
"Selamat buat, kalian." Ruby memeluk sahabatnya dan mengucapkan, selamat atas statusnya yang kini menjadikan seorang istri.
Ruby melemparkan senyum kebahagiaan, kepada pasangan yang baru saja menjadi pasangan suami-istri.
"Terima Kasih," balas Amber dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Kau, pantas bahagia dengan si kembar," ucap Ruby lembut dan tulus.
"Mulailah, kehidupan baru kalian dengan bahagia dan penuh cinta juga kehangatan." Ucap Ruby penuh kelembutan dan juga senyuman.
"Aku berjanji, akan selalu, membahagiakan mereka," sela Bram.
"Kami, tidak butuh janji yang keluar dari mulutmu yang akan berubah bualan. Kami butuh bukti nyata, kalau kau, mampu melindungi, Amber dan juga si kembar," seloroh Ruby. Membuat Bram tertohok dan terdiam seketika.
Amber meraih telapak tangan pria, yang kini menjadi suaminya.
Menggenggam lembut telapak tangan suaminya, Amber menggeleng pelan, yang bertanda agar Bram tidak memikirkan ucapan Ruby.
Bram menggungkuk lirih dan tersenyum manis.
Ia akan bersumpah dengan nyawa sendiri, akan selalu membahagiakan, wanita yang baru beberapa menit menjadi istrinya.
Ia juga akan selalu memberikan kasih sayang seorang ayah kepada kedua anaknya dan juga cinta tulus untuk sang istri.
Boy tersenyum sinis kepada sang sahabat, kala sahabatnya itu kalah telak dengan ucapan Istrinya.
"Kalian, akan mengadakan peresmian dan menggelar, resepsi?" Tanya Boy tiba-tiba.
"Tidak, sekarang," jawab Bram.
"Why?"
"Aku, hanya ingin memikirkan keselamatan, istri dan si kembar dulu, dan itu yang terpenting." Terang Bram.
"Apa kau yakin bisa melindungi mereka?"
"Apa yang kau katakan, brengsek!" Pekik Bram.
"Aku, hanya berkata fakta. Kalau, kau terlalu lemah untuk melindungi mereka," sarkas Boy dengan santainya.
"Brengsek! Apa kau meremehkan ku!" Pekik Bram yang membuat si kembar terbangun di pangkuan Ruby dan Boy.
"Cih! Kau tidak memiliki kemampuan apapun. Kalau soal kebodohan dan ketelmia aku baru mengakui bakatmu," celetuk Boy sekenanya.
Membuat pria yang sudah berganti status suami dari Amber, itu geram.
"Aku, akan membuktikannya, kalau aku bisa melindungi keluarga kecilku," sentak Bram penuh kepercayaan diri.
"Kalau begitu, kembalilah ke kerajaan Alexander!" Tiba-tiba suara paruh baya mengagetkan mereka.
Semua orang yang ada di ruangan santai menoleh kebelakang dan king Philips yang sedang berjalan ke arah mereka.
"Apa maksud, Daddy?! Tanya Bram bingung.
"Kembalilah, ke istana bersama istri dan kedua anak kalian," ucap king Philips dengan aura bangsawan yang sangat kuat melekat pada tubuh pria paruh baya tersebut.
"Apa yang, daddy katakan?" Tanya Bram di dengan wajah bingung.
"Kembalilah, dan tunjukkan kepada kami kalau kau sanggup melindungi mereka," ujar sang daddy dengan tatapan ia tunjukan kepada Amber dan si kembar.
"Tapi, daddy, di sana terlalu berbahaya, untuk keselamatan si kembar.' Bram mencoba menolak perintah king Philips.
"Lakukanlah, demi kedua anakmu. semua yang wanita itu miliki adalah hak dari kedua cucuku," terang king Philips.
"kembalilah dan rebut kembali yang menjadi, hak dan Milik kita, nak." Lanjut nya.
"Kau, pasti bisa, nak." King Philips berusaha menyakinkan sang putra untuk kembali ke istana.
"Tap, ...."
"Pergilah!" seru Carlos dari arah pintu Mansion.
"Kau, juga bisa mencari tahu tentang, mommy" sela Carlos.
"Apa, aku harus membawa mereka?" tatapan Bram kini terarah kepada kedua anaknya dan juga sang istri.
Amber yang sejak tadi berpikir, kini mengangguk kepada suaminya.
Bram hanya bisa menghela nafas, saat sang istri menyetujui perintah, king Philips.
"Apa kau yakin, sayang?! Bram bertanya sekali lagi untuk menyakinkan sang istri.
"Aku, sangat yakin, dear. Dan kita, pasti bisa menghadapi kelicikan wanita itu," jawab Amber dengan wajah yang begitu yakin.
Bram hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Baiklah, kita akan kembali ke istana. Tapi, …, sebelum itu kita harus mengadakan konferensi pers terlebih dahulu, untuk mengumumkan hubungan kita dan status si kembar," terang Bram, karena ia hanya kejadian tadi di sekolah tidak terulang Kembali.
Semua orang diruangan itu pun mengiyakan ucapan, Bram, kecuali king Philips, yang terdiam dengan tatapan menerawang.
"Biarkan, cucuku tetap disini dan biarkan mereka tetap menggunakan, nama Boy sebagai orang tua mereka," pungkas king Philips.
Bram dan Amber tentu saja terkejut dengan penuturan king Philips.
"Apa maksud, daddy? Bukankah, tadi daddy mengatakan agar aku membawa si kembar?" Tanya Bram heran dan diikuti oleh tatapan bingung semua orang yang ada di sana.
"Yah. Daddy memerintahkan mu kembali ke sana, tapi, … biarkan Bryana dan Bryan tetap disini," ujar king Philips.
"Bisakah, daddy menjelaskan dengan detail." Carlos yang sudah terbakar api cemburu sejak tadi dan kini ia harus mendengarkan ucapan ambigu sang daddy.
"Apa yang harus dijelaskan, seperti yang daddy katakan, biarkan si kembar tetap tersembunyi, agar mereka tetap aman. Karena, bukan hanya wanita itu musuh kita, masih banyak lagi orang-orang yang nantinya akan membahayakan kalian. Mungkin ancaman kematian akan selalu berada di sekeliling kalian."king Philips, memberikan penuturan kepada anak-anaknya, agar lebih hati-hati dan waspada.
Tatapan king Philips kini, tertuju kepada Bram. Dia tahu kalau putranya yang satu ini masih terlalu lemah untuk mengendalikan kerajaan.
King Philips beralih ke Carlos yang juga menatapnya ke arahnya.
"No, daddy. Aku tidak akan kembali ke sana," tolak Carlos, seakan tahu apa yang ada dipikiran sang daddy.
"Ini demi, keselamatan adikmu, son. Dan juga demi hak mommy mu yang telah direbut," ujar king Philips.
"Tidak sekarang, nak. Daddy masih ingin memantau dari jauh dan menata semuanya agar kita bisa berkumpul kembali."
"Apa, maksud, daddy?" Tanya Bram yang semakin bingung.
"Lebih baik kau diam dan laksanakan saja perintah, king." Timpal Boy geram dengan sikap Bram yang kurang pemahaman.
"Apa benar dia anak anda, king?" Tanya Boy dengan tatapan sinis ke arah Bram.
"Karena, aku heran dengan kebodohannya yang begitu hakiki," cetus Boy.
"Mungkin, ini efek dari terapi hipnotis dan membuat kecerdasan hilang," celetuk Carlos.
"Diamlah!" Pekik Bram.
"Pokoknya, kamu ikut dengan ku kembali ke istana," pinta Bram kepada sang kakak.
"Tidak!
"Kau, harus ikut, bodoh." Boy mengerang emosi.
"Ikutlah, son. Dan cari tahu semua tentang wanita itu." titah emas sudah keluar dari mulut sang king, yang tidak bisa seseorang menolaknya.
"Baiklah, laksanakan," sahut Carlos jengah.
"Apa, anda belum mengetahui tentang ratu Rosella?" Amber menyela tiba-tiba dan bertanya kepada king Philips.
"Dia memiliki, seorang kembar,"
"Kembar?! Semuanya terkejut dengan ucapan king Philips.
"Hum, dia lah yang selama ini menggantikan posisi Rosella, demi menjaga keselamatannya, wanita licik itu menjadikan Risalle sebagai bonekanya." Ungkap king Philips.
Kembali mereka terkejut, kecuali Boy. " Benarkah? Jadi yang selama ini yang berada di istana, bukan Rosella?" Sentak Bram.
"Hum! Tapi, … sepertinya dia sudah tiada," seloroh king Philips.
"Apa dia di habisi oleh Rosella?"
"Mungkin. Karena saudara kembarnya bisa saja menjadi ancaman buat dirinya."
"Dari mana, daddy tahu semua informasi ini?" Tanya Carlos dingin.
King Philips tersenyum melihat kepekaan sang putra pertamanya.
"Kau, memang pantas menjadi penerus berikutnya, son." Seloroh king Philips.
"Aku tidak menginginkannya," ketus Carlos.
"Kau, ingin kerajaan Alexander hancur di tangan adik bodohmu ini," sela Boy.
Dan dengan konyolnya Bram ikut mengiyakan ucapan Boy dengan anggukkan kepala.
"Brengsek!" Pekik Bram saat menyadari ucapan Boy.
"Dasar konyol!" Sinis Boy.
"Kalian berdua harus kembali," perintah king Philips.
"Terus apa rencana anda dengan si kembar?" Tanya Amber yang sejak tadi terdiam dengan maksud dari setiap ucapan king Philips.
"Kita mengikuti, caranya," jawab king Philips santai.
"Jangan bilang, …." Amber menghentikan ucapannya dengan mata yang memicing ke arah ayah mertuanya.
"Aku sudah menyiapkannya," timpal Boy.
Wajah Bram kini terlihat semakin bingung dengan ucapan daddynya dan boy. "Apa yang direncanakan oleh mereka?" Batin Bram.
"Jadi kalian jangan khawatir. Kami akan membawa si kembar pindah jauh dari jangkauan para musuh."
"Biarkan, mereka tetap tersembunyi, agar kehidupan si kembar aman dan normal, tanpa harus di kekal dengan pengawasan ketat," pungkas Boy dan disetujui oleh king Philips begitupun dengan Carlos.
"Jadi kami harus berpisah dengannya?" Bram menatap anak kembarnya yang ada di pangkuan Ruby dan Boy.
"Bersabarlah, hingga mereka dewasa," sela king Philips.
"Karena mereka adalah keturunan Alexander dan juga anak-anak yang jenius,jadi mereka menjadi buruan para musuh." Imbuh king Philips.
"Terus, kami akan membawa anak siapa ke istana?" Tanya Bram pada akhirnya ia pun menyetujui rencana sang daddy.
"Anak robot," timpal Boy sekenanya.
"Aku serius, Boy Raymond Cole!" Geram Bram.
"Mereka akan datang besok," ucap king Philips.
Amber dan Bram saling menatap dan berpaling ke samping di mana kedua anaknya masih terlelap.
Baru saja mereka berkumpul, kini mereka akan berpisah lagi.
Namun kedua pasangan suami-istri baru itu, tidak memiliki pilihan kecuali menyetujui rencana king Philips, untuk tetap menyembunyikan keberadaan sang anak.
Demi keselamatan si kembar, mereka rela berpisah. Semoga semua ini akan cepat berakhir dan keluarga mereka akan berkumpul kembali.
"Bersabarlah, hingga Wanita itu lenyap," bisik Bram.
Amber mengangguk patuh dan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami.
"Aku berharap semuanya cepat berakhir dan kita dapat berkumpul dengan si kembar. Aku tidak menginginkan tahta, aku hanya ingin kita berkumpul kembali," bisik Bram kembali.
"Bersabarlah."
"Hum."
mungkin tinggal beberapa bab lagi, novelnya akan tamat gais ☺️