
Suasana pemakaman berlangsung dengan lancar. Tidak banyak yang datang kecuali para tetangga dan juga teman dari almarhum , karena memang keluarga Nurlia tidak memiliki terlalu banyak saudara.
Hanya Nurlia yang tidak hadir karena masih pingsan. Alika terlihat menghadiri pemakaman Ibu Nurlia. Hanya saja, Alika berbaur dengan orang agar keluarga Nurlia tidak menganggap jika Alika memiliki hubungan dengan Fahmi.
"Alika, kamu bahkan datang ke pemakaman Ibu Nurlia. Wanita yang sudah membuat hubungan kita berakhir. Kamu memang wanita luar biasa," lirih Fahmi sambil terus melihat ke arah Alika.
Alika melihat jam tangannya, dia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan memeriksa kondisi Nurlia.
Fahmi yang melihat Alika meninggalkan pemakaman, memilih untuk pergi menyusulnya.
"Alika," panggil Fahmi saat Alika akan masuk ke dalam mobil.
"Fahmi, kenapa kamu menyusul ku?" tanya Alika.
"Aku hanya ingin berterima kasih kepada kamu. Kamu adalah wanita terhebat yang pernah aku temui."
Alika tersenyum dan mengelus pipi Fahmi.
"Aku harus pergi untuk melihat keadaan istri kamu."
"Alika, tidakkah kamu merasa cemburu pada Nurlia?"
"Fahmi, cinta sejati adalah cinta yang tidak memaksakan keinginan pribadi untuk bersama."
"Aku harus pergi," lirih Alika.
Fahmi membukakan pintu mobil untuk Alika, Alika membunyikan klakson sebagai tanda dia akan pergi.
Di rumah sakit, Alika duduk setelah selesai memeriksa keadaan Nurlia.
Sebenernya, Nurlia sempat sadar. Namun, karena Nurlia sangat histeris, membuat dokter terpaksa memberi Nurlia obat penenang.
"Sudah tujuh jam Nurlia tertidur. Sebentar lagi efek obat akan hilang. Sebaiknya aku meminta Fahmi datang untuk menemani Nurlia."
Alika kemudian mengirimkan pesan kepada Fahmi agar segera pergi ke rumah sakit, setelah keadaan di rumah duka memungkinkan dirinya untuk bisa datang.
"Fahmi, apa yang kamu pikirkan?" tanya kak Andre.
"Tidak ada, aku hanya sedang memikirkan Nurlia."
"Pergilah. Aku tahu ini sangat sulit untuk di lalui. Mengingat jarak kematian antara ayah dan ibu yang cukup dekat. Jika ada seseorang yang bisa menghibur Nurlia. Itu adalah kamu."
"Bagaimana jika ternyata aku tidak bisa menghibur Nurlia?" Fahmi kini balik bertanya pada Andre. Sang kakak ipar.
"Pasti bisa. Suami dan istri yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan, pastilah akan saling melengkapi satu sama lain. Akan saling menguatkan satu sama lain," terang Andre yang membuat Fahmi merasa tersindir.
"Kakak yakin, kamu akan bisa menghibur dan menguatkan Nurlia. Bantu dia untuk melewati semua ini. Sebab, tidak ada yang lebih mengenal Nurlia selain kamu, suaminya," imbuh kak Andre.
Maafkan aku, kak Andre. Sebenarnya aku sendiri belum mengenalinya. Aku terlalu fokus pada ambisi dan juga kekesalan ku. Tapi, kak Andre jangan khawatir. Setelah ini aku berjanji akan menjadi suami yang baik untuk Nurlia.
Setelah berpamitan, Fahmi,i bergegas pergi untuk menemani Nurlia.
"Fahmi, kamu mau kemana?" tanya ibu yang tidak sengaja melihat Fahmi keluar dari rumah keluarga Nurlia.
"Ibu, kenapa ibu baru sampai? bukankah seharusnya ibu ada di pemakaman?"
"Haduh, kamu ini. Ditanya balik tanya. Kamu mau kemana?"
"Fahmi mau ke rumah sakit. Alika baru saja mengirimkan Fahmi pesan yang mengatakan jika kemungkinan sebentar lagi Nurlia akan siuman."
"Ya sudah sana cepat temui dia. Mana tahu ini sudah waktunya dia tahu alasan kenapa dulu kamu menikahi dia."
"Ibu..."
"La benar to. Sekarang kedua orang tua Nurlia sudah mati. Tidak ada lagi rasa hutang budi. Anggap saja semua sudah hilang di bawa mati."
"Ibu, yang namanya hutangbudi sebenernya tetap ada."
"Halah tidak usah sok bijak. Ibu tahu sebenarnya dalam hati kamu sudah tidak tahan untuk bisa bersama dengan Alika. Kamu tenang saja. Setelah ini, ibu akan membujuk papa agar mengijinkan kamu menikahi Alika."
"Sebaiknya Fahmi segera ke rumah sakit,"
"Ya sudah sana. Jangan lupa, kirim salam ibu pada Alika, ya."
Fahmi hanya melambaikan tangan ke atas sambil terus berjalan tanpa melihat ke belakang.
"Aneh, kenapa aku tidak lagi merasa bahagia saat mendengar kata aku akan bersatu dengan Alika? bukankah itu yang aku inginkan selama ini?" lirih Fahmi dalam perjalannya menuju rumah sakit.
"Alika..." Fahmi menghampiri Alika yang terlihat duduk di kursi tidak jauh dari ranjang Nurlia.
"Fahmi, syukurlah kamu datang tepat waktu."
"Maaf, tadi sempat berbicara dengan ibu."
"Terima kasih, Alika."
"Sama sama, jadilah suami yang baik. Hibur istri kamu karena dia sangat terluka sekarang." Alika tersenyum pada Fahmi sebelum meninggalkan ruangan Nurlia.
Sepeninggalan Alika, Fahmi berjalan mendekati Nurlia dan duduk di sampingnya.
"Nurlia, aku tahu beberapa bulan ini aku tidak bersikap baik terhadap kamu. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya. Aku akan mencoba untuk mengulang semuanya dari awal."
...----------------...
Hari-hari Nurlia rupanya lebih sulit dari yang di prediksi Fahmi.
Fahmi harus ekstra sabar menghadapi Nurlia yang kadang histeris dalam tidurnya. Satu pekan rupanya tidak cukup untuk Fahmi bisa menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa sedih yang di alami Nurlia.
"Bagaimana jika kamu coba membawa Nurlia pergi berlibur." Ide tiba-tiba muncul dari pikiran Alika saat Fahmi bertemu dengan Alika di salah satu restoran, tempat Fahmi akan melakukan pertemuan dengan rekan bisnis.
"Menurut kamu itu akan mengurangi rasa sedih yang dia alami?" tanya Fahmi.
"Coba saja, bukankah selama ini kalian tidak pernah pergi kemanapun."
"Kamu benar,"
"Jika kamu mau, aku akan mengatur kepergian kamu dengan Nurlia."
"Terima kasih, Alika. Aku tidak tahu harus dengan cara apa, untuk menyampaikan rasa terima kasihku," ucap Fahmi.
"Cukup dengan membuat Nurlia bahagia, dengan menciptakan kisah cinta yang lebih indah dari kisah cinta kita,"
"Maaf, Alika. Jika itu yang kamu inginkan. Aku tidak bisa mewujudkannya, karena sampai kapanpun kisah cinta kita adalah yang terbaik,"
Alika tersenyum. Senyuman manis yang sedari tadi ditunggu oleh Fahmi.
"Baiklah kalau begitu aku harus kembali ke rumah sakit," ujar Alika.
"Tunggu, aku tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih kepada kamu?"
"Bagaimana?' tanya Alika.
"Apa kamu ingat dengan cincin yang kamu pesan untuk pernikahan kita,"
"Iya.."
"Cincin itu sudah jadi dan aku akan memberikannya pada kamu," ujar Fahmi.
"Tidak perlu, berikan saja pada Nurlia ."
"Di cincin itu terdapat nama kita. Bagaimana bisa aku akan memberikannya pada Nurlia." Terang Fahmi.
"Baiklah kalau begitu, dimana cincin itu? Apa kamu membawa nya?" tanya Alika sambil tersenyum.
"Tentu, aku selalu membawa nya. Jadi saat aku bisa bertemu dengan kamu, aku bisa memberikannya kepada kamu."
"Kalau begitu, cepat berikan kepadaku. Aku tidak sabar untuk melihat seperti apa cincin itu,"
"Alika, ijinkan aku berlutut dan memasangkan cincin itu di jari manis kamu. Seperti yang selalu kamu inginkan,"
"Tapi..." Alika terlihat ragu mengingat mereka sekarang sedang berada di sebuah restoran.
"Aku mohon. Cincin itu adalah lambang cinta kita. Biarkan aku yang memakaikannya untukmu,"
"Baiklah, tapi kamu harus cepat. Aku takut ada seseorang yang salah mengartikan ini,"
Fahmi tersenyum dan langsung bangkit dari tempat duduknya dan berlutut di hadapan Alika.
"Ada apa?" tanya Alika saat melihat Fahmi merogoh saku jasnya.
"Cincin. Sepertinya terjatuh saat aku mengambil ponsel."
Tiba tiba sebuah tangan memberikan cincin itu. Sontak saja membuat Fahmi dan Alika terkejut karena tangan yang memberikan cincin itu adalah.....
.
.
.
.
"Nurlia...." lirih Fahmi, Sementara Alika terkejut melihat Nurlia.