Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 113


"Tidak!"


Teriak ratu Rosella menggema di dalam kamarnya, dadanya terlihat naik turun dan terlihat sesak. Keringat dingin bercucuran di wajahnya yang terlihat pucat.


Nafasnya tersengal-sengal dengan sorotan mata penuh ketakutan.


Dengan tangan gemetar, ratu Rosella meraih gelas berisi air putih di atas nakas.


Tenggorokannya terasa kering dan terasa tercekik oleh sebuah tangan kekar.


Ratu Rosella mendekat gelas berisi minuman itu, ke mulutnya dengan tergesa-gesa, sehingga sebagian air tumbuh membasahi pakaian pun selimutnya.


"Prang"


Gelas itu pun jatuh ke lantai, ketika ratu Rosella meletakkannya kembali ke nakas, karena wanita itu masih diliputi rasa takut.


"A—aku, ti—tidak, bo—boleh takut," gumam ratu Rosella dengan gugup.


Ratu Rosella menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya, ia melangkah ke arah mini bar yang ada di dalam kamar luas yang begitu mewah.


Ratu Rosella meraih salah satu botol berisikan sebuah minuman termahal di dunia, ia menuangkan sedikit demi sedikit dalam gelas berukuran kecil.


Ratu Rosella pun menghabiskan malam ini dengan minuman yang dapat membuat pikirannya tenang dan jauh dari rasa takut.


Sudah beberapa gelas minuman yang ratu Rosella habiskan, namun wanita setengah baya itu belum juga mabuk.


Tapi pikirannya kini mulai terasa tenang. Rasa takut dan gelisah kini mulai hilang.


"Aku harus segera, menyingkirkan wanita itu, dia membuatku merasa terancam dan gelisah," gumam ratu Rosella sambil menyesap minumannya.


Ratu Rosella meletakkan gelasnya dengan kasar diatas meja bar. Lalu wanita itu berdiri dan berjalan ke arah ranjang, mengambil ponselnya, melakukan panggilan kepada pengawal setianya dan juga partner ranjangnya.


"Sial!" Umpat Rosella, ketika beberapa kali ia melakukan panggilan, sang pengawal setianya tidak menjawab.


Dengan mendengus kasar, ratu Rosella berjalan ke arah ruangan ganti, mengganti baju piyama tidurnya dengan setelan rapi dipadukan dengan mantel tebal berbulu, untuk menghindarinya dari cuaca dingin diluar sana.


Ratu Rosella keluar dari kamar dan berjalan ke arah lift khusus untuk para penguasa di istana.


Ratu Rosella memasuki sebuah mobil mewah yag pintunya sudah terbuka lebar untuknya.


Dengan anggun ratu Rosella duduk di kursi belakang dengan ekspresi wajah dingin.


"Antarkan, aku ke penthouse!" Perintah Rosella kepada sang sopir yang sudah siap di balik kemudi.


"Siap yang mulia, ratu," sang sopir menyahut dengan hormat.


Mobil hitam mewah ratu Rosella kini melaju meninggalkan area istana.


Dari atas sebuah balkon salah satu kamar yang ada di lantai paling atas, seorang wanita sejak tadi mengawasi pergerakan ratu Rosella dengan senyum miring.


"Ikuti dia dan awasi segala pergerakannya. Kemana pun wanita itu pergi, tepat ikuti dan awasi," titah Amber kepada seseorang di seberang sana melalui panggilan telepon.


" …


" …


"Oke, berikan informasi nya setiap waktu," suruhannya.


" …


"Hm"


"Tut"


Amber menjauhkan ponselnya dari telinga, ia menatap sejenak ponselnya dengan sebuah seringai, ketika melihat titik arah kemana ratu licik itu bergerak.


"Nikmati saja, waktumu yang tersisa," lirih Amber.


"Sekarang waktunya, kita bersenang-senang, sayang." Bram yang tiba-tiba memeluk tubuh sang istri dari belakang dan berbisik menggoda di telinga istrinya.


Amber yang terkejut, memukul lengan Bram karena membuatnya terloncat kaget.


"Kau, membuatku kaget, dear," adu nya.


"Maaf!" Bisik Bram kembali sambil menggulung rambut istrinya ke atas dan mengecup leher indah sang istri.


"Dear!" Lirih Amber tertahan, saat tangan kekar Bram kini berada di inti privasi nya.


"Aku menginginkannya, sayang," ucap Bram dengan nada suara serak dan berat.


Jangan lupa deru nafasnya kini saling memburu, dan dada keduanya sudah saling bergemuruh, dikuasai oleh kekuatan hasrat yang kini menyebar menghangatkan tubuh mereka sampai ke pusat inti privasi keduanya.


"Aku, menginginkannya, Baby," bisik Bram kembali dengan sengaja menggoda telinga istrinya, dengan memberikan gigitan kecil dan jilatan.


Kini kecupan bibir lembut nan hangat Bram turun ke bawah leher sang istri.


Bram bermain-main, dengan leher indah Amber yang panjang dan mulus, meninggalkan jejak petualangan di sana sebanyak mungkin.


"Dear!" Lirih Amber dengan tertahan.


Bram tidak mengindahkan lirihan bercampur desaah istrinya, pria itu dengan segera membalikkan tubuh istrinya dan mengangkatnya naik ke gendongannya dengan bibir yang sudah saling membelit indah yang sangat memabukkan.


Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Bram meletakkan tubuh indah istri diatas ranjang dengan penuh kehati-hatian, seakan-akan tubuh istrinya adalah sebuah barang langka yang sangat berharga.


Amber masih melilitkan kedua kakinya di pinggang keras sang suami, begitu juga kedua tangannya kini meremas lembut rambut suaminya, yang mulia terlihat memanjang.


Karena sudah terbakar oleh api gelora hasraat, Bram melepaskan piyama sutra istrinya dengan tergesa-gesa, pun dengannya yang melepaskan seluruh pakaiannya dan menanggalkan di lantai begitu saja.


"Skip"