
Nurlia melihat Fahmi dari balik gelas yang masih menyatu sempurna dengan bibirnya.
Apa yang ada di hadapanku ini benar-benar mas Fahmi? kenapa tiba-tiba sikapnya berubah seperti ini? apa di rumah sakit itu ada semacam kekuatan yang bisa merubah kepribadian seseorang? Atau jangan jangan kue ulang tahun semalam mengandung sesuatu yang salah?
Nurlia melihat Fahmi masih mencicipi makanan yang tersisa di meja.
"Maaf ya. Kalau kamu tidak mau, aku akan menghabiskan nya. Mubadzir."
Nurlia hanya bisa melihat apa yang sedang dilakukan Fahmi. Memakan semua makanan yang tersisa hingga bersih.
Batin Nurlia tiba-tiba berperang sendiri membahas tentang perizinan untuk pergi ke rumah sakit.
Dengan penuh hati-hati dan terus mengucap bismillah dalam hati. Nurlia berbicara tentang keinginannya untuk pergi ke rumah sakit.
"Mas..."
"Ya?" Fahmi menjawab tanpa melihat Nurlia karena dia masih sibuk dengan sendok dan garpu nya.
"Aku ingin pergi ke rumah sakit."
"Tentu saja."
"Masalah nya adalah, aku tidak di ijinkan pergi ke sana jika tidak dengan mas."
Brak !!
Nurlia terkejut karena tiba-tiba Fahmi meletakkan sendok dan garpu diatas meja.
Setelah meletakkan keduanya, Fahmi bangkit dari tempat duduknya. Suara kursi bergeser begitu nyaring di telinga.
Nurlia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tidak kecewa, saat Fahmi pergi dari meja makan tanpa berkata apapun.
"Sudah ku duga, mas Fahmi akan kembali pada sifat aslinya. Sikap dia tadi mungkin karena lapar"
Nurlia memilih untuk mengusir rasa kecewa dengan membersihkan piring dan meja makan. Setelah selesai, Nurlia memutuskan untuk pergi ke kamar.
Akan tetapi, Nurlia kembali di buat terkejut saat melihat Fahmi duduk di kursi ruang tamu.
"Sudah selesai? cepatlah bersiap, aku tunggu di mobil. kebetulan hari ini aku tidak ada pekerjaan yang mengharuskan aku untuk ada di kantor," terang Fahmi sambil tersenyum.
"Jadi?" tanya Nurlia.
"Jadi aku bisa menemani kamu ke rumah sakit."
Jangan Geer Nurlia. Dia ke rumah sakit pasti dengan tujuan bertemu dengan kekasihnya. Memang siapa kamu sehingga dia akan menjadikan kamu spesial.
"Nurlia, kenapa melamun. Aku tahu jika aku memiliki wajah yang tampan."
Nurlia memilih untuk segera masuk ke dalam kamar, disana Nurlia terheran-heran dengan sikap aneh Fahmi.
"Pasti karena semalam kekasihnya datang ke sini. Ya, di balik sikap manisnya itu pastilah tersirat permintaan maaf karena aku harus bertemu dengan kekasihnya dan melihat sang kekasih merayakan ulangtahun nya."
Setelah cukup lama, Nurlia keluar dari kamar dan keduanya segera bertolak menuju rumah sakit.
Di rumah sakit...
"Pergilah dulu ke ruangan ibu," ucap Fahmi setelah keduanya turun dari mobil.
Nurlia hanya mengangguk-angguk kepala, sepertinya Nurlia mengira Fahmi akan menemui Alika.
Fahmi memang menyuruh Nurlia untuk lebih dulu pergi ke ruangan Ibu, bukan karena Fahmi akan bertemu dengan Alika. Tapi, Fahmi keluar untuk membeli buah buahan yang lupa dia beli saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Assalamu'alaikum..." Nurlia masuk setelah mengetuk pintu ruangan tempat Ibu dirawat.
Langkah kaki Nurlia terhenti saat kak Andre dan istrinya menoleh. Keduanya yang sedang membaca ayat suci Al-Quran, terkejut melihat kedatangan Nurlia.
Nurlia berdiri mematung, matanya melihat ke arah monitor setelah menyadari jika kondisi ibunya tidak sedang baik-baik saja.
Istri dari Kak Andre yang bernama Lailatul, memberikan kode agar Andre menemui Nurlia.
"Nurlia, tenang dulu. Ibu baik-baik saja."
"Sejak kapan?" tanya Nurlia dengan air mata yang sudah siap membasahi pipinya.
"Nurlia..."
"Sejak kapan kondisi Ibu semakin kritis?" tanya Nurlia.
"Nurlia, kakak.."
"Sejak semalam,"
"Astaghfirullah..." runtuh sudah air mata yang sedari tadi Nurlia coba untuk tahan.
Nurlia langsung terduduk lemas dilantai, Andre yang juga merasa bersalah karena tidak jujur kepada Nurlia saat Nurlia bertanya tentang kondisi ibunya semalam, langsung berusaha menjelaskan situasi nya.
"Maafkan kakak, Nurlia. Kakak tidak bermaksud untuk membohongi kamu saat kamu bertanya tentang kondisi ibu. Tapi, kakak tidak bisa berbuat apapun karena ini adalah keinginan dari ibu agar tidak memberitahu kondisinya kepada kamu."
"Hiks, seharusnya kakak tetap memberitahu Nurlia tentang kondisi Ibu. Karena bagaimanapun Nurlia ini adalah anak ibu juga. Nurlia berhak tahu tentang kondisi ibu."
"Maafkan aku, Nurlia."
"Apa kata dokter?" ucap Nurlia sambil menghapus air matanya.
Andre diam, sejujurnya dia ingin sekali berkata tentang apa yang dikatakan dokter kepadanya. Hanya saja, Andre tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Nurlia.
"Kakak katakan kepadaku, atau aku akan mencari tahu kebenarannya sendiri?"
Andre menghela nafas panjang sebelum kemudian menceritakan tentang apa yang dikatakan dokter mengenai kondisi dari sang ibu.
"Dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, selebihnya adalah kuasa Allah."
"Hiks.. ibu..." Nurlia dibantu Andre berjalan mendekati Ibu yang terbaring lemah.
"Assalamualaikum, Ibu. Nurlia sudah datang." Nurlia menangis sambil mencium tangan ibunya yang sudah sangat lemas.
Mata ibu terbuka, terlihat sebuah senyuman menghiasi wajahnya walaupun senyuman itu terlihat begitu samar.
"Nurlia datang bersama dengan mas Fahmi, Bu. Beliau sedang mengambil barang yang tertinggal di mobil," ucap Nurlia saat melihat mata sang Ibu seolah-olah menjadi sesuatu.
Pandangan Ibu kemudian beralih melihat Andre, Lailatul sedikit bergeser sehingga Andra bisa mendekat pada sang Ibu.
Andre yang tahu jika sang Ibu sudah tidak bisa lagi berbicara, perlahan meningkatkan telinganya pada sang Ibu. Terlihat Ibu sedang membisikkan sesuatu.
"Insyallah, bu. Andre akan menjaga Nurlia. Andre tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya."
"Bu, apa yang Ibu bicarakan kepada kakak? Kenapa Kakak berbicara seperti itu?" tanya Nurlia. Sementara Lailatul sedikit mundur beberapa langkah, karena dirinya sudah tidak tahan melihat pemandangan seperti itu.
Tangan ibu seolah ingin menggapai Nurlia. Dengan cepat, Nurlia meletakkan tangan ibu di pipinya.
"Ikhlaskan Ibu, Nurlia," ujar Andre saat melihat mata ibu yang seolah-olah ingin mengatakan hal itu kepada Nurlia.
"Kakak tidak boleh mendahului takdir," ketus Nurlia. Namun sejatinya, Nurlia menyadari jika sang ibu mungkin sudah tidak akan lama lagi berada di dunia. Terlihat dari mata sang Ibu yang mulai menutup perlahan.
"Dokter bilang kemungkinan besar ibu sudah berada di perbatasan antara alam kita dan juga alam selanjutnya. Beliau mungkin menunggu kedatangan kamu dan keikhlasan hati kamu," ucap Andre dengan nada tegar walaupun di dalam hatinya begitu sakit harus melihat pemandangan seperti ini untuk kedua kalinya.
Nurlia memeluk tangan Ibunya dan berulang kali menciumnya. Sambil terus memanggil nama sang ibu.
"Nurlia, ikhlaskan.." Lailatul akhirnya bersuara sambil memeluk Nurlia.
Perlahan Nurlia mengangkat kepala dan mendekati telinga sang ibu. Dengan suara khas orang menangis. Nurlia berbisik...
"Nurlia ikhlaskan Ibu. Nurlia akan menjalankan apa yang menjadi perintah ibu."
Tiba-tiba suara mesin detak jantung berbunyi panjang. Andre menekan tombol darurat dan beberapa dokter dengan suster datang untuk memeriksa Ibu.
Nurlia mundur beberapa langkah, terlihat Andre mendekati Ibu dan mengajak ibu untuk membaca syahadat.
Fahmi yang baru saja masuk sambil membawa buah-buahan tentu saja terkejut saat melihat banyak sekali suster dan dokter di ruangan Ibu.
"Ibu anda sudah meninggal dunia, pak," ucap dokter pada Andre yang masih terus membaca syahadat di telinga Ibu.
Syok !!
Nurlia mulai terlihat sempoyongan, Fahmi melemparkan buah-buahan yang dia bawa dan berlari menuju Nurlia.
"Nurlia..."
Brug !!!
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...