
Fahmi tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa melihat Nurlia yang mulai berjalan meninggalkan dirinya.
"Sebenernya apa yang terjadi padaku? kenapa aku begitu sakit saat Nurlia mengatakan itu?" lirih Fahmi.
"Bukankah seharusnya aku sudah menduga jika Nurlia pasti akan mengatakan hal ini?" imbuhnya.
Fahmi yang merasa penasaran terhadap Nurlia, tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju kamar Nurlia.
Samar-samar Fahmi mendengar suara Nurlia yang terlihat menelpon.
"Kakak, jika kakak mengatakan pada ibu aku akan datang. Tentu saja ibu tidak akan mengijinkannya. Jadi anggap saja kakak juga tidak tahu jika aku akan datang.."
Fahmi menghela nafas panjang, entah kenapa tiba-tiba perasaannya begitu kecewa saat mengetahui Nurlia akan pergi dari rumah. Seolah-olah kepergian Nurlia itu karena Nurlia tidak ingin berada dengan dirinya.
"Sial, kenapa aku jadi memikirkannya? Bukankah seharusnya aku tidak memperdulikan dia yang ingin pergi atau tidak dari rumah ini?"
Fahmi memilih untuk kembali ke dalam kamar nya dan beristirahat sebelum fajar menyinari bumi.
Sementara itu, Nurlia masih berdebat dengan sang kakak.
"Nurlia, ini adalah perintah dari ibu. Kamu sudah berada di sini selama beberapa hari. Ibu tidak ingin karena kamu terlalu fokus menjaga Ibu. Jadi kamu melupakan tanggung jawab kamu sebagai seorang istri."
"Kakak...."
"Kamu hanya boleh datang ke sini jika bersama dengan suami kamu."
"Apa?"
"Itu adalah perintah dari Ibu. Kakak harus pergi untuk mengambil obat ibu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Dengan perasaan kesal, Nurlia meletakkan kembali ponselnya dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
"Ibu, seandainya saja Ibu tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tangga. Mungkin Ibu tidak akan melarang aku untuk menemani Ibu sekarang."
"Argh... menyebalkan."
Nurlia mulai meluapkan rasa kesalnya dengan membuat tubuhnya tengkurap dan memukul-mukul bantal serta menghentakkan kakinya di tempat tidur.
Persis seperti anak kecil yang ingin mandi. Tapi, tidak mau terkena air.
Jika ingin tahu seperti apa, bayangkan saja.
Bayangan munculnya fajar terlihat melalui cela fentilasi udara yang sengaja dibuka Nurlia agar tahu kapan fajar akan datang.
"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain selain aku mencoba untuk berbicara dengan mas Fahmi,"
"Tapi, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dia mau pergi ke rumah sakit bersama denganku? Bukankah selama ini dia tidak pernah mau jika harus pergi bersama denganku. Kecuali, pulang ke rumah orang tuaku atau ke rumah orang tuanya."
"Tunggu, bukankah wanita yang dia cintai juga ada di rumah sakit itu? aku yakin jika aku mas Fahmi pasti akan pergi ke sana untuk menemuinya."
"Ya, Bukankah itu adalah berita yang bagus. Saat mas Fahmi akan pergi ke rumah sakit untuk menemui wanita itu, Aku akan pergi juga untuk bertemu dengan ibuku."
Setelah cukup lama berdebat dengan dirinya sendiri. Nurlia memutuskan untuk pergi ke dapur karena dia sudah sangat rindu masak makanan sendiri.
"Astaghfirullah, Mas. Kamu mengagetkan aku saja," ujar Nurlia saat melihat Fahmi sedang berjongkok di depan kulkas.
Fahmi yang mendengar suara Nuria segera bangkit dari posisi jongkoknya dan menutup pintu kulkas berpintu dua dengan desain mewah dan modern.
"Mas Fahmi sedang apa di dapur pagi-pagi seperti ini?" tanya Nurlia.
"Kamu pikir apa yang akan dilakukan seseorang jika sudah pergi ke dapur? tidak mungkin akan tidur kan."
Ini mas Fahmi atau bukan sih? tidak biasanya dia berbicara dengan kata-kata yang cukup panjang. Biasanya hanya satu atau dua kata saja kan.
"Hei, kenapa kamu malah melamun seperti itu? makanan ini tidak akan bisa berjalan sendiri dari kulkas menuju kompor."
"Hue?" Nurlia semakin binggung karena tidak bisa mengartikan ucapan yang baru saja dikatakan Fahmi.
"Nurlia, apa kamu belum mengerti juga jika aku, suami kamu, sedang lapar."
"Oh lapar, kenapa tidak bilang dari tadi?" ucap Nurlia sambil mulai berjalan menuju kulkas.
Namun baru beberapa langkah, Nurlia menghentikan langkahnya dan langsung berjalan mundur hingga kembali melewati Fahmi.
"Mas tadi bilang apa?" tanya nya.
"Aku lapar."
"Setelah itu?"
"Tidak ada."
Sial, Kenapa lidah ini bisa dengan tiba-tiba mengatakan jika aku adalah suami Nurlia.
Telinga ini seperti sudah mulai konslet, bayangkan saja bagaimana bisa aku tiba-tiba mendengar Mas Fahmi mengatakan dia adalah suami aku. Haha, itu pasti hanyalah halusinasiku.
Tidak mungkin kan seorang seperti mas Fahmi, yang sudah jelas-jelas memiliki wanita yang dia cintai akan mengakui bahwa dirinya adalah suami dari wanita lain.
Walaupun aku adalah istri sahnya, tapi itu hanya sekedar status dalam akte nikah saja.
"Nurlia, makanannya akan lari jika melihat kamu hanya diam seperti ini," bisik Fahmi yang membuat Nurlia terkejut sehingga memukul Fahmi dengan telapak tangannya.
"Wow, istimewa...." ujar Fahmi sambil menahan rasa sakitnya.
Sakit lah Bray, ini adalah kali pertamanya ada yang memukul wajah Fahmi.
"Astaghfirullah, Mas Fahmi. Maaf. Aku tidak sengaja. Lagian salah siapa tiba-tiba berbisik di telingaku."
"Salah mulut, bukan salahku." Bela Fahmi.
"Kamu wanita, kenapa pukulan kamu kayak laki-laki sih?"
"Maaf, namanya juga refleks."
"Ya sudah. Cepet masak, aku udah laper."
"Hue?"
Lagi, dan lagi. Nurlia bingung dengan sikap Fahmi yang tiba-tiba memintanya masak dan mengatakan bahwa dia sedang lapar.
"Mas mau makan masakan aku?"
"Apa aku harus menjelaskannya kepada kamu seperti guru yang menjelaskan matematika kepada murid TK?" tanya Fahmi.
"Ya enggak, cuma kan, mas bilang..."
"Haduh sudah, jangan terlalu banyak abcdefg. Aku sudah lapar."
Nurlia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil menelan nafas panjang melihat tingkah laku Fahmi yang benar-benar berubah 180 derajat.
Nurlia melihat suami yang naik ke lantai atas, mungkin Fahmi ingin mengompres rasa sakit yang tidak sengaja ditimbulkan oleh Nurlia.
Akan tetapi, kenapa harus ke lantai atas? bukannya segala sesuatu yang dibutuhkan untuk mengompres ada di lantai bawah?
Entahlah, hanya Fahmi yang tahu kenapa dia naik ke lantai atas.
Nurlia memutuskan untuk memasak beberapa jenis makanan, karena kebetulan ada seafood di dalam kulkas jadi Nurlia juga memasaknya.
"Apa benar mas Fahmi akan makan masakan aku?" lirih Nurlia.
"Benar lah, emangnya kapan aku berkata tidak benar kepada kamu?" ucap Fahmi yang tiba-tiba menjawab perkataan Nurlia dan langsung duduk begitu saja.
Astaghfirullah, untung hati dan jantung ini buatan Yang Maha Kuasa. Jika buatan manusia mungkin sudah jatuh dan lompat ke sana ke sini karena mas Fahmi yang tiba-tiba nongol seperti jalangkung.
"Hei, kenapa kamu duduk?" ketus Fahmi saat melihat Nurlia berjalan dan duduk di kursi yang berlawanan dengannya.
"Memangnya aku tidak boleh duduk?"
"Apa makanan ini akan berjalan sendiri dan menata dirinya sendiri di piringku ini?"
"Ya Tuhan, cobaan apa yang sedang aku alami. Mimpikan aku??" lirih Nurlia.
Nurlia yang sudah sangat lelah karena berdebat dengan sang kakak, memutuskan untuk segera melayani Fahmi sebagaimana seorang istri melayani suaminya.
Nurlia tiba-tiba merasa kenyang karena melihat Fahmi yang begitu lahap memakan masakannya. Bahkan berulang kali Fahmi memuji keenakan dari rasa masakannya dimasak oleh Nurlia.
Suara sendawa dari Fahmi mengejutkan Nurlia yang baru akan minum sebelum menyentuh makanannya.
"Alhamdulillah," lirih Fahmi.
"Terima kasih yaa, besok lagi."
Besok lagi? Maksudnya apa? Besok masak lagi?
...----------------...
...----------------...
...----------------...
...----------------...