Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)

Dinikahi Karena Hutangbudi (Haruskah Berpisah)
Penebusan Dosa


Dengan terus mengingatkan Nurlia tentang tugas dan kewajiban seorang istri. Fahmi berhasil membuat Nurlia kembali pulang dan tidak lagi bekerja.


Fahmi kemudian menunjukan tiket perjalanan pertama mereka.


Nurlia sebenarnya ragu untuk pergi bersama dengan Fahmi. Namun, karena Fahmi terus menunjukkan kesungguhannya untuk memulai semua dari awal, membuat Nurlia sedikit percaya.


"Aku tahu, semua ini adalah ide dari Alika. Tapi, percayalah jika Alika hanya ingin membantu agar apa yang menjadi keputusanku berjalan dengan lancar,"


"Apa jaminannya jika memang Alika tidak akan ikut serta dalam perjalanan ini? Bukankah pergi ke Swiss merupakan impian dari kalian?" tanya Nurlia.


Fahmi tersenyum sambil mencium kening Nurlia. Itu tentu saja membuat Nurlia semakin heran.


"Aku jaminannya,"


"Maksud Mas, Apa?"


"Jika memang nanti Alika juga ikut dalam perjalanan kita. Kamu boleh meninggalkan aku,"


"Bukankah itu yang Mas harapkan selama ini?"


"Nurlia, beri aku kesempatan sekali lagi. Ijinkan aku untuk menjadi suami yang sesungguhnya untuk kamu,"


"Insyallah, Mas," ujar Nurlia sambil tersenyum.


"Alhamdulillah." Fahmi yang merasa bahagia segera menarik Nurlia ke dalam pelukannya.


YA ALLAH, semoga apa yang menjadi kesungguhan dari Mas Fahmi, benar-benar karena beliau ingin menjadikan ikatan ini nyata. Memulai kisah ini dari awal lagi.


Pagi harinya, Fahmi dan Nurlia bertolak ke Swiss.


Nurlia yang memang sebelumnya tidak pernah pergi ke luar negeri, tentu saja merasa terkesima dengan segala pemandangan yang ada.


Fahmi merasakan kebahagiaan saat melihat senyum lepas yang di tunjukkan Nurlia.


Berulang kali Nurlia mengucapkan terima kasih dan tidak segan segan mencium pipi Fahmi sebagai ucapan terima kasih.


Fahmi selalu tersipu dan memegang pipi yang sebelumnya sudah di cium oleh Nurlia.


"Alika benar. Jika aku menjalani ini dengan ikhlas, semua akan terasa mudah dan indah,"


Tiga hari sudah Nurlia dan Fahmi menghabiskan waktu bersama dengan mengunjungi setiap tempat wisata yang ada di Swiss.


Mereka lebih terlihat sebagai dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.


Senja terlihat di salah satu bagian kota indah Swiss.


"Nurlia, terima kasih karena sudah memberikan kesempatan aku untuk ..."


"Aku yang berterima kasih karena Mas sudah mau menerima aku menjadi istri Mas," ucap Nurlia yang langsung memotong pembicaraan dari Fahmi.


Untuk beberapa saat, keduanya saling berpandangan hingga tanpa sadar Fahmi terhipnotis dengan kecantikan yang di miliki oleh Nurlia.


Subhanallah, ternyata selama ini aku menyia-nyiakan keindahan bidadari yang di kirimkan Allah untuk aku.


"Mas, kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Nurlia yang mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Fahmi.


"Aku mencintaimu, kekasih halalku."


Deg !!!


Keduanya kembali bertatapan dengan mesra hingga kedua bibir mereka bertemu.


Ahh...


Bersama tenggelamnya senja, kedua insan yang tidak pernah bersentuhan itu kini saling menyatu.


Malam harinya, saat kembali ke hotel. Situasi berbeda di rasakan oleh keduanya.


Rasa canggung tiba tiba menghampiri keduanya, hingga saat Nurlia kesulitan membuka gamis yang dia kenakan karena resletingnya tersangkut, membuat Fahmi memberanikan diri masuk ke ruang ganti dan membantu Nurlia.


"Ijinkan aku membantu kamu," ucap Fahmi.


Nurlia hanya menganggukkan kepala tanda dia setuju, entah kenapa rasa canggung semakin di rasakan oleh keduanya..


Sraakkk !!


Tarikan yang keras membuat resleting rusak dan gamis berbahan dasar satin itu terjun bebas ke lantai.


Nurlia melotot menyadari dirinya hanya mengenakan singlet dan celana pendek.


Fahmi tersenyum melihat kegugupan yang di rasakan Nurlia, tangan nya mulai jail menarik tali singlet yang di kenakan Nurlia.


"Mas," lirih Nurlia.


"Ayo kita jadikan ikatan ini lebih nyata,"


Fahmi memutar tubuh Nurlia dan menggendongnya menuju tempat tidur.


Selanjutnya, hanya mereka yang mempunyai suami/istri yang tahu apa yang terjadi pada Nurlia dan Fahmi.


Benar-benar malam yang indah, Nurlia yang berdiri didepan gorden dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya, tersenyum sambil membuka sedikit tirai untuk melihat apakah matahari sudah keluar dari tempat persembunyiannya.


Nurlia benar-benar tidak menyangka jika dia akan sampai pada titik ini, titik yang selalu menjadi doa Nurlia.


"Mas..." lirih Nurlia saat menyadari ada tangan yang melingkar di peluknya.


Kecupan hangat mendarat di bahu mulus Nurlia. Fahmi memutar tubuh Nurlia, menatapnya dengan penuh cinta.


Kecupan hangat kembali mendarat di seluruh wajah Nurlia. Tidak terkecuali bibir mungil Nurlia.


"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi suami yang sesungguhnya." ucap Fahmi dengan penuh cinta.


"Terima kasih juga karena sudah memberikan malam yang indah untukku,"


"Kamu tahu, Nurlia."


"Apa?"


"Dirimu sudah membuat aku candu,"


"Maksudnya?"


"Aku ingin mencicipi kamu lagi," bisik Fahmi yang membuat Nurlia tersipu.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fahmi membawa Nurlia kembali memasuki surga dunia.


Sisa hari yang tersisa selama jadwal liburan, digunakan Fahmi berada di dalam kamar.


Rupanya api cinta sudah membakar Fahmi sehingga untuk keluar memesan makanan saja, Fahmi tidak mengijinkan Nurlia untuk pergi.


"Anggap saja ini adalah penebusan dosa karena di awal pernikahan, aku bersikap tidak baik kepada kamu," jawab Fahmi saat Nurlia bertanya kenapa Fahmi tidak mengijinkan Nurlia pergi.


'Penebusan dosa'


Dua kata yang selalu bisa membuat Nurlia tersipu malu, bahkan saat di kamar mandi.


Tunggu, apa ini?


Nurlia membuka handuk kimono dan mendapati seluruh tubuhnya di penuhi tanda cinta.


"MAS FAHMI..!"


Fahmi yang baru saja selesai berganti pakaian tersenyum saat mendengar suara teriakan Nurlia. Hingga tanpa sadar Nurlia berjalan keluar kamar mandi dengan hanya menutupi tubuhnya dengan lilitan handuk.


"Wow, sayang. Apa kita tidak jadi pergi hari ini?" tanya Fahmi saat melihat Nurlia ada di hadapannya.


"Lihat, kenapa Mas membuat semua tubuhku berwarna merah?"


"Apa kamu mau lagi? Penampilan kamu yang seperti ini memicu adrenalin dalam darahku,"


Nurlia yang menyadari jika dia hanya menggunakan lilitan handuk, memutuskan untuk segera pergi dari hadapan Fahmi.


"Eits, mau kemana?" tanya Fahmi yang memegang tangan Nurlia.


"Hehe, mau ambil baju. Kita akan pergi kan," gugup Nurlia.


"Sepertinya aku harus kembali melakukan penebusan dosa,"


"Apa?"


"Ayo melakukan Penebusan Dosaku," bisik fahmi yang kemudian membopong Nurlia seperti membawa karung berlian.


"MAS FAHMI !!!!"


Ya, kata penebusan dosa sudah membuat Nurlia tidak bisa lagi menikmati indahnya negara Swiss.


----------------


Ini adalah hari pertama di awal bulan, Nurlia di rawat di rumah sakit sesaat setelah kembali dari Swiss karena...


Tidak perlu di jelaskan, bahaya jika di jabarkan hari ini.


"Aku akan segera kembali, cepat sembuh karena jika kamu seperti ini terus. Bagaimana bisa aku kembali melakukan penebusan dosa," goda Fahmi.


"Mas Fahmi," ketus Nurlia.


CUP..


"Aku pergi dulu, aku janji akan segera kembali setelah meeting,"


Fahmi pergi setelah mencium kening Nurlia dan mendapatkan ijinnya.


"Fahmi, kamu sudah kembali?" tanya Alika yang secara tidak sadar bertemu dengan Fahmi saat akan masuk ke dalam lift.


"Emm, ya. Aku baru kembali tadi malam,"


"WOw, lalu apa yang kamu lakukan di rumah sakit ini?"


"Istriku di rawat di sini tadi pagi,Hehe.."


"Why? Apa kamu melakukan sesuatu yang buruk sampai dia harus di rawat?" tanya Alika.


"Emmm, itu..." Fahmi terlihat mengusap tengkuknya.


"Fahmi. Kamu tidak menyakitinya, kan?"


"Tidak, jangan khawatir."


"So..."


"Ya mungkin aku terlalu bersemangat dalam melakukan penebusan dosa. Sehingga Nurlia jadi...."


"Tunggu, penebusan dosa? Aku tidak mengerti,"


Fahmi terlihat membisikan sesuatu hingga membuat Alika melotot dan memukuli Fahmi.


"Dasar om om genit."


...----------------...


...----------------...


...----------------...


----------------