
Di sebuah ruangan mewah dan luas, seorang wanita setengah baya terlihat murka dengan raut wajah yang begitu suram.
Wanita itu menghunuskan tatapan tajamnya kepada sang pengawal, yang berdiri di depannya dalam diam.
Wanita itu begitu murka, saat mendapatkan laporan dari pengawal pribadinya, tentang menghilangkannya sang saudara kembarnya.
Belum lagi ia mendapatkan kabar kalau, wanita yang ia buang ke dalam pengasingan, sudah meninggal dalam keadaan tragis.
Ratu Rosella begitu marah, karena semua rencananya kini gagal.
Rencana yang akan ia lakukan untuk Griffin. Ia ingin memaksa Griffin agar kembali ke kerajaan. Dan kembali memanfaatkannya.
Namun rencananya itu gagal, di sebabkan kematian Camelia.
Camelia sendiri meregang nyawa di dalam bangunan tua yang tidak terawat.
Camelia ditemukan dalam keadaan tergantung di sebuah kamar di bangunan itu.
Tubuhnya pun sudah mulai membusuk, saat para bawahan Martin berniat menjemput wanita itu.
Camelia sendiri menghabisi nyawa sendiri, karena ia begitu putus asa dengan nasib yang menimpanya.
Ia tidak sanggup hidup dalam sebuah bangunan kosong yang terlihat menyeramkan.
Belum lagi, nama baiknya kini sudah hancur dan ia bagaikan seorang sampah.
Semua orang yang begitu menghargainya kini berani menghinanya dan juga melakukan tindakan pelecehan.
Itu karena para bawahan Martin setelah mengurungnya di dalam bangunan tua itu, ia di perkosa dengan brutal oleh beberapa pria yang selalu ia hina dan maki dulu.
Bukan hanya sekali, para bawahan Martin bahkan melakukannya berkali-kali.
Mereka menjadikan Camelia sebagai penghibur dan juga pemuas nafsu bejat mereka.
Camelia yang menerima itu semua menjadi tertekan dan mulai kehilangan kewarasannya.
Ia begitu terpuruk dan terhina, oleh sebab itu ia lebih memilih mengakhiri nyawanya sendiri.
Para bawahan Martin merasa lega dengan kematian wanita kejam dan sombong itu.
~
Ratu Rosella memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Belum juga ratu Rosella, menenangkan pikirannya, kini ia harus dibuat terkejut dengan kaburnya Risa dan juga tentang kematian Camelia.
"Bedebah! Geram ratu Rosella dengan menendang meja kecil di depannya.
"Semuanya, kacau!" Erangnya.
"Rencanaku, semuanya kacau."
"Rencana untuk menghancurkan mereka kini berantakan."
Ratu Rosella terus saja berteriak di dalam ruangannya itu.
Ia bahkan melemparkan semua barang-barang yang ada di ruangannya itu. Yang kini sudah terlihat berantakan yang sebelumnya terlihat begitu rapi.
Wanita dengan usia yang sudah mencapai setengah abad itu, terlihat gusar.
Kini ia nampak bingung, dengan apa yang harus ia lakukan sekarang.
Ratu Rosella mondar mandir di depan jendela kaca ruangannya. Ia beberapa kali terdengar menghela nafas dan juga menggerutu.
Ratu Rosella mencoba memikirkan cara untuk membuat para pangeran kembali ke istana.
Ratu Rosella tidak ingin para keluarga kerajaan lainnya mencoba menggesernya dari tahta yang kini ia miliki.
Oleh sebab itu ratu Rosella begitu gusar dan ketakutan.
"Aku tidak akan bisa memberikan, gelar ku kepada orang lain. Hanya aku yang berhak menguasai semua tahta dan juga semua aset kerajaan," monolog ratu Rosella dengan wajah panik.
"Apa tuan, Jersey sudah tahu kematian tentang, putrinya?" Tanya ratu Rosella kepada sang pengawal setianya.
"Sudah, yang mulia," sahut Martin.
"Apa yang ia katakan," tanya lagi dengan raut penasaran.
"Dia tidak mengatakan apapun yang, mulia."
"Sial!"
"Pria itu terlalu sibuk dengan jalaangnya,"
"Sepertinya, dia mulai berpihak pada yang lain yang, mulia."
"Apa?!
"Dia pernah bertemu secara diam-diam dengan, putri Sisilia."
"Brengsek! Beraninya dia mengkhianatiku."
Ratu Rosella begitu geram dengan apa yang disampaikan oleh pengawalnya Martin, yang sudah berusia lebih dari setengah abad.
"Belum yang, mulia."
"Plak" sebuah tamparan keras Martin ia terima dari ratu Rosella.
Martin sendiri hanya bisa diam dengan segala sikap kasar ratu Rosella berikan kepadanya.
"Aku tidak mau tahu. Kau segera temukan dia dan habisi wanita sialan itu, jangan lupa buang mayatnya kedalam kandang singa di Hutan gelap. Aku tidak mau muncul berita yang tidak-tidak tentangku," pungkas ratu Rosella.
"Sebaiknya, buat berita kematian Camelia disebabkan oleh skandal perselingkuhan pangeran Griffin dan wanita murahan itu. Katakan pada media, kalau dia begitu tertekan dan menderita dengan sikap pangeran Griffin.
Ceritakan juga tentang anak-anak mereka!" Perintah ratu Rosella, yang akan manipulasi kembali keadaan.
Ia akan membuat nama baik Bram dan Amber tercemar dan juga si kembar.
Ratu Rosella yakin kalau rencananya kali ini berhasil membuat, Amber tertekan dengan kedua anak kembarnya dan akhirnya meninggal Bram.
Ratu Rosella terlihat tersenyum licik, memikirkan rencananya sendiri.
Dalam pikirannya, Amber dan kedua anak kembarnya hidup dalam teror masyarakat yang akan menggungjingnya.
"lakukan segera perintahku, aku ingin besok sudah ada kabar begitu indah yang aku dengar," ujar ratu Rosella dengan wajah yang tampak puas.
Baik yang, mulia," jawab Martin patuh.
"Ingat, habisi wanita itu!" perintah ratu Rosella.
"Baik yang mulia ratu," jawab Martin dengan hormat.
"Bagaimana, dengan kabar dengan king Philips dan juga ratu Agatha? apa kau sudah menemukan mereka?"
"Kami, belum menemukan mereka yang, mulia. atau mungkin mereka sudah tiada."
"Tapi, aku merasa mereka masih hidup?!
"Itu mustahil yang mulia," timpal Martin.
"Tapi, mungkin saja itu bisa terjadi."
"Tidak mungkin, mereka selamat, setelah mobil mereka meledak dan terbakar habis."
"Tapi, nyatanya kedua anak mereka selamat."
"Itu karena mereka di lemparkan keluar, sebelum mobil king Philips jatuh ke jurang."
"Entahlah." keluh ratu Rosella dengan tubuh yang ia hempaskan ke sofa.
"Bagaimana, kalau Griffin menyadarinya? bukankah kita pernah menipunya? mengatakan kalau mommynya berada di tangan kita?"
"Aku yakin dia tidak akan pernah tahu. kita bisa menekan dia kembali, agar pangeran Griffin kembali ke istana." Martin memberikan saran kepada ratu Rosella.
"Singkirkan wanita dan anak-anaknya dulu," ujar ratu Rosella.
"Baiklah, yang mulia."
"Hum. keluarlah, aku ingin sendiri," usir ratu Rosella kepada sang pengawal.
Martin tidak memperdulikan perintah ratu Rosella. pria dengan postur tubuh kekar itu melepaskan jas nya yang membalut tubuhnya seharian.
Martin melepaskan tiga anak kancing kemejanya yang memamerkan dada bidang pria berumur 55 tahun itu.
Martin berjalan mendekati ratu Rosella yang duduk selonjoran di sofa panjang dengan mata terpejam.
"Keluarlah, Martin!" perintah ratu Rosella lirih.
"Biarkan aku menghiburmu," bisik Martin yang kini sudah berada di samping ratu Rosella.
"Keluar!" usir ratu Rosella dingin.
"Aku merindukanmu, honey!" bisik Martin kembali.
"Aku sedang tidak ingin," jawab Rosella.
"Tapi aku menginginkanmu."
"Kelua, ...." ucapan Rosella terhenti saat Martin membungkam mulut Rosella dengan bibirnya.
Martin menundukkan kepalanya dan memangut rakus bibir Rosella dengan nafsu.
Martin mengangkat sekali tarikan tubuh Rosella ke atas gendongannya.
Martin berjalan ke arah meja kerja Rosella tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Rosella hanya bisa terhanyut oleh permainan bibir Martin yang mampu membuatnya terhanyut dan terlena.
Martin mendudukkan tubuh Rosella di atas meja dan menaikkan bawah wanita itu.
tanpa aba-aba, Martin memasuki inti tubuh Rosella dengan sekali dorong pinggangnya.
Siang hari yang panas itu, Rosella dan Martin habiskan dengan saling berbagi kenikmatan dan peluh.