Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 54


"Apa, kau berusaha menggoda suamiku." Pertanyaan yang lebih tepatnya tuduhan itu Camelia layang kepada Amber yang sedang mengemudi mobil mewah Camelia menuju istana ratu Rosella.


"Tidak! Sahut Amber dingin.


"Hey. Dimana tata Krama mu sebagai rakyat jelata dalam berbicara dengan seorang bangsawan," hardik Camelia dengan wajah merah karena emosi.


Amber hanya terdiam dengan menahan ledakan amarahnya dengan memgenggam kuat setir mobil.


"Maaf, yang mulia Putri," sahut Amber dengan setenang mungkin.


Ingin rasanya Amber menabrakkan mobil mewah wanita sombong ini kedalam tebing yang kini mereka lewati.


"Cih! Dasar rakyat jelata tetaplah rakyat jelata yang tidak memiliki pendidikan dan minim akhlak," sarkas Camelia dengan wajah mencemooh.


"Aku rasa tidak butuh pendidikan tinggi, untuk mengukur sebuah  akhlak yang, mulia," sahut Amber tenang.


"Karena, akhlak seseorang akan diukur dari cara dia berbicara dan menghargai seseorang tanpa melihat status sosial seseorang," ucap Amber membungkam mulut Camelia.


"Kau, menentangku, jaalang," pekik Camelia yang sikapnya jauh dari kata seorang bangsawan.


"Aku, rasa sikap anda jauh dari seorang bangsawan. Anda seperti seorang wanita yang terobsesi dengan sebuah kekuasaan dan gelar," pungkas Amber dengan nada tenang.


"Kau, …." Ucapan Camelia terhenti saat Amber menyela nya  dengan ancaman.


"Berhentilah, mengeluarkan ucapan sampah mu itu. Kalau kau masih ingin menjadi seorang wanita penguasa," ancam Amber dengan tatapan mengerikan ia layangkan kepada Camelia melalui kaca spion yang ada di atas kepala Amber.


Camelia terdiam seketika dengan wajah terkejut melihat wajah Amber begitu mengerikan dan nada wanita di depannya sangatlah mengerikan.


"Kenapa, dia berani mengancamku,?" Batin Camelia bertanya.


"Tenang saja aku tidak akan membongkar rahasia dengan pangeran William," sela Amber yag seakan tau apa yang wanita dibelakangnya pikirkan.


"A-apa maksud kamu," tanya Camelia tergagap.


"Ck! Apa dia anak dari pangeran William,?" Kini perhatian Amber ia tujukan kepada anak laki-laki yang asyik dengan permainannya.


Camelia membeliakkan matanya, wajahnya pun kini sudah berubah pucat. Tapi Camelia pandai menyembunyikan kegugupannya itu malah menghardik dan mengancam Amber.


"Apa maksud kamu, sialan," hardik Camelia dengan wajah marah.


"Kau, tidak pantas berbicara seperti itu kepada seorang bangsawan sepertiku. Apa kau mau di hukum," ancam Camelia.


"Ck! Diamlah sebelum kesabaran ku masih ada. Jangan sampai aku membanting setir dan kita akan memasuki kurang," ujar Amber dengan intonasi suara pelan nan mengerikan.


Ancaman Amber berhasil membungkam mulut Camelia dengan rapat. Hanya deru nafasnya yang terdengar berat dan naik turun.


Camelia tidak menduga kalau Amber adalah wanita pintar dan juga licik.


"Aku harus menyingkirkan wanita sialan ini," batin Camelia menatap punggung Amber.


"Kau, tidak akan bisa menyingkirkan tuan putri Camelia, karena sebelum kau menyingkirkan ku, aku pasti kau yang akan lebih dulu tersingkirkan," sarkas Amber dengan nada tenang.


Camelia kembali terdiam dengan pikiran menerawang, ia bertanya-tanya dari mana wanita di depannya ini tahu semua isi pikirannya yang penuh kelicikan.


Tidak lama kemudian mobil mereka memasuki halaman istana megah ibu ratu Rosella dan di sambut oleh beberapa pelayanan istana pun para prajurit yang berjaga di setiap sudut istana ratu Rosella.


Camelia turun terlebih dahulu saat seorang prajurit istana membukakan pintu mobil untuknya, dan di susul oleh pangeran kecil Robert.


Amber turun setelah melihat Putri Camelia berjalan jauh. Ia menyerahkan kunci mobil kepada prajurit yang berada di sana untuk memarkir mobil milik putri Camelia.


Amber melangkah mengikuti putri Camelia dan juga anaknya dari jarak jauh.


Dengan pandangan lurus kedepan,  wajah datar dan tatapan dingin Amber berjalan tanpa menghiraukan cibiran para pelayan istana yang menilai penampilannya.


Dia tidak mengetahui dari jauh seorang pria rupawan sejak tadi menatapnya dengan binar kekaguman.


Carlos tidak sedikitpun melepaskan perhatiannya kepada Amber yang berjalan di belakang putri Camelia.


Senyum menawan yang jarak terlihat kini Carlos persembahan untuk semua orang yang ada disana, saat melihat wajah cantik Amber.


Camelia yang melihat Carlos membeku di tempatnya. Apalagi di saat wanita ini melihat senyum menawan yang langka itu terbit dan menyambut kedatangannya.


Camelia pun berbesar kepala dengan pikirannya yang mengira pangeran Carlos menyambutnya dengan hangat.


Apalagi ia melihat pangeran Carlos begitu makin terlihat tampan dan gagah.


Membuat putri Camelia terpesona dengan ketampanan pangeran Carlos.


"Selamat siang yang mulia ibu ratu." Camelia memberikan penghormatan kepada ratu Rosella yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan pangeran Carlos di sampingnya.


"Hm! Kalian datang lebih cepat rupanya," sahut ratu Rosella dengan nada lembut nan tegas.


"Selamat siang pangeran, Carlos," sapa putri Camelia kepada Carlos yang perhatiannya terpokus pada Amber.


Camelia yang menyadari arah tatapan Carlos pun menjadi geram.  Ia lantas memerintahkan Amber untuk menjauh dari sana.


"Baik! Sahut Amber dan ia pun bermaksud melangkah, namun tiba-tiba suara berat menahan langkahnya.


"Siapa yang menyuruhmu pergi," sela Carlos dengan aura menakutkan.


"Dia tidak diperlukan disini pangeran Carlos," sahut Camelia dengan nada bingung bercampur iri hati.


"Siapa bilang, aku memerlukan dia disini," tutur Carlos dingin.


"Tetaplah di tempatmu," titah pangeran Carlos.


Amber pun kembali berdiri dengan raut wajah bingung yang berhasil membuat Carlos pertama kali memperlihatkan kekehan yang menambah kadar ketampanannya.


Camelia menahan nafasnya mengangumi wajah tampan Carlos. tapi rasa kagumnya itu berganti kesal saat menyadari pandangan Carlos hanya tertuju kepada Amber yang mematung di belakangnya.


"Carlos," bisik ratu Rosella untuk menyadarkan pangeran Carlos dari sikap konyolnya.


"Carlos," panggilnya lagi dengan menyentuh telapak tangan sang putra.


"Ada apa," sahut pangeran Carlos tanpa memutuskan perhatiannya kepada Amber.


"Jaga sikapmu, son," bisik ratu Rosella.


Pangeran Carlos mendelik ke arah ibunya dengan tidak suka. Ini lah yang pangeran Carlos tidak sukai berada di istana yang penuh peraturan yang tidak masuk akal menurutnya.


Pangeran Carlos lebih memilih hidup di luar istana dan membangun sebuah usaha di segala bidang ia juga memiliki usaha di dunia gelap.


"Aku, akan melakukan apa yang ingin aku lakukan, mom. Jadi jangan menghalangiku mendekati wanita ku," ujar pangeran Carlos penuh penekanan.


"Kita, bicarakan nanti," gumam ratu Rosella.


"Tidak perlu. Karena aku akan menikahinya sekarang," bisik Carlos dengan wajah yang begitu serius.


"Pangeran," bentak ratu Rosella tanpa sadar.


Pangeran Carlos pun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Camelia lebih tepatnya ke arah Amber.


Camelia yang menampilkan senyum manisnya mengira pangeran Carlos mendatanginya, harus memendam amarah ketika pangeran Carlos melewati dirinya begitu saja dan mendekati Amber yang masih mematung.


Amber yang menatap binggung ke arah pangeran Carlos mencoba memberi salam dengan membungkukkan, namun dengan segera pangeran Carlos menarik lembut tangan Amber dan membawanya menjauh dari singgasana ratu Rosella.


Semua orang yang ada di sana di buat terkejut dengan sikap pangeran Carlos, yang tidak terduga sama sekali. 


Bertepatan juga Bram memasuki istana di saat Carlos menarik tangan Amber lembut dan membawanya pergi.


Amber seakan hilang kesadaran dengan kejadian ini.


Amber menatap bingung pada punggung kokoh pria di depannya dan juga tangan kokoh yang menariknya ke luar dari istana.


"P-pangeran," cicit Amber mengehentikan langkah panjang Carlos.


Carlos berhenti dan membalikkan badannya. Pandangan mereka beradu sejenak.


Amber menjadi canggung dengan sikap pangeran Carlos yang aneh.


"L-lepaskan," lirih Amber yang tangannya terasa sakit.


Carlos yang menyadari wajah kesakitan Amber melepaskan genggamannya dan membawa pergelangan tangan Amber ke bibirnya, Carlos meniup pergelangan tangan Amber yang tampak merah dan memberikan kecupan lembut.


Amber yang merasa aneh lantas menarik tangannya.


"Apa, masih sakit,?" Tanya Carlos dengan nada lembut mendayu.


"Tidak! Jawab Amber pelan dengan salah tingkah.


"Aku, harus kembali ke dalam," pamit Amber, tapi Carlos mencekal pergelangan tangannya dengan lembut dan kembali menarik Amber.


"Pangeran, lepaskan," pinta Amber.


"Diamlah,!" Sahut Carlos.


"Tapi, …."


"Diam dan masuklah," titah Carlos membukakan pintu mobil untuk Amber dan membantunya masuk dengan tangan kirinya ia letakkan di atas kepala Amber agar tidak terbentur.


Carlos juga membantu Amber memasang seat belt dan menyakinkan kalau Amber sudah duduk dengan nyaman dan aman.


Dari jauh Bram mengepalkan tangannya dengan rahang yang sudah mengetat karena rasa cemburu yang menguasai dirinya saat ini.


Bram tidak akan membiarkan Amber jatuh pada pesona Carlos, pria berdarah dingin dan arogan.


Bram pun memasuki kembali mobilnya dan mengikuti arah mobil Carlos melaju.