
Sunyi, itulah yang terlihat di meja makan. Hanya peralatan makan lah yang mendominan untuk menghilangkan suasana sepi yang tercipta di atas meja makan.
Semuanya kini sedang menikmati, acara makan malam mereka dengan kehangatan dan keceriaan.
Sesekali celotehan si kembar mengisi ruangan makan tersebut.
Membuat suasana menjadi hangat dan menyentakkan, apalagi melihat tingkah dari cucu seorang raja itu.
King Philips meletakkan peralatan makannya di atas piring. Ia membersihkan mulutnya dan menatap seluruh orang yang ada di hadapannya.
Ia menoleh ke samping, di mana sang istri pun menatapnya dan diikuti anggukkan.
King Philips menarik nafas pelan dan membuangnya secara perlahan juga.
"Ehem!" Dehem king Philips, menghentikan aktivitas di meja makan.
Kini yang ada di meja makan menatap king Philips dengan bingung.
"Selesaikan, makan malam kalian!" Perintah king Philips, lantas berdiri dan berjalan ke arah ruang keluarga di Mansion mewahnya yang ada di kota Chicago.
Semua yang ada di meja makan pun kembali melanjutkan makannya dalam diam.
Namun tidak dengan Carlos yang termenung dengan tatapan yang ditujukan ke depan, dimana gadisnya menikmati makan malamnya.
"Apa kuliahmu sudah, selesai?" Carlos melayangkan pertanyaan yang membuat semua orang bingung, pasalnya ia tidak ingin mengarahkan pertanyaan buat siapa.
"Kau, bertanya dengan siapa, bodoh!? Sentak Boy.
Semua orang yang ada di meja makan pun menunggu jawaban Carlos.
Kell tersenyum penuh percaya diri, karena tatapan mata Carlos mengarah ke arahnya, bukan. Tepatnya gadis yang ada di sampingnya.
Semua orang mengikuti arah pandang Carlos yang hanya terdiam dengan wajah datar.
"Siapa?" Sela Bram dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Entah!" Sahut Amber.
"Anda menatap ke arah kedua adikku, tuan," timpal Ken.
Kell baru menyadari kalau di sampingnya ada adik kembarnya, yang hanya asik dengan makannya.
Namun Kell hanya berdecak dan mendelik ke arah adiknya.
"Cih! Mana mungkin, pangeran Carlos menyukai gadis bodoh ini," batin Kell dalam hati.
"Aku bertanya kepadanya," tunjuk Carlos kepada Kitty dengan menggerakkan kepalanya.
Semua orang kembali mengikuti arah pandang Carlos.
Dan menyengit, saat mengetahui gadis yang di maksud Carlos.
"Dia?! Ujar Boy meyakinkan.
Carlos hanya terdiam yang masih menatap Kitty, yang tidak mengetahui apa-apa.
Kell terhenyak, dia lantas menoleh lagi dan menatap tidak percaya.
"Apa tidak salah?" Batin gadis itu.
"Dia masih kuliah, dan masih memasuki tahun kedua." Ken yang menyahuti pertanyaan Carlos.
"Bukan begitu, sayang?" Tanya Ken sambil mengusap rambut adik kesayangannya.
Kitty mengalihkan perhatiannya kepada sang kakak dengan dahi mengkerut.
"Apa?"
"Kuliahmu."
"Kuliahku lancar, dan aku termasuk siswa terpintar," ujar Kitty bangga.
"Tapi paling akhir," selorohnya lantas tertawa lepas.
Semua orang dibuat tercengang oleh sikap Kitty yang konyol dan ceria.
"Wow, pilihanmu sangat unik," bisik Boy kepada Carlos.
"Sejak, kapan kau menyukai gadis, kecil?" Timpal Bram.
"Sejak menjadi, pria karatan," celetuk Boy
"Diam!" Geram Carlos tertahan.
"Aku, baru tahu, ternyata seleramu gadis kecil bertubuh mungil," ejek Boy.
"Apa, kau seorang fedofilia?" Timpal Bram dan terkekeh.
"Ck! Carlos hanya berdecak kesal dan kembali melirik Kitty.
~
"Hello Kitty!" Seru Boy jangan lupa wajah mengesalnya ia tujukan kepada Carlos.
"Saya, tuan," jawab Kitty sambil menunjuk dirinya.
"Apa disini ada yang bernama hello Kitty, selain dirimu?" Tanya Boy balik.
Kitty menggeleng kepalanya dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Imut. Pantas pria kaku ini, tergila-gila," batin Boy.
"Bugh" tiba-tiba kaki Boy terasa tertimpa sesuatu.
"Apa yang kau lakukan, bodoh," erang Boy tertahan.
"Jaga matamu, brengsek," bisik Carlos dingin.
"Cih, aku tidak menyukai anak, kecil," cibir Boy.
"Kalian kenapa?" Tanya Ruby tiba-tiba menyela perdebatan antara sahabat itu.
"Dia menyukai, Kitty," bisik Boy kepada Ruby.
"Benarkah?! Pekik Ruby tanpa sadar.
Semua orang kini mengalihkan perhatiannya kepada Ruby.
Carlos hanya bisa menghela nafas panjang dan memutar bola matanya.
"Ada apa?" Tanya Amber penasaran.
"Hm. Tidak apa-apa," jawab Ruby sambil nyengir.
"Aneh," cicit Amber.
"Apa kau sudah punya kekasih, Kitty?" Ruby bertanya kepada Kitty yang masih asyik menyantap hidangan penutupnya.
Kitty mengalihkan tatapannya yang mula ke arah cake coklat kesukaannya dan sekarang ke Ruby.
"Kekasih?" Kitty membeo.
Jawaban Kitty membuat Carlos memasang telinganya tajam dengan kepala menunduk.
Sedangkan Kell di samping Kitty, hanya bisa mengerang kesal, karena semua orang hanya memperhatikan saudara kembarnya saja.
Ken hanya bisa tersenyum menatap adik kecilnya yang masih lugu.
"Apa kau sudah memiliki, kekasih?" Kini Ken yang mengulang pertanyaan Ruby.
"Punya," jawab Kitty lugas.
Membuat Carlos mengerang kesal dengan raut wajah merah.
Nafasnya bahkan sudah terdengar berat dengan rahang yang mulai mengetat.
"Tapi – kami sudah putus, dia hanya kekasihku sehari saja," ujar Kitty santai.
Carlos kini dapat bernafas normal kembali dan langsung mendongak kepalanya.
"Cih, dasar pria tua karatan," cibir Boy.
"Kenapa?" Tanya Bram penasaran.
"Karena aku melihatnya, bermain-main di atas ranjang," jawab Kitty.
"Bermain?!
"Hum, bermain hentak-hentakan," selorohnya dengan wajah santai.
Bram yang mulutnya berisi makanan tersembur keluar dan terbatuk-batuk, begitupun dengan Boy, Ken dan Amber.
Sedangkan Kell hanya mencibir tajam kearah adik kembarnya.
Carlos dan Ruby hanya terdiam, mereka sudah tahu kepribadian Kitty yang lugu, blak-blakan.
"Wow, aku baru dengar kalau ada pemain semacam itu," sela Boy menimpali ucapan Kitty.
"Apa tuan tidak pernah melakukanya?"
"Uhuk." sekali lagi Boy terbatuk mendengar jawaban Kitty.
"P — pernah," sahut Boy terbata.
"Bagaimana rasanya?"
"Kitty!" Erang Carlos dan Ken bersamaan.
"Apa kau belum pernah melakukannya?" Oke sikap jahil Boy bangkit, apalagi melihat raut wajah kesal Carlos.
"Belum" Kitty menggeleng.
"Really!"
"Hum."
"Apa rasanya enak? Karena teman-teman ku mengatakan kalau rasanya enak," tanya Kitty dengan konyolnya.
Kali ini pertanyaan Kitty membuat semua orang menganga tidak percaya.
Tidak dengan Carlos yang menahan rasa kesalnya.
"Apa kau pernah berciuman?" Boy sekali lagi memberikan pertanyaan jebakan, tanpa menjawab pertanyaan gadis didepannya.
"Pernah," pungkas Kitty dengan cepat.
"Oh ya!" Seru Bram sambil melirik sang kakak.
"Hm. Dan Mr darling yang mengambil ciuman pertamaku," sahut Kitty dan melirik Carlos sekilas.
Carlos hanya bisa terdiam dengan mengerang kesal dalam hati.
"Mr.darling?" Tanya semua orang.
"Siapa? Apa dia kekasihmu?" Tanya Ken yang juga penasaran.
"Bukan," sahut Kitty, yang membuat Carlos menatap Kitty tajam.
"Siapa dia?" Lanjut Ken penasaran.
"Dia!" Kitty menunjuk ke arah Carlos yang masih menatapnya tajam.
Semua orang kembali dibuat terkejut oleh pengakuan, Kitty.
Boy dan Bram tersenyum penuh arti, mereka tahu kalau Carlos tidak mungkin akan tahan dengan gadis kecil ini.
"Katakan padaku, tuan, apakah bercinta itu enak?"
"Kitty!!" Geram Carlos.
"Hm. Kau akan merasakannya setelah menikah," jawab Boy yang merasa tidak enak, apalagi sang istri menatapnya tajam.
"Menikah?! Tapi aku tidak ingin menikah," sahut Kitty sendu.
"Why?"
"Karena, aku ingin meraih cita-cita ku, dulu," ujarnya.
"Apa cita-citamu?" Tanya Amber.
"Menjadi seorang pengawal," jawab Kitty.
"Pengawal?! Semua orang bergumam bersamaan.
"Hm, aku ingin menjadi seperti, daddy, seorang pengawal sang raja," selorohnya.
"Kau tidak perlu menjadi pengawal raja, karena kau bisa menjadi ratu seorang calon raja," timpal Boy.
" Benarkah!" Pekik Kitty.
"Kenapa? Apa kau mau?"
"Tidak, kau hanya ingin menjadi pengawal raja saja."
"Apa kau yakin?" Sinis Kell.
"Kenapa tidak! Meskipun tubuhku mungil dan berdada dataran rendah berbukit titik tiga, tapi aku memiliki tenaga super women," celetuk Kitty.
Semua orang yang ada di meja makan pun kembali melongo mendengar ucapan absurd Kitty yang begitu lugas keluar dari mulut mungilnya.
"Dada? Dataran rendah, berbukit titik tiga?" Boy dan Bram membeo.
"Hum!
"Apa?"
"Ini!"
"Kitty!!!!
🌹TAMAT 🌹