
Di sebuah hotel berbintang lima, tepatnya di salah satu kamar VVIP terlihat seorang wanita sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan memakai pakaian dinas malam di kamar mandi.
Walaupun sebenarnya dirinya risih dengan pakaian tipis yang sangat memperlihatkan setiap inci lekukan tubuhnya. Namun, wanita cantik dengan kulit putih dan rambut ikal panjang itu berusaha untuk tetap tenang.
"Bismillah, aku bisa. Ayo, Nurlia. Kamu pasti bisa."
Nurlia, wanita berusia 25 tahun yang baru saja resmi menjadi istri dari Fahmi Amhar. Anak pertama dari keluarga terpandang di kota.
Walaupun pernikahan yang terjadi bukan karena ikatan cinta diantara keduanya. Tetapi, Nurlia berusaha untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri di malam pertama pernikahan mereka.
Nurlia ingin memberikan kesan terbaik mengingat pertemuan sebelum pernikahan menunjukkan jika lelaki yang sudah resmi meminangnya itu, terlihat juga menyukai dirinya.
Dengan perlahan dan tangan gemetar, Nurlia memutar kunci kamar mandi dan membuka nya. Berjalan dengan langkah lambat menuju sosok pria yang terlihat sudah meninggalkan jas berwarna abu-abu.
"Mas..." Nurlia memanggil laki-laki yang berdiri di balkon kamar hotel itu.
Fahmi. 30 tahun. Seorang CEO yang baru saja menduduki dan menjadi pemimpin di perusahaan keluarga yang semakin berkembang pesat.
Fahmi menoleh dan tentu saja dia terkejut dengan penampilan Nurlia yang sekarang sudah memakai lingerie.
Dengan cepat, Fahmi menutup pintu yang menghubungkan kamar dengan balkon serta menutup tirai, kemudian menarik Nurlia dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Brak !!!
Terkejut? Tentu saja. Bahkan Nurlia merasakan sakit akibat dorongan Fahmi.
"Mas, tidak bisakah kamu memulai semua ini dengan lembut?" ucap Nurlia yang merasa apa yang dilakukan Fahmi terlalu kasar di malam pertama mereka menjadi pasangan suami istri.
"Lembut, ha?" Fahmi menyunggingkan senyumnya. Membuat Nurlia merasa sangat tidak nyaman.
Fahmi mendekatkan wajahnya ke wajah Nurlia, semakin dekat hingga Nurlia memutuskan untuk memejamkan mata. Dalam hatinya mengucap doa sebelum melakukan hubungan suami istri.
Cukup lama Nurlia memejamkan mata, namun dia tidak merasa Fahmi menyentuh dirinya. Nurlia membuka mata dan dia melihat Fahmi menatapnya tajam.
"Kenapa kamu memejamkan mata? apa kamu berharap aku akan menyentuhmu?" ketusnya dengan nada dingin.
Deg !!
Fahmi bangkit dari posisinya, mengambil selimut dan melemparkan selimut itu pada Nurlia.
Nurlia tentu saja merasa heran, pasalnya sikap yang ditunjukkan Fahmi berbanding terbalik dengan sikap sebelum pernikahan.
"Jangan berharap lebih, aku tidak mencintaimu. Pernikahan ini terjadi hanya karena...." Fahmi menggantung ucapannya lalu segera pergi meninggalkan Nurlia.
Brak !!
Nurlia kembali terkejut saat melihat Fahmi membanting pintu kamar dan pergi meninggalkannya seorang diri.
Nurlia bangkit dari tempat tidurnya dan segera berjalan untuk mengganti pakaiannya, sebelum dia memutuskan untuk pergi mencari keberadaan Fahmi guna bertanya perihal sikapnya yang dingin.
Nurlia menemukan Fahmi sedang berada di salah satu cafe yang ada di hotel itu, Fahmi terlihat sedang meminum minuman beralkohol.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu tidak kembali ke kamar dan beristirahat saja." ketus Fahmi saat menyadari Nurlia duduk di sebelahnya.
"Bagaimana aku bisa beristirahat dengan tenang, jika suamiku sendiri sedang berada di sini dan menghabiskan satu botol minuman beralkohol."
"Aku bukan suami kamu, camkan itu." untuk sesaat Nurlia terdiam, tatapannya kosong, hatinya teriris.
"Nurlia, dengar. Sudah aku katakan kepadamu jangan pernah berharap lebih pada pernikahan kita."
"Tapi.."
"Pergilah."
"Apa kamu tidak akan menginginkannya malam ini?" tanya Nurlia.
"Tidak dan tidak akan pernah."
Deg !!
Nurlia tidak mempunyai pilihan lain selain pergi dari tempat itu dan menghabiskan malam pertamanya dengan menangis.
Beberapa hari di hotel, baik Nurlia maupun Fahmi tidak lagi bertegur sapa walaupun mereka masih berada dalam satu kamar yang sama.
"Besok kita akan pulang, mas akan lebih dulu tinggal di rumahku atau ke rumah mas?" tanya Nurlia saat mereka sedang makan pagi.
"Terserah."
Nurlia dan Fahmi pulang ke rumah Nurlia. Di sana sikap Fahmi kembali berbeda, tidak lagi seperti saat mereka ada di hotel.
"Alhamdulillah, ternyata Fahmi bener-bener pria yang baik. Ibu yakin dia akan menjadi imam yang baik untuk rumah tangga kamu," ucap Ibu setelah beberapa hari Nurlia dan Fahmi tinggal di sana.
Nurlia hanya tersenyum menanggapi perkataan sang ibu.
Ibu, ingin rasanya aku bercerita tentang apa yang terjadi di malam setelah pernikahanku dan Mas Fahmi.
"Besok kita tinggal di rumah keluarga ku, sampai rumah yang akan kita tempati selesai di renovasi." Ucap Fahmi sambil berdiri membelakangi Nurlia yang sedang menata tempat tidur di malam kedua mereka tinggal dirumah Nurlia.
"Baiklah."
"Ingat, aku bisa bersikap seperti ini di depan ibu kamu. Aku harap kamu juga bisa menjaga sikap saat berada di dalam keluarga ku."
"Apa maksud kamu dengan berbicara seperti itu, mas?" tanya Nurlia.
Nurlia hanya bisa menghela nafas saat Fahmi memilih pergi daripada menjawab pertanyaan darinya.
Malam itu nyatanya sama seperti malam sebelumnya, Fahmi memilih tidur di sofa padahal Nurlia sudah menyiapkan tempat tidur dengan pembatas ditengahnya.
Semoga besok semuanya akan kembali seperti sebelumnya.
Setidaknya itulah yang diharapkan Nurlia, sayangnya, harapan itu hanya tinggal harapan. Sebab, tidak ada sambutan hangat yang Nurlia terima saat dirinya pulang ke rumah Fahmi.
Tidak ada perlakuan istimewa, kedatangan Nurlia seperti iklan dalam keluarga Fahmi yang terdiri dari Ibu, Ayah dan kedua adik perempuan Fahmi.
"Nurlia, Kamu duduk di sana saja ya. Bibi sudah menyiapkan makanan kamu di kursi itu." Ucap Mila, yang merupakan ibu dari Fahmi sambil menunjuk ke arah tempat duduk yang sedikit berjarak dari tempat duduk yang lain di meja makan.
"Kenapa? apa aku tidak boleh bergabung bersama dengan kalian?" tanya Nurlia.
"Sudah, kamu jangan banyak tanya. Masih untung aku menerima kamu dan memberimu makan di rumah ini." ucapnya sambil tersenyum.
Walaupun merasa kecewa, Nurlia tidak punya pilihan lain selain ikut makan malam bersama dengan keluarga Fahmi. Walaupun dia sendiri yang duduk terpisah dengan segala jenis makanan yang juga terpisah.
"Mas, Kenapa aku tidak diizinkan untuk duduk di samping kamu? kenapa tempat dudukku diberi jarak dan juga makanan di bedakan?" tanya Nurlia saat Fahmi baru saja memasuki kamar.
"Nurlia, tolong. Aku merasa sangat lelah dan aku ingin cepat beristirahat."
"Mas?"
Fahmi tidak menghiraukan panggilan Nurlia dan memilih segera berganti pakaian dan langsung tidur dengan bantal menutupi wajahnya.
Satu Minggu berlalu, Nurlia benar-benar diperlakukan seperti orang asing di keluarga Fahmi. Tidak satupun dari anggota keluarga itu yang benar-benar menyapa Nurlia kecuali Anton, papa mertuanya. Sapaan yang terjadi juga hanya sekedar basa-basi.
"Pa, jangan terlalu menyapa Nurlia. Nanti dia keterusan. Papa harus ingat, kenapa kita menjadikan dia menantu," ucapan yang sering Nurlia dengan secara tidak sengaja. Hal itu semakin membuat Nurlia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, Jika kamu tidak menginginkan pernikahan ini kenapa kamu bersedia untuk menikah denganku?"
"Tolong jawap aku, selama beberapa hari ini kamu selalu berusaha untuk menghindari aku. Tidak bisakah kamu meluangkan waktu sejenak untuk berbicara tentang hubungan kita?"
"Telinga ini rasanya ingin memberontak saat mendengar mama berbicara seolah-olah ada yang salah dengan pernikahan kita."
"Besok kita akan tinggal di rumah kita sendiri, sopir akan menjemput kamu karena aku masih ada pekerjaan hingga larut malam," ucap Fahmi.
"Itu tidak menjawab pertanyaan ku."
"Nurlia, setelah kita tinggal di rumah yang terpisah dari orang tua kita. Kamu bebas melakukan hal apapun, anggap saja hubungan di antara kita hanya sebatas hubungan di atas kertas."
Fahmi mengambil jas dan juga kunci mobil sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan Nurlia dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
Itu adalah air mata kedua yang dikeluarkan Nurlia setelah menangis di malam pertama pernikahannya.
Apa maksud Mas Fahmi dengan mengatakan bahwa hubungan kita hanya sebatas diatas kertas? jika memang dia tidak menginginkan pernikahan ini, Kenapa dia dan keluarganya tetap membuat pernikahan ini terjadi?
Seandainya Ayah masih hidup, mungkin aku tidak akan terjebak dalam pernikahan seperti ini.
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...