
"Fahmi, Mami tahu ini adalah kesempatan kamu untuk bisa kembali dengan Alika. Tapi Mami minta agar kamu bersikap baik lebih dulu pada Nurlia."
"Maksudnya?"
"Walaupun sebenarnya Mami tidak menyukainya, setidaknya kamu harus memberikan kesan yang baik di saat mertua kamu sedang sekarat."
"Mami..."
"Dengar, Mami sudah mendengar apa yang dikatakan dokter. Jadi yakin saja, sebentar lagi Ibu Nurlia akan segera menyusul suaminya. Ya mana tahu setelah ini kamu akan mendapatkan bagian dari harta kekayaan keluarga Raman, kan?"
Percakapan itu benar-benar menganggu malam malam Fahmi. Dia ingat betul bagaimana kesedihan Nurlia saat sang ayah meninggal dunia.
Di rumah sakit yang sama, duka pilu itu akankah terjadi lagi?
Sebelumnya Fahmi sangat peduli dengan Nurlia. Mengingat Ayah Nurlia dan Ayahnya adalah sahabat sejak kecil. Namun kepedulian itu hilang setelah Fahmi di minta untuk menikahi Nurlia.
Rasa peduli dan rasa prihatin berubah menjadi perasaan benci dan kesal.
"Tidak peduli seperti apa kita, jika memang nanti kita ditakdirkan untuk bersama. Kita akan tetap bersama, walaupun tidak dalam kehidupan sekarang." Perkataan Alika yang terus terulang di pikiran Fahmi.
"Bayangkan jika aku yang berada di posisi Nurlia. Aku sudah kehilangan sosok ayah, harus menikahi seorang yang bahkan tidak melihat keberadaan ku. Sekarang, aku harus menghadapi kenyataan bahwa ibuku terbaring lemah tak berdaya. Tunjukkan padaku jika kamu masih memiliki kepedulian terhadap Nurlia. Jangan menambah kesedihan nya."
Fahmi mengejar Nurlia yang semakin berjalan pergi meninggalkan dirinya.
"Nurlia, tunggu..."
Fahmi berhasil menghentikan Nurlia.
"Ada apa, mas?"
"Nurlia, aku tahu selama ini aku tidak bersikap baik kepada kamu dan aku minta maaf akan hal itu."
"Baiklah, sudah aku maafkan. Sekarang bisakah kamu melepaskan genggaman tangan ini? karena aku ingin segera pergi ke ruangan Ibu."
"Aku ikut. Kita akan pergi bersama."
"Terserah."
Nurlia melepaskan tangannya dan berjalan mendahului Fahmi.
Sesampainya di ruangan Ibu, senyum Nurlia mengambang tak kala melihat sang Ibu membuka mata.
"Nurlia..." panggil sang Ibu.
"Ibu..." Dengan kembali meneteskan air mata, Nurlia berjalan cepat menghampiri sang Ibu. Andre dan istrinya berpindah tempat dan memberikan ruang kepada Nurlia.
"Pergilah, temani Nurlia dan Ibu," ucap Andre kepada Fahmi sebelum Andre keluar dari ruangan Ibu.
Fahmi melihat Andre yang menyeka mata serta memeluk sang istri sambil berjalan ke luar. Samar samar Fahmi mendengar percakapan mereka tentang Ibu Nurlia.
"Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin dan tidak boleh terjadi," lirih Fahmi.
"Fahmi, apa itu kamu?" tanya Ibu dengan nada khas orang yang sakit.
"Iya, bu." Fahmi tersenyum sambil berjalan mendekati ranjang Ibu.
Kini Fahmi duduk di sebelah kanan ranjang, yang artinya Fahmi berhadapan dengan Nurlia, walaupun ada ranjang sebagai pemisah diantara mereka.
"Nak Fahmi, sebelumnya Ibu ingin berterima kasih karena nak Fahmi sudah mau menerima putri ibu sebagai istri kamu."
"Ibu, tidak perlu berterima kasih. Insyallah Fahmi menerima Nurlia."
"Ibu tahu pernikahan ini tidak seperti yang kalian inginkan. Tapi Ibu harap kalian akan bisa menerima satu sama lain."
"Bu, doakan saja yang terbaik untuk pernikahan kami," ucap Fahmi lagi.
"Nurlia, tetaplah jadi istri yang sholehah dan selalu mendengarkan apa kata suami. Insyallah semua nya akan baik-baik saja."
"Bu, Kenapa Ibu berbicara seolah-olah sebentar lagi Ibu tidak akan lagi bisa membimbing aku untuk tetap menjadi istri yang patuh terhadap suami?" tanya Nurlia.
"Nak, Ibu sudah sakit. Rasanya Ibu sudah tidak ingin lagi membebani kalian. Bukankah lebih baik jika biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan rumah sakit ini, digunakan untuk kepentingan kalian di masa depan."
"Nak, berjanjilah bahwa kamu akan tetap mendampingi suami kamu apapun yang terjadi. Dan Nak Fahmi, bisakah kamu berjanji kepada Ibu, jika kamu akan tetap menjadi suami Nurlia?"
"Bu..." Nurlia mencoba untuk menghentikan Ibu agar ibu tidak lagi membuat Fahmi berjanji. Mengingat bahwa sebenarnya Fahmi tidak menginginkan pernikahan ini karena Fahmi sudah memiliki wanita lain.
"Insyallah, bu." Fahmi tersenyum dan mencium tangan ibu Nurlia sembaring mengucapkan doa di dalam hatinya untuk kesembuhan Ibu Nurlia.
Setelah ini aku harus bertemu Alika untuk mengetahui tentang kondisi yang sebenarnya dari Ibu Nurlia. Rasanya tidak tega jika aku harus melihat Nurlia kembali bersedih.
"Bu, maaf. Fahmi harus kembali pulang. Besok Fahmi akan datang setelah menyelesaikan pekerjaan Fahmi."
Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kini pandangan ibu beralih menatap Nurlia.
"Nak, pulanglah bersama dengan suamimu. Kamu sudah beberapa hari kan tidak pulang."
"Bu..."
"Nak, seorang wanita yang sudah berstatus menjadi seorang istri. Harus lebih mengutamakan suami daripada Ibunya."
"Nurlia tahu, tapi disini kan kondisinya berbeda."
"Ada kakak kamu dan juga istri nya yang akan menjaga Ibu." Ibu terus tersenyum sambil mengelus pipi Nurlia.
"Pulanglah bersama dengan suamimu."
Nurlia memeluk ibunya, ingin sekali Nurlia tetap berada di sana. Akan tetapi, keinginan ibunya seperti perintah untuk Nurlia.
Dalam perjalanan pulang, Nurlia hanya diam sambil mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Rasanya sungguh tidak ingin kembali ke rumah yang jelas-jelas dibangun untuk wanita pujaan Fahmi.
Sementara Fahmi, dalam diam menyusun kata yang tepat agar dirinya nanti bisa berbicara dengan Nurlia setelah sampai dirumah.
Nurlia dan Fahmi sama sama berjalan menuju pintu setelah keduanya turun dari mobil.
Pintu terbuka, keduanya berjalan seperti biasa sebelum tiba-tiba lampu menyala dan...
"Surprise..."
Beberapa orang yang merupakan adik dan beberapa sahabat Fahmi datang dengan membawa pernak pernik ulang tahun.
Nurlia mundur beberapa langkah saat dia menyadari seseorang yang berjalan mendekati Fahmi dengan membawa sebuah kue lengkap dengan lilin yang menyala.
Fahmi yang melihat ke arah Nurlia, menyadarkan Alika jika keputusannya untuk memberi Fahmi kejutan di rumah adalah salah.
Semua orang yang ada di sana, berdiri melingkar dengan Fahmi dan Alika berada di tengah. Membuat kehadiran Nurlia semakin tidak diketahui banyak orang.
Nurlia memutuskan untuk segera naik ke lantai atas, suara nyanyian lagu ulang tahun dan tepuk tangan memudahkan Nurlia untuk naik tanpa diketahui siapapun.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuat Nurlia yang mencoba fokus untuk tidur, menjadi terganggu.
"Nurlia, bisa kita bicara sebentar?" Fahmi mencoba mengetuk pintu kamar Nurlia dengan Alika yang berada di sampingnya.
"Nurlia..."
"Mungkin dia sudah tidur. Tidak apa, kita akan bicara dengannya besok pagi." Suara Alika terdengar pelan namun jelas di telinga Nurlia.
Aku tidak akan berbicara dengan siapapun. Sudah cukup tahu dengan apa yang terjadi.
...----------------...
...----------------...
...----------------...