Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 26


Di Malam sebelumnya di kota Chicago.


"Akhhh!


Seorang pria gagah dan tampan, terlihat mengamuk dan tatapannya kini mengunci pada sosok paruh baya yang sedang memohon di hadapannya.


"Maafkan, saya tuan, Carlos." Daddy Amber, tuan Wilson kini sedang bersujud di bawah kaki pria yang akan menikahi anaknya, Amber Wilson.


"Aku tidak butuh maafmu! Yang aku butuhkan Amber Wilson." Bentak pria dengan perawakan tinggi itu.


"Aku masih mempunyai satu putri lagi, tuan.?" Ujar tuan Wilson. Ia menatap Liliana yang begitu terpesona dengan ketampanan Carlos.


"Aku hanya menginginkan, Amber.!" Pekik Carlos dan melemparkan sebuah vas kedepan tuan Wilson.


"Tuan! Sela Liliana yang ingin mengambil perhatian pria tampan ini. Andai saja ia tahu kalau wajah tuan Carlos setampan ini, ia tidak akan memaksa Amber. Ia akan senang hati menyerahkan tubuh dan hidupnya pada pria tampan ini.


"Aku, siap menjadi pengantin pengganti kakakku." Sela Liliana dengan mimik wajah putus asa.


"Aku, yakin kakak ku pasti sudah kabur bersama kekasihnya itu. Jadi aku ikhlas mengganti Amber." Ujarnya lagi.


Perkataan Liliana membuat pria di hadapan mereka, semakin menggila. Ia mendekati Liliana dan menarik kuat rambut gadis itu. Carlos juga memberikan tamparan di kedua pipi Liliana.


"Apa katamu? Amber ku kabur dengan kekasihnya?!


Liliana mengangguk sambil meringis.


"i-iya tuan.!"


Carlos yang sudah dikuasai amarah itu, menjambak kuat rambut Lilian, membuat gadis itu meringis dan membeliakkan matanya.


"matilah, kau, jaalang.!"


"Akhh!! Carlos berteriak dan menghempaskan tubuh Liliana dengan sangat kasar. ia juga menyempatkan menusukkan sebuah belati di perut Liliana.


"Lili! Panggil nyonya Soraya, saat putrinya itu terkapar dengan luka di keningnya.


"Lili! Bangunlah sayang." Nyonya Soraya berusaha membangunkan putrinya itu. Nyonya Soraya terbelalak saat melihat perut putrinya mengeluarkan darah dan sebuah pisau berada di sana.


"Lili! Pekik nyonya Soraya.


"Ruben!!!! Teriak Carlos.


"Iya, tuan."


"Bunuh dan bakar mereka." Perintah Carlos.


"Tuan, Carlos maafkan kami. Saya berjanji akan membawa putri saya Amber kepada anda." Daddy Amber kini mencekal kaki Carlos dan memohon kepada pria tampan berdarah dingin itu.


"Cih! Carlos hanya berdecak dan menendang wajah tuan Wilson.


"Ruben! Lakukan."


"Baik tuan.!


"T- tuan, tolong beri kami kesempatan untuk membawa, Amber kepada anda."


"tidak ada kata kesempatan dalam hidup ku dan paling aku benci adalah kegagalan dan pengkhianat."


"Ruben.!


"baik, tuan." sahut bawahan Carlos, pria itu sudah mengerti maksud tuannya itu. dan segera saja Ruben melakukan perintah Carlos.


Dan malam itu adalah malam terakhir bagi keluarga Amber. Carlos dengan bengisnya membantai habis nyawa daddy dan ibu tiri Amber, pria itu juga membakar tubuh mereka bertiga beserta villa milik Carlos sendiri.


*


*


*


"Bagaimana. Apa kau menemukannya.?"


"Belum pangeran. Sepertinya nona Amber, sangat jenius, ia bisa menyembunyikan dan menutup rapat identitas dan jejak keberadaannya, yang mulia."


"Aku, tidak mau tahu. Kau harus menemukan keberadaan wanita ku."


"Baik yang mulia."


"Keluarlah.!"


Setelah pengawal pribadinya keluar, Bram menyalakan ponsel lamanya. Ia tertegun saat menerima sebuah rekaman video. Bram terkesiap saat membuka video tersebut, yang memperlihatkan tawa lepas wanitanya yang sangat ia rindukan. Tawa tanpa kesedihan terlihat di sana, tawa kebahagiaan dan juga tawa penuh keceria. Bram memutar berulang kali video yang ia dapat dari sahabatnya dan juga sebuah pesan dari sahabat itu.


Hatinya terasa ngilu dan sakit ketika melihat tawa lepas Amber. Ia sangat tahu kalau wanitanya itu sedang menyembunyikan luka hatinya.


Bram menitikkan air matanya yang kesekian kali. Ingat rasanya pria ini, menyudahi semua ini. Ia sudah merasa jengah atas semua kehidupan yang ia jalani sekarang. Ia muak akan dirinya sendiri yang hanya diam di jadikan boneka para penguasa yang tamak akan kekuasaan.


Bram merasa ini harus di akhir ia sudah tidak sanggup menerima ini semua. Ia sudah lelah. Ia menderita dan sakit. Tapi apa yang harus ia lakukan di tengah ancaman yang diberikan oleh ratu yang sangat terobsesi dengan gelar dan jabatannya.


Yang harus Bram lakukan sekarang yaitu, bersabar dan ia harus bermain cantik agar bisa lepas dari jerat ancaman ratu Rosella.