
"Terima kasih, Alika. Kamu sudah merawat Nurlia dengan baik,"
"Istrimu,"
"Ya, terima kasih karena sudah merawat istri ku dengan baik,"
Alika tersenyum setelah Fahmi meralat kata kata nya.
Kedua nya terlihat bercanda tawa, sebenernya percakapan diantara mereka tidak lepas dari ungkapan terima kasih Fahmi karena sudah membantu merawat Nurlia, walaupun dalam menjalankan tugasnya, Alika memakai masker untuk menghindari Nurlia mengetahui tentang dirinya.
Sementara Alika, dia juga hanya memberikan tips kepada Fahmi untuk menjaga agar hubungannya dengan Nurlia tetap harmonis dan meminimalisir keraguan yang mungkin saja akan muncul di kemudian hari.
Terutama keraguan dan ketidakpercayaan Nurlia terhadap Fahmi.
Begitu indah mencintai walaupun tidak saling memiliki, dengan melihat kebahagiaan dari orang yang kita cintai, rasanya diri sendiri juga ikut merasa bahagia. Belum tentu juga, jika aku bisa menikah dengan Fahmi. Fahmi akan sebahagia ini.
Percakapan diantara mereka masih berlanjut. Hingga, keduanya tidak tahu jika ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka dengan mata berkaca-kaca, setelah sebelumnya ada kompor yang membuatnya kembali merasa di lema.
Nurlia.
Ya, orang yang sedang melihat Fahmi dan Alika dengan mata berbinar-binar adalah Nurlia.
Bagaimana bisa tiba-tiba Nurlia ada disana??
Ceritanya ada di beberapa jam lalu..
Nurlia yang baru saja keluar dari kamar mandi, terkejut melihat kedatangan Ibu Fahmi, yang merupakan mertuanya sendiri.
"Ibu, kapan Ibu sampai?" tanya Nurlia sopan sambil berjalan perlahan dengan tangan mendorong tiang infus.
"Tidak usah basa-basi. Aku kesini cuma ingin bertanya, apa benar kamu dan Fahmi berlibur ke Swiss?" tanya Ibu dengan nada ketus.
"Apa Mas Fahmi tidak menceritakan kepada Ibu perihal ini?"
"Cukup jawap Iya atau Tidak."
Nurlia menghela nafas panjang sebelum dia mengiyakan apa yang menjadi pertanyaan dari ibu mertua kepadanya.
"Lalu, apa yang kalian lakukan disana?" kini nada suara Ibu mulai melemah namun masih dengan intonasi yang cukup ketus.
"Apa lagi yang akan kita lakukan selain menghabiskan waktu bersama dan juga mendatangi setiap destinasi wisata yang ada di sana."
"Tidak, maksud ibu apakah kamu dan Fahmi melakukannya?"
"Apa sepasang suami istri tidak boleh melakukan hal itu ketika mereka sedang menghabiskan waktu bersama, Bu?" tanya Nurlia yang sudah duduk di tempat tidurnya. Sementara Ibu, masih bertahan dengan berdiri dan melipat kedua tangan.
"Haiss, Apa yang kamu lakukan dengan putraku sehingga dia mau melakukannya dengan kamu?"
"Aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin, Mas Fahmi sudah mengerti bahwa perasaan yang ada untuknya adalah perasaan cinta dan kasih sayang."
"Nurlia, Nurlia. Jangan kira Fahmi akan benar-benar mencintai kamu karena sebenarnya Fahmi sudah memiliki kekasih dan akan segera menikahinya dalam waktu dekat ini."
Deg !!
"Fahmi, menikahi kamu hanya karena hutang-budi keluarga kami kepada keluarga kamu. Apa kamu tahu, betapa terpuruknya Fahmi saat dia mengetahui dia akan menikah dengan kamu. Wanita rendahan, yang bahkan tidak menyerempet sedikitpun kepada istri idaman yang diinginkan oleh Fahmi."
"Tidak, Bu. Mas Fahmi sudah meminta izin untuk memulai hubungan ini dari awal. Karena itulah kami berdua menghabiskan waktu bersama ke Swiss."
"Lalu? kamu percaya begitu saja?"
"Mas Fahmi memang tidak menceritakan apapun tentang wanita yang dulu dia cintai. Mas Fahmi hanya...."
"Jangan terlalu senang dengan sikap Fahmi yang sekarang menjadi perhatian dengan kamu. Bisa saja itu hanya sementara demi menghibur kamu yang sudah tidak memiliki siapapun," ketus Ibu yang langsung memotong pembicaraan dari Nurlia.
"Fahmi dan Alika adalah pasangan kekasih, mereka saling mencintai dan ibu pasti akan membuat keduanya bersatu dalam ikatan pernikahan."
"Bu, mas Fahmi sudah menjadi suami dari Nurlia. Bagaimana bisa ibu akan menikahkan Mas Fahmi dengan Alika?"
"Terserah apa kata kamu, yang jelas kebahagiaan putraku, Fahmi. Ada pada Alika. Aku akan melakukan apapun untuk membuat keduanya menjadi pasangan suami istri. Termasuk menyingkirkan kamu,"
Air mata yang berusaha di tahan oleh Nurlia, tidak bisa lagi di bendung. Pipi mulus itu kini sudah basah oleh air mata.
"Jika kamu tidak percaya dengan apa yang aku katakan, pergilah ke kantin rumah sakit. Kamu akan melihat Fahmi ketika dia benar-benar bahagia."
----------------
"Sayang, aku sudah berkonsultasi dengan dokter dan dokter memperbolehkan kamu untuk pulang besok pagi." Fahmi yang masuk dan langsung memeluk Nurlia dari belakang.
Nurlia berusaha untuk menghilangkan jejak air mata di pipinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Fahmi yang merasa jika Nurlia tidak sedang baik-baik saja.
Fahmi memutar tubuh Nurlia dan mengangkat dagunya.
"Kamu menangis?" tanya Fahmi.
"Tidak, air mata ini refleks jatuh saat kamu memeluk ku,"
"Kenapa? apa ada yang salah dengan pelukan ku?"
"Ya,"
"Katakan apa yang salah?" tanya Fahmi dengan nada serius.
"Pelukan kamu terlalu nyaman, Mas. Sehingga aku selalu ingin di peluk oleh mas."
Fahmi yang tadi sudah berwajah tegang dan khawatir kini mulai melunak dan tersenyum sambil mencium seluruh wajah Nuria dan kembali memeluknya.
"Aku berjanji akan memeluk kamu selalu dan seperti ini."
Apakah aku bisa memegang janji kamu ini, mas. Kenapa aku harus mendengar sesuatu yang menyakitkan ketika kamu baru saja memberikan kasih sayang yang selalu aku nantikan dari seorang suami?
Di balik pintu itu, Alika tersenyum melihat Fahmi yang sedang memeluk Nurlia dengan erat.
Alika kemudian memerintahkan kepada perawat untuk kembali nanti saja. Walaupun sebenarnya itu sudah masuk jam pemeriksaan terhadap Nurlia.
Pagi harinya...
Fahmi dan Nurlia sudah pulang ke rumah, dimana sudah ada sang kakak dan juga orang tua Fahmi yang menyambut kedatangan Nurlia.
Nurlia merasa bahagia ketika melihat kakaknya. Namun, bahagia itu hilang tak kala melihat sang Ibu mertua yang seolah-olah memberikan kode bahwa sebentar lagi Nurlia akan dimadu atau di ceraikan karena Alika.
"Nurlia, apa kamu baik-baik saja?" tanya sang kakak saat Fahmi ke depan rumah untuk mengantarkan kepulangan orang tua nya.
"Aku baik-baik saja."
"Ibu pasti akan senang saat mengetahui jika kamu sudah menjadi istri sepenuhnya dan Fahmi sudah melakukan tugasnya sebagai seorang suami kepada kamu,"
"Apa maksud kakak?" tanya Nurlia.
"Nurlia, Jangan kira Kakak tidak tahu apa yang terjadi pada rumah tangga kamu. Kakak mengetahui semuanya dan sekarang kakak bahagia karena kamu sudah mendapatkan kasih sayang yang penuh dari suami kamu."
Tunggu, apa kakak benar-benar mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tanggaku? apa Kakak juga mengetahui bahwa sebenarnya aku dinikahi hanya karena hutang budi?.
"Kakak sudah mencari tahu perihal masa lalu Fahmi. Kemudian Kakak menemukan fakta bahwa Fahmi dan masa lalunya sudah melupakan kisah mereka dan siap untuk memulai kisah mereka yang baru. Yaitu sebagai seorang sahabat." Nurlia tersenyum saat sang kakak memegang kedua pipinya dan berdoa untuk kebahagiaan rumah tangga nya.
Ternyata kakak tidak tahu perihal alasan di balik pernikahan ini. Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku memberitahukan Kakak mengenai apa yang baru saja aku dengar dari ibu mertuaku?
Itukan alasan dibalik sikap cuek dan juga ketidakadilan yang selalu aku terima saat pertama kali aku menjadi menantu di keluarga itu?
...----------------...
...----------------...
...----------------...