Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 44


Amber dan kedua anaknya serta Ken kini berada di salah satu villa pribadi Ken yang terletak di pinggir pantai yang sangat indah.


Di daerah yang memiliki pemandangan yang begitu memukau.


Di sinilah Amber akan menghabiskan waktu liburan akhir pekannya bersama si kembar.


Menghabiskan waktu luang untuk bermain dan bersenang-senang di pantai dan berenang di lautan lepas yang memiliki air laut begitu indah dan jernih.


Kadang mereka akan bersepeda mengelilingi villa daerah itu dengan kegembiraan yang terlihat jelas di wajah mereka.


Orang-orang akan iri dengan keharmonisan keluarga kecil mereka dan ada juga yang kagum dengan kelompok keempatnya.


Siapa yang mengira kalau mereka bukanlah keluarga yang harmonis, seperti yang warga sekitar pikirkan.


Nyatanya Ken dan Amber tidak memiliki ikatan apapun selain rekan kerja yang profesional.


Ken sendiri sudah berulang kali menyatakan cintanya kepada Amber, tapi tetap saja sebuah penolakan halus yang ia terima dari wanita yang ia cintai.


Pria yang akan selalu menunggu hati Amber yang sangat ia yakini, suatu saat ia akan menjadi pemilik hati itu.


Kini keempatnya sedang berada di pantai, menemani si kecil Bryan membuat sebuah istana pasir. Di bantu oleh sang kakak Bryana.


Amber dan Ken hanya menjaga mereka dari jarak enam meter sambil membaringkan tubuh mereka di kursi malas yang tersedia di tepi pantai.


Ken bangkit dari rebahan.  Pria itu duduk dan memandangi wajah cantik Amber yang terlihat sangat memukau sore ini.


Sebuah dress pantai yang hanya menutupi bagian atas pahanya dengan corak bunga-bunga, rambut Amber yang biasanya terikat layaknya rambut ekor kuda, kini dibiarkan terurai indah.


Kedua matanya dihiasi kacamata hitam. Kulit mulus dan punggung Amber terekspos begitu memukau siapa saja yang memandangnya.


Ken yang menyadari Amber menjadi pusat perhatian mereka, terus menggenggam tangan Amber. 


Ia tidak akan membiarkan wanitanya menjadi objek cuci mata bagi pria mata keranjang.


Biarlah dia dikatakan posesif, yang jelas ia hanya menjaga miliknya, jangan sampai tersentuh oleh orang lain.


"Sweety," seru Ken sambil menatap lekat wanita yang ada di sampingnya.


"Hm! Sahut Amber ikut bangkit dan melepaskan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya dan meletakkan di atas kepala.


Ken mendekat dan berjongkok di hadapan Amber yang kedua kakinya kini berada di atas pasir putih.


Amber mengalihkan perhatiannya dari si kembar dan menatap tangga Ken yang menggenggam tangannya dan membawa ke dekat bibir Ken memberikan kecupan hangat di sana.


Amber masih menatap manik biru terang Ken yang juga menatapnya lembut nan teduh. 


Amber memejamkan kedua matanya saat Ken mengusap pipi kirinya dengan penuh kelembutan.


"Apa hatimu, masih tertutup rapat untukku," ujar Ken dengan nada berbisik.


Amber terkesiap dan bergeming di tempatnya.


Hal yang paling Amber hindari adalah, ungkapan perasaan Ken padanya.


Ia akan menjadi orang lain kalau  menyangkut soal perasaan.


Amber tidak tau harus berkata apa, karena jujur ia masih menutup rapat hatinya yang lebih tepatnya masih mencoba menyembuhkan hatinya dari luka lama yang ditorehkan oleh pria masa lalunya.


Dan di dalam lubuk hati Amber yang terdalam masih ada satu nama yaitu, Bram. 


Meskipun sudah enam tahun, tapi Amber masih menyimpan nama Bram di lubuk hatinya yang terdalam.


Oleh sebab itu, ia takut menerima cinta Ken. Ia juga tidak ingin memberikan harapan palsu untuk pria yang banyak membantunya ini.


Ia juga tidak ingin berpura-pura menerima perasaan Ken, karena itu tidak adil buat Ken.


Amber sudah berusaha untuk membuka hati Amber, untuk pria yang masih menatapnya dengan wajah yang begitu rupawan.


Tapi Amber tidak bisa, meskipun dipaksakan tetap Amber tidak bisa menerima perasaan Ken, yang akhirnya pria itu akan terluka.


"Apa, kau belum bisa menerima perasaanku," tanya Ken dengan lembut.


"Maaf," lirih Amber dan menundukkan kepalanya.


"Tapi, aku akan mencobanya," sela Amber yang membuat Ken mendongak dengan wajah berbinar bahagia.


"Sungguh," ucap Ken dengan tersenyum cerah.


"Hm! Gumam Amber diikuti oleh anggukkan kepala.


"Terimakasih," ucap Ken dengan air mata haru terlihat di ekor mata Ken.


Tiba-tiba Amber merasa bersalah, seharusnya dia membuka hatinya untuk pria baik hati di hadapannya ini.


"Haruskah aku menerimanya," batin Amber.


"Aku, mencintaimu Amber Wilson. sangat mencintaimu," bisik Ken dengan wajah yang. begitu serius.


Amber bisa melihat dari mata pria di depannya ini.


tapi, ... entahlah. Amber juga masih binggung, dengan perasaannya yang terasa hambar.


Amber hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ken. tangannya iya ulurkan untuk menghapus jejak air mata di wajah tegas Ken.


Ken mengecup kembali telapak tangan Amber yang berada di pipinya, ia juga menggenggam tangan itu erat.


"Mommy. Daddy, kemarilah," panggil si kecil Bryan dengan tangannya ikut melambai.


Amber dan Ken menoleh kearah si kembar.


keduanya pun mendekati putra putrinya itu, yang masih asyik dan fokus membuat istana.


"Kalian yang membuatnya," tanya Amber setelah berada di dekat si kembar, yang tangannya masih di genggaman oleh Ken dengan sangat posesif.


"hm! apakah ini cantik, mom," ujar Bryana.


"Tentu, mom. kami sangat ingin memiliki istana? dan aku yakin suatu saat aku akan memilikinya," ucap Bryana sambil bertepuk tangan.


"mom, doakan semoga keinginan kalian tercapai," ujar Amber dengan tersenyum kepada keduanya.


"terimakasih, mom," ucap si kembar.


Amber memeluk kedua anaknya, yang memiliki kepintaran dan kecerdasan yang tersembunyi.


"Kalian, tidak mengajak, daddy," Ken menimpali .


"Kemarilah, dad," panggil Bryana.


segera saja Ken memeluk erat tubuh wanita dan juga si kembar dengan sangat erat.


mereka pun kembali menghabiskan waktu bersama dengan canda tawa, yang tidak pernah lepas dari wajah mereka.


mereka juga saling kejar-kejaran di tepi pantai dan berlomba mengikuti arus ombak di lautan.


"Semoga, ini tidak akan pernah berakhir," batin Amber.


*


*


*


"Apa, si kembar sudah tidur,?" tanya Ken saat Amber keluar dari kamar mereka.


"Hm! gumam Amber.


Ken menepuk sisi sofa yang kosong di sebelahnya. mengisyaratkan agar Amber duduk di sana.


Amber pun dengan patuh menuruti keinginan Ken.


Ken menarik tubuh Amber kedalam pelukannya dan menyelimuti kedua tubuh mereka dengan selimut tebal.


udara malam ini sungguh sangatlah dingin.


Ken dan Amber berada di depan perapian yang sejak tadi di nyalakan Ken untuk menghangatkan tubuhnya.


"k-ken," lirih Amber saat pria tampan di dekatnya ini memeluk tubuhnya erat.


jujur Amber merasa tidak nyaman. tapi ia juga tidak tega mengecewakan pria baik hati ini.


"Diamlah, biarkan seperti ini," bisik Ken di atas rambut Amber dan pria itu menghujani puncak kepala Amber dengan kecupan.


"kenapa, kau belum tidur," tanya Amber sambil memainkan jari-jari Ken yang panjang.


"Aku, hanya tidak bisa tidur," bisik Ken.


"kenapa,?" tanya Amber lantas mendongakkan sedikit kepalanya untuk menatap manik teduh Ken.


"Entahlah," sahut Ken dan lagi ia mendaratkan kecupan hangat di kening Amber.


"Apa ada, sesuatu menganggu mu,?"


"Ada,!"


"Apa,?"


Ken terdengar menghela nafas, mengeratkan pelukannya dan menciumi kepala Amber.


"Kita, mendapatkan sebuah tawaran misi," ujar Ken.


"lalu? kenapa kau terlihat bingung,?"


"Masalahnya, target kita kali ini bukanlah orang sembarangan. di adalah seorang pewaris tahta di salah satu di negara Inggris," ungkap Ken.


"pangeran,?" Amber membeo.


"Yap, dan menurutku ini terlalu berisiko,"


"Kenapa,?"


"Karena dia seorang pangeran, Amber."


"Terus, kau ingin menolaknya,?"


"B-bukan seperti itu, sweety."


"Maka terima saja. biar aku yang mengambil tugas ini,"


"Tidak. kau tidak boleh ikut dalam misi ini." tolak Ken.


"Tapi sayangnya, aku tidak perduli," cibir Amber.


"sweety,"


"Tapi, aku akan tetap mengambil tugas, ini,"


"OH Tuhan,"


"Kapan, kita berangkat," tanya Amber.


"besok, malam." pungkas Amber.


"Ok, persiapkan saja semua keperluan ku,"


"hm!


"Baiklah,"