
Di pulau pribadi keluarga Alexander.
Suara canda tawa Amber dan Bram saat berjalan ke arah pintu belakang villa, terdengar hingga ke dalam bangunan villa tersebut.
Membuat seseorang mengepalkan tangannya, yang sejak tadi menyaksikan kemesraan pasangan yang sedang melepas rindu.
Pria itu lantas meraih sebuah stik golf yang terletak di belakang pintu.
Ken pun bersembunyi di balik pintu dan ia mengangkat tinggi stik yang ada di tangannya, ketika suara sepasang kekasih itu sudah mulai mendekat.
Sementara anak buah Ken bersembunyi di lantai tempat, untuk berjaga-jaga, karena yang mereka lawan kali ini adalah seorang Amber Wilson si wanita tangguh yang sangat hebat.
~
"Clek"
Amber membuka pintu dengan Bram yang terus menggelitik lehernya dengan menggunakan bibirnya, membuat Amber tertawa disertai lirihan geli.
"Stop, dear!" Suruh Amber.
"Aku ak, …."
Ucapan Bram terhenti ketika sebuah pukulan keras menghantam punggungnya dari arah belakang.
"Bugh"
Suara hantaman itu begitu kuat sehingga menimbulkan suara yang lumayan nyaring.
"Bugh" sekali lagi pukulan itu menghantam punggung lebar Bram.
Membuat Bram luruh ke lantai dengan Amber yang masih berada di gendongannya.
Di tengah rasa sakitnya, Bram masih berusaha melindungi wanitanya dengan menahan tubuh Amber dan juga kepalanya agar tidak terbentur lantai marmer.
"DEAR!" Pekik Amber yang masih berada di dekapan Bram.
"Apa kau terluka, sayang?" Tanya Bram yang memindai seluruh wajah dan tubuh Amber dengan raut khawatir, meskipun rasa kesadaran mulia menyerangnya tapi sekuat tenaga Bram menahan rasa itu.
"Tidak!" Jawab Amber sambil menggeleng.
Wanita itu segera membantu Bram bangkit, tapi sebuah kaki menahan punggung Bram.
Amber mendongak ke atas dan bersamaan lampu di seluruh villa menyala.
"K-ken," cicit Amber terbata dengan kedua matanya terbelalak kaget.
Ken menatap lekat Amber dan tersungging sebuah senyum perih di sudut bibir pria itu.
"Iya. Ini aku, sweety," sahut Ken dengan seringai.
Amber masih mendongakkan kepalanya dan menatap Ken dengan wajah bingung.
Ia Pun kembali melihat Bram saat prianya meringis kesakitan.
"Akh!" Teriak Bram menggema di seluruh ruangan, ketika Ken menekan kuat punggung Bram.
"Lepaskan Ken!" Pekik Amber yang berusaha menyingkirkan kaki Ken dari atas punggung Bram.
"Kau membelanya, sweety?" Tanya Ken dengan nada lirih.
"Ken. Lepaskan!" Amber tidak memperdulikan pertanyaan Ken, ia hanya fokus pada ringisan kesakitan prianya.
"Jawab aku, Amber Wilson?! Bentak Ken dan menambah tekanan injakan nya pada punggung Bram. Membuat Bram berteriak.
"Akhh! Teriak Bram.
"Keenan Lerian, lepaskan kekasihku!" Teriak wanita itu, sambil berdiri dan menyerang balik Ken dengan menendang perut keras pria yang menatap kepadanya dengan kecewa.
Ken terdorong kuat ke belakang dan kaki kanannya yang berada di punggung lebar Bram terlepas.
"Dear!" Seru Amber yang membalik tubuh Bram.
"Kau, tidak apa-apa?" Tanya Amber sambil mengangkat kepala dan merangkulnya erat, memberikan kecupan di kening Prianya.
"Aku tidak apa-apa, sayang," bisik Bram.
"Bantu aku berdiri!" Pinta Bram.
Amber pun membantu kekasihnya berdiri dengan hati-hati.
"Shut" desis Bram saat ingin menegakkan punggungnya.
"Ada apa?" Tanya Amber dengan wajah pias.
Bram hanya tersenyum samar melihat wajah khawatir wanitanya, dia pun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Amber.
Ken hanya bisa menatap nanar raut cemas Amber kepada pria yang ada di hadapannya.
Hatinya hancur dan jiwa egoisnya kini bangkit menguasai dirinya, yang tidak akan pernah bisa terima wanita yang selama ini ia jaga dan lindungi dimiliki oleh pria lain.
"Tidak, Amber hanya milikku," menolongnya dalam hati.
Ken maju tiga langkah ke depan, pria itu lantas meraih pergelangan tangan Amber dan menariknya kasar ke arah sisinya.
Ken juga mengayunkan kaki panjangnya ke bagian perut keras Bram. Membuat pria yang masih bergeming di tempatnya bergeser ke belakang.
"DEAR!" Pekik Amber terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Lepaskan, sialan!" Hardik Amber yang kini berusaha lepas dari cekalan tangan Ken.
Amber membenturkan kepalanya ke belakang dan mengenai hidung mancung Ken.
Hanya perlawanan itu yang Amber lakukan, karena kedua tangannya di cekal ke belakang tubuhnya.
Ken meringis kesakitan sambil memegang hidungnya yang juga mengeluar darah.
Amber tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera saja wanita itu menolong Bram yang sedang mengusap sudut bibirnya.
"Dear!" Seru Amber langsung memeluk kekasihnya.
"Bagian mana yang sakit?" Tanyanya dengan nada cemas.
"Tidak ada, sayang," jawab Bram.
"Maaf, membuatmu khawatir dan, … maaf aku terlalu lemah," ujar Bram sendu.
"Apa yang kau katakan, dear!" Tekan Amber geram.
"Ayo, kita pergi dari sini," ajak Amber yang menuntut Bram berjalan.
Namun langkah mereka tercekat ketika Ken kembali menyerang pasangan kekasih itu, untung Amber cekatan dan mampu menghindari serangan pengecut Ken.
Amber tidak tinggal diam, ia balik menyerang Ken dengan sekali tendangan ke arah rahang Ken dengan sempurna.
Dan juga Amber memberikan pukulan di wajah Ken secara bergantian.
"Aku tidak menyangka, kau sepicik ini, Ken!" Teriak Amber dengan tatapan kecewa.
"Aku membencimu!" Teriaknya lagi.
Ken membeku dan bergeming di tempatnya, mendengar perkataan sarkas Amber.
Rasa sakit fisiknya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya yang berdenyut nyeri mendengar perkataan benci, wanita pujaannya.
"Aku hanya ingin memilikimu," lirih Ken.
"Kau egois!" Pekik Amber.
"Aku mencintaimu!? Teriak Ken balik.
Amber tiba-tiba terdiam dengan perasaan bersalah kepada pria yang kini menatapnya penuh luka.
Pria yang sudah menemaninya bangkit dan berjuang di saat mengandung si kembar.
Pria yang menyayanginya penuh kasih sayang, yang selalu ada di saat dirinya sedang bersedih.
Tapi Amber tidak mungkin memaksimalkan hatinya untuk pria yang ia anggap sebagai saudara laki-laki.
Ia tidak mungkin membuat Ken lebih terluka dengan memberinya harapan palsu yang tidak jelas.
Hatinya hanya untuk cinta pertamanya dan pria yang berada di sampingnya.
Cintanya hanya untuk ayah dari anak-anaknya. Meskipun pria ini pernah menorehkan luka di hatinya, tapi Amber tidak bisa mengelak dari rasa cintanya yang begitu besar kepada ayah dari kedua anak kembarnya.
Dengan tatapan nanar dengan manik yang sudah berkaca-kaca, ditujukan kepada Ken yang kini bersimpuh di hadapannya.
"Maaf!" Lirih Amber yang air matanya sudah luruh membasahi pipinya.
Ia membuang tatapannya ke arah samping dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya, ketika melihat tatapan teduh Ken.
Ken mendongak kepalanya untuk menatap wajah Amber yang sudah merah dengan kristal bening memenuhi pipi Amber.
Ken pun menunduk wajahnya yang juga meneteskan air matanya.
Cinta yang ia miliki untuk wanita di depannya kini sudah terbalaskan oleh penolakan lagi dan membuat luka hati yang begitu dalam dan menyesakkan.
"Apa tidak ada kesempatan untukku?"
"Maaf!"
"Tidak apa, biar aku simpan dengan Indah perasaan cintaku ini kepadamu," gumam Ken dengan nada suara bergetar.
Bram yang berdiri di samping Amber, hanya bisa menggenggam erat telapak tangan wanitanya.
Ia bersyukur cinta wanitanya hanya untuk dirinya seorang.
Ken mendongak kembali pandangannya dan netra birunya membelalak, segera saja Ken berdiri, lalu mendorong tubuh Amber bersama Bram ketika seseorang melepaskan Timah panas ke arah Bram dan Amber.
"Dor"
"Dor"
"Bugh"
"KEN?!
ken