
"Clek!
Sebuah pintu ruangan perawatan sederhana yang ada di klinik pemukiman warga, terlihat terbuka kasar.
sesosok pria rupawan dengan nafas, ngos-ngosan dan raut wajah khawatir muncul di balik pintu tersebut.
"Kau sudah datang rupanya," tegur Glenn, yang sejak tadi menemani Amber.
"Bagaimana keadaannya.?" Tanya Ken tanpa menjawab teguran Glenn.
"Ck! Glenn berdecak.
"Katakan, Glenn! Apa yang terjadi dengannya." Geram Ken dengan wajah frustasi.
Glenn menatap Ken dengan tatapan tajam dan lekat. Ia memperhatikan raut wajah cemas sahabatnya itu.
Ia seakan tidak yakin kalau sahabat nya ini yang melakukannya. Dan itu tidak mungkin.
"Katakan, Glenn.!" Ken menekan ucapannya dengan nada geraman.
"Kau, yakin ingin mendengar kabar ini.?" Tanya Glenn dengan tatapan serius.
"Apa ada sesuatu serius yang terjadi padanya.?" Ken memicingkan matanya ke arah Glenn.
"Hm! Gumam Glenn disertai anggukkan kepala.
"Apa? Tanya pria itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Penasaran, cemas dan ketakutan.
Takut mendengar kabar kalau Amber divonis penyakit mematikan.
Penasaran karena sejak tadi Glenn memutar-mutar percakapan tanpa menjawab pertanyaan nya.
Cemas, karena sejak tadi Amber belum sadar.
Glenn terlihat menghirup udara di dalam ruangan sederhana itu. Ia melangkah kearah jendela sambil membuang nafasnya.
Ia sedang bingung dan ragu. haruskah dirinya mengatakan yang sebenarnya kepada Ken tentang kondisi Amber.
Ken mengikuti Glenn kearah jendela. Setelah berada di dekat Glenn, sahabatnya itu menyodorkan sebuah amplop putih kepadanya.
Ken mengernyit alis tebalnya tajam. Ia memindai sahabatnya itu dengan tatapan bingung. Tapi tak urung juga ia menerima amplop pemberian sahabatnya itu.
"Bacalah! Pungkas Glenn.
"apa ini.? Tanya Ken sambil mengamati amplop tersebut.
"Buka dan bacalah, itu adalah hasil pemeriksaan, Amber." Pungkas Glenn sambil menepuk pelan pundak Ken.
setelah memberikan laporan hasil pemeriksaan Amber kepada, Ken. Glenn pun berlenggang menuju pintu ruangan tersebut.
Ken menoleh ke arah sahabatnya yang sedang membuka pintu ruangan. Setelah itu ia membuka amplop yang ia terima dari sahabatnya tadi.
Dengan wajah serius Ken membaca sebuah lembaran kertas yang ada di dalam amplop tersebut.
Raut wajah Ken terlihat berubah-ubah. Kadang ia mengerutkan alis matanya dan kadang ia menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya pada tulisan yang ada di dalam lembaran itu.
Dan terakhir wajah Ken terlihat menegang dengan bola matanya melotot tidak percaya. Kertas yang ia pegang pun terjatuh dan meluruh ke lantai. Ken terlihat memundurkan tubuhnya ke belakang dengan wajah shock.
Pria itu menahan bobot tubuhnya yang tiba-tiba lemas di sebuah lemari kecil di ruangan itu.
Dada Ken terlihat kembang kempis dengan deru nafas yang begitu cepat sambil menundukkan kepalanya.
Iya belum bisa dan tidak bisa mempercayai ini semua. Tapi di dalam kertas tersebut tertulis jelas hasil pemeriksaan dokter kalau wanita yang dicintainya sedang hamil.
"H-hamil" Lirih Ken dengan tatapan berkaca-kaca.
Perasaan kecewa timbul di dalam benak pria itu. Ia tidak menduga, menyangka dan percaya, kalau wanita yang ia anggap tangguh, adalah seorang wanita, …."
"T-tidak. Aku tidak boleh berpikir seperti itu kepada wanita ku. Aku harus menunggunya untuk menjelaskan ini semua."
"Apakah, ini alasan Amber ikut bersama ku? Agar ia bisa menyembunyikan nya, kepada orang- orang terdekatnya dan akan membuatnya malu." Ken terlihat menggeleng, iya tidak boleh berpikir sempit.
"Aku tidak boleh berpikir seperti itu," gumam Ken.
"Aku harus mencari tahu masalah yang Amber alami sebelum ikut dengan ku.?" Ken bermonolog sambil berpikir siapa yang akan ia tanyain tentang masalah ini.
"Ruby," gumam Ken tanpa suara.
Ken mendekati Amber yang masih tidak sadarkan diri. Ken menatap dalam wajah pucat Amber. Ia yakin Amber tidak mengetahui tentang kehamilannya ini. Kalau dia tahu tidak mungkin ia bersikeras ikut dalam latihan ekstrim, yang dilakukan wanita ini satu Minggu yang lalu.
Ken juga yakin ada masalah besar yang sedang wanita ini sembunyikan dan berusaha ia lupakan. Itu terlihat saat beberapa kali Ken mendengar, Amber berteriak histeris setiap melakukan latihan di udara. Ia mendengar wanitanya berteriak," AKU MEMBENCIMU, atau ia akan melihat Amber termenung sambil mengusap matanya.
"Apapun masalah yang sedang kau sembunyikan, aku pasti akan mengetahuinya dan aku akan menerima semuanya." Bisik Ken di dekat telinga Amber.
Ken membalikkan tubuh tegapnya dan melangkah kearah pintu ruangan tersebut. Ia akan memaksa Ruby menjelaskan tentang masalah yang Amber sembunyikan.
Ken berjalan ke arah halaman belakang klinik tersebut sambil melakukan panggilan telepon.
Beberapa kali Ken terlihat mendengus dan memaki apapun yang ada di dekatnya. Ia terkadang terlihat mengarahkan tinjunya di udara. Atau kakinya yang menendang sesuatu.
"Sial! Umpat Ken.
"Ayolah, by. Angkat teleponnya,!" Gumam Ken.
" …
"Aku, ingin menanyakan sesuatu padamu. Ini sangat penting, by.!"
" …
"I-ini soal, Amber,"
" …
Ken terlihat menjauhkan ponselnya dari telinga kirinya saat, suara pekikan Ruby membuat telinga pria itu mendengung.
"Jangan teriak, by. Kau membuat telingaku sakit." Keluh Ken sambil mengusap telinganya.
" …
"Dia baik-baik saja, jangan khawatir."
" …
"By. Apa aku, boleh tahu tentang masalah yang Amber alami? Aku hanya tidak suka dia terlihat tertekan."
" …
"Please, katakan padaku,!"
Ken menukik alisnya saat mendengar helaan nafas panjang Ruby di seberang sana.
" ….
"Dia, …."
Ken sengaja menggantung ucapannya, ia ragu apakah ia harus memberitahu keadaan Amber kepada Ruby.
Tapi Ken berpikir ia harus menjelaskan ini pada Ruby. Bukankah mereka bersahabat baik?
" …
Ken menghirup udara segar di sekitar halaman klinik tersebut dan membuangnya secara perlahan.
" …
Terdengar suara bentakan Ruby dari seberang sana.
" Hm, Amber H-hamil," dengan lidah begitu berat sambil menutup mata, akhirnya Ken mengungkapkan keadaan Amber pada Ruby.
Lagi-lagi Ken menjauhkan ponselnya dari telinganya, ketika teriakan Ruby terasa memenuhi gendang telinganya.
" … !!
"Ceritakan lah, semua masalah Amber padaku. Agar aku tidak berpikir sempit tentangnya."
"...
"Aku, siap dan berjanji,"
" …
"Hm!
Ken terlihat terdiam membisu mendengar semua keterangan dari Ruby tentang hidup Amber dan masalah yang wanita itu alami dan berusaha ia lupakan.
*
*
*
Amber yang masih terbaring di ranjang pasien yang sederhana itu, mulai tersadar.
kening Amber terlihat mengerut dan hidungnya terlihat kembang kempis. matanya pun mulai mengerjap dengan di ikuti suara lenguhan rendah yang terdengar lemah.
Dengan berlahan mata indah Amber terbuka sempurna. Amber merotasi kan pandangannya saat tersadar.
Amber terloncat kaget ketika jiwa waspada nya muncul. ia langsung terduduk di atas ranjang dengan wajah lega saat menyadari dirinya ada di mana. itu karena ia merasakan tangannya terasa sakit dan ia pun terhenyak ketika melihat tangannya terpasang infus.
Amber menyandarkan punggungnya kebelakang ranjang. ia memijat pelipisnya yang masih pusing.
ia juga masih merasakan perutnya yang terasa mual.
"Mungkin aku masuk angin." monolog Amber sambil memijat pelipisnya.
"Ini sungguh tidak nyaman," keluhnya ketika perutnya terasa di aduk-aduk.
"Dimana Ken.?" Amber mengarahkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Ken.
Pandangannya pun beralih ke pintu saat benda tersebut terbuka dari luar.
"Kau, sudah bangun, sweety.?