Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 80


"Berikan padaku." Amber merampas kotak obat yang ada di tangan Bram.


Pria itu hanya bisa menghela nafasnya, yang melihat sikap dingin wanitanya.


"Kemarilah," panggil Amber yang sekarang duduk di sofa malas.


Bram pun menuruti kekasih hatinya itu, ia duduk di depan wanita yang amat dicintai.


Meskipun wajah wanitanya yang terlihat datar, namun ia merasa senang karena Amber mulai membuka diri untuknya.


Amber mengobati luka memar di wajah tampan Bram dengan sangat hati-hati, ia bahkan meniup setiap luka di wajah pria yang masih menempati hatinya.


Bram hanya terdiam dengan tatapan lekat nan teduh ia tujukan di satu titik yaitu, di wajah cantik Amber.


Pria itu hanya mampu memejamkan mata, setiap hembusan nafas hangat Amber menyapu permukaan kulit wajahnya yang ditumbuhi bulu-bulu halus.


Wajah mereka terlihat sangat dekat yang menghalangi mereka hanya hidung mancung keduanya, yang juga hampir saling bersentuhan.


Netra abu-abu Bram tidak pernah bosan menatap wajah cantik wanitanya, yang sedang sibuk memberi salep pada luka memar dan juga luka robek di bagian sudut bibirnya.


Amber membiarkan Bram terus memindai wajahnya, ia juga diam ketika kedua tangan Bram kini berada di pinggang rampingnya.


Pria itu dengan mudahnya mengangkat tubuh Amber sedikit dan mendudukkannya di pangkuannya.


Bram kini terfokus pada bibir ranum lembut Amber, tanpa aba-aba, Bram menabrakkan bibirnya kembali pada bibir lembut wanitanya.


Mengecupnya sebentar dan memberikan sesapan lembut sejenak, lalu pria itu melepaskannya kembali tautan bibir mereka. Dan Bram melakukan itu berkali-kali.


"Stop!" Sentak Amber.


"Biarkan aku mengobati lukamu," ketus Amber dengan wajah kesal.


Bram yang melihat wajah kesal wanitanya, hanya terkekeh, ia pun menggigit pelan hidung mancung Amber dengan perasaan gemes. Dan mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang ramping Amber.


"Stop. Dan duduklah dengan diam, agar aku bisa mengobati lukamu, brengsek," pekik Amber.


Bram tertawa lepas, ketika mendengar makian kasar dari sang wanita, dia tidak marah ataupun tersinggung, ia bahkan menikmati raut wajah kesal wanitanya.


"Kau, terlihat semakin menggemaskan, sayang," bisiknya.


"Cih" Amber hanya berdecih dan mendelik ke arah Bram.


Membuat pria itu lagi-lagi tertawa bahagia.


Kembali Bram mengecup puncak kepala Amber, saat wanitanya menunduk untuk mengobati dadanya yang memar.


Bram menghela nafas frustasi, saat Amber menggoda jiwa kejantanannya dengan menghembuskan nafas hangat wanita itu di sekitar permukaan kulit di bagian sensitifnya.


Amber tidak mengetahui kegelisahan prianya, yang sedang menahan sesuatu. Ia masih sibuk mengobati luka Bram di bagian dada Bram sampai ke bagian perut sick pack yang terdapat pahatan daging yang berbentuk kotak-kotak.


"Ehem" Bram berdehem untuk menetralisir perasaan yang kini menuntutnya.


Sesuatu dibawah sana, terasa mulai mengembangkan, Bram pun bergerak gelisah, ia tidak ingin wanitanya merasa tidak nyaman dengan kondisi benda padat nan keras di bawah sana.


"S-sayang," seru Bram dengan nada serak yang terbata.


"Hm" sahut Amber yang mengalihkan tatapannya ke atas.


Amber menukik alis indahnya, ketika melihat wajah Bram yang berubah merah.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Amber yang kembali pada posisinya, duduk di kedua paha Bram.


Bram bertambah tersiksa ketika wanitanya malah berada di atas tongkat saktinya, yang memiliki kepekaan hakiki.


"Berhentilah, bergerak, sayang," pinta Bram dengan nada suara berat.


"Kau membuatku tersiksa," monolog Bram dalam hati.


"Sebaiknya, kamu mandi," perintah Bram yang memindahkan tubuh Amber di sampingnya.


"Mandilah, aku akan membuatkan sarapan untukmu," ucap Bram, tidak lupa pria itu meninggal kecupan di kening dan juga bibir wanitanya.


Amber hanya mengangguk patuh dan tersenyum samar. Bolehkah dia jujur, kalau dia merindukan sikap manis pria dia? Yang selalu memanjakannya bagaikan seorang wanita berharga.


"Kau, ingin aku memandikan mu seperti dulu?" Tawar Bram dengan tersenyum mesum.


"T-tidak perlu," tolak Amber dengan cepat, wajahnya pun kini berubah merona.


"Baiklah, aku akan memasakkan makanan kesukaanmu, kalau kau butuh bantuanku, kau tinggal memanggilku saja," imbuh Bram sambil bangkit dari duduknya.


Bram berjalan ke arah pintu kamar, dia akan menuju dapur untuk memasak sesuatu untuk sang kekasih.


Amber menatap nanar punggung lebar Prianya yang masih polos, yang memamerkan punggung seksinya yang dipenuhi tato di bagian belakangnya.


Amber bangkit dan berjalan ke arah kaca besar yang menjadi dinding kamar yang ia tempati.


Menatap kagum pada pemandangan laut lepas yang berada di sekeliling villa tersebut yang mana terletak di ujung tebing dan di tengah lautan.


Pandangan Amber menerawang tajam kedepan, ia memikirkan perasaan dilema dan bimbang yang masih menguasai dirinya.


Ia merasa dilema antara perasaan dendam dan cinta yang merasuki dirinya kini.


Ia juga sudah berjanji pada seseorang untuk membunuh pria yang masih sangat ia cintai, tapi lubuk hatinya paling dalam mengutuk janji itu.


Ia juga ingin menepati sumpah Bram dan dirinya.


"Bunuh dan benci aku, kalau suatu saat aku meninggalkanmu dan mengkhianatimu," sumpah Bram kini terngiang-ngiang di pikiran Amber.


Ia mengingat masa-masa indahnya bersama Bram dan juga peristiwa tragis dan memilukan di hari pernikahan mereka.


Mengingat pengkhianatan Bram bersama wanita lain dan juga penderitaannya saat mengandung pun membesarkan kedua buah hatinya.


Perlakuan mesra Bram pada Camellia yang sedang bercumbu, kini merasuki pikiran Amber yang membuat dadanya kembali sesak dan panas.


Amber mengepalkan kedua tangannya, saat ingatnya teralihkan pada hubungan Bram dan Camelia.


Di saat Prianya itu tersenyum hangat pada wanita licik itu dan memperlakukannya dengan lembut.


"Haruskah, aku membunuhnya? Agar sakit hatiku menghilang," gumam Amber.


"Tapi aku masih sangat mencintainya, dia ayah dari anak-anakku," lirih Amber dengan air mata yang luruh dari sudut matanya.


"Bisakah, aku menjadi wanita egois?"


"Aku sangat mencintainya, Tuhan," ucap Amber dengan isakan tertahan.


"Dia pria yang sangat aku cintai dan juga ayah anak-anakku."


"Aku, mohon hilangkan rasa benci ini, Tuhan,"


Amber pun luruh ke lantai dengan tangisan pilu, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, agar tangisan pilunya tidak terdengar hingga keluar.


Amber melipat kedua kakinya di depan dada dan menyembunyikan wajahnya di antara dada dan lututnya.


Amber menangis dalam perasaan dilema dan bimbang.


Pilihan yang sangat berat kini menghantui pikiran Amber.


"Antara dendam Dan cinta"