melihat Mila menghela nafas panjang sambil tersenyum jahat, senyuman yang begitu menyayat hati Nurlia.
"Mama tidak berniat memisahkan aku dengan Mas Fahmi, kan?"
"Itu keputusan kamu. Sebab, yang akan aku lakukan adalah memastikan Fahmi hidup bersama dengan orang yang pantas. Orang yang sangat dia cintai."
Lemas sudah lutut Nurlia, bahkan untuk mengambil minuman yang ada di hadapannya pun dia tidak mampu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Alika sambil duduk dan meletakkan makanan di hadapan Nurlia.
"Seharusnya aku tidak datang, Alika."
"Apa maksud kamu?"
"Aku....__"
"Di momen yang bahagia ini, aku juga ingin mengumumkan pertunangan putraku Fahmi dengan kekasihnya, Alika..." Belum selesai Nurlia mengucapkan alasannya, suara Mila begitu terdengar jelas di telinga Alika.
Alika terdiam mematung, hingga saat lampu menyoroti dirinya, Alika masih terdiam mematung. Sementara Nurlia, memilih untuk sedikit bergeser agar dirinya tidak terlihat dalam sorotan lampu.
Suara tepuk tangan mengejutkan Alika untuk kedua kalinya setelah sebelumnya dua telinga itu terkejut mendengar Tante Mila menyebut namanya.
Tidak, keterkejutan Alika bukan hanya karena namanya di sebut oleh Mila. Melainkan kata depan sebelum namanya. Kekasih Fahmi.
Mila menoleh sekilas ke arah Nurlia yang mulai berjalan mundur menjauhinya. Saat Mila melihat ke asal suara, betapa terkejutnya dia saat melihat Fahmi sudah ada disana menunggu nya dengan senyuman.
"Apa-apaan ini." lirih Alika.
"Alika, Sayang. Ayo, kesini.." perintah Mila yang membuat suara tepuk tangan dari tamu undangan kembali terdengar.
Dua orang tiba-tiba muncul entah dari mana, membuat Alika terpaksa berjalan bersama mereka dan kini berada tepat di hadapan Fahmi dan Mila.
"Fahmi....?" saat Mila berada di depan Fahmi lah, dia baru menyadari ada sesuatu yang berbeda dari Fahmi.
Alika berusaha untuk menyadarkan Fahmi yang berada di bawah obat yang membuat nya tidak bisa menggerakkan bibir dan tangan nya dengan leluasa.
Hingga saat Mila memaksa Alika dan Fahmi untuk bertukar cincin, Fahmi hanya bisa tersenyum. Namun, dari sorot matanya, Alika bisa mengerti jika Fahmi juga masuk dalam jebakan Mila.
Entah ramuan seperti apa yang diberikan Mila kepada Fahmi, yang jelas Fahmi seperti orang terhipnotis yang melakukan apapun sesuai keinginan Mila.
Banyak pertanyaan yang muncul dari beberapa tamu undangan, khususnya mereka yang mengetahui jika Fahmi sudah menikah.
Dengan santai dan penuh percaya diri, Mila mampu menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan bahwa pernikahan yang terjadi antara Fahmi dan Nurlia hanya sebuah sandiwara dengan adanya perjanjian hitam diatas putih.
Alika berusaha membuat Fahmi sadar, agar bisa kembali mengendalikan tubuhnya. Namun, ada hal yang lebih menyita perhatian Alika.
"Nurlia..." lirih Alika.
Tidak, tidak, Alika melihat Nurlia berjalan meninggalkan gedung. Dari tatapan yang dapat dijangkau oleh Alika. Alika meyakini jika Nurlia keluar dalam keadaan kacau dan menangis.
"Lepaskan aku. Fahmi, sadarlah." Alika berusaha melepaskan diri saat beberapa orang membawa paksa dirinya dan Fahmi turun serta membawanya ke suatu ruangan terpisah.
"Alika, sudah nikmati saja. Bukankah ini yang kamu inginkan? Bersatu dengan putra ku?" Mila datang dengan senyuman setelah tangannya memberikan kode kepada pengawal untuk melepaskan Alika.
"Stttttt......, Fahmi itu urusan mama, sekarang lebih baik kamu hubungi orang tua kamu. Karena, tanggal pernikahan kamu harus segera di tetapkan." Mila langsung menutup mulut Alika dan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara.
Fahmi, mama sudah menebus ketidakberdayaan mama waktu itu. Setelah ini, kamu pasti akan berterima kasih kepada Mama.
----------------
"Nurlia, kamu sendirian saja?" tanya sang kakak saat Nurlia hendak menuju makam ayah dan ibunya.
Nurlia terkejut saat mendapati sang kaka sedang ada di pemakaman juga.
"Kakak, apa sudah lama disini?" tanya Nurlia.
"Baru saja, kamu apa datang sendirian?" tanya Andre.
"Ah, iya. Tapi Mas Fahmi berjanji akan menyusul setelah ini,"
"Begitu," ucap Andre yang di jawap anggukan kepala oleh Nurlia.
Keduanya kemudian bersama-sama membersihkan pemakaman orang tuanya dan menabur bunga serta memanjatkan doa.
"Maaf, Nurlia. kakak ingin sekali menemani kamu sampai Fahmi datang. Tapi, ada pekerjaan yang harus kakak selesaikan. Apa kamu tidak keberatan jika kakak pulang lebih dulu?" tanya Andre.
"Tentu saja,"
"Baiklah. Jaga diri kamu."
Sepeninggalan sang kakak. Nurlia tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis, hanya menangis. Karena rasanya tidak ada kata yang bisa terucap dari mulutnya.
Setelah di rasa tangisan sudah cukup membuat lega hatinya. Dia bergegas pulang.
"Ayah, Ibu, doakan aku agar kuat menghadapi kenyataan yang menyakitkan. Seandainya saja kalian masih ada disini," ucap Nurlia sebelum pergi meninggalkan pemakaman.
Nurlia mengambil ponsel dan hendak memesan taksi online. Namun, tiba-tiba pandangannya kabar dan Nurlia pingsan.
Bruk !!
Di sisi lain, Alika berusaha menyadarkan Fahmi yang masih berada di bawah pengaruh obat yang Alika sendiri tidak tahu jenisnya.
Pintu terkunci, Mila sepertinya sengaja menjebak Alika dan Fahmi ditengah-tengah acara pesta yang sudah mencapai puncaknya.
Beruntung, Alika bisa menyembunyikan ponselnya dan meminta rekan kerjanya untuk datang dan membawa penawar obat yang membuat Fahmi tidak dapat mengendalikan diri sendiri.
Dengan menyamar sebagai petugas yang akan mengantar makanan kepada Alika dan Fahmi. Rekan kerja Alika berhasil membantu Alika membuat Fahmi sadar.
"Alika, apa yang terjadi? Kenapa kita ada di sini? Dan siapa dia? Dimana Nurlia?" tanya Fahmi begitu dirinya sadar dan menunjuk kepada rekan kerja Alika yang mulai meninggalkan kamar karena bodyguard yang berjaga di depan pintu, memintanya untuk segera keluar.
"Fahmi, kamu benar-benar tidak tahu apa yang terjadi?" tanya Alika.
Fahmi kemudian menceritakan, jika dia ada yang menyuntikkan sesuatu padanya saat dia berusaha mencari tahu yang terjadi.
"Alika, apa yang terjadi?" tanya Fahmi.
Alika kemudian menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir. Dimana dia melihat Nurlia pergi dengan kesedihan.
"Mama, aku sudah menduga ada yang tidak baik dan ada yang direncanakan oleh orang tuaku saat aku mengetahui jika kamu undangannya bertambah dua kali." ujar Fahmi.
"Aku harus bisa keluar dari sini dan mencari Nurlia. Dia pasti sudah sangat salah paham,"
"Fahmi, sebelum kamu mencari Nurlia. Ada hal yang harus kamu ketahui tentang dirinya,"
"Ada apa?"
"Nurlia, dia......"
...----------------...
...----------------...
...----------------...