Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 81


Amber menatap dirinya sendiri lewat pantulan di cermin besar yang ada di kamar luas itu.


Amber yang hanya memakai kaos Bram, berwarna hitam tanpa lengan yang membungkus tubuhnya hingga di atas paha.


Amber terlihat begitu seksi dengan rambut yang digulung tinggi ke atas, memperlihatkan leher panjangnya yang begitu menggoda.


Amber membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah pintu.


Ia ingin menyusul, Bram yang sedang memasak sarapan untuk dirinya.


~


Amber bergeming di depan dapur, ketika manik coklat miliknya, menangkap pemandangan yang membuat jantungnya berdebar-debar.


Amber dapat melihat Bram di depan kompor sedang memasak dengan penampilan setengah polos, yang memamerkan tubuh indah seksinya.


Belum lagi wajah tampan Bram yang bertambah berkali-kali lipat tampannya ketika serius memasakkan sarapan pagi untuknya.


Desiran darah Amber tiba-tiba menyelut seluruh tubuhnya, akibat menikmati pemandangan di depannya.


Ada rasa bangga dalam diri wanita itu, karena dicintai oleh pria setampan Bram.


Amber menahan nafasnya sesaat ketika Bram memunggunginya dan Amber bisa melihat dari jarak dua meter, punggung kokoh dan seksi Prianya.


Punggung yang dahulu menjadi tempat ternyaman nya, untuk menemani tidur nyenyak nya dan bersandar dikala tubuhnya terasa lelah.


~


"Kau, sudah selesai mandi, sayang?"


Amber tersentak kaget mendengar suara berat Bram yang bertanya kepadanya.


"Hm! Gumam Amber.


"Kemarilah!" Panggil Bram sambil mengulurkan tangan kirinya untuk menyambut wanitanya.


Amber pun mendekat dan meraih uluran tangan Bram.


Pria itu menarik lembut Amber dan mengangkatnya sambil mendudukkan Amber di dekat kompor.


Bram memandangi wajah wanitanya sebentar, menundukkan sedikit wajahnya ke arah leher Amber, menghirup dalam aroma sabun miliknya di tubuh sang wanita, terakhir Bram meninggalkan beberapa kecupan di ceruk leher Amber.


"Kau, memakai sabun milikku?" Tanya Bram yang masih enggan menjauh dari ceruk leher panjang Amber.


"Tidak ada pilihan lain," jawab Amber dingin.


"Ah iya, aku lupa mempersiapkan keperluan mu, sayang," ujar Bram.


"Tidak masalah," sahut Amber tidak acuh.


"Perhatikan, masakan anda pangeran," ketus Amber.


Bram mengalihkan tatapannya ke arah kompor yang mana masakannya terlihat berubah warna coklat.


"Astaga, aku melupakannya,"


"Ini karena dirimu terlalu mempesona," goda Bram sambil menggesek-gesekkan hidung mereka.


Bram pun kembali fokus pada masakannya yang istimewa khusus untuk wanita pemilik hatinya.


Bram menyelesaikan masakannya dengan sebelah tangguh yang menggenggam erat telapak tangan Amber.


Bram terlihat begitu posesif pada wanitanya itu, dia seakan takut sang wanita menghilang dari sisinya.


Amber sendiri hanya terdiam dengan pikiran yang saling berperang.


Maniknya yang jernih terus menatap wajah tampan Bram.


Perasaannya begitu hangat saat mendapatkan pun merasakan kembali perlakuan manis dari Prianya.


Tanpa sadar Amber meletakkan telapak tangan Bram di wajahnya.


Bram hanya tersenyum hangat melihat tingkah Amber, ia pun menarik pelan wajah Amber dan mengecup sekilas kening wanitanya.


"Sepertinya, ini sudah matang," sela Bram.


"Kau ingin mencobanya, sayang?" Tawar Bram.


Bram lantas mengambil sendok makan dan mengisi sendok tersebut dengan masakan yang masih terlihat mengeluarkan uap panas itu.


"Bagaimana? Apakah rasanya enak?" Tanya Bram sambil menunggu jawaban Amber yang masih mengunyah makanan yang disuapkan oleh Bram.


Amber mengangguk dengan mulut yang masih mengunyah hasil masakan Bram.


"Benarkah?" Tanyanya sambil tersenyum puas.


"Hu'um! Gumam Amber.


"Syukurlah, ternyata aku masih mengingat cara memasak makanan kesukaanmu," seru Bram.


Amber hanya tersenyum tipis mendengar perkataan pria yang berada di hadapannya.


"Bisa kau mengambil aku piring, sayang?! seru Bram yang menyadarkan Amber dari lamunannya.


Amber segera mengambil piring lebar yang terletak di sisinya dan memberikan kepada Bram.


"Selesai!" Ucap Bram.


"Sekarang, ayo kita sarapan!" Ajak Bram.


"Naiklah!" Perintah Bram.


"Tidak, aku bisa jalan sendiri ke sana,"


"Naiklah, sayang!" Perintah Bram lagi yang menginginkan Amber naik ke atas punggung lebarnya.


"Cih, dasar pemaksa," cibir Amber kesal, namun ia juga menuruti perintah Bram.


Bram terlihat terkekeh pelan dengan kedua tangannya ia gunakan memegang hasil masakannya dan sebelah lagi ia gunakan untuk menahan tubuh Amber melalui belakang.


Berjalan ke arah meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur.


Keduanya pun memulai sarapan dengan Bram yang dengan sabarnya menyuapi Amber yang terus bersungut-sungut dengan wajah kesal.


~


Sementara di tempat lain.


"Kau mau kemana?" Tanya seorang pria tampan dengan kacamata bening yang membingkai wajah rupawan nya.


"Menjemput wanitaku," sahutnya datar.


"Biarkan mereka bersama keenan," ucap Nick salah satu sahabat Ken.


"Itu tidak akan pernah terjadi, sialan!" Pekik Ken yang kini mencengkram kuat kerah kemeja hitam Nick.


"Biarkan dia bahagia," sambung Nick.


"Hanya aku yang bisa membahagiakannya," bentak Ken tepat di depan wajah Nick.


"Kau hanya terobsesi padanya, Ken dan itu bukanlah perasaan cinta," sarkas Nick yang tak kalah sengitnya.


"Tidak. Aku sangat mencintai Amber dan dia hanya milikku," geram Ken dengan tatapan mata yang berubah mengerikan.


"Ingat kau lah yang menyebabkan wanita malang itu menderita," bisik Nick.


"Aku yakin suatu saat dia akan mengetahui semuanya,"


"Dan itu tidak akan pernah terjadi."


"Lepaskan dia dan biarkan dia bersama dengan cintanya,"


"Tutup mulutmu, brengsek! Hanya aku yang berhak menjadi pria satu-satunya dan aku tidak akan membiarkan pria sialan itu merebut kembali wanitaku," teriak Ken dan mendorong tubuh Nick kasar.


"Ingat, dia hanya korban keegoisan mu dan juga, …."


"Bugh" sebelum menyelesaikan perkataan sahabatnya, Ken memberikan pukulan keras di wajah sang sahabat.


"Aku tidak akan pernah peduli,"


"Kau akan menyesal, Ken.


Ken tidak mendengar ucapan Nick, pria itu segera meninggalkan markas mereka.


Ia akan menjemput Amber di pulau pribadi Bram.


Ia akan menjemput paksa Amber, kalau perlu ia akan menghabisi nyawa Bram disana.