Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard

Dendam Dan Cinta Sang Bodyguard
bab 43


Kami sangat menyayangimu, mom," bisik kedua si kembar.


"Mom lebih menyayangi kalian," sahut Amber sambil memeluk kedua anaknya.


"Ehem," suara deheman membuat suasana haru itu terganggu.


Ketiganya mendongak ke atas dan mendapati wajah Ken cemberut.


"Kalian tidak merindukan, daddy," sela Ken dengan nada merajuk.


"Daddy," seru di kembar menghampiri Ken.


Ken pun ikut berjongkok untuk menyamai tinggi si kembar. Ia merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh mungil keduanya bocah kembar itu.


"Maafkan, kami daddy," ujar Bryana dengan wajah bersalah.


"Tidak masalah, kalau kalian memberikan daddy kecupan juga," sahut Ken.


Si kembar pun mencium pipi Ken secara bersamaan dan kembali memeluk tubuh kekar daddy Ken.


Amber hanya bisa tersenyum miris melihat keakraban anak-anaknya kepada Ken.


Dan lagi-lagi hati Amber mencolos sakit ketika kedua anaknya memanggil daddy kepada pria lain.


"Mungkin ini yang terbaik," batin Amber dan ia tersenyum saat Ken mengedipkan matanya.


"Maaf kami datang terlambat," sapaan lembut membuat ke empatnya menoleh bersamaan.


"Ruby," seru Amber, Ia lantas bangkit dan memeluk sahabatnya itu.


"Aku, merindukanmu," ucap Amber.


"Aku juga," sahut Ruby.


Kedua sahabat itupun saling berpelukan. Untuk melepaskan rindu mereka karena selama satu bulan tidak bertemu.


"Mommy, maaf, aku tidak menunggu kalian," cicit Bryana sambil menundukkan kepalanya di dekat mommy Amber.


Sementara Bryan berada di gendongan Ken. Ia sangat suka bermanja-manja kepada Ken.


"Tidak apa-apa, sayang," Ruby mengusap rambut Bryana dengan sayang.


"Astaga, princess," pekik Boy dan putranya.


"Daddy Boy, kakak," ucap Bryana.


"Astaga, kau membuat daddy khawatir, My princess," ujar Boy.


"Sorry, dad," sahut Bryana sambil menundukkan kepalanya.


"Oh, my princess daddy, jangan seperti itu sayang kau melukai daddy," ujar Boy yang melihat wajah sedih Bryana.


"Apa, daddy marah,"tanya Bryana dengan wajah sedih yang terlihat menggemaskan.


"My princess, daddy tidak akan pernah bisa marah padamu, sayang,"sahut Boy menarik Bryana dan menggendong gadis kecil itu.


"Daddy paling the best," puji Bryana.


"Dan kau, my princess daddy," balas Boy.


"Daddy, adalah cinta pertama Bryana," ujar putri kecil Amber.


"Really,?"


"Hm. Dan aku menyayangimu, dad," ujarnya lagi.


"Daddy juga menyayangimu my princess," sahut Boy.


"Daddy, turunkan peri es ku." Tiba-tiba bocah yang sangat mirip Boy menarik kaki Bryana.


"Oh Tuhan, mereka akan mulai lagi," ujar Ruby dan Bryan dan mereka sama memutar bola mata mereka.


Sedangkan Amber tersedak dan bergeming saat, mendengar ucapan putrinya Bryana yang mengatakan Boy adalah cinta pertama putrinya.


Bukankah itu sangat menyesakkan dan menyakinkan.


Bukankah seharusnya anaknya mendapatkan kasih sayang dari sang daddy asli dan menjadikannya cinta pertama buat putrinya.


Tapi apa yang ia lihat dan dengar, sungguh sangat menyakitkan.


Anak kembarnya lebih nyaman dan mendapatkan kasih sayang dari orang lain.


Mendapatkan peran seorang daddy dari orang lain dan mendapatkan kasih sayang seorang daddy dari orang lain.


Amber hanya bisa menahan rasa sesak di dalam hatinya.


Entah bagaimana nantinya kalau kedua anaknya mengetahui tentang ayah biologis mereka.


Apakah kedua anaknya akan menerimanya dan akan sedekat dengan keluarga Ruby dan Boy?


Entahlah Amber hanya bisa berdoa, semoga kedua anaknya tidak akan bertemu dengan pria masa lalunya


"No. Dia my princess, daddy," balas Boy tak kalah sengitnya.


"Turunkan, my peri es-ku," pinta si kecil Gie.


"Tidak dan tidak," tolak Boy.


"Peri es turunlah," suruh bocah laki-laki yang berumur 7 tahun itu.


"No, aku tidak menyukaimu lagi. Kau sangat menyebalkan," tolak si gadis imut Bryana.


"Mommy," panggil Gie dia akan meminta tolong dengan sang mommy kalau sudah merasa kalah.


Ruby hanya bisa menghela nafasnya dan mengeleng kan kepalanya.


"Mommy," rengek Gie.


"Dasar manja," bisik Bryan.


"Kakakmu, sangatlah beruntung, son," bisik Ken.


"Kenapa begitu,?" Tanya Bryan.


"Dia menjadi rebutan dua pria,"


"Mereka berisik, dad,"


"Oh iya,?"


"Hm, menyebalkan."


"Itu karena kakakmu sangat cantik,"


Bryan hanya mencebikkan mulut mungilnya ke arah Ken dan pria dewasa itu pun tertawa lepas, melihat wajah menggemaskan bocah di gendongannya.


"By," sela Amber.


"Iya," jawab Ruby dan menatap sahabatnya itu.


"Sepertinya kami ingin membawa si kembar," izin Amber dengan nada hati-hati.


"Membawa si kembar," cicit Ruby.


"Hm. Kami ingin membawanya berlibur. Apa boleh.?"


"Tentu saja boleh, kamu berhak membawa mereka,"


"Terima kasih."


"Hum. Bersenang-senanglah."


"Pasti, ayo anak-anak, kita berangkat sekarang."


"Kalian ingin membawa mereka,?" Tanya Boy.


"Hm! Sahut Amber.


"Aunty ingin membawa my peri es,?" Tanya si kecil Gie.


"Iya, sayang,"


"Huaaa" mommy. Peri es mau dibawa," adu Gie.


"Tidak apa-apa, sayang. Nanti mereka akan kembali lagi." Ruby mencoba menenangkan anaknya yang tidak pernah bisa jauh-jauh dari si kembar.


"Berapa lama,?" Tanya Boy.


"Mungkin sampai satu pekan."


"What! Selama itu,?"


"Aku mana bisa jauh-jauh sar my princess," ujar Boy.


"Tenanglah, daddy. Aku janji akan selalu merindukanmu," ujar si imut Bryana.


"Oh my princess, daddy,"


"Kau tidak mau merindukan ku,?" Sela Gie.


"Baiklah, karena aku adalah gadis yang baik hati jadi aku dengan terpaksa akan merindukanmu," celetuk Bryana.


Membuat semua orang dewasa tertawa lepas, mendengar celetuk si gadis kecil imut Bryana.


"Baiklah, waktunya berangkat," ajak Amber.


Mereka berempat pun berpamitan dan meninggalkan bandara, untuk menuju sebuah villa yang ada di pinggir pantai.


Amber akan menghabiskan waktu dengan kedua anak kembarnya, selama satu Minggu.