Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 104


"Apa yang terjadi?" Bram melayangkan pertanyaan kepada sang kakak, yang terlihat tenang namun manik abu-abunya tersirat kekhawatiran.


"Katakan, pada kami, apa yang sebenarnya terjadi. Dan mengapa kita ke sekolah si kembar?" Timpal Boy yang juga ikut cemas.


Carlos menyerahkan iPad mini yang ada di tangannya kepada Bram.


"Bacalah!" Suruhnya dengan dingin.


Bram segera meraih iPad, yang diserahkan sang kakak dan menatap layar benda bersegi itu dengan intens.


Bram menajam netranya pada gambar yang pada layar tersebut dan membaca dengan teliti tulisan yang berjejer rapi di dalam layar iPad itu.


Seketika kelopak mata Bram melebar dan bola matanya terbelalak, membaca barisan pertama artikel tersebut.


Dengan dada yang berdegup kencang, Bram melanjutkan membaca artikel itu, hingga sampai barisan berikutnya yang membuat amarah terpancing dan dadanya bergemuruh marah.


Di sana tertuliskan tentang keburukan kekasihnya dan tentang kedua anaknya, yang ditulis dalam artikel itu adalah, anak haram.


Ia kembali terkejut, saat di sana terdapat foto-foto Amber dan kedua anak kembarnya.


"Brengsek, sialan, bedebah!" Segala macam kata umpatan Bram keluar kan dari mulutnya.


"Siapa yang sudah berani, melakukan?!" Erang Bram dengan wajah yang kini berubah merah darah.


"Ratu Rosella. Siapa lagi, yang berani melakukan hal kotor ini, selain dirinya," sela Boy.


"Nanti, kita pikirkan tentang wanita itu, sekarang kita temui si kembar, aku yakin dia dalam bahaya," timpal Carlos.


"Si kembar?" Boy dan Bram membeo dengan tubuh yang membeku.


"Jastin urus semua berita ini. Tekan semua para media agar tidak menghapus dan menyebarluaskan berita ini!" Perintah Carlos.


"Jojo!" Teriak Boy.


Tak lama kemudian datang seorang pria berkacamata dengan penampilan rapi keruangan Boy.


"Kau sudah tahu semuanya?" Tanya Boy dingin.


"Sudah tuan," sahut Jojo asisten Boy.


"Selesaikan dalam waktu satu jam. Kalau mereka menolak tarik semua kontrak kerjasama kita dengan para media." Titah Boy.


"Siap laksanakan, tuan," jawab Jojo.


"Hubungi, pihak sekolah si kembar. Suruh mereka melindungi anak-anakku. Katakan pada semua pihak sekolah, kalau terjadi sesuatu pada si kembar, maka hancurkan sekolah itu," perintahnya lagi.


"Baik, tuan," balas Jojo patuh.


Segera saja asisten Boy melakukan apa yang sang big boss mereka perintahkan.


"Apa, kau sudah menghubungi, Patrick?"


"Sudah tuan, mereka sudah berjaga di setiap sudut Mansion milik tuan, Boy. Tapi, …" Justin menghentikan ucapannya sejenak.


Bram yang sibuk melakukan panggilan kepada Amber menghentikan kegiatannya dan manatap Justin, harap-harap cemas.


"Tapi, apa?"


"Katakan, Justin!" Bentak Carlos.


"Nona, Amber, menyusul si kembar ke sekolah, tuan," sahut Justin gugup.


"Sial!" Umpat Bram.


Pria itu lantas berlari keluar dari ruangan Boy, tanpa menghiraukan para pria di belakangnya.


Bram berlari tergesa-gesa menuju lift yang tidak jauh dari ruangan, Boy.


Bram langsung masuk ke dalam lift saat, benda bersegi itu terbuka, dan keluar seorang wanita seksi dengan setumpuk berkas di tangannya.


Bram bahkan tidak memperdulikan, wanita itu yang menatapnya kagum.


Bram begitu gusar di dalam lift yang gini bergerak kebawah.


Sambil mengumpat dan memaki dengan menyebut nama-nama hewan, Bram begitu terlihat panik dan juga khawatir.


"Cepatlah, bergerak benda, sialan!" Pekik Bram pada benda yang kini membawanya langsung ke lobby perusahaan Pattinson.


"Oh sayang, semoga tidak terjadi hal buruk kepada kalian," monolog Bram dalam hati.


Dengan beberapa kali pria itu terlihat, mondar mandir bagaikan setrika yang sudah kepanasan dan siap merapikan pakaian yang kusut.


"Ting"


Akhirnya lift itu pun terbuka, segera saja Bram berlari keluar dengan wajah panik.


Semua orang yang melakukan aktivitas di lobby perusahaan Boy menjadi bingung.


Bram bahkan menabrak beberapa karyawan di sana, namun daddy si kembar itu, tetap melanjutkan langkah panjangnya untuk tiba di parkiran.


Bram meraba-raba saku celananya dan juga saku kemeja hitam yang ia pakai.


Dengan gerakan tangan gemetar Bram terus saja mencari kunci mobilnya.


"Sial!!" Teriaknya. Ketika ia baru ingat, kalau dirinya tidak membawa mobil.


"Sh*it!" Umpat kasar, lalu mengusap kasar wajahnya frustasi.


"Akhh!" Teriaknya lagi, yang mengena di area parkiran tersebut.


Sontak saja Bram berbalik dan dia melihat, Boy dan Carlos pun para bawahan, baru keluar dari lift khusus yang berada di ruangan Boy, yang bisa membawa mereka langsung ke parkiran.


"Sial, sial, sial." Umpat Bram lagi dengan menendang udara.


Karena terlalu panik dan khawatir, ia melupakan kalau ruangan Boy memiliki lift khusus. Dan ia pun juga menaik lift tersebut tadi.


"Cih" cibir Boy saat Bram sudah duduk di sampingnya. Sedangkan Carlos di duduk di depan di samping kemudi.


Tanpa menunggu lama, Justin melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan penuh, yang membuat, Boy dan Bram terperanjat kebelakang.


Kembali Boy dan Bram mengeluar kata-kata indah mereka.


Sepanjang jalan pun, Boy terus saja bersungut-sungut menyebutkan segala macam-macam umpatan dan juga nama hewan.


Sedangkan Bram hanya bisa terdiam dengan wajah yang masih terlihat panik dan khawatir.


Begitu pula dengan Carlos yang sibuk dengan ponselnya, dia sedang melakukan sesuatu yang akan membuat musuhnya, kelabakan.


"Berhasil," lirih Carlos diikuti oleh senyum devilnya.


~


Sementara di sekolah si kembar.


Terdengar suara tangisan seorang anak laki-laki yang sedang berada di pelukan saudara kembarnya.


Dahi anak laki-laki itu, terlihat mengeluarkan darah segar dan mengotori pakaiannya.


Sedangkan kembarnya kini menatap nyalang kepada, para sekumpulan wanita yang menatap mereka dengan sinis.


Tanpa rasa takut dan dengan jiwa pemberani, Bryana menatap sekumpulan wanita di depannya tajam.


"Berani-beraninya, kau menatap kami, seperti itu, dasar anak haram!" Pekik wanita sosialita yang merupakan orang tua murid yang paling terkenal sombong.


Sudah berapa kali Bryana dan Bryan mendengar kata-kata anak haram yang keluar dari mulut para ibu-ibu itu.


Kedua anak kembar itu bahkan tidak memahami arti dari makian ibu-ibu tersebut.


"Seharusnya, mereka tidak diterima di sekolah terbaik dan termahal ini. Mereka bisa mencoreng nama baik sekolahan elite ini." Sarkas seorang wanita yang memiliki tubuh tambun.


"Iya, anda benar. Mereka hanya anak dari wanita murahan," teriak ibu-ibu lainnya.


"MOMMY KAMI BUKAN WANITA MURAHAN!" Teriak Bryana lantang dengan mata kecil yang menatap nyalang pada ibu-ibu tersebut.


"Hey, beraninya kau berteriak padaku!" Bentak ibu itu.


"Kalian memang, anak-anak yang tidak tahu sopan santun. Pasti mommy mu tidak pernah mengajari mu tentang menghormati orang tua," timpal seorang ibu lainnya.


"Bagaimana bisa ia mengajari anaknya soal sopan santun, kalau dia hanya seorang jaalang. Mungkin dia hanya bisa mengajari anaknya cara menjadi wanita, J.A.L.A.N.G!" Pungkas ibu yang menjadi pusat masalah ini dengan ucapan yang penuh tekanan di akhir kalimat.


Semua ibu-ibu itu pun saling berbisik dengan tatapan sinis dan remeh mereka layangkan kepada si kembar yang masih berpelukan.


Ayolah mereka hanya seorang anak kecil yang masih berusia enam tahun, meskipun mereka terbilang cerdas, namun tidak semua perkataan orang dewasa mereka pahami.


"Dasar, anak haram yang hina!"


"Plak!


"Plak"


Wanita yang baru saja mengeluarkan hinaan kepada si kembar, terjungkal ke belakang, ketika sebuah tamparan keras ia terima dari seorang wanita yang tiba-tiba datang.


Sekumpulan ibu-ibu itu pun terkejut dengan apa yang wanita cantik itu lakukan.


"Mommy!" Teriak si kembar.


Amber yang masih memasang wajah mengerikan, terkejut mendengar suara lirih sang putra dan lebih terkejut lagi saat melihat kening putranya.


"Wow, jadi ini jaaalang yang sudah, merebut suami putri Camelia?" Seru wanita yang menjadi pelaku keributan.


"Wah, wah, wah. Ternyata dia masih muda dan cantik, tapi sayang dia hanya , seorang wanita, jalan, …"


"Plak"


"Plak"


Belum selesai wanita itu mengeluarkan hinanya, Amber sudah melayangkan dua tampar kepada wanita itu, hingga sudut bibir wanita tersebut mengeluarkan darah.


"Siapa yang berani menghina kedua anakku, maka aku akan membunuh kalian semua," sarkas Amber sambil mengeluarkan senjata api dari balik bajunya.


Para wanita itu pun terkejut dan wajah mereka berubah ketakutan.


Tidak lama pihak sekolah pun datang dengan berlari tergopoh-gopoh diikuti oleh Gie dai belakang.


"Apa yang terjadi pada kedua adikku!" Bentak Gie.


"Katakan. Kenapa dahi adikku terluka!"


"Aku tidak akan terima ini dan aku akan membakar sekolah ini!" Teriak Gie Arogan yang tidak terima dengan apa yang dilakukan para ibu-ibu itu kepada adiknya.


Tanpa banyak tanya Amber mengarahkan senjatanya kepada wanita yang menjadi dalang semua ini dan.


"Dor"


"Dor"