
Rumah sakit internasional Chicago.
Kini semuanya sudah berkumpul di salah satu kamar pasien VVIP di rumah sakit terkenal di Chicago.
Mereka semua menunggu si kembar yang masih belum sadar diri.
Karena rasa schok karena kejadian hari ini yang mereka alami, membuat si kembar merasa ketakutan dan berakibat rasa trauma.
~
Kenapa mereka belum sadar?" Tanya Bram dengan wajah khawatir.
"Tenanglah, son. Mereka hanya kelelehan dan butuh istirahat," sela king Philips yang berada di belakang kursi roda sang istri.
"Aku cuma khawatir, dad," gumam Bram.
"Sabar!" Bisik Amber yang berdiri di sisinya.
Bram menoleh ke samping dan tersenyum manis. Ia lalu meraih telapak tangan Amber dan memgenggamnya lembut.
"Mereka hanya tertidur," bisik Amber lagi dengan tatapan ke arah ranjang pasien.
"Hm!" Sahut Bram dengan gumaman.
"Kemarilah, nak!" Perintah king Philips.
King Philips sudah duduk di sebuah sofa tunggal dan sang istri, ratu Agatha di sampingnya.
Boy dan Ruby di dekat ranjang si kembar, lebih tepatnya di sisi my princess kesayangannya.
Carlos yang berada di kursi dekat balkon kamar pasien.
Duduk dengan raut wajah kesal, bagaimana tidak kesal, ia harus meninggalkan gadis imutnya di kamar pasien yang letaknya dua langkah dari kamar pasien sang keponakan.
Bersama bibi lili dan juga Ken yang mengaku sebagai kakak dari gadisnya.
Pria dewasa itu hanya bisa menatap ponsel canggihnya, yang memperlihatkan video cctv yang ada di kamar pasien gadis imutnya.
Dia terus memperhatikan keadaan kamar rawat Kitty dengan tatapan menyelidik tajam.
~
"Griffin!" Seru king Philips, kepada putra keduanya.
"Ya dad," jawab Bram dengan nada lembut penuh kehormatan.
King Philips menatap lekat wajah putranya, setelah itu, ia terdengar menghela nafas sambil menoleh ke samping di mana istrinya mengusap telapak tangannya.
"Apa kau serius dengan keputusan mu, son?" Dengan kembali menatap putranya itu, king Philips bertanya dengan wajah serius.
"Yes, dad." Bram menjawab dengan sangat yakin.
"Kau tidak ingin mengubahnya, nak?" Tanya king Philips lagi.
"Tidak, dad. Keputusanku sudah final, aku mundur dari gelarku sebagai pangeran mahkota dan aku tidak ingin hidup di lingkungan kerajaan, aku akan hidup normal layaknya manusia biasa bersama, istri dan kedua anakku." Dengan wajah penuh keyakinan, Bram mengambil keputusan yang begitu berat dalam sejarah kehidupan kerajaan.
Bram memilih keluar dari zona kebangsawanannya dan ingin hidup normal layaknya, masyarakat biasa.
Jauh dari embel-embel kerajaan, membuat kehidupan mereka akan terasa menyenangkan dan anak-anak mereka akan tumbuh layaknya anak pada umumnya.
Tidak perlu ada pendidikan khusus kebangsawaan.
Tidak ada kekanan dalam pergerakan anak-anaknya.
Tidak ada paksaan dalam memilih pergaulan dan kebebasan anak-anaknya kelak.
Intinya, sebagai kedua orang tua, Amber dan Bram ingin yang terbaik untuk anak-anaknya kelak.
Mereka ingin anak-anaknya hidup bebas dalam memilih kehidupan mereka sendiri, tanpa sorotan keluarga kerajaan lainnya dan tentu saja para paparazi.
Sebagai kepala keluarga, Bram ingin memberikan kenyamanan dan ketenangan buat isteri dan anak-anaknya.
King Philips hanya bisa menghela nafas pasrah atas keputusan yang di ambil oleh putra keduanya itu.
Di tidak berhak untuk terlalu memaksa kehendaknya kepada putranya, apalagi anaknya kini sudah memiliki keluarga sendiri.
"Baiklah, kalau itu adalah keputusan kalian. Daddy tidak bisa memaksa kalian, yang terpenting kebahagiaan dan keselamatan cucuku yang paling penting," imbuh king Philips.
"Yang penting kalian bahagia, daddy dan mommy pun bahagia," sela ratu Agatha.
"Terimakasih, mom, dad," jawab Bram dengan raut bahagia dan juga kelegaan.
King Philips dan ratu Agatha mengangkuk dan tersenyum hangat kepada putra mereka.
"Bagaimana, dengan anak kembar yang ada di istana besar?" Tiba-tiba Amber bertanya, saat mengingat kedua anak kembar yang mereka bawa ke istana.
"Kalian tidak perlu khawatir, mereka sudah aman," timpal Boy.
"Apa maksud kamu?" Sela Bram.
"Mereka, sudah berada di tempat yang tepat," sahut Boy cuek.
"Kau, membuang mereka?" Sentak Bram.
"Tidak."
"Lalu?"
"Mereka berada di keluarga mereka sendiri,"
"Benarkah?"
"Hm."
"Kau terlalu banyak pertanyaan," cibir Carlos.
"Aku, hanya penasaran," elak Bram tidak acuh.
"Ck!
"Kau mau kemana?" Tanya Bram mengehentikan langkah Carlos.
"Sekali lagi kau bertanya, maka kau akan merasakan telapak tangan ku ini," sarkas Carlos jengah.
"Cih! Bram hanya mendesis mendengar ucapan sang kakak.
"Kau memang pria penuh pertanyaan dan bo.doh.!" Ejek Boy dan menekan ucapannya di akhir kalimat.
"Brengsek!" Pekik Bram yang tidak terima ejekan sahabatnya.
King Philips dan ratu Agatha, hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah anak-anaknya.
Keduanya tersenyum bahagia, tidak menyangka bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan kedua putranya plus kedua cucu kembar mereka.