
"Alika, Apa maksud kamu dengan mengatakan jika kedatangan kamu menemui aku, hanya ingin mengatakan jika kamu sudah rela melepaskan aku?"
"Fahmi, aku tahu kita saling mencintai dan rasanya sangat sulit menerima kenyataan jika hubungan kita harus berakhir."
"Alika, tunggu." Fahmi segera memotong pembicaraan dari Alika dan membalikkan tubuh Alika yang berdiri membelakangi dirinya.
"Alika, Jangan katakan jika kamu sudah tidak akan lagi berjuang untuk hubungan kita." Fahmi menatap Alika dengan tatapan sendu dan penuh harap.
"Maafkan aku, Fahmi. Aku rasa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Walaupun kita disatukan dalam perasaan cinta."
"Tidak, aku akan tetap memperjuangkan hubungan kita sampai kamu resmi menjadi milikku. Ingat kan, jika kita pernah berjanji untuk memperjuangkan hubungan ini walaupun ada tembok besar yang menghalang."
"Fahmi, kamu tidak boleh egois begini. Sifat kamu yang seperti ini akan menyakiti istri kamu. Nurlia."
"Aku egois? seharusnya aku yang berkata seperti itu kepada kamu, Alika."
"Aku?" Alika menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Fahmi.
"Alika, tidakkah kamu memikirkan perasaanku saat kamu hilang bagai ditelan bumi dan aku tidak bisa menemukan keberadaan."
"Aku butuh waktu untuk memahami semua ini. Maafkan aku." Alika menunduk, Fahmi mengangkat dagu Alika.
"Maafkan aku, Alika. Aku sudah membuat kamu berada di titik paling menyedihkan dalam hidup kamu. Tapi aku berjanji jika hal itu tidak akan terulang lagi."
"Apa maksud kamu?"
"Aku akan membawa kamu ke keluargaku dan aku akan menikahi kamu sekarang juga."
"Kamu sudah gila?" ketus Alika sambil menghempaskan tangan Fahmi.
"Alika..."
"Fahmi, aku menemui kamu untuk mengatakan jika aku sudah rela jika hubungan kita harus berakhir. Itu artinya, kamu harus mulai menerima kenyataan jika sekarang kamu sudah memiliki istri dan kamu harus memberikan cinta yang sebelumnya adalah milikku kepada istri kamu."
"Kamu sudah gila, Alika."
Fahmi berjalan menuju balkon rumah dengan perasaan kesal.
Ya, Bagaimana Fahmi tidak merasa kesal jika wanita yang sangat dia cintai tidak lagi ingin memperjuangkan hubungan mereka yang sempat kandas.
Alika menghela nafas panjang sambil menyeka air matanya, dia tahu ini adalah keputusan terberat dan tersulit yang harus diambil dan juga yang harus diterima oleh Fahmi.
Alika berjalan mendekati Fahmi, setelah memastikan bahwa tidak ada air mata yang mengalir di pipinya.
"Fahmi, Aku tahu kamu masih sangat mencintai aku dan berharap bahwa hubungan kita masih bisa dilanjutkan. Tapi pernyataannya sudah berbeda, kamu harus menerima Nurlia sebagai istri kamu."
Fahmi berbalik badan dan memeluk Alika.
"Bagaimana bisa aku mencintai wanita lain sementara kamu masih menjadi satu-satunya yang berada di hatiku."
Alika terdiam, diam seperti patung. Membiarkan Fahmi memeluknya.
"Balas pelukan ku, Alika. Aku mohon," pinta Fahmi.
Walaupun ragu, Alika dengan perlahan memeluk Fahmi.
"Tolong Jangan pernah lagi pergi dari hidupku karena aku tidak sanggup untuk jauh darimu," bisik Fahmi.
Nurlia meneteskan air mata saat dia melihat dan mendengar percakapan yang terjadi antara Fahmi dan juga Alika.
Nurlia segera naik ke atas begitu dia melihat mobil Fahmi sudah berada di rumah, Nurlia mengira jika Fahmi pulang untuk makan siang bersama dengan dirinya.
Akan tetapi, kenyataan yang diterima Nurlia justru kenyataan yang menyakitkan.
Nurlia akhirnya memilih kembali turun dan memutuskan untuk menunggu di luar rumah seolah-olah nantinya saat Fahmi dan Alika keluar, Nurlia terlihat baru saja datang.
"Fahmi, sebaiknya aku segera pergi sebelum istri kamu pulang. Rasanya tidak enak jika istri kamu melihat kita sedang berduaan. Apalagi sedang berpelukan seperti ini." Alika berusaha melepaskan pelukannya, namun Fahmi justru semakin mempererat pelukannya.
"Fahmi, aku mohon."
Fahmi akhirnya melepaskan pelukannya dan menatap Alika.
Alika tersenyum dan mengusap lembut pipi Fahmi.
"Aku tahu kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Kamu pasti bisa menerima Nurlia dan memberikan cinta serta perhatian kamu kepadanya."
"Aku harus pergi..," ucap Alika setelah ponselnya berdering dan melihat siapa yang menelpon.
"Bisa antarkan aku pulang?" tanya Alika pada Fahmi yang berdiri mematung.
"Fahmi?" panggil Alika.
"Maafkan aku, Alika. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi."
"Apa maksud kamu?" tanya Alika.
"Ayo, aku akan membawa kamu menemui keluarga ku." Fahmi segera mengandeng tangan Alika dan membawa nya menuruni tangga.
"Tidak, Fahmi. Kamu tidak boleh melakukan ini."
"Kenapa tidak? mereka tahu jika wanita yang aku cintai hanya kamu. Jadi aku rasa mereka tidak akan keberatan jika aku mengatakan ingin menikahi kamu."
"Nurlia...," lirih Fahmi.
"Assalamualaikum, mas." Nurlia tersenyum namun Fahmi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Walaikumsalam." Alika membalas salam Nurlia dan tersenyum padanya.
"Ada tamu, mas?" tanya Nurlia basa basi.
Alika melihat Fahmi masih mengalihkan pandangannya ke arah lain, itu membuat Alika merasa tidak enak pada Nurlia.
"Halo, saya adalah teman ..."
"Dia wanita ku!" ketus Fahmi yang membuat Alika terkejut. Sementara Nurlia hanya tersenyum karena dia sudah lebih dulu mengetahuinya.
"Fahmi. Kamu benar-benar keterlaluan." Ketus Alika sambil berlalu pergi meninggalkan Fahmi.
"Alika... Alika." Teriak Fahmi.
"Ini semua gara-gara kamu. Coba saja kamu tidak pulang, kejadiannya tidak akan seperti ini," ketus Fahmi pada Nurlia sebelum Fahmi memutuskan untuk mengejar Alika.
"Jika kamu sudah memiliki wanita yang sangat kamu cintai. Kenapa kamu menikahi aku, Mas." Lirih Nurlia sambil melihat kepergian Fahmi.
Tak lama kemudian, sebuah mobil putih memasuki rumah.
"Assalamualaikum,"
"Walaikumsalam. Sinta?" Nurlia terkejut melihat kedatangan sepupu Fahmi.
"Kakak, apa kabar?" Sinta memeluk Nurlia.
"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah. Kebetulan aku lewat sini. Jadi aku mampir. Bolehkan?" Sinta tersenyum sambil melihat Nurlia.
"Tentu saja boleh. Ayo masuk."
Nurlia dan Sinta langsung berjalan menuju dapur dan Sinta yang duduk di kursi dapur membuat Nurlia segera mengambilkan makanan dan juga minuman yang ada di dalam kulkas.
Basa basi terjadi antara Sinta dan Nurlia. Memang, diantara keluarga Fahmi hanya Sinta yang bersikap baik kepada Nurlia.
"Sinta, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tentu saja."
"Untuk pertanyaanku ini kamu hanya boleh menjawab iya atau tidak. Apa kamu bersedia?" tanya Nurlia.
"Hahaha, kakak ini lucu sekali. Memangnya Kakak mau bertanya apa sehingga aku hanya perlu menjawab iya atau tidak?
"katakan saja kamu bersedia menjawab atau tidak?"
"Insyallah..," ucap Shinta sambil terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ayo, tanyakan apa saja yang ingin Kakak ketahui."
Nurlia menghela nafas panjang kemudian mulai memberikan pertanyaan basa basi seputar kedekatan Fahmi dan juga Sinta yang memang terlihat sangat dekat dibandingkan dengan kedekatan Fahmi dan juga dua adiknya.
"Jika kamu begitu dekat dengan Mas Fahmi itu artinya kamu mengetahui tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Mas Fahmi?" tanya Nurlia.
"Ya."
"Apa Kamu tahu jika sebelumnya mas Fahmi memiliki wanita yang sangat dia cintai?"
"Ya."
"Apa hubungan mereka kandas karena mas Fahmi harus menikahi aku?"
"Ya..."
Deg !!
Sinta yang sedari tadi makan langsung terdiam ketika menyadari jika dirinya telah membuat kesalahan.
Sinta memejamkan mata, menyadari kebodohannya yang begitu ceplas-ceplos saat sedang makan.
"Apa kamu tahu alasan mas Fahmi menikahi aku?"
"Kakak..." lirih Sinta.
"Iya atau tidak?" tanya Nurlia.
"Iya," Sinta menjawab dengan wajah menunduk, sementara Nurlia memejamkan mata. Berusaha agar airmata tidak jatuh membasahi pipinya.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...