Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Ikhlas Melepasmu


"Fahmi, kamu mau mengajak aku kemana?" tanya Alika saat Fahmi menggenggam erat tangan Alika dan membawanya keluar ruangan.


"Aku akan membawa kamu ke rumah impian kita. Aku akan menunjukkan jika rumah itu sudah berhasil aku bangun."


Alika terdiam, bagaimana bisa Fahmi akan membawanya ke rumah tempat dimana Nurlia, istri dari Fahmi berada.


"Fahmi, tunggu." Alika melepaskan tangannya dari genggaman Fahmi, sehingga langkah kaki dari kedua nya terhenti.


"Ada apa?" tanya Fahmi yang merasa heran dengan sikap Alika.


"Pertama lepaskan dulu tanganku, tidak enak jika semua karyawan kamu melihatnya."


"Biarkan saja."


"Fahmi, kamu adalah bos. Bos harus memberikan contoh yang baik. Apa yang kamu lakukan ini adalah contoh yang tidak baik."


"Alika, kamu itu kenapa sih?" tanya Fahmi dengan heran.


"Fahmi, kamu sudah menikah. Tidak sepantasnya kamu berjalan dengan menggandeng tangan wanita lain."


"Alika, kamu bukan wanita lain. Kamu adalah wanita spesial."


"Tidak lagi, sekarang kamu sudah berstatus sebagai seorang suami. Jadi tidak sepantasnya kamu men-spesial-kan wanita lain selain istri kamu."


"Alika, aku memang sudah berstatus sebagai seorang suami. Tapi kamu harus tahu bahwa di dalam hatiku masih ada nama kamu dan masih kamu yang menjadi wanita spesialku."


"Ayo, aku akan tunjukkan kepada kamu bahwa rumah impian kita sudah berdiri kokoh."


Fahmi kembali menggandeng tangan Alika. Dia tidak peduli dengan seluruh mata yang melihat kepadanya, dia tidak peduli jika seluruh kantor akan membicarakan tentang dirinya yang menggenggam tangan wanita lain sementara dirinya sudah berstatus sebagai seorang suami.


Jika saja Nurlia tidak pernah datang ke kantor ini mungkin orang-orang di kantor tidak akan mengetahui jika sebenarnya aku sudah menjadi seorang suami.


Fahmi sepertinya merasa kesal karena seluruh karyawan yang ada di kantornya melihat ke arah dirinya yang berjalan sambil menggandeng tangan Alika. Fahmi menyalahkan keadaan yang terjadi sekarang kepada Nurlia.


Alika akhirnya pasrah saat usahanya untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Fahmi tidak membuahkan hasil.


"Ayo masuk," ucap Fahmi setelah mereka sampai di rumah yang memang menjadi impian dari mereka berdua.


"Apa tidak masalah jika aku masuk ke dalam rumah ini? sementara aku tidak memiliki hak atas rumah ini?" tanya Alika.


"Alika, kamu bicara apa? Apa kamu tidak ingat jika kamulah yang menginginkan rumah seperti ini. Ini adalah rumah impian kita, tentu saja kamu memiliki hak atas rumah ini."


"Fahmi, Kenapa kamu berbicara seolah-olah kita masih memiliki hubungan seperti dulu? kamu tidak boleh seperti ini, Fahmi. Ini akan menimbulkan fitnah terutama kepada istri kamu."


"Masuklah. Aku akan menceritakan sesuatu."


----------------


Di Kediaman Nurlia...


"Nak, ini sudah masuk jam makan siang. Kenapa kamu masih ada di sini? Bukankah kamu sudah memiliki suami dan sudah menjadi kewajiban seorang istri, untuk melayani suaminya."


"Bu, Mas Fahmi sudah kembali bekerja. Beliau tidak pernah pulang untuk makan siang."


"Nak, sebagai seorang istri yang baik seharusnya kamu tidak membiarkan suami kamu makan siang di luar. Kalau suami kamu tidak bisa pulang untuk makan siang di rumah, kamu bisa pergi ke kantornya dan membawakan makan siang untuknya?" ucap ibu yang membuat Nurlia tersenyum kecut.


Ibu, seandainya saja Ibu tidak sakit. Mungkin aku sudah bercerita jika sebenarnya mas Fahmi tidak pernah memakan masakanku walaupun aku sudah berusaha untuk memenangkan hatinya.


"Pulanglah.." titah Ibu pada Nurlia.


"Lalu bagaimana dengan Ibu?" tanya Nurlia.


"Ada Bik Sari yang akan menjaga Ibu, lagi pula rasa sakit yang Ibu rasakan sudah berkurang karena kedatangan kamu. Terima kasih ya, kamu sudah mau datang untuk bertemu dengan ibu sekaligus mengantar ibu ke rumah sakit."


"Nurlia ingin menemani Ibu selama seharian di sini, bolehkah?" tanya Nurlia dengan hati-hati dan di balas gelengan kepala oleh Ibu.


"Pulanglah, kamu sudah berumah tangga. Bagi seorang wanita yang sudah memiliki suami, yang menjadi prioritas utamanya adalah suami."


Walaupun berat meninggalkan ibunya dalam kondisi sakit, Nurlia tidak mempunyai pilihan lain selain menuruti perkataan Ibunya dan membawa beberapa makanan yang sempat Nurlia masak di rumah Ibu.


"Bawa saja, lagi pula mobil itu tidak akan ada yang mengendarai jika bukan kamu." Ucap sang Ibu sambil tersenyum.


Nurlia segera melaju dengan kecepatan tinggi menuju kantor Fahmi, dan berharap bahwa kali ini Fahmi tidak akan menolak kedatangannya seperti sebelumnya.


Sesampainya di kantor, Nurlia merasa ada sesuatu yang aneh mengingat satpam tidak mencegahnya masuk.


"Apa Mas Fahmi sudah membiarkan aku datang untuk mengantarkan makan siang? Bukankah jika aku datang ke kantor ini satpam selalu saja menghentikan aku?"


Tidak ingin terlalu larut dalam pikiran negatif, Nurlia segera bertanya kepada resepsionis.


"Maaf, Bu. Tapi Tuan presiden baru saja meninggalkan kantor."


"Baiklah, kalau begitu bisa saya titip makan siang ini untuk Tuan presiden?"


"Tentu."


Nurlia hanya menghela nafas panjang. Rupanya ini alasan di balik satpam yang tidak menghentikan dirinya. Fahmi sudah lebih dulu meninggalkan kantor. Mungkin dia tahu Nurlia akan datang. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Nurlia sekarang.


Sepeninggalan Nurlia, beberapa karyawan membicarakan Nurlia.


"Sebenarnya apa yang kurang dari istri Tuan presiden, Bukankah istri dari Tuan presiden itu cantik dan juga baik, perhatian lagi. Tapi sepertinya Tuan presiden enggan untuk mengakuinya sebagai seorang istri."


"Iya bener, kasihan sekali."


"Kalau aku ada di posisi istri Tuan presiden, mungkin aku sudah mengadu kepada kedua orang tuaku dan menginginkan perceraian."


"Benar, siapa juga yang bisa bertahan dalam rumah tangga di mana sang suami bersikap acuh pada kita."


"Sudah, Sudah. Apa kalian sudah bosan bekerja di perusahaan ini? Kenapa kalian selalu saja gibah setelah istri Tuan presiden datang?" ucap Danang yang kebetulan lewat dan mendengar apa yang dibicarakan oleh beberapa karyawan wanita.


"Sudah sana bubar."


Danang menghela nafas panjang melihat para wanita yang selalu saja membicarakan Nurlia.


"Fahmi memang benar-benar keterlaluan kepada Nurlia. Hah, maafkan aku Nurlia, aku tidak bisa melakukan apapun untuk membantu kamu mendapatkan hati Fahmi."


Danang melihat mobil Nurlia yang meninggalkan area perkantoran. Sambil berdoa agar suatu saat hati Fahmi akan terketuk dan melihat Nurlia sebagai istrinya.


Kembali pada Fahmi dan juga Alika..


"Aku tahu, sulit berada di posisi kamu. Tapi kamu juga harus tahu bahwa Nurlia sudah menjadi istri kamu dan menjadi tanggung jawab kamu," ucap Alika setelah Fahmi menceritakan kenapa dia menikah dengan Nurlia.


"Aku tidak bisa, hati ini sulit menerima kehadirannya. Mengingat karena wanita itu yang membuat hubungan kita hancur. Seharusnya kita yang menikmati rumah impian ini. Seharusnya kamu yang menjadi tanggung jawab ku."


"Aku sangat bahagia karena setelah sekian lama aku tidak dapat menemukan keberadaan kamu. Kamu datang sendiri padaku. Sekarang, aku tidak peduli lagi apa yang akan dikatakan oleh keluarga Nurlia. Aku akan menikahi kamu."


"Fahmi, pertama-tama biar aku luruskan kenapa aku datang dan menemui kamu."


"Tidak perlu kamu jelaskan, aku sudah tahu jika kedatangan kamu untuk memperjuangkan kembali hubungan kita."


"Tidak, Fahmi. Aku datang untuk mengatakan jika aku ..." Alika menjeda kata-katanya sambil melihat wajah Fahmi, rasanya Alika tidak tega untuk menyampaikan hal ini. Tapi dia harus menyampaikannya untuk menyadarkan Fahmi, bahwa tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk hubungan mereka yang sudah berakhir.


"Kamu kenapa?" tanya Fahmi sepertinya sudah tidak sadar mendengar kelanjutan dari kata-kata yang akan diucapkan oleh Alika.


"Aku datang untuk mengatakan jika aku sudah ikhlas melepaskan kamu."


Deg !!


...----------------...


...----------------...


...----------------...


----------------